|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Mengamati Cara Terbang Burung Bagaimana sepasang sayap mampu menyebabkan burung terbang mengangkasa melawan gravitasi Bumi?
Semua itu berkat peranan bulu-bulu pada sayap burung yang
memungkinkannya terbang dengan efisien. Bobot bulu yang ringan dengan
struktur kokoh jauh lebih praktis daripada misalnya "sayap"
kelelawar yang berupa rentangan kulit.
Sayap burung benar-benar didesain untuk terbang. Bentuknya yang
meruncing dan melengkung seperti sayap pesawat mempunyai tepi depan
yang tebal dan tumpul serta tepi belakang yang menyempit seperti mata
pisau. Bentuk seperti itu tidak asal dimiliki, tetapi mempunyai tujuan
khusus.
Untuk mengatasi hambatan udara yang harus diterjang, bentuk sayap
meruncing itu tepat sekali. Seperti kalau berenang di air, kita harus
melawan hambatan air supaya bisa berenang maju. Juga seperti halnya
ikan yang dikaruniai bentuk tubuh streamline untuk meminimalkan
masalah ini.
Untuk melawan gravitasi Bumi, burung menciptakan daya angkat
mengandalkan bentuk sayapnya yang melengkung. Bentuk melengkung
menghasilkan permukaan atas lebih cembung dan permukaan bawah sedikit
cekung atau malah rata sama sekali. Akibatnya, angin (udara) yang
melewati tepi utama sayap serta permukaan atas mengalir lebih cepat
daripada angin yang melewati permukaan bawah sayap.
Perbedaan kecepatan angin di bawah dan di atas sayap itu menghasilkan
perbedaan tekanan udara. Tekanan udara pada permukaan atas lebih kecil
sehingga terjadi aliran udara dari bawah permukaan ke atas permukaan
sayap. Ini sesuai dengan hukum fisika yang menyatakan, angin
bertekanan udara tinggi selalu mengalir ke tempat yang bertekanan
udara lebih rendah. Itulah yang menyebabkan burung mempunyai daya
angkat melawan gravitasi Bumi.
Ihwal gaya lepas landas burung itu macam-macam. Tapi apa pun gayanya,
semua bertujuan sama untuk mencapai kekuatan maju yang diperlukan
sebagai awal penerbangan. Beberapa burung melesat ke udara dengan
membengkokkan kaki sembari mendorong tempatnya berpijak dan meloncat
terbang.
Bak pesawat bermesin jet, bebek meluncur di air dan mendorong kakinya.
Cara itu menghasilkan tenaga jet yang mendorong bebek melesat ke
udara. Angsa berlari beberapa saat di atas air. Itik dan burung kuau
terbang hampir vertikal dengan kecepatan tinggi. Burung elang dan
nasar berlari cepat, burung laut meluncur dari tepi batu karang, dan
burung kuntul merentangkan lehernya yang panjang.
Sukses lepas landas, burung mengudara dibarengi kepakan sayap.
Sementara itu lengannya - bagian pangkal dari sayap - tetap digunakan
untuk mensuplai daya angkat. Sisa sayap, yaitu bagian ujung yang
dilengkapi bulu terbang, sebagai permukaan pengendali serta
baling-baling. Ini sedikit berbeda dengan pesawat terbang yang
baling-balingnya merupakan bagian terpisah dengan sayap.
Ketika burung mengepakkan sayap, baling-baling bergerak setengah
lingkaran ke depan dan ke belakang. Pada kepakan ke atas,
baling-baling bergerak ke arah belakang dan masing-masing bulu
utamanya seolah-olah dipuntir sehingga menjadi bercelah-celah.
Tujuannya untuk memudahkan udara lewat. Sedangkan pada kepakan ke
bawah melawan hambatan udara, baling-baling bergerak ke muka sehingga
burung terdorong maju. Pada saat yang bersamaan bulu-bulu utama yang
semula bercelah-celah ditautkan satu sama lain membentuk permukaan
yang rapat.
Terbang tanpa kepakan
Selain kepakan sayap, burung juga mengandalkan aksi meluncur dan
membubung tinggi. Jika mau irit tenaga, meluncur adalah pilihan paling
tepat. Seberapa jauh burung bisa meluncur ditentukan oleh gaya
gravitasi dan keadaan udara. Setelah dua hal itu tidak memungkinkan
untuk meluncur lagi, burung mau tidak mau harus berkepak lagi. Walet,
undan, dan angsa meluncur dengan beberapa kepakan kuat disusul suatu
luncuran. Kalau beruntung, kita bisa menonton pameran penerbangan yang
hebat di mana pesawat bikinan manusia tidak ada yang berani
mencobanya.
Di lembah yang sempit di antara barisan pegunungan, seekor elang
meluncur dengan bulu utamanya yang kokoh seperti jari raksasa untuk
mengimbangi arus udara yang tak menentu. Sesaat mau mendarat, kaki
sang elang diturunkan, sayap yang mengembang diturunkan, bahu
diangkat, burung meluncur turun sehingga seolah-olah tubrukan besar
akan terjadi. Namun, tepat pada waktunya sistem "rem" burung
mulai bekerja. Sayap ditekuk, ekor yang mengembang diturunkan, dan
kakinya mengerem tubrukan. Selama beberapa kejap sayap dikembangkan
tinggi-tinggi sampai akhirnya dilipat rapi.
Mungkin Anda pernah menyaksikan ala-alap terbang tinggi dan semakin
tinggi padahal sayapnya tidak berkepak sama sekali. Itulah yang
disebut terbang membubung. Terbang model ini menuntut burung harus
pandai-pandai nebeng memanfaatkan naiknya arus udara yang
disebut dengan termal.
Arus angin itu bergerak lurus dan hanya terjadi pada hari yang panas
terik. Dari Bumi yang memanas timbul "pipa" angin yang naik
ke atas yang disusul dengan angin dingin. Menjadi gelembung besar,
angin panas yang naik sedemikian kuat sehingga alap-alap yang
berputar-putar di dalamnya ikut naik tanpa harus mengepakkan sayap.
Bentuk sayap burung menentukan kemampuan terbangnya. Burung-burung
bersayap panjang dan melengkung seperti camar laut, elang, albatros
(kawan pelaut di kala cuaca baik dan juga pemakan bangkai), dan nasar
adalah pakar dalam terbang meluncur dan membubung. Burung
layang-layang yang terbangnya cepat mempunyai sayap yang sempit dan
runcing.
Sedangkan puyuh yang sayapnya pendek dan lebar mampu lepas landas
sangat cepat dan terbang dengan cepat pula beberapa saat. Setelah power
terbangnya habis, puyuh cenderung kehilangan kemampuan terbangnya.
Maka, kalau dikejutkan beberapa kali, burung puyuh gampang sekali
ditangkap dengan tangan kosong.
Sriti yang sayapnya meruncing tajam dan langsing pada ujungnya
bermanuver dengan kuat laiknya pesawat tempur. Burung kondor punya
penyeimbang pada ujung sayap berupa bulu-bulu yang terkembang lebar.
Alat keseimbangan ini seperti aileron pada pesawat terbang yang
mengontrol gerakan memutar pesawat.
Seperti halnya pesawat terbang, kemudi mutlak diperlukan dalam
penerbangan burung. Pada burung kemudi dimainkan oleh ekornya yang
bebas bergerak naik-turun atau ke kiri dan ke kanan. Selain itu ekor
memberi permukaan tambahan untuk membantu daya angkat dengan
mengembangkan bulu-bulunya.
Ketika mau mendarat, burung harus mengurangi kecepatan terbangnya.
Meluncur turun menjadi pilihan banyak burung. Tepat sebelum turun,
sayap mengepak ke depan, ekor dikembangkan sebagai rem, dan kaki
diturunkan seperti roda-roda pesawat untuk menahan dampak pendaratan.
Camar laut mendarat dengan melebarkan sayapnya seperti parasut yang
membuat turunnya jadi lambat dan lembut.
Dari pantat ke ekor
Tak cuma rambut kita, bulu burung pun mengalami kerontokan. Burung
dewasa paling tidak "berganti baju" setahun sekali sesudah
musim persarangan. Di negara empat musim burung bertukar bulu pada
akhir musim panas. Meski banyak juga yang berganti bulu untuk kedua
kalinya pada musim semi sehingga saat musim kawin datang, dandanan
sudah oke.
Pinguin dan rangkong betina menanggalkan bulu secara serentak. Bulu
pinguin didesak oleh bulu baru yang tumbuh dari bawah. Berhubung
pinguin dasarnya memang tak butuh terbang, proses "ganti
baju" ini tidak menimbulkan masalah. Lain halnya dengan Nyonya
Rangkong, dia butuh kepahlawanan pejantannya untuk mencari sesuap nasi
ketika dia hampir telanjang bulat tanpa bulu, dan harus selalu tinggal
di sarangnya yang aman.
Sedangkan itik, angsa, dan burung air lain sempat mengalami masa tak
dapat terbang saat berganti bulu. Untungnya, mereka tak terlalu
tergantung pada sayapnya untuk mencari makan. Burung-burung yang
selalu tergantung pada kemampuan terbang saat mencari makan
dianugerahi taktik lain untuk mengantisipasi masa sulit ini. Mereka
tidak menanggalkan bulunya secara serentak tetapi bertahap sehingga
tidak sampai kehilangan kemampuan terbangnya.
Pergantian bulu terjadi mengikuti pola teratur yang berlangsung secara
simetris dan lambat. Sering pola ini dimulai dari pantat ke kepala.
Bulu utama - yaitu bulu besar, panjang, dan kaku yang ada pada sayap
dan ekor - dirontokkan berpasang-pasangan. Sehelai dari sebelah kanan
diikuti sehelai pasangannya dari sebelah kiri. Sementara itu bulu baru
akan tumbuh. (Linda Elien P.M.)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||