|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Lebih
Murah Carter Pesawat
Di Papua pesawat capung sudah ada sejak tahun 1960. Pesawat itu
umumnya Cessna 185, namun juga ada Cessna Caravan, Porter Pilatus
dengan daya angkut lebih dari 2 x lipat Cessna 185. Yang pasti,
pesawat itu harus dapat mendarat dan tinggal landas di landasan pendek
dari lapangan rumput.
Uniknya, di pegunungan landasan bisa berada di lereng gunung. Saat
mendarat meluncur naik lereng dan saat tinggal landas meluncur turun.
Jadi, saat mendarat melawan gaya gravitasi, sedangkan saat tinggal
landas didorong gravitasi. Ngerinya, saat tinggal landas di ujung
landasan sudah menanti jurang dalam.
Di pesawat kecil seluruh barang dan berat badan harus dihitung agar
muatan tidak melebihi batas angkut maksimal. Penumpang teringan duduk
paling belakang karena akan berpengaruh saat tinggal landas. Bila
beban belakang terlalu berat, ekor bisa tidak naik.
Gangguan lain, tidak menentunya cuaca di Papua, namun umumnya tidak
berangin dan tidak berkabut di pagi hari. Di desa-desa tertentu telah
diketahui kapan angin mulai kencang, sehingga selewat jam itu pesawat
tidak mungkin mendarat. Pesawat harus benar-benar memperhitungkan
cuaca karena banyak kecelakaan terjadi akibat salah perhitungan. Cuaca
di desa yang dilewati dimonitor melalui radio SSB (single side band).
Bila merah artinya tidak baik, kuning adalah berawan dan sedikit
kabut, sedangkan hijau berarti cerah.
Cuaca pun bisa mendadak berubah. Tidak jarang pesawat gagal menembus
Pegunungan Jayawijaya akibat kabut. Terpaksa pesawat kembali lagi
menunggu cuaca membaik. Pegunungan Jayawijaya membentang sepanjang P.
Papua dari Timur ke Barat memisahkan pantai utara dan selatan. Maka
pesawat harus terbang melalui celah-celah gunung karena tidak
dilengkapi dengan kabin yang terkompresi dengan oksigen.
Dulu para pilotnya adalah pastor, pendeta, atau bruder, kini umumnya
adalah pilot awam, dari asing, yang merangkap tugas sebagai mekanik
mesin, juru timbang barang, dan pengatur barang muatan. Barang-barang
disusun seimbang kanan-kiri, dengan barang kecil dimasukkan ke bagasi
di perut pesawat (bagian bawah). Penumpang dilarang membawa jinjingan
ke kabin karena pesawat bisa tidak naik.
Lama-lama dari mendengar bunyinya saja saya tahu jenis pesawat atau
maskapai penerbangan apa yang mendarat, atau siapa pilotnya. Ada pilot
yang suka berputar lapangan terbang sebelum mendarat, atau yang
memelankan mesin sehingga bunyi pesawat tidak terdengar saat mendarat.
Selain mengatasi keterisolasian pedalaman, pesawat capung menggerakkan
roda perekonomian dengan mengangkut beras, surat, ternak, sayur, dan
obat-obatan. Petugas di pedalaman harus pintar mengatur jatah agar
tidak kehabisan beras sebelum pesawat datang membawa perbekalan. Bila
selama sebulan pesawat tidak datang, kami hanya akan makan nasi sehari
sekali.
Percayakah Anda kalau saya yang dokter pegawai negeri biasa mencarter
pesawat? Itu karena kalau dihitung ongkos kirim barang per kilogramnya
lebih murah dengan mencarter pesawat kecil daripada dengan kargo.
Pesawat dapat diisi hingga seberat 400 kg termasuk berat badan
penumpang. Bila kita kurus dan berat badan 60 kg, isi barang akan
lebih banyak.
Maka, tiap kali akan kembali bertugas di pos saya berbelanja sebanyak
mungkin sekaligus membawa obat-obatan. Tak apalah ditertawakan
dianggap mau buka toko, yang penting efisien. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||