|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Akibat
Perselingkuhan
Di Garut malam-malam Raisa kaget mendapat telepon itu. "Tenang
saja. Aku pasti datang Senin malam. Tapi mungkin agak malam. Ibu
menyuruhku mampir ke rumah Tante Kori. Lalu aku menjemput Lisa di
rumahnya. Kuusahakan kami sudah tiba sebelum acara mulai."
Liontin hadiah ulang tahun
Esoknya, Senin pagi, dengan wajah segar dan ceria Raisa sudah di dalam
bus menuju Bandung. Raisa tidak keberatan meski harus jauh-jauh pergi
ke Bogor, demi sahabatnya.
Tantri sedang mencoba gaun pesta ketika telepon di kamarnya berdering.
Suara di seberang sana sudah tidak asing lagi di telinganya. Dari Lisa
di Bandung yang mengabarkan urung datang karena penyakit ibunya
kambuh.
"Oh iya, tadi Raisa ke rumah menjemput aku. Jadi, dia pasti
datang. Anggap saja ia mewakili aku, OK?" Setelah mengucapkan
selamat, dan - kembali - minta maaf, Lisa menutup telepon.
Tantri menarik napas dalam-dalam. Untung Raisa bisa datang. Ulang
tahun tanpa sahabat dekat tentu tidak meriah.
Dering telepon membuat Danu Sasmita terperanjat. Entah mengapa sejak
mengantar Raisa, putri tunggalnya, ke terminal hatinya tidak tenang.
Apalagi setelah menerima telepon dari Kori, adik iparnya, yang
menanyakan Raisa, yang belum juga muncul di rumahnya di Bandung.
Selain itu, kata Kori, teman Raisa yang berulang tahun telah
menelepon, menanyakan apakah Raisa sudah berangkat dari Bandung.
Meski sempat waswas, Danu menenangkan diri dengan menduga, Raisa yang
langsung ke Bogor, belum tiba di Bogor. Selasa pagi Danu menelepon
kembali Kori untuk menanyakan kabar Raisa. Jawaban Kori justru
menambah khawatir. Ia makin gelisah ketika Tantri bertanya, kenapa
Raisa tidak kunjung datang.
Dengan berbekal nomor telepon dari Tantri, Danu menelepon hampir semua
teman Raisa. Namun, semua mengaku tidak tahu.
Sudah dua hari Raisa menghilang. Bukan hanya Danu, pasangan
suami-istri Anwar dan Kori pun melapor ke polisi. Namun, belum ada
titik terang yang menunjukkan keberadaan Raisa.
Empat hari kemudian, berbagai media massa memberitakan ditemukannya
sesosok mayat wanita muda di daerah Ciranjang, Cianjur. Mayat tanpa
identitas itu ditemukan seorang pencari kayu bakar, di sebuah lubang
di hutan pinus.
Dari ciri-ciri yang diberitakan Danu curiga mayat tersebut adalah
Raisa. Dengan diantar petugas kepolisian Garut dan Anwar, adiknya,
Danu pergi ke Ciranjang, tempat mayat ditemukan. Rasa penasaran
mendorongnya untuk melihat mayat yang mulai membusuk.
Danu limbung, untung Anwar sigap menangkapnya.
"Bapak mengenalinya?" tanya seorang polisi. Danu mengangguk
dengan air mata yang tak lagi mampu ditahan. Ia yakin, itu jasad
Raisa. Tandanya, seutas kalung dengan liontin berinisial RIS yang
melingkar di leher mayat itu. Danu ingat, liontin itu hadiah
pemberiannya di ulang tahun ke-17 Raisa. RIS artinya Raisa Indrawati
Sasmita.
Pacarnya tak melayat
Usai diautopsi, jasad Raisa dikuburkan di pemakaman keluarga di
Bandung. Dari pemakaman, Inspektur Satu Polisi (Iptu) Agung ditemani
Sersan Satu Tatang menemui Danu dan istri di rumah Anwar. Danu tidak
merasa ada yang aneh saat mengantar Raisa ke terminal, untuk merayakan
ulang tahun Tantri di Bogor. Lagipula bukan satu-dua kali Raisa pergi
ke luar kota.
Selama dua tahun terakhir Raisa tinggal bersama paman dan tantenya,
karena harus menyelesaikan kuliah di sebuah universitas di Bandung.
Saat liburan saja Raisa pulang, ke rumah orang tuanya di Garut.
Menurut Danu, kecil kemungkinan Raisa punya musuh. Raisa pandai
bergaul hingga temannya banyak. Kalau ke Garut, Raisa tidak pernah
mengeluhkan masalah apa pun. Dia selalu pulang dengan wajah ceria.
Cerita Danu diperkuat oleh keterangan Kori dan Anwar. Selama tinggal
bersama mereka, Raisa selalu berperilaku baik.
Teman-teman Raisa pun sependapat. Malah, diketahui pula kalau Raisa
menjalin hubungan dengan teman kuliahnya, yakni Dito. Iptu Agung pun
melihat, banyak teman Raisa ada di rumah Anwar membantu keluarga Danu
mengurusi proses pemakaman Raisa, kecuali Dito.
Usai menemui Danu, Iptu Agung menghampiri Tantri di kamar Raisa. Gadis
manis itu duduk termenung dengan mata sembap, saat Iptu Agung duduk di
hadapannya.
Dengan suara berat sambil sesekali menghapus air mata, Tantri
bercerita tentang Raisa yang periang, pandai bergaul, namun juga
sangat iseng. Keisengan itu terkadang membuat orang lain jengkel. Dito
pun pernah jadi "korban".
"Bagaimana ceritanya?" tanya Iptu Agung penasaran.
"Saat itu saya, Lisa, Mimi, Sari menginap di sini. Niatnya,
membuat makalah. Tapi akhirnya kami ngobrol ke sana-kemari,"
tutur Tantri, "tiba-tiba Raisa mengajak bertaruh."
Kalau Raisa menang, selama seminggu Tantri dan teman-teman harus
mentraktir makan. Selain itu, ulang tahun Tantri yang bertepatan
dengan hari Valentin harus dirayakan di vila di Bogor. "Tapi,
kalau Raisa kalah, cincin kesayangannya hadiah ulang tahun dari Dito,
akan diserahkan. Kami setuju."
Bentuk taruhannya sederhana. Raisa akan menelepon Dito lalu memintanya
datang. Padahal hari sudah malam, sedang hujan lebat pula. Tantri dan
teman-teman yakin Raisa akan kalah. Ternyata tidak, Raisa menang.
"Mengapa Dito mau datang?"
Sambil menatap foto Raisa di meja belajar, Tanri berkata, "Raisa
mengatakan, ia hamil dan minta Dito bertanggung jawab. Bila Dito tidak
datang, Raisa akan memberi tahu semua orang. Kalau sebaliknya, ia akan
tutup mulut dan menyelesaikan masalah itu. Dito pun panik dan
cepat-cepat datang."
Iptu Agung menatap Tantri dalam-dalam, "Benarkah Raisa
hamil?"
"Enggaklah Pak, itu 'kan akal-akalannya saja agar menang.
Keisengannya memang selalu membuat jantung deg-degan. Yang kenal
Raisa, tahu itu. Selain Dito, kami dan Om Nugroho pun pernah dibuat
kalang kabut."
"Om Nugroho? Siapa dia?"
"Teman Om Anwar."
Menurut Tantri lagi, sejak itu Raisa dan Dito jarang akur. Apalagi
Dito mulai melirik cewek lain yang juga sekampus. Itu terjadi dua
minggu sebelum Raisa pulang ke Garut. Orang tua Raisa sama sekali
tidak tahu kalau Raisa mempunyai kekasih bernama Dito.
Setelah dirasa cukup, Iptu Agung bermaksud pamit. Saat ia hendak
beranjak pergi, seorang pria berpostur tegap masuk, menyalami
orang-orang di sana, lalu langsung memeluk Anwar.
Anwar memperkenalkan laki-laki itu pada Danu Sasmita dan Iptu Agung.
Nugroho mengangguk hormat ke arah Danu dan Agung. "Saya turut
berduka cita, Pak. Sungguh tidak disangka. Rasanya baru kemarin saya
melihatnya," tambahnya.
"Kami juga tidak menduga. Semoga pembunuhnya cepat
tertangkap," sahut Anwar sambil mengepalkan tangan gemas.
"Anda kenal Raisa?" pertanyaan mendadak Iptu Agung
mengejutkan Nugroho.
"Tentu, Pak. Saya sering bertemu dengannya kalau ke sini, dia
anak baik," jawab Nugroho gugup.
Agung mengangguk sambil mengajak Sertu Tatang untuk pamit.
Cincinnya di pacar baru
Pukul 07.00, Iptu Agung diberi tahu anak buahnya tentang tamu yang
sudah sedari 15 menit menunggunya.
"Saya Lisa, sahabat Raisa. Saya tidak bisa tinggal diam, Pak.
Saya takut kecurigaan saya benar," ujar gadis berambut panjang
itu memperkenalkan diri.
Lisa datang atas permintaan Tantri. Sebelumnya Lisa telah bercerita
pada Tantri tentang semua kecurigaannya.
"Kemarin di rumah sakit saya bertemu Sasti. Kebetulan neneknya
seruang dengan Ibu saya. Kami ngobrol, sampai akhirnya dia
memperlihatkan cincin di jarinya. Saya kaget, itu cincin Raisa!"
"Sasti? Siapa dia?" Iptu Agung penasaran.
"Pacar baru Dito. Kebetulan dia teman saya di SMP. Katanya,
cincin itu pemberian Dito, sebagai hadiah Valentin sekaligus hari jadian
mereka. Aneh 'kan, Pak? Soalnya, terakhir kali bertemu Raisa, saya
lihat cincin itu masih di jarinya."
"Kapan itu?"
"Tanggal 14, Pak. Saya dan Raisa berencana berangkat bareng ke
vila Tantri di Puncak. Waktu itu Raisa diantar Dito menjemput saya di
rumah saya di Dago."
"Mengapa baru sekarang Anda melaporkan?"
"Baru kemarin saya tahu Raisa meninggal, ya dari Sasti itu.
Awalnya saya tidak percaya. Tapi setiba di rumah saya, Tantri sudah
menunggu dan mengabarkan berita duka itu. Saya jadi curiga pada
Dito."
Menurut dia, karena Lisa batal ke Bogor, Dito akan mengantar Raisa
sampai Bogor.
"Pukul berapa mereka berangkat dari rumah Anda?"
Lisa mengernyitkan dahi, mengingat-ingat. "Sekitar pukul 14.30,
Pak. Kami berangkat bersama. Mereka juga mengantar saya dan Ibu ke
rumah sakit."
"Anda yakin cincin yang dipakai Sasti itu milik Raisa?"
"Saya hapal benar. Modelnya unik dan lucu, berbentuk hati. Tanya
saja Tantri, ia pasti sependapat dengan saya."
"Apa Anda yakin Raisa langsung pergi ke Bogor? Tidak mampir dulu
ke tempat lain?"
"Yakin, Pak. Setelah mengantar saya, Dito yang tampaknya sedang
kesal cepat-cepat mengajak Raisa ke Bogor. Alasannya, agar tidak
kemalaman di jalan," tutur Lisa.
Sakaw saat diinterogasi
Berbekal keterangan Lisa, Iptu Agung memanggil Dito dan Sasti.
Pengakuan Sasti yang tinggi semampai itu sama seperti yang
diucapkannya pada Lisa. Ia mengaku, baru kenal Dito dua minggu silam.
Perkenalan itu menjadi makin serius. Buktinya adalah cincin itu.
"Apa Anda kenal Raisa?"
"Raisa? Tidak. Tapi, saya tahu orangnya. Dito juga pernah cerita,
Raisa itu mantan pacarnya. Kasihan, ia meninggal dengan cara
mengenaskan."
"Tahukah Anda, cincin itu milik Raisa?"
Sasti kaget. Matanya menatap tajam Iptu Agung. "Kata siapa,
Pak?!"
"Ada yang bilang, itu cincin Raisa. Bahkan, masih dipakai pada 14
Februari. Coba ceritakan lagi, kapan tepatnya Anda menerima cincin
ini?" desak Agung.
Dengan kesal Sasti mengatakan, Dito memberikan cincin itu pada 14
Februari malam, pukul 21.30. Saat itu Dito dan teman-temannya
merayakan hari Valentin di sebuah diskotek. "Kalau ada yang
mengatakan cincin ini milik Raisa, pasti karena dia iri pada saya dan
Dito."
Saat Dito dimintai keterangan, pemuda ganteng bertubuh ceking itu
menjawab dengan berbelit-belit. Sikap yang membuat Iptu Agung kesal
itu juga mengesankannya terlibat dalam pembunuhan Raisa.
Apalagi saat Agung bertanya, ke mana Dito dan Raisa pergi setelah
mengantar Lisa ke rumah sakit. Dito hanya mengaku, ke rumah teman
tanpa menyebutkan nama dan alamat sang teman. Untuk pemeriksaan lebih
lanjut Dito terpaksa mendekam dalam tahanan kepolisian.
Di hari kedua pemeriksaan Dito mengaku, tidak mengantar Raisa ke
terminal Leuwi Panjang melainkan ke depan kompleks perumahan tempat
tinggal Raisa. Selanjutnya, dia tidak tahu ke mana Raisa pergi.
"Bukankah Anda mengatakan pada Lisa, akan mengantar Raisa ke
Bogor?"
"Awalnya begitu, Pak. Tapi di jalan Raisa malah minta diantar ke
rumah tantenya. Belum sampai di rumahnya, ia pun minta berhenti.
Katanya, mau naik becak saja."
"Saat itu Anda sedang kesal dengan Raisa. Mengapa?"
Dito tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk, butir-butir keringat
membasahi dahinya.
"Tolong jawab!" ulang Iptu Agung.
Dito menarik napas berat, "Saya kesal karena Raisa minta dijemput
di terminal, minta diantar ke mana-mana. Tapi tidak sekalipun minta
maaf, malah minta putus."
"Minta maaf? Untuk soal apa?" tatap Agung.
"Eh … eh … suatu malam Raisa menelepon saya, dan mengaku
hamil. Ia meminta saya datang. Ternyata, semua hanya tipuan. Saya jadi
objek taruhan antara dia dan teman-temannya. Sejak itu hubungan kami
renggang. Apalagi teman-temannya selalu mempengaruhi agar menjauhi
saya," jawab Dito pelan.
"Mengapa?"
"Entahlah, Pak."
"Mengapa Anda panik saat diberi tahu bahwa Raisa hamil?"
"Saya amat mencintainya. Selama berpacaran, saya berusaha tidak
melakukan hal yang melewati batas. Tentu saja saya kaget waktu Raisa
mengaku hamil. Saya marah. Saya pikir Raisa pasti melakukannya dengan
orang lain."
Lalu Iptu Agung bertanya tentang cincin yang diberikan pada Sasti.
Dito mengatakan, cincin itu dikembalikan Raisa sebagai tanda putus.
Dengan kesal dan marah ia langsung pergi. Dia tidak peduli ke mana
Raisa pergi. Ia sengaja memberikan pada Sasti untuk memanas-manasi
Raisa, agar menyesal telah mengembalikan cincin itu.
"Saya menyesal membiarkannya sendiri. Kalau saya tahu bakal
begini .... " suara Dito tertahan, dia mengusap matanya yang
berkaca-kaca.
"Kata Anda, setelah mengantar Raisa, Anda mengunjungi teman.
Siapa namanya dan di mana alamatnya?"
Heran, Dito tak menjawab, tubuhnya menggigil, wajahnya memucat. Dari
hidungnya keluar cairan bening. Dengan tangan gemetar Dito
menghapusnya.
"Anda sakit?" tanya Agung.
Meski Dito menggeleng, Agung tanpa membuang waktu meminta anak buah
membawa Dito ke rumah sakit.
Dari hasil pemeriksaan diketahui, Dito positif memakai obat-obatan
terlarang. Rupanya saat diinterograsi Dito sakaw.
Sedari awal Agung sudah curiga dengan keadaan Dito. Apalagi melihat
gaya hidup Dito yang bebas dan penuh hura-hura. Kini selain tersangka
utama pembunuh Raisa, Dito juga dicurigai sebagai pengedar narkoba.
Dua orang yang dicurigai
Inspektur Satu Agung mempelajari kembali hasil autopsi Raisa. Di
antaranya disebutkan Raisa meninggal akibat pukulan di belakang
kepala. Pukulan yang diduga dilakukan secara bertubi-tubi itu
mengakibatkan bagian belakang kepalanya retak. Kemudian tubuh korban
dibenamkan di sebuah lubang, yang lalu ditutupi dedaunan.
Diduga pelakunya adalah orang yang kenal dengan korban. Tidak ada
tanda-tanda perkosaan ataupun perampokan, kecuali cincin dan semua
kartu identitas hilang.
Tempat penemuan mayat jauh dari keramaian dan tidak dilewati kendaraan
umum. Jangankan kendaraan besar seperti bus, angkot pun tidak akan
sampai ke hutan pinus itu. Artinya, Raisa atau si pelaku tidak
menggunakan kendaraan umum, mungkin kendaraan pribadi.
Dari semua informasi itu, makin jelas kemungkinan Dito sebagai
tersangka utama. Saat mengantar Raisa, Dito menggunakan sepeda motor.
Ia pun tidak punya alibi antara waktu mengantar Raisa dan menjemput
Sasti pada pukul 20.00.
Agung tinggal menunggu pengakuan Dito, yang kini dirawat di rumah
sakit. Sekeluar Dito dari perawatan, serangkaian pemeriksaan
menunggunya.
Belum usai merapikan kertas laporan, datang Sertu Tatang yang
melaporkan temuannya.
"Apa anehnya dia ada di kafe?" tanya Agung dengan dahi
berkernyit.
"Yang janggal adalah orang yang bersamanya. Bapak pasti tidak
menduga."
Agung memajukan kursi, tanda penasaran.
Ternyata Tatang melihat tante Raisa berduaan dengan pria yang bukan
suaminya, yakni Nugroho.
"Nugroho?" Agung mengingat-ingat.
"Benar Pak, kita pernah bertemu dengannya di rumah Anwar saat
pemakaman Raisa. Dia datang saat kita akan pulang."
"Lalu?"
"Menurut pelayan, mereka memang pelanggan kafe itu. Sepertinya
mereka menjalin hubungan."
Agung mengangguk-angguk, rasanya penemuan ini perlu ditindaklanjuti
dan diselidiki. Apalagi ia ingat cerita Tantri tentang Nugroho yang
pernah dibuat kalang kabut oleh Raisa.
Sersan Tatang mulai menjalankan tugas untuk mencari tahu sejauh mana
hubungan keduanya. Ia menyamar sebagai pelanggan kafe. Dengan bantuan
pramusaji bernama Bino, Sersan Tatang tahu hari dan jam berapa dua
insan itu biasa bertemu.
Tidak dipungkiri lagi, Kori dan Nugroho memang menjalin hubungan
asmara. Mereka layaknya remaja yang mabuk cinta, berkencan dan
bermesraan, tak peduli sekitarnya.
Hasil investigasi itu dilaporkannya kepada Iptu Agung. Untuk
membuktikan kecurigaannya yang tiba-tiba muncul di benaknya, Agung
meluncur ke tempat kos Tantri.
"Wah kedatangan Bapak benar-benar kejutan, ada yang bisa kami
bantu, Pak?" sergah Tantri dan Lisa, yang tak disangka ada di
sana.
"Benar. Saya ingin bertanya soal Nugroho. Anda pernah bilang,
Raisa sempat mengerjai Nugroho, benarkah?" Agung menatap Tantri.
"Sebenarnya saya kurang tahu, Pak. Karena saya tidak begitu
mengenal Om Nugroho. Raisa yang pertama kali mengenalkannya. Raisa
mengatakan, ingin ngerjain Om Nugroho, karena tahu rahasia Om
Nugroho. Bila berhasil, si Om tidak akan sering-sering datang ke
rumahnya, khususnya saat Om Anwar tidak ada di rumah."
Namun seingat Lisa, Raisa memang pernah menggarap Om Nugroho. Beberapa
waktu lalu Raisa mengajak Tantri, Lisa, Didit, Ami, dan Lim Yie
makan-makan. Setelah memesan makanan, Raisa menelepon Om Nugroho, yang
datang tak lama kemudian. Setelah makanan ludes, Raisa mengajak pergi
teman-temannya, membiarkan Om Nugroho yang membayar.
"Waktu kami tanya, kenapa Om Nugroho yang membayar. Jawaban Raisa
cuma, 'rahasianya ada padaku'."
Tiba-tiba Tantri ingat sesuatu. "Oh ya, sebelum pulang ke Garut,
Raisa pernah menelepon ke telepon genggam Om Nugroho. Ia mengatakan
ingin bertemu untuk membicarakan hal penting dan rahasia. Kalau tidak
datang, rahasianya akan dia bocorkan. Saya sempat bertanya, tapi Raisa
menolak memberi tahu. Ia berjanji akan bercerita saat ke Bogor
nanti."
Tantri menduga, "Jangan-jangan Tante Kori berselingkuh dengan Om
Nugroho. Saya pernah melihat mereka berduaan di taman belakang rumah.
Saya tidak yakin Dito yang membunuh Raisa. Meski saya tidak suka pada
Dito, tapi saya tahu Dito sangat sayang pada Raisa. Mungkinkah Om
Nugroho membunuh Raisa? Bukankah ia punya motif? Itu kalau dugaan saya
benar, Raisa sudah tahu itu. Agar aman, satu-satunya jalan adalah
melenyapkan Raisa."
Namun Lisa membantah, "Belum tentu Tante Kori ada main dengan Om
Nugroho. Saya lebih curiga pada Dito. Selama ini kita tidak tahu kalau
Dito memakai obat terlarang. Tampaknya Raisa tahu bahwa Dito pengedar
ganja. Ia akan melaporkannya ke polisi. Daripada mendekam di penjara,
Dito memilih menghabisi Raisa. Saya yakin Raisa diajak mampir ke
Ciranjang, lalu dihabisi di hutan pinus itu. Iya kan, Pak?"
Mendengar argumen keduanya Iptu Agung hanya tersenyum, "Ya kita
akan mencari siapa pelakunya."
Dalam hati Agung memuji kejelian kedu gadis itu. Memang tak tertutup
kemungkinan Nugroho terlibat pembunuhan itu, namun Agung juga melihat
Dito punya peluang menjadi pelaku.
Sersan Tatang membawa laporan yang lebih lengkap. Di perusahaan yang
dipimpin Anwar, Nugroho adalah staf yang segera dipromosikan menjadi
wakil direktur. Sedangkan salah satu pemegang saham perusahaan garmen
itu adalah Danu Sasmita.
Menurut tetangganya yang ditanyai Sersan Tatang, Nugroho dikenal
sebagai suami penurut dan takut istri. Ia sering ketakutan kalau
istrinya sedang marah-marah.
Dari Beno, pelayan kafe, Tatang mendapat informasi penting, Senin
sore, 14 Februari, Nugroho tampak bersama seorang gadis muda berusia
20-an. "Saya ingat, hari Jumat malam dan Senin sore, dia membawa
gadis cantik itu ke sini,
"Saya pikir dia dapat gacoan baru. Padahal minggu
malamnya, saat acara Valentin yang tiap tahun diadakan di sini, ia
dinobatkan sebagai pasangan serasi dengan wanita yang sering
bersamanya. Hebat dia, bisa dapat cewek muda dan pintar bagi-bagi
waktu," kata Beno sambil tertawa penuh arti.
Kunci berikutnya adalah istri Nugroho. Ketika Iptu Agung mendatangi
rumahnya, Nugroho sedang ke luar kota. Ines, istri Nugroho, sempat
heran polisi itu menanyakan jam berapa suaminya pulang pada tanggal 14
Februari.
Kata Ines, "Dia memang pulang malam karena ada rapat penting di
kantor. Apalagi sebentar lagi ia akan naik pangkat menjadi wakil
direktur, otomatis kesibukannya bertambah." Ines yakin suaminya
yang penurut, tidak berani berbuat macam-macam. Agung iba dan prihatin
melihat Ines. Dia pikir dengan menguasai dan mengendalikan Nugroho,
suaminya itu akan selalu setia.
Agung mulai menghubungkan kematian Raisa, semua laporan Sersan Tatang,
cerita Tantri dan Lisa, serta pengakuan Ines.
Dua tuntutan
Inspektur Satu Agung segera mengatur siasat. Bersama beberapa anak
buahnya ia menjemput Nugroho di bandara. Tentu saja ini mengagetkan
Nugroho.
Semula Nugroho keberatan dan memprotes saat dibawa ke kantor polisi,
meski Agung memperlihatkan surat perintah. Namun, dengan sejumlah
bukti-bukti dan saksi yang menyatakan melihatnya bersama Raisa pada
hari Senin sore, akhirnya Nugroho tunduk.
Di kantor polisi, tanpa mengalami kesulitan berarti Agung berhasil
mengorek pengakuan Nugroho.
"Sore itu saya melihat Raisa akan naik becak untuk pulang ke
rumah Kori," akunya. Lalu ia mengajak Raisa berjalan-jalan, dan
mampir ke kafe‚ tempat ia biasa mangkal bersama Kori.
"Selama ini Raisa tahu tentang perselingkuhan kami. Ia mengajukan
tuntutan bila ingin rahasia mereka terjamin. Tapi ia selalu
mengundur-undur waktu untuk mengatakan tuntutannya," tutur
Nugroho dengan suara berat sambil tiap sebentar menghapus keringatnya.
Hari Senin itu Raisa akan mengatakannya. Pertama, ia minta diantar ke
tempat ulang tahun temannya di Bogor. Nugroho menyanggupi.
Namun sesampai di daerah Ciranjang, Raisa mengubah niat. Ia minta
turun, karena akan meneruskan perjalanan dengan bus. Sebelum pergi
Raisa mengajukan syarat kedua, minta dibelikan mobil. Jika tidak
terpenuhi, ia mengancam akan membeberkan rahasia perselingkuhan itu ke
paman dan ayahnya. Celaka, itu artinya Nugroho bukan saja bisa
kehilangan kedudukan, tapi juga pekerjaan. Raisa yakin kalau sampai
tahu kejadian itu, pamannya akan memecat dia.
Tapi dari mana Nugroho mendapatkan uang untuk membeli mobil? Apa pula
nanti yang harus dikatakan pada istrinya? Nugroho bingung.
Sebelum Raisa naik bus jurusan Bogor, Nugroho membujuknya kembali ke
mobil untuk membicarakan tuntutan itu.
Setelah Raisa naik, Nugroho membelokkan mobil ke daerah Ciranjang.
Ketika Raisa protes dan memberontak, Nugroho mendorongnya hingga
membentur pintu mobil. Raisa pun pingsan. Nugroho terus mengemudi
hingga masuk ke pelosok Ciranjang sampai tiba di hutan pinus.
"Saya tidak bermaksud membunuhnya, saat dia siuman saya
memintanya untuk mengubah tuntutannya. Kalau tidak ia akan saya
tinggal di hutan pinus itu. Tapi Raisa malah berteriak-teriak dan
lari. Saya kalap. Saya kejar dia, lalu saya pukul kepalanya dengan
sepotong kayu. Saya baru sadar ketika tahu ia tewas. Saya sungguh
menyesal ...."
Lalu, Nugroho menyembunyikan tubuh Raisa dengan membenamkannya ke
sebuah lubang. Lubang itu ditutupi dengan dedaunan dan
ranting-ranting. Nugroho pun mengambil semua kartu identitas Raisa,
lalu membuangnya di jembatan Citarum. Jejak ban dan bekas darah tidak
ditemukan karena tersapu hujan lebat yang turun tiap hari.
Dengan pengakuan Nugroho, Dito terbebas dari tuntutan pembunuhan.
Namun dia tetap diproses hukum karena terbukti menyalahgunakan
obat-obat terlarang. Apalagi kesatuan reserse narkotika berhasil
meringkus sekelompok pemuda yang berpesta shabu. Sebagian dari mereka
mengenal Dito karena biasa membeli benda haram itu dari Dito.
Setelah kelompok pestanya tertangkap, Dito mengaku, usai mengantar
Raisa, ia ke rumah Alex. Bersama beberapa temannya, ia merayakan
Valentin dengan pesta putaw. Dia sengaja tidak mengatakannya pada Iptu
Agung karena takut aktivitas kelompoknya ketahuan. Ia pun merasa
bersalah telah meninggalkan Raisa sendiri sehingga harus menemui nasib
tragis. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||