|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Barang bekas pencegah pencemaran
Beberapa danau dan waduk besar seperti
Jatiluhur, Saguling, Cirata, kini makin marak "ditanami"
kolam jaring apung untuk memelihara ikan. Bahan untuk mengapungkan
kolam itu terbuat dari drum besi bekas 200 literan, yang kalau sudah
tua dan bocor diganti dengan drum baru. Celakanya, drum lama bukannya
diambil dan dibuang di daratan, tetapi ditenggelamkan begitu saja
dalam danau, sampai menimbulkan pendangkalan, dan mencemari lingkungan
air, setelah menumpuk di dasar danau. Akibatnya, air danau makin
dangkal dan tidak seproduktif dulu lagi sebagai tempat memelihara
ikan.
Ada cara yang lebih ramah lingkungan dalam mengatasi masalah itu,
yaitu memakai gabus putih styrofoam yang banyak dipakai sebagai
pelapis dan peredam pengepakan barang elektronik dan barang rumah
tangga. Styrofoam berbentuk lembaran yang besar (misalnya 100 x
60 x 60 cm) dapat langsung diikat beberapa lapis pada sisi drum bocor.
Maka drum yang sedianya dibuang sebagai sampah itu tidak jadi menumpuk
di dasar danau, tetapi masih bisa mengapung kembali dan aktif bekerja
sebagai pelampung, karena kini diapungkan oleh gabus putih.
Kalau styrofoam yang tersedia berupa potongan-potongan kecil,
ya dimasukkan saja semuanya dalam karung plastik ukuran 50 kg,
kemudian diikatkan erat-erat pada bambu yang dipasang di bawah drum
bocor yang mau pensiun tetapi tidak jadi itu.
Drum bekas yang sudah payah tak dapat dipakai lagi sebaiknya tidak
ditenggelamkan sampai menumpuk di dasar danau, tetapi diambil dan
diangkut ke daratan, untuk didaur ulang sebagai bahan yang bermanfaat.
Daripada dibiarkan teronggok sia-sia, masih lebih bagus kalau setelah
dibentuk menjadi lempengan-lempengan besi dimanfaatkan untuk bikin
pagar pembatas di lahan pertanian, kebun pekarangan, atau ladang
peternakan.
Biaya pembelian styrofoam (Rp 15.000,- tiap drum pada penjual
perlengkapan kolam), lebih murah daripada drum besi yang harganya
sampai Rp 50.000,- per buah, meskipun sudah bekas. Biaya dapat dihemat
lagi sampai gratis, kalau styrofoam itu dicari sendiri di
tempat penjual barang bekas di pasar loak.
Dengan mengganti drum besi dengan styrofoam, kini kita tidak
usah risau lagi tentang sisa minyak yang keluar ke dalam air danau
kalau drum sudah bocor. Minyak mengancam kehidupan ikan peliharaan.
Proses pencemaran minyak ini akan berlangsung lebih lanjut, kalau drum
sudah dibuang di dasar danau karena tidak dipakai lagi. Dengan memakai
styrofoam, kerisauan akan bahaya pencemaran minyak tidak ada
lagi.
Kolam jaring apung itu juga tersusun dari kerangka bambu atau kayu.
Kalau sudah tidak terpakai lagi, bahan ini biasanya dihanyutkan begitu
saja, lalu setelah menumpuk beramai-ramai mengganggu kegiatan
pemeliharaan ikan di danau.
Alangkah lebih baik kalau bahan bambu dan kayu itu diambil juga dari
danau, lalu dijemur dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga
nonminyak. Atau bahan bakar industri rumahan yang banyak ditemui di
daerah pedesaan.
Kalau bahan sisa dari berbagai usaha kolam jaring apung itu
dikumpulkan, dikeringkan, dan dipersiapkan sebagai bahan bakar,
niscaya usaha ini dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat
diandalkan manfaat produktifnya.
Demikian pula karung plastik bekas wadah pakan ikan. Kalau dikumpulkan
dari berbagai usaha pemeliharaan ikan kolam jaring apung, kemudian
dibersihkan, dan dijemur, dapat didaur ulang sebagai wadah pengangkut
hasil bumi dari ladang pertanian. (Dedy Hartana) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||