globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Barang bekas pencegah pencemaran 

Beberapa danau dan waduk besar seperti Jatiluhur, Saguling, Cirata, kini makin marak "ditanami" kolam jaring apung untuk memelihara ikan. Bahan untuk mengapungkan kolam itu terbuat dari drum besi bekas 200 literan, yang kalau sudah tua dan bocor diganti dengan drum baru. Celakanya, drum lama bukannya diambil dan dibuang di daratan, tetapi ditenggelamkan begitu saja dalam danau, sampai menimbulkan pendangkalan, dan mencemari lingkungan air, setelah menumpuk di dasar danau. Akibatnya, air danau makin dangkal dan tidak seproduktif dulu lagi sebagai tempat memelihara ikan.

Ada cara yang lebih ramah lingkungan dalam mengatasi masalah itu, yaitu memakai gabus putih styrofoam yang banyak dipakai sebagai pelapis dan peredam pengepakan barang elektronik dan barang rumah tangga. Styrofoam berbentuk lembaran yang besar (misalnya 100 x 60 x 60 cm) dapat langsung diikat beberapa lapis pada sisi drum bocor. Maka drum yang sedianya dibuang sebagai sampah itu tidak jadi menumpuk di dasar danau, tetapi masih bisa mengapung kembali dan aktif bekerja sebagai pelampung, karena kini diapungkan oleh gabus putih.

Kalau styrofoam yang tersedia berupa potongan-potongan kecil, ya dimasukkan saja semuanya dalam karung plastik ukuran 50 kg, kemudian diikatkan erat-erat pada bambu yang dipasang di bawah drum bocor yang mau pensiun tetapi tidak jadi itu.

Drum bekas yang sudah payah tak dapat dipakai lagi sebaiknya tidak ditenggelamkan sampai menumpuk di dasar danau, tetapi diambil dan diangkut ke daratan, untuk didaur ulang sebagai bahan yang bermanfaat. Daripada dibiarkan teronggok sia-sia, masih lebih bagus kalau setelah dibentuk menjadi lempengan-lempengan besi dimanfaatkan untuk bikin pagar pembatas di lahan pertanian, kebun pekarangan, atau ladang peternakan.

Biaya pembelian styrofoam (Rp 15.000,- tiap drum pada penjual perlengkapan kolam), lebih murah daripada drum besi yang harganya sampai Rp 50.000,- per buah, meskipun sudah bekas. Biaya dapat dihemat lagi sampai gratis, kalau styrofoam itu dicari sendiri di tempat penjual barang bekas di pasar loak.

Dengan mengganti drum besi dengan styrofoam, kini kita tidak usah risau lagi tentang sisa minyak yang keluar ke dalam air danau kalau drum sudah bocor. Minyak mengancam kehidupan ikan peliharaan. Proses pencemaran minyak ini akan berlangsung lebih lanjut, kalau drum sudah dibuang di dasar danau karena tidak dipakai lagi. Dengan memakai styrofoam, kerisauan akan bahaya pencemaran minyak tidak ada lagi.

Kolam jaring apung itu juga tersusun dari kerangka bambu atau kayu. Kalau sudah tidak terpakai lagi, bahan ini biasanya dihanyutkan begitu saja, lalu setelah menumpuk beramai-ramai mengganggu kegiatan pemeliharaan ikan di danau.

Alangkah lebih baik kalau bahan bambu dan kayu itu diambil juga dari danau, lalu dijemur dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga nonminyak. Atau bahan bakar industri rumahan yang banyak ditemui di daerah pedesaan.

Kalau bahan sisa dari berbagai usaha kolam jaring apung itu dikumpulkan, dikeringkan, dan dipersiapkan sebagai bahan bakar, niscaya usaha ini dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat diandalkan manfaat produktifnya.

Demikian pula karung plastik bekas wadah pakan ikan. Kalau dikumpulkan dari berbagai usaha pemeliharaan ikan kolam jaring apung, kemudian dibersihkan, dan dijemur, dapat didaur ulang sebagai wadah pengangkut hasil bumi dari ladang pertanian. (Dedy Hartana)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej