|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Dari
hobi jadi prestasi
Merekalah guru pertama saya. Kemampuan saya mengiringi lagu amat
terbantu berkat beragamnya kaset musik koleksi Ayah. Sebuah majalah
musik, Top Chords, ikut andil mengasah kemampuan saya
mengiringi dengan gitar. Begitulah, kelas 6 SD saya sudah tampil di
Gedung Olah Raga Semarang dalam sebuah porseni, bersama ansambel musik
sekolah, mengiringi teman-teman menyanyikan lagu Dondong Opo Salak.
Karena penasaran ingin memainkan lagu-lagu pop dengan gitar tunggal,
saya mencoba memainkan melodi dengan iringannya sekaligus. Pilihan
jatuh pada lagu pop Minang Ayam Den Lapeh, yang sering
didendangkan Ibu dengan iringan gitar. Keistimewaannya, selain lagunya
enak, melodinya terjangkau untuk dimainkan dalam posisi tangan kiri
sama. Jadi, memudahkan saya memasukkan akor-akornya sekaligus. Hanya
dua jari - ibu jari dan telunjuk - untuk memetik. Tiap malam saya
berlatih sampai eksperimen itu berhasil.
Pemain bas "aneh"
Baru di SMP saya menyaksikan ilmu bermain gitar klasik dari beberapa
teman sesama peserta ekskul yang kursus gitar klasik. Etude-etude
sederhana yang mereka mainkan, bagi saya indah luar biasa. Apalagi
melihat kerapian jemari mereka saat memetik dan memencet senar.
Lama-lama saya minta izin Ayah untuk ikut kursus gitar klasik. Ini
permintaan sulit karena kondisi ekonomi keluarga kami saat itu.
Menyadari keinginan kuat anaknya, saya diizinkan ikut kursus gitar
klasik di Sekolah Musik Obor Mas, Semarang, yang memegang lisensi
Yayasan Musik Indonesia (YMI) dengan kurikulum Yamaha.
Saya memilih kelas grup (enam orang) yang biayanya paling murah.
Selain belajar cara bermain gitar klasik yang benar, saya juga belajar
membaca not balok. Lewat partitur, saya mempelajari banyak komposisi
baru yang indah, sekaligus menemukan berbagai jurus baru bermain
gitar.
Mengingat kemajuan saya pesat, guru saya Pak Suhartono Lukito menemui
Ayah. Ia minta agar saya pindah ke kelas privat agar bisa mendapat
perhatian khusus. Ini artinya, biaya kursus jadi lebih mahal. Untung,
berkat lobi guru saya, pihak sekolah musik memberi kelonggaran biaya
les hingga 50% di kelas privat.
Pak Hartono pula yang memperkenalkan saya dengan jazz, rock, sampai
pop dan keroncong pada gitar tunggal. Dari dia juga saya mengenal
adanya festival gitar yang diadakan sejak awal 1970-an.
"Tahun depan kamu ikut untuk bagian bebas. Potensimu ada di
situ," anjurnya. Ia pun memberi saya rekaman final bagian bebas
Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI) 1980. Yang saya ingat, ada Koo
Tjoe Liang, arek Surabaya, memainkan lagu tema Hawaii Five O,
lengkap dengan tabuhan drumnya (juara I), dan Ricky Rusady, adik Ully
Sigar Rusady, memainkan Rock Around The Clock-nya Bill Halley
dengan seru (runner-up). Sulit dipercaya, gitar bisa dimainkan
seperti itu!
Karena lagu yang saya kuasai Ayam Den Lapeh, saya pun mulai
memoles aransemennya. Begitupun, saya tetap bergairah mempelajari
teknik dan lagu-lagu klasik. Berjam-jam saya belajar memainkan
komposisi baru di buku pelajaran.
Di sekolah, terutama saat di SMU, di benak saya cuma ada gitar.
Rasanya tak tahan menunggu bel pulang, cepat-cepat mengayuh sepeda,
lalu segera bermain gitar. Saya juga aktif di band sekolah, sebagai
pemain bas. Karena tak pernah belajar main bas elektrik secara formal,
saya banyak mengandalkan kaset, tentu juga dengan
"memindahkan" teknik gitar klasik ke dalam permainan bas.
Gaya bermain yang rada aneh ini membawa saya menjadi Pemain Bas
Terbaik dalam festival band SMA se-Kodya Semarang.
Durian runtuh
Sementara itu Ayam Den Lapeh saya meriahkan dengan atraksi
tetabuhan. Karena peserta harus memainkan dua lagu, saya memilih lagu
tua Take My Hand for A While. Satu syahdu, satunya riang.
Kompetisi hanya terdiri atas dua babak: penyisihan dan final. Itulah
untuk pertama kalinya saya menyaksikan Ibu Kota. Seleksi berlangsung
di YMI Cabang Jln. Bumi, Jakarta Selatan. Belum pernah saya melihat
gitaris klasik sebanyak itu. Ada beberapa gitaris yang permainannya
bikin saya geleng-geleng. Saya pasrah.
Giliran saya tiba. Meski jari gemetaran, saya menyelesaikan dua lagu
itu dengan lancar. Seminggu kemudian datang kabar: saya masuk final.
Kebetulan Semarang jadi penyelenggara final YFGI 1982.
Namun, di final juara bagian bebas adalah duet kakak-adik Mahesh dan
Suresh dari Jakarta dengan Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki
dan No Mystery karya empu gitar Larry Coryell. Nilai mereka
untuk poin teknik dan aransemen jauh di atas saya. Mereka mampu
berimprovisasi dengan not-not cepat, saling mengisi melodi, bak adu
tembak senapan mesin. Usai festival, saya dipanggil Pak Jaya Suprana,
salah satu juri.
"Terus terang saya mengagumi keberanian gitaris daripada pianis.
Mereka berani tampil sendiri di panggung yang besar dengan memainkan
alat musik yang kecil. Sedangkan pianis, meski sendirian, ditemani
alat musik berukuran amat besar. Jadi, enggak terlalu takutlah,"
kurang lebih inti ucapan pianis dan pengusaha jamu ini.
Tahun 1983, kembali saya harus puas sebagai finalis. Baru di final
tahun 1984 (di Surabaya), saya menjadi runner- up, dengan
memainkan lagu Salamku Untuknya yang dipopulerkan oleh Vina
Panduwinata, serta lagu tua April in Portugal.
Tahun yang sama saya mendapat durian runtuh. YMI Pusat meminta saya
mewakili Indonesia ke festival tingkat Asia Tenggara di Hongkong.
Pasalnya, juara tahun sebelumnya, trio asal Solo, sudah bubar. Tak
pernah terbayang saya dikirim bermain gitar ke luar negeri.
Distinguished Award
Saya berangkat bersama Lanny Astuti, juara bagian klasik dari
kompetisi tahun sebelumnya. Di Hongkong kami diperlakukan bak artis
tenar. Namun bagi saya yang terpenting saat itu kesempatan
berinteraksi dengan para gitaris dari berbagai negara, kendati dalam
lingkup regional.
Acara berlangsung di Academic Community Hall, Kowloon, 9 Desember
1984. Menjelang pertandingan, saya demam. Maklum belum terbiasa dengan
musim dingin. Untung Bu Tatang (dari SM Obor Mas, yang menemani kami
bersama Pak Danny Tumiwa, bos instruktur gitar) membawa balsem dan
mengeroki saya. Menjelang naik pentas, saya masih merasa tak karuan,
lemas dan panas-dingin. Ajaib, begitu memainkan gitar, saya segar
kembali. Saya memainkan komposisi jazz Captain Caribe karya
Earl Klugh dan lagu pop We're All Alone.
Juri memberi saya Distinguished Award, alias juara II. Bagi saya ini
cukup membanggakan karena juara pertamanya, dari Singapura, bermain
luar biasa. Ia membawakan lagu iklan rokok Marlboro (dari film tua
koboi The Magnificent Seven) dengan banyak teknik perkusi yang
mengundang gemuruh tepuk tangan. Tradisi kontingen Indonesia
menggondol gelar juara masih dipertahankan karena Lanny dinyatakan
sebagai Grand Prize Winner.
Tahun 1985 saya terpaksa meninggalkan Semarang karena lulus tes masuk
perguruan tinggi negeri. Saya diterima di Jurusan Kriminologi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Di bangku kuliah saya terus
berlatih dan mengembangkan permainan gitar saya. Tentu saja, saya
kembali ikut festival gitar.
Tahun 1986 saya kembali masuk final. Saya memainkan Madu dan Racun,
serta Hai Becak, lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud. Baru dalam
festival ini saya bertekad ingin menang dan jadi juara nasional,
setelah sekian kali jadi runner-up.
Itu sebabnya saya memilih Madu dan Racun yang sedang ngetop.
Hai Becak pun akrab di telinga banyak orang. Lagu pertama saya
bikin dengan irama sedikit dangdut dan ramai. Variasinya tidak banyak.
Sedangkan lagu kedua justru sebaliknya, saya buat dalam banyak variasi
karena lagu aslinya sangat pendek.
Untuk pertama kalinya, saya tampil amat percaya diri. Sambutan
penonton pun meriah, terutama saat Hai Becak. Tapi, juri
berpendapat lain. Saya kembali digelari runner- up. Juara
pertamanya David Bangun, mahasiswa dari Bandung yang memainkan Layang-Layang
dan All Things You Are. David memang bermain lebih mulus dengan
harmoni lebih kaya.
Banyak gitaris kemudian ingin bisa memainkan Hai Becak. Mereka
meminta saya menuliskan partiturnya. Saya pun belajar menulis akor
untuk gitar tunggal, yang kemudian saya bagikan pada yang berminat.
Meski gratis, senang rasanya bisa berbagi dengan sesama pencinta
gitar.
Akhirnya juara juga
Gaya aransemen yang kurang lebih sama saya terapkan dalam lagu Rame-Rame
(Funk Section) dan Naik Delman (Pak Kasur) saat
berpartisipasi di YFGI 1987. Dua lagu itu saya buat sangat ramai
dengan berbagai trik efek suara dan variasi harmoni, tanpa mengganggu
keaslian lagu.
Saya tidak berharap menang, cuma ingin memamerkan pada penonton,
betapa kaya suara dan teknik permainan gitar. Niat saya tercapai. Baru
saya memainkan intro lagu pertama, penonton sudah "heboh".
Kali ini selera juri sama dengan penonton. Saya jadi juara pertama
untuk pertama kalinya. Hadiah sebuah organ mini saya jual, uangnya
untuk menyambung kontrakan di Depok.
Di samping berfestival, tahun 1986 - 1987 saya memberi les privat,
ikut bermain band di kampus, juga sempat mencicipi masuk studio
rekaman.
Berkat teman pula, saya berkesempatan menjadi gitaris di Indonesia
Petroleum Club (IPC), Jakarta, menggantikan tugas pemain gitar
menemani tamu-tamu makan malam di restoran IPC. Selama tiga bulan
(seminggu sekali) saya beroleh pengalaman baru, bermain gitar tunggal
di hadapan umum selama dua kali 1,5 jam. Termasuk memainkan langsung
lagu-lagu permintaan tamu, kendati belum pernah saya mainkan.
Sampai 1991 saya absen ikut festival karena berkonsentrasi
menyelesaikan kuliah, mengajar ekskul gitar di SMP dan SMA, memberi
kursus gitar, dan menulis artikel tentang kriminologi di media massa.
Akhirnya, saya terjun ke dunia jurnalistik dan bergabung di Tabloid NOVA.
Di tengah kesibukan sebagai reporter, saya tetap bermain gitar.
Setelah menjadi wartawan, saya sempat tiga kali mengikuti YFGI (1992,
1994, 1995). Saya menjuarai ketiganya. Seperti sebelumnya, di tiap
festival itu saya berusaha menampilkan berbagai aransemen yang unik
dan berkesan.
Saya pribadi menyukai aransemen lagu tema film Mission Impossible
ciptaan Lalo Schiffrin, yang saya mainkan tahun 1992. Lagu ini populer
setelah film layar lebarnya (dibintangi Tom Cruise) jadi film laris.
Dari dulu saya penasaran membayangkan lagu itu dimainkan dengan gitar
tunggal. Saya amati struktur bas dan melodinya, lalu saya gabungkan.
Sampai kini, banyak gitaris meminta saya menuliskan partiturnya yang,
sayangnya, rumit. Banyak sinkopasi dalam aransemennya. Bagi saya lebih
mudah memainkan ketimbang menuliskannya!
Keinginan ikut festival sebetulnya tak pernah padam. Motivasinya lebih
pada keinginan berbincang dengan para gitaris klasik yang sulit
ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sejak 1995, peserta bagian
bebas makin sedikit, akhirnya pihak YMI meniadakan bagian itu.
Para finalis dari bagian klasik memiliki keterampilan luar biasa.
Teknik saya jauh di bawah mereka. Karenanya, setelah 13 tahun tidak
pernah belajar gitar secara formal, tahun 1998 saya kembali
"mengulangi" pelajaran gitar klasik pada Pak Arthur
Sahelangi, instruktur gitar YMI Pusat. Pak Arthur yang kemudian
mencetuskan ide mengadakan konser para eksjuara gitar YFGI.
Konser berlangsung 22 dan 28 Oktober 2000 di Jakarta dan Surabaya.
Karena mendapat sambutan antusias dari penonton, pihak YMI berniat
rutin mengadakannya tiap tahun. Langkah yang patut dipuji.
Meski memiliki banyak gitaris klasik yang tekun dan potensial,
apresiasi masyarakat terhadap alat musik ini masih kurang. Gitar
identik dengan alat musik pengamen jalanan yang kalah gengsi dengan
piano, biola, atau elekton. Tak heran, jarang ada pengusaha mau
memasok buku, kaset, CD, ataupun video gitar.
Kini pun banyak anak muda lebih tertarik pada gitar listrik yang
meraung-raung ketimbang gitar klasik yang bersenandung atau mengentak
penuh keindahan. Andai ada yang mau belajar bermain gitar klasik,
berdasar pengalaman saya mengajar, mereka kerap dihinggapi
"penyakit" kurang sabar dan tekun.
Kendati kini memilih menekuni profesi jurnalistik, saya tetap
meluangkan waktu untuk bermain gitar. Saya ingin terus mencipta
aransemen baru untuk gitar yang sebagian ditampilkan di situs web
pribadi saya, www.geocities.com/jubing. Bagi yang ingin tahu
lebih jauh soal gitar klasik, di situ saya sediakan link ke
berbagai situs web lain yang menyediakan berbagai informasi, dari
pelajaran cara bermain, sejarahnya, para komposer, hingga rekaman
suara dan partitur gratis.
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||