globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Dari hobi jadi prestasi 

Ada ujaran, prestasi menuntut kerja keras dan ketekunan. Itu pula yang dialami Jubing Kristanto, kini redaktur pelaksana sebuah tabloid wanita ternama, yang pernah meraih prestasi dari hobinya bermain gitar.

Perkenalan saya dengan gitar berlangsung sejak kelas 5 SD (1978). Namun, saya mulai takjub saat Ayah dan Ibu memainkan sebuah etude (komposisi musik untuk meningkatkan kemahiran si pemain) ciptaan Ferdinando Carulli, komposer gitar dari Italia.

Merekalah guru pertama saya. Kemampuan saya mengiringi lagu amat terbantu berkat beragamnya kaset musik koleksi Ayah. Sebuah majalah musik, Top Chords, ikut andil mengasah kemampuan saya mengiringi dengan gitar. Begitulah, kelas 6 SD saya sudah tampil di Gedung Olah Raga Semarang dalam sebuah porseni, bersama ansambel musik sekolah, mengiringi teman-teman menyanyikan lagu Dondong Opo Salak.

Karena penasaran ingin memainkan lagu-lagu pop dengan gitar tunggal, saya mencoba memainkan melodi dengan iringannya sekaligus. Pilihan jatuh pada lagu pop Minang Ayam Den Lapeh, yang sering didendangkan Ibu dengan iringan gitar. Keistimewaannya, selain lagunya enak, melodinya terjangkau untuk dimainkan dalam posisi tangan kiri sama. Jadi, memudahkan saya memasukkan akor-akornya sekaligus. Hanya dua jari - ibu jari dan telunjuk - untuk memetik. Tiap malam saya berlatih sampai eksperimen itu berhasil.

Pemain bas "aneh"

Baru di SMP saya menyaksikan ilmu bermain gitar klasik dari beberapa teman sesama peserta ekskul yang kursus gitar klasik. Etude-etude sederhana yang mereka mainkan, bagi saya indah luar biasa. Apalagi melihat kerapian jemari mereka saat memetik dan memencet senar.

Lama-lama saya minta izin Ayah untuk ikut kursus gitar klasik. Ini permintaan sulit karena kondisi ekonomi keluarga kami saat itu. Menyadari keinginan kuat anaknya, saya diizinkan ikut kursus gitar klasik di Sekolah Musik Obor Mas, Semarang, yang memegang lisensi Yayasan Musik Indonesia (YMI) dengan kurikulum Yamaha.

Saya memilih kelas grup (enam orang) yang biayanya paling murah. Selain belajar cara bermain gitar klasik yang benar, saya juga belajar membaca not balok. Lewat partitur, saya mempelajari banyak komposisi baru yang indah, sekaligus menemukan berbagai jurus baru bermain gitar.

Mengingat kemajuan saya pesat, guru saya Pak Suhartono Lukito menemui Ayah. Ia minta agar saya pindah ke kelas privat agar bisa mendapat perhatian khusus. Ini artinya, biaya kursus jadi lebih mahal. Untung, berkat lobi guru saya, pihak sekolah musik memberi kelonggaran biaya les hingga 50% di kelas privat.

Pak Hartono pula yang memperkenalkan saya dengan jazz, rock, sampai pop dan keroncong pada gitar tunggal. Dari dia juga saya mengenal adanya festival gitar yang diadakan sejak awal 1970-an.

"Tahun depan kamu ikut untuk bagian bebas. Potensimu ada di situ," anjurnya. Ia pun memberi saya rekaman final bagian bebas Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI) 1980. Yang saya ingat, ada Koo Tjoe Liang, arek Surabaya, memainkan lagu tema Hawaii Five O, lengkap dengan tabuhan drumnya (juara I), dan Ricky Rusady, adik Ully Sigar Rusady, memainkan Rock Around The Clock-nya Bill Halley dengan seru (runner-up). Sulit dipercaya, gitar bisa dimainkan seperti itu!

Karena lagu yang saya kuasai Ayam Den Lapeh, saya pun mulai memoles aransemennya. Begitupun, saya tetap bergairah mempelajari teknik dan lagu-lagu klasik. Berjam-jam saya belajar memainkan komposisi baru di buku pelajaran.

Di sekolah, terutama saat di SMU, di benak saya cuma ada gitar. Rasanya tak tahan menunggu bel pulang, cepat-cepat mengayuh sepeda, lalu segera bermain gitar. Saya juga aktif di band sekolah, sebagai pemain bas. Karena tak pernah belajar main bas elektrik secara formal, saya banyak mengandalkan kaset, tentu juga dengan "memindahkan" teknik gitar klasik ke dalam permainan bas. Gaya bermain yang rada aneh ini membawa saya menjadi Pemain Bas Terbaik dalam festival band SMA se-Kodya Semarang.

Durian runtuh

Sementara itu Ayam Den Lapeh saya meriahkan dengan atraksi tetabuhan. Karena peserta harus memainkan dua lagu, saya memilih lagu tua Take My Hand for A While. Satu syahdu, satunya riang.

Kompetisi hanya terdiri atas dua babak: penyisihan dan final. Itulah untuk pertama kalinya saya menyaksikan Ibu Kota. Seleksi berlangsung di YMI Cabang Jln. Bumi, Jakarta Selatan. Belum pernah saya melihat gitaris klasik sebanyak itu. Ada beberapa gitaris yang permainannya bikin saya geleng-geleng. Saya pasrah.

Giliran saya tiba. Meski jari gemetaran, saya menyelesaikan dua lagu itu dengan lancar. Seminggu kemudian datang kabar: saya masuk final. Kebetulan Semarang jadi penyelenggara final YFGI 1982.

Namun, di final juara bagian bebas adalah duet kakak-adik Mahesh dan Suresh dari Jakarta dengan Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki dan No Mystery karya empu gitar Larry Coryell. Nilai mereka untuk poin teknik dan aransemen jauh di atas saya. Mereka mampu berimprovisasi dengan not-not cepat, saling mengisi melodi, bak adu tembak senapan mesin. Usai festival, saya dipanggil Pak Jaya Suprana, salah satu juri.

"Terus terang saya mengagumi keberanian gitaris daripada pianis. Mereka berani tampil sendiri di panggung yang besar dengan memainkan alat musik yang kecil. Sedangkan pianis, meski sendirian, ditemani alat musik berukuran amat besar. Jadi, enggak terlalu takutlah," kurang lebih inti ucapan pianis dan pengusaha jamu ini.

Tahun 1983, kembali saya harus puas sebagai finalis. Baru di final tahun 1984 (di Surabaya), saya menjadi runner- up, dengan memainkan lagu Salamku Untuknya yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata, serta lagu tua April in Portugal.

Tahun yang sama saya mendapat durian runtuh. YMI Pusat meminta saya mewakili Indonesia ke festival tingkat Asia Tenggara di Hongkong. Pasalnya, juara tahun sebelumnya, trio asal Solo, sudah bubar. Tak pernah terbayang saya dikirim bermain gitar ke luar negeri.

Distinguished Award

Saya berangkat bersama Lanny Astuti, juara bagian klasik dari kompetisi tahun sebelumnya. Di Hongkong kami diperlakukan bak artis tenar. Namun bagi saya yang terpenting saat itu kesempatan berinteraksi dengan para gitaris dari berbagai negara, kendati dalam lingkup regional.

Acara berlangsung di Academic Community Hall, Kowloon, 9 Desember 1984. Menjelang pertandingan, saya demam. Maklum belum terbiasa dengan musim dingin. Untung Bu Tatang (dari SM Obor Mas, yang menemani kami bersama Pak Danny Tumiwa, bos instruktur gitar) membawa balsem dan mengeroki saya. Menjelang naik pentas, saya masih merasa tak karuan, lemas dan panas-dingin. Ajaib, begitu memainkan gitar, saya segar kembali. Saya memainkan komposisi jazz Captain Caribe karya Earl Klugh dan lagu pop We're All Alone.

Juri memberi saya Distinguished Award, alias juara II. Bagi saya ini cukup membanggakan karena juara pertamanya, dari Singapura, bermain luar biasa. Ia membawakan lagu iklan rokok Marlboro (dari film tua koboi The Magnificent Seven) dengan banyak teknik perkusi yang mengundang gemuruh tepuk tangan. Tradisi kontingen Indonesia menggondol gelar juara masih dipertahankan karena Lanny dinyatakan sebagai Grand Prize Winner.

Tahun 1985 saya terpaksa meninggalkan Semarang karena lulus tes masuk perguruan tinggi negeri. Saya diterima di Jurusan Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Di bangku kuliah saya terus berlatih dan mengembangkan permainan gitar saya. Tentu saja, saya kembali ikut festival gitar.

Tahun 1986 saya kembali masuk final. Saya memainkan Madu dan Racun, serta Hai Becak, lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud. Baru dalam festival ini saya bertekad ingin menang dan jadi juara nasional, setelah sekian kali jadi runner-up.

Itu sebabnya saya memilih Madu dan Racun yang sedang ngetop. Hai Becak pun akrab di telinga banyak orang. Lagu pertama saya bikin dengan irama sedikit dangdut dan ramai. Variasinya tidak banyak. Sedangkan lagu kedua justru sebaliknya, saya buat dalam banyak variasi karena lagu aslinya sangat pendek.

Untuk pertama kalinya, saya tampil amat percaya diri. Sambutan penonton pun meriah, terutama saat Hai Becak. Tapi, juri berpendapat lain. Saya kembali digelari runner- up. Juara pertamanya David Bangun, mahasiswa dari Bandung yang memainkan Layang-Layang dan All Things You Are. David memang bermain lebih mulus dengan harmoni lebih kaya.

Banyak gitaris kemudian ingin bisa memainkan Hai Becak. Mereka meminta saya menuliskan partiturnya. Saya pun belajar menulis akor untuk gitar tunggal, yang kemudian saya bagikan pada yang berminat. Meski gratis, senang rasanya bisa berbagi dengan sesama pencinta gitar.

Akhirnya juara juga

Gaya aransemen yang kurang lebih sama saya terapkan dalam lagu Rame-Rame (Funk Section) dan Naik Delman (Pak Kasur) saat berpartisipasi di YFGI 1987. Dua lagu itu saya buat sangat ramai dengan berbagai trik efek suara dan variasi harmoni, tanpa mengganggu keaslian lagu.

Saya tidak berharap menang, cuma ingin memamerkan pada penonton, betapa kaya suara dan teknik permainan gitar. Niat saya tercapai. Baru saya memainkan intro lagu pertama, penonton sudah "heboh". Kali ini selera juri sama dengan penonton. Saya jadi juara pertama untuk pertama kalinya. Hadiah sebuah organ mini saya jual, uangnya untuk menyambung kontrakan di Depok.

Di samping berfestival, tahun 1986 - 1987 saya memberi les privat, ikut bermain band di kampus, juga sempat mencicipi masuk studio rekaman.

Berkat teman pula, saya berkesempatan menjadi gitaris di Indonesia Petroleum Club (IPC), Jakarta, menggantikan tugas pemain gitar menemani tamu-tamu makan malam di restoran IPC. Selama tiga bulan (seminggu sekali) saya beroleh pengalaman baru, bermain gitar tunggal di hadapan umum selama dua kali 1,5 jam. Termasuk memainkan langsung lagu-lagu permintaan tamu, kendati belum pernah saya mainkan.

Sampai 1991 saya absen ikut festival karena berkonsentrasi menyelesaikan kuliah, mengajar ekskul gitar di SMP dan SMA, memberi kursus gitar, dan menulis artikel tentang kriminologi di media massa. Akhirnya, saya terjun ke dunia jurnalistik dan bergabung di Tabloid NOVA.

Di tengah kesibukan sebagai reporter, saya tetap bermain gitar. Setelah menjadi wartawan, saya sempat tiga kali mengikuti YFGI (1992, 1994, 1995). Saya menjuarai ketiganya. Seperti sebelumnya, di tiap festival itu saya berusaha menampilkan berbagai aransemen yang unik dan berkesan.

Saya pribadi menyukai aransemen lagu tema film Mission Impossible ciptaan Lalo Schiffrin, yang saya mainkan tahun 1992. Lagu ini populer setelah film layar lebarnya (dibintangi Tom Cruise) jadi film laris. Dari dulu saya penasaran membayangkan lagu itu dimainkan dengan gitar tunggal. Saya amati struktur bas dan melodinya, lalu saya gabungkan. Sampai kini, banyak gitaris meminta saya menuliskan partiturnya yang, sayangnya, rumit. Banyak sinkopasi dalam aransemennya. Bagi saya lebih mudah memainkan ketimbang menuliskannya!

Keinginan ikut festival sebetulnya tak pernah padam. Motivasinya lebih pada keinginan berbincang dengan para gitaris klasik yang sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sejak 1995, peserta bagian bebas makin sedikit, akhirnya pihak YMI meniadakan bagian itu.

Para finalis dari bagian klasik memiliki keterampilan luar biasa. Teknik saya jauh di bawah mereka. Karenanya, setelah 13 tahun tidak pernah belajar gitar secara formal, tahun 1998 saya kembali "mengulangi" pelajaran gitar klasik pada Pak Arthur Sahelangi, instruktur gitar YMI Pusat. Pak Arthur yang kemudian mencetuskan ide mengadakan konser para eksjuara gitar YFGI.

Konser berlangsung 22 dan 28 Oktober 2000 di Jakarta dan Surabaya. Karena mendapat sambutan antusias dari penonton, pihak YMI berniat rutin mengadakannya tiap tahun. Langkah yang patut dipuji.

Meski memiliki banyak gitaris klasik yang tekun dan potensial, apresiasi masyarakat terhadap alat musik ini masih kurang. Gitar identik dengan alat musik pengamen jalanan yang kalah gengsi dengan piano, biola, atau elekton. Tak heran, jarang ada pengusaha mau memasok buku, kaset, CD, ataupun video gitar.

Kini pun banyak anak muda lebih tertarik pada gitar listrik yang meraung-raung ketimbang gitar klasik yang bersenandung atau mengentak penuh keindahan. Andai ada yang mau belajar bermain gitar klasik, berdasar pengalaman saya mengajar, mereka kerap dihinggapi "penyakit" kurang sabar dan tekun.

Kendati kini memilih menekuni profesi jurnalistik, saya tetap meluangkan waktu untuk bermain gitar. Saya ingin terus mencipta aransemen baru untuk gitar yang sebagian ditampilkan di situs web pribadi saya, www.geocities.com/jubing. Bagi yang ingin tahu lebih jauh soal gitar klasik, di situ saya sediakan link ke berbagai situs web lain yang menyediakan berbagai informasi, dari pelajaran cara bermain, sejarahnya, para komposer, hingga rekaman suara dan partitur gratis.

Boks: Dari Jalanan ke Gedung Konser

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej