|
|
Bulan Februari 2001
|
|
IMLEK DI BEIJING: TIDAK MEWAJIBKAN ANGPAU DAN KUE KERANJANG Tahun Baru Imlek baru saja berlalu, dirayakan dengan gegap gempita dan meriah di berbagai belahan dunia. Bagaimana pula dengan masyarakat Beijing?
Perayaan Tahun Baru Imlek sebenarnya tidak
berlangsung pada tanggal 1 bulan 1 (menurut penanggalan tradisional
Cina) saja. Sampai setengah bulan setelah itu orang masih tetap boleh
merayakan dan mengucapkan guonian hao (baca: kuo nién hao)
"Selamat Tahun Baru". Total jenderal orang Cina sibuk dengan
urusan Tahun Baru Imlek selama lima minggu: tiga minggu sebelum dan
dua minggu sesudahnya dengan puncak kerepotan terjadi pada satu minggu
sebelum hari "H".
Tentu saja baik persiapan maupun penutupannya ditandai dengan upacara
khusus. Tiga minggu sebelumnya, tanggal 8 bulan 12 diadakan acara
makan bubur laba (baca: lapa).
Perayaan Musim Semi
Kata Imlek berasal dari dialek Amoi, bahasa Hokkian Selatan
yang berarti "penanggalan bulan" atau yinli dalam
bahasa Mandarin. Di Indonesia orang menamakan tahun baru itu dengan
kata "Imlek" yang di negeri asalnya disebut chunjie
(perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut guo nian
(memasuki tahun baru), di Jakarta lebih dikenal dengan sebutan konyan.
Begitu memasuki bulan 12 atau layue persiapan menyambutnya
mulai dilakukan. Semua persiapan itu berpedoman pada sebuah
peribahasa, bunyinya kira-kira begini:
"Nak, nak, kamu jangan rakus, setelah lewat bulan laba
kita merayakan Tahun Baru; di bulan laba kamu makan bubur laba
beberapa hari, li li la la tanggal 23, 23 ada gula-gula, 24
membersihkan rumah, 25 masak tahu, 26 merebus daging kambing, 27
potong ayam, 28 merawat muka dan potong rambut, 29 buat roti kukus, 30
malam begadang, hari pertama tahun baru berpesta ria."
Permen untuk Dewa Dapur
Bubur laba dibuat dari beras, kacang-kacangan, buah zao.
Buah lonjong berbiji ini lebih besar dari biji rambutan. Kulitnya
merah tua dengan daging putihnya yang manis. Dengan yang lain-lain
jumlah jenis isi bubur ini mencapai + 10 macam. Tapi, itu bukan
harga mati. Bagi keluarga kurang mampu, beras dan buah zao merah saja
cukup.
Pada tanggal 23 ada upacara penting karena dipercaya Dewa Dapur akan
naik ke surga. Hari itu sang Dewa akan melaporkan semua kejadian
selama satu tahun di setiap keluarga kepada Tian. Manusia pun
mencari akal agar Tian tidak marah. Caranya, hari itu sang Dewa
disuguhi permen yang amat lengket dan manis, namanya guandongtang
(baca: kuan tung tang). Setelah makan permen itu, mulut sang Dewa yang
terasa manis, diharapkan cuma melaporkan hal yang bagus-bagus.
Menurut versi lain, mulut sang Dewa terkancing akibat makan permen
yang amat lengket. Makanya, ia cuma bisa senyam-senyum di depan
Tian. Berhubung upacara itu hanya berjarak 1 minggu dengan
tahun baru, tanggal 23 disebut xiao nian atau "Tahun Baru
Kecil".
Sebagian orang menyebut tanggal 23 yaoming de guandongtang atau
"permen guandong peminta nyawa". Usut punya usut,
rupanya mereka percaya, sebelum memasuki Imlek semua utang sudah harus
lunas. Jelaslah, bagi yang berutang hari sengsara (karena harus
membayar utang) pun semakin dekat.
Bagaimana dengan kegiatan bersih-bersih di tanggal 24? Alkisah,
seorang dewa bernama Dewa Tiga Mayat (San Shi Shen) ingin
menjadi pahlawan bagi manusia dengan cara licik. Ia menjelek-jelekkan
manusia di hadapan Mahadewa Tertinggi ( Yuhuan Dadi). Dalam
waktu singkat Mahadewa menerima 99.999 laporan tentang rencana manusia
berontak melawannya. Mahadewa marah bukan kepalang, memerintahkan Dewa
Tiga Mayat memberi tanda khusus pada dinding rumah si manusia
pemberontak, juga menyuruh laba-laba membuat jaring yang amat besar di
langit-langit rumah. Saking marah, ia pun menyuruh Dewa Pencabut Nyawa
( Lingshenggong) turun ke bumi di malam tahun baru untuk
membunuh orang yang rumahnya sudah ditandai oleh Dewa Tiga Mayat!
Dewa Tiga Mayat, tanpa buang waktu, cepat-cepat terbang ke bumi menuju
rumah yang sudah ditandainya guna "menyelamatkan manusia".
Dengan demikian, dia akan dipandang manusia sebagai dewa terbaik. Tak
disangka, pimpinan dewa dapur mengetahui rencana busuknya. Si Pimpinan
cepat-cepat pergi ke Dewa Dapur di setiap rumah mencari akal bagaimana
menghalangi niat busuk Dewa Tiga Mayat. Akhirnya mereka sepakat
menghapus bersih semua tanda yang dibuat Dewa Tiga Mayat.
Kagetlah ketika Dewa Pencabut Nyawa tiba di bumi, ia tidak menemukan
apa pun di rumah manusia. Rencananya gagal total. Malah begitu akal
liciknya terbongkar, Dewa Tiga Mayat pun dihukum kurungan di langit.
Sebaliknya, Dewa Dapur menjadi pahlawan. Itulah asal-usul ada hari
khusus membersihkan rumah sebelum Tahun Baru.
Kue keranjang tak wajib
Mulai tanggal 25 - 30 orang Beijing sibuk berbelanja dan memasak.
Mereka membeli antara lain nianhua (lukisan pohon Yangliu,
rumah yang dikelilingi pohon persik, senjata kuno khusus menyambut
Imlek), chunlian (bait berpasangan khusus untuk Imlek, letaknya
di sisi kiri-kanan sesuatu), zabanr (manisan buah kering).
Mereka juga membuat mijian (manisan buah segar, ditusuk pada
tusukan sate yang panjang lalu ditancapkan di tempat seperti meja
pendek berukuran sekitar 30 x 20 cm), migong (kue ketan goreng
yang dibalut gula cair, berbentuk persegi panjang atau pagoda, bagian
atasnya dihiasi kertas merah yang digunting dalam bentuk-bentuk yang
indah), niangao (kue keranjang), meski di Beijing kue keranjang
tidak se-"wajib" jiaozi perayaan Imlek di sini.
Mereka juga menyiapkan masakan istimewa dari lintah laut, sarang
burung walet, sirip ikan hiu yang mahal.
Mereka juga menggantungkan duilian (bait berpasangan) atau lian
(berpasangan). Di toko-toko tersedia manisan buah kering. Selain
buah-buahan seperti yang ada di Indonesia misalnya kacang, kuaci, juga
ada manisan buah kering berwarna-warni, ada yang hijau, kuning, merah,
coklat yang elok dipandang.
Bagi angpao di tengah malam
Beberapa dekade lalu 90% orang Beijing masih memiliki patung Buddha
atau dewa lain di rumah. Di hari terakhir bulan la mereka
bersembahyang dengan mempersembahkan makanan.
Kini hampir semua keluarga tidak lagi memiliki patung Buddha. Mereka
hanya meletakkan meja di tengah rumah, lalu di atasnya diletakkan
barang-barang sesaji. Usai sembahyang, mereka memakan sesajen tadi
bersama-sama.
Kesibukan baru berakhir menjelang malam Tahun Baru atau tanggal 30
malam atau chuxi (baca: chusi), "melewatkan senja".
Hari itu rumah sudah dihiasi seindah mungkin, terpasang kain merah di
sisi pintu, dinding dengan bunga-bungaan, jianzhi (kertas
hiasan yang digunting menjadi berbagai motif, salah satu seni
kerajinan tangan Cina) pun tertempel di jendela atau dinding. Pokoknya
suasana rumah berbeda dari hari-hari biasa. Semua hiasan berwarna
merah, melambangkan hari bahagia. Bahkan laci tempat menyimpan uang,
papan nama toko pun ditempeli kertas kuning dengan tulisan warna
merah.
Selain pulang untuk makan malam bersama, tujuan lain adalah menemui
orang-orang yang sudah lanjut usia. Siapa tahu nenek- kakek sudah
meninggal tahun berikutnya.
Setelah makan malam, mereka ngobrol sepanjang malam sambil main kartu
atau kegiatan lain yang menggembirakan. Kini kegiatan begadang
dilakukan sambil menonton TV. Pukul 24.00 dimulai acara tuanbai
(baca: thuan pai), atau memberi hormat dalam keluarga.
Yang pertama-tama diberi hormat adalah anggota keluarga tertua.
Mengingat keluarga Cina sekarang rata-rata hanya boleh punya satu
anak, acara ini tidak berlangsung lama. Saat memberi peghormatan orang
yang lebih muda akan mengucapkan kata-kata seperti "semoga sehat
selalu", "semoga panjang umur", dan yang sejenisnya.
Lalu orang tua akan memberi angpao yang di Beijing dinamakan yasuiqian
(baca: ya suei cien).
Makanan wajib
Jiaozi (baca: ciaoce), wajib di malam Imlek, bentuknya mirip
pempek kapal selam, tetapi mini. Acara makan kue ini diadakan setelah
selesai acara penghormatan. Mereka duduk bersama kembali makan jiaozi
yang hanya berisi sayur. Untuk menambah marak suasana, salah satu jiaozi
diisi uang logam. Siapa yang mendapat, dialah yang beruntung.
Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi pada tanggal
1 hanya kaum pria. Kaum wanita harus menunggu sampai tanggal 6. Di
zaman kini aturan itu tidak berlaku lagi. Yang harus dikunjungi
berturut-turut adalah orang tua suami sambil membawa sedikit hadiah,
setelah itu baru orang tua isteri. Lalu ke sanak keluarga lain. Itu
pun tidak perlu duduk berlama-lama, cukup mengucapkan salam, tanpa
membawa hadiah, dan tidak ada aturan siapa yang harus dikunjungi lebih
dulu. Setelah itu orang yang pernah menolong, dan terakhir tetangga.
Kebiasaan memberi angpao tidak begitu umum di Beijing. Kalaupun
ada, hanya bagi anak usia 18 tahun ke bawah. Tapi kalau tidak pun
tidak masalah.
Perayaan Tahun Baru Imlek masih berlaku sampai hari ke-15. Meski
kehidupan sudah normal kembali, upacara masih berlangsung. Tanggal 7
ada upacara renshengjie atau "hari kelahiran
manusia", yang merupakan pengaruh ajaran Tao.
Tanggal 15 dilakukan upacara penutupan Imlek yakni yuanxiaojie
(perayaan malam hari di bulan pertama), di Indonesia capgomeh.
Uniknya, perayaan penutupan ini sudah berlangsung 2000 tahun lebih.
Semasa dinasti Han, pada malam itu raja keluar istana untuk bergembira
bersama rakyat.
Perayaan ini disebut juga dengjie atau perayaan lampu dengan
lampu lilin yang kita kenal sebagai tenglong. Sampai saat ini perayaan
tenglong masih dijalankan. Karena tanggal 15 sedang bulan purnama,
mereka pun makan onde-onde meniru bundarnya bulan. Onde-onde ada yang
berisi daging, ada yang berisi kacang tumbuk dan diberi kuah.
Malam itu semua orang turun ke jalan menonton keindahan lampu tenglong
yang digantung di jalan. Di masa sekarang pemerintah yang menghias
jalan dengan lampu-lampu tenglong. Penduduk akan menggantungkan
miliknya di depan rumah. Malam itu benar-benar malam terakhir
bergembira ria menyambut Imlek yang sudah berlangsung selama dua
minggu sebelum kembali menjalani kehidupan biasa. Di pinggir kota
masih diperbolehkan memasang petasan dan kembang api, tetapi tidak di
tengah kota.
Sebagian besar masyarakat Beijing merayakan Imlek dengan sangat
praktis. Namun, yang masih taat pada Taoisme pergi bersembahyang di ditan
(Kuil Bumi). Kebiasaan makan bubur laba masih dilakukan, begitu
pula makan bersama pada chuxi dengan menu wajib jiaozi.
Toko-toko tetap buka dengan waktu kerja lebih pendek. Karena hari itu
hari libur, banyak orang berjalan-jalan dan berekreasi ke taman atau
pusat perbelanjaan. Ada juga bazar di tempat yang bernama miaohui
menjual barang-barang dan makanan.
Untuk memberi salam, orang Beijing hanya saling mengucapkan guonian
hao. Tetapi ada juga yang masih memegang "aturan lama"
dengan bersoja. Di beberapa kuil masih ada upacara menyambut Tahun
Baru Imlek. Tetapi tidak ada pawai dengan arak-arakan barongsai atau
tarian naga seperti yang dilakukan setiap tahun di Orchard Road,
Singapura, dan Indonesia akhir-akhir ini.
Namun, meski sudah meninggalkan kebiasaan itu, masih ada yang membakar
kertas perak sebagai "duit" orang yang meninggal. Memang,
tidak mudah mengikis kebudayaan yang sudah berlangsung ribuan tahun
itu. (Hermina Sutami/)
Boks : Makan "Bata Kota" |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||