globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

IMLEK DI BEIJING: TIDAK MEWAJIBKAN ANGPAU DAN KUE KERANJANG 

Tahun Baru Imlek baru saja berlalu, dirayakan dengan gegap gempita dan meriah di berbagai belahan dunia. Bagaimana pula dengan masyarakat Beijing?

Perayaan Tahun Baru Imlek sebenarnya tidak berlangsung pada tanggal 1 bulan 1 (menurut penanggalan tradisional Cina) saja. Sampai setengah bulan setelah itu orang masih tetap boleh merayakan dan mengucapkan guonian hao (baca: kuo nién hao) "Selamat Tahun Baru". Total jenderal orang Cina sibuk dengan urusan Tahun Baru Imlek selama lima minggu: tiga minggu sebelum dan dua minggu sesudahnya dengan puncak kerepotan terjadi pada satu minggu sebelum hari "H".

Tentu saja baik persiapan maupun penutupannya ditandai dengan upacara khusus. Tiga minggu sebelumnya, tanggal 8 bulan 12 diadakan acara makan bubur laba (baca: lapa).

Perayaan Musim Semi

Kata Imlek berasal dari dialek Amoi, bahasa Hokkian Selatan yang berarti "penanggalan bulan" atau yinli dalam bahasa Mandarin. Di Indonesia orang menamakan tahun baru itu dengan kata "Imlek" yang di negeri asalnya disebut chunjie (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut guo nian (memasuki tahun baru), di Jakarta lebih dikenal dengan sebutan konyan.

Begitu memasuki bulan 12 atau layue persiapan menyambutnya mulai dilakukan. Semua persiapan itu berpedoman pada sebuah peribahasa, bunyinya kira-kira begini:

"Nak, nak, kamu jangan rakus, setelah lewat bulan laba kita merayakan Tahun Baru; di bulan laba kamu makan bubur laba beberapa hari, li li la la tanggal 23, 23 ada gula-gula, 24 membersihkan rumah, 25 masak tahu, 26 merebus daging kambing, 27 potong ayam, 28 merawat muka dan potong rambut, 29 buat roti kukus, 30 malam begadang, hari pertama tahun baru berpesta ria."

Permen untuk Dewa Dapur

Bubur laba dibuat dari beras, kacang-kacangan, buah zao. Buah lonjong berbiji ini lebih besar dari biji rambutan. Kulitnya merah tua dengan daging putihnya yang manis. Dengan yang lain-lain jumlah jenis isi bubur ini mencapai + 10 macam. Tapi, itu bukan harga mati. Bagi keluarga kurang mampu, beras dan buah zao merah saja cukup.

Pada tanggal 23 ada upacara penting karena dipercaya Dewa Dapur akan naik ke surga. Hari itu sang Dewa akan melaporkan semua kejadian selama satu tahun di setiap keluarga kepada Tian. Manusia pun mencari akal agar Tian tidak marah. Caranya, hari itu sang Dewa disuguhi permen yang amat lengket dan manis, namanya guandongtang (baca: kuan tung tang). Setelah makan permen itu, mulut sang Dewa yang terasa manis, diharapkan cuma melaporkan hal yang bagus-bagus.

Menurut versi lain, mulut sang Dewa terkancing akibat makan permen yang amat lengket. Makanya, ia cuma bisa senyam-senyum di depan Tian. Berhubung upacara itu hanya berjarak 1 minggu dengan tahun baru, tanggal 23 disebut xiao nian atau "Tahun Baru Kecil".

Sebagian orang menyebut tanggal 23 yaoming de guandongtang atau "permen guandong peminta nyawa". Usut punya usut, rupanya mereka percaya, sebelum memasuki Imlek semua utang sudah harus lunas. Jelaslah, bagi yang berutang hari sengsara (karena harus membayar utang) pun semakin dekat.

Bagaimana dengan kegiatan bersih-bersih di tanggal 24? Alkisah, seorang dewa bernama Dewa Tiga Mayat (San Shi Shen) ingin menjadi pahlawan bagi manusia dengan cara licik. Ia menjelek-jelekkan manusia di hadapan Mahadewa Tertinggi ( Yuhuan Dadi). Dalam waktu singkat Mahadewa menerima 99.999 laporan tentang rencana manusia berontak melawannya. Mahadewa marah bukan kepalang, memerintahkan Dewa Tiga Mayat memberi tanda khusus pada dinding rumah si manusia pemberontak, juga menyuruh laba-laba membuat jaring yang amat besar di langit-langit rumah. Saking marah, ia pun menyuruh Dewa Pencabut Nyawa ( Lingshenggong) turun ke bumi di malam tahun baru untuk membunuh orang yang rumahnya sudah ditandai oleh Dewa Tiga Mayat!

Dewa Tiga Mayat, tanpa buang waktu, cepat-cepat terbang ke bumi menuju rumah yang sudah ditandainya guna "menyelamatkan manusia". Dengan demikian, dia akan dipandang manusia sebagai dewa terbaik. Tak disangka, pimpinan dewa dapur mengetahui rencana busuknya. Si Pimpinan cepat-cepat pergi ke Dewa Dapur di setiap rumah mencari akal bagaimana menghalangi niat busuk Dewa Tiga Mayat. Akhirnya mereka sepakat menghapus bersih semua tanda yang dibuat Dewa Tiga Mayat.

Kagetlah ketika Dewa Pencabut Nyawa tiba di bumi, ia tidak menemukan apa pun di rumah manusia. Rencananya gagal total. Malah begitu akal liciknya terbongkar, Dewa Tiga Mayat pun dihukum kurungan di langit. Sebaliknya, Dewa Dapur menjadi pahlawan. Itulah asal-usul ada hari khusus membersihkan rumah sebelum Tahun Baru.

Kue keranjang tak wajib

Mulai tanggal 25 - 30 orang Beijing sibuk berbelanja dan memasak. Mereka membeli antara lain nianhua (lukisan pohon Yangliu, rumah yang dikelilingi pohon persik, senjata kuno khusus menyambut Imlek), chunlian (bait berpasangan khusus untuk Imlek, letaknya di sisi kiri-kanan sesuatu), zabanr (manisan buah kering). Mereka juga membuat mijian (manisan buah segar, ditusuk pada tusukan sate yang panjang lalu ditancapkan di tempat seperti meja pendek berukuran sekitar 30 x 20 cm), migong (kue ketan goreng yang dibalut gula cair, berbentuk persegi panjang atau pagoda, bagian atasnya dihiasi kertas merah yang digunting dalam bentuk-bentuk yang indah), niangao (kue keranjang), meski di Beijing kue keranjang tidak se-"wajib" jiaozi perayaan Imlek di sini. Mereka juga menyiapkan masakan istimewa dari lintah laut, sarang burung walet, sirip ikan hiu yang mahal.

Mereka juga menggantungkan duilian (bait berpasangan) atau lian (berpasangan). Di toko-toko tersedia manisan buah kering. Selain buah-buahan seperti yang ada di Indonesia misalnya kacang, kuaci, juga ada manisan buah kering berwarna-warni, ada yang hijau, kuning, merah, coklat yang elok dipandang.

Bagi angpao di tengah malam

Beberapa dekade lalu 90% orang Beijing masih memiliki patung Buddha atau dewa lain di rumah. Di hari terakhir bulan la mereka bersembahyang dengan mempersembahkan makanan.

Kini hampir semua keluarga tidak lagi memiliki patung Buddha. Mereka hanya meletakkan meja di tengah rumah, lalu di atasnya diletakkan barang-barang sesaji. Usai sembahyang, mereka memakan sesajen tadi bersama-sama.

Kesibukan baru berakhir menjelang malam Tahun Baru atau tanggal 30 malam atau chuxi (baca: chusi), "melewatkan senja". Hari itu rumah sudah dihiasi seindah mungkin, terpasang kain merah di sisi pintu, dinding dengan bunga-bungaan, jianzhi (kertas hiasan yang digunting menjadi berbagai motif, salah satu seni kerajinan tangan Cina) pun tertempel di jendela atau dinding. Pokoknya suasana rumah berbeda dari hari-hari biasa. Semua hiasan berwarna merah, melambangkan hari bahagia. Bahkan laci tempat menyimpan uang, papan nama toko pun ditempeli kertas kuning dengan tulisan warna merah.

Selain pulang untuk makan malam bersama, tujuan lain adalah menemui orang-orang yang sudah lanjut usia. Siapa tahu nenek- kakek sudah meninggal tahun berikutnya.

Setelah makan malam, mereka ngobrol sepanjang malam sambil main kartu atau kegiatan lain yang menggembirakan. Kini kegiatan begadang dilakukan sambil menonton TV. Pukul 24.00 dimulai acara tuanbai (baca: thuan pai), atau memberi hormat dalam keluarga.

Yang pertama-tama diberi hormat adalah anggota keluarga tertua. Mengingat keluarga Cina sekarang rata-rata hanya boleh punya satu anak, acara ini tidak berlangsung lama. Saat memberi peghormatan orang yang lebih muda akan mengucapkan kata-kata seperti "semoga sehat selalu", "semoga panjang umur", dan yang sejenisnya. Lalu orang tua akan memberi angpao yang di Beijing dinamakan yasuiqian (baca: ya suei cien).

Makanan wajib

Jiaozi (baca: ciaoce), wajib di malam Imlek, bentuknya mirip pempek kapal selam, tetapi mini. Acara makan kue ini diadakan setelah selesai acara penghormatan. Mereka duduk bersama kembali makan jiaozi yang hanya berisi sayur. Untuk menambah marak suasana, salah satu jiaozi diisi uang logam. Siapa yang mendapat, dialah yang beruntung.

Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi pada tanggal 1 hanya kaum pria. Kaum wanita harus menunggu sampai tanggal 6. Di zaman kini aturan itu tidak berlaku lagi. Yang harus dikunjungi berturut-turut adalah orang tua suami sambil membawa sedikit hadiah, setelah itu baru orang tua isteri. Lalu ke sanak keluarga lain. Itu pun tidak perlu duduk berlama-lama, cukup mengucapkan salam, tanpa membawa hadiah, dan tidak ada aturan siapa yang harus dikunjungi lebih dulu. Setelah itu orang yang pernah menolong, dan terakhir tetangga.

Kebiasaan memberi angpao tidak begitu umum di Beijing. Kalaupun ada, hanya bagi anak usia 18 tahun ke bawah. Tapi kalau tidak pun tidak masalah.

Perayaan Tahun Baru Imlek masih berlaku sampai hari ke-15. Meski kehidupan sudah normal kembali, upacara masih berlangsung. Tanggal 7 ada upacara renshengjie atau "hari kelahiran manusia", yang merupakan pengaruh ajaran Tao.

Tanggal 15 dilakukan upacara penutupan Imlek yakni yuanxiaojie (perayaan malam hari di bulan pertama), di Indonesia capgomeh. Uniknya, perayaan penutupan ini sudah berlangsung 2000 tahun lebih. Semasa dinasti Han, pada malam itu raja keluar istana untuk bergembira bersama rakyat.

Perayaan ini disebut juga dengjie atau perayaan lampu dengan lampu lilin yang kita kenal sebagai tenglong. Sampai saat ini perayaan tenglong masih dijalankan. Karena tanggal 15 sedang bulan purnama, mereka pun makan onde-onde meniru bundarnya bulan. Onde-onde ada yang berisi daging, ada yang berisi kacang tumbuk dan diberi kuah.

Malam itu semua orang turun ke jalan menonton keindahan lampu tenglong yang digantung di jalan. Di masa sekarang pemerintah yang menghias jalan dengan lampu-lampu tenglong. Penduduk akan menggantungkan miliknya di depan rumah. Malam itu benar-benar malam terakhir bergembira ria menyambut Imlek yang sudah berlangsung selama dua minggu sebelum kembali menjalani kehidupan biasa. Di pinggir kota masih diperbolehkan memasang petasan dan kembang api, tetapi tidak di tengah kota.

Sebagian besar masyarakat Beijing merayakan Imlek dengan sangat praktis. Namun, yang masih taat pada Taoisme pergi bersembahyang di ditan (Kuil Bumi). Kebiasaan makan bubur laba masih dilakukan, begitu pula makan bersama pada chuxi dengan menu wajib jiaozi.

Toko-toko tetap buka dengan waktu kerja lebih pendek. Karena hari itu hari libur, banyak orang berjalan-jalan dan berekreasi ke taman atau pusat perbelanjaan. Ada juga bazar di tempat yang bernama miaohui menjual barang-barang dan makanan.

Untuk memberi salam, orang Beijing hanya saling mengucapkan guonian hao. Tetapi ada juga yang masih memegang "aturan lama" dengan bersoja. Di beberapa kuil masih ada upacara menyambut Tahun Baru Imlek. Tetapi tidak ada pawai dengan arak-arakan barongsai atau tarian naga seperti yang dilakukan setiap tahun di Orchard Road, Singapura, dan Indonesia akhir-akhir ini.

Namun, meski sudah meninggalkan kebiasaan itu, masih ada yang membakar kertas perak sebagai "duit" orang yang meninggal. Memang, tidak mudah mengikis kebudayaan yang sudah berlangsung ribuan tahun itu. (Hermina Sutami/)

Boks : Makan "Bata Kota"

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej