globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

JATILUHUR TUNDUKKAN TAWURAN

Rasanya tak mungkin menyatukan tiga kelompok pelajar petawur, yang saling bermusuhan. Mereka tak segan "menyayur" anggota kelompok musuh yang disandera. Namun, saat dikumpulkan untuk menghadapi kesulitan bersama, ternyata bisa pula mereka bersatu, meskipun perlu waktu. Tasnim Yusuf menuturkan pengalamannya menjadi pendamping mereka.

Setidaknya itu yang terjadi ketika mereka dikumpulkan selama delapan hari untuk melakukan kegiatan di alam terbuka waduk Jatiluhur dan sekitarnya.

Semua diawali dengan perkenalan di lapangan tenis Senayan, Jakarta. Ada rasa ngeri melihat mereka bergerombol, membentuk tiga kelompok yang saling menjaga jarak di ruang pertemuan itu. Wajar sebenarnya, mengingat merekalah The Big Three soal tawuran di jalan. Ketiga kelompok berasal dari tiga sekolah, yang sebagian muridnya menjadi musuh bebuyutan di jalanan Jakarta, yakni SMK Budi Utomo dengan nama beken Budut, SMK 53 lebih dikenal dengan I DKI, dan SMK 35 alias Kampung Jawa. Selanjutnya, nama top itu yang lebih akrab terdengar. Mereka pentolan yang menguasai sepanjang jalan Sudirman, Daan Mogot, Hayam Wuruk, Tanjung Priok, dan semua jalur menuju Kampung Rambutan.

Kengerian memuncak ketika kepala sekolah masing-masing bercerita, bahwa semua peserta yang akan berangkat adalah pimpinan basis. Dalam dunia tawuran, basis adalah segalanya. Demi basis mereka bertaruh nyawa di jalanan. Basis amat tergantung pada arah tempat tinggal siswa. Pimpinan basis, yang populer dengan sebutan pentolan, memiliki kekuasaan melebihi ketua OSIS dan ditakuti lawan maupun kawan.

Selain berani, pentolan mesti mampu berlari kencang. Ia juga harus berhati besi. Kewajibannya, "menyayur" (menyiksa) lawan yang tertawan. Pentolan juga berhak memungut uang kolekan (pungutan liar) untuk pengobatan anggota, menjenguk teman di penjara, dan, mungkin, untuk diri-sendiri. Sumber dana lain datang dari kondektur bus yang menolak mengangkut anak basis. Beberapa pentolan berbakat preman, setelah lulus pun tetap minta kolekan atau memalak adik kelas.

Mengingat perilaku petawur itu, rasanya saya ingin mengundurkan diri. Tak terbayangkan hidup bersama mereka, yang sehari-harinya bermusuhan. Rasa kecut menjadi berlipat melihat wajah dingin mereka jika beradu pandang. Namun, rencana mesti tetap berjalan.

Dihantui dendam

Selama perjalanan menuju Jatiluhur, suasana tetap beku tanpa tegur sapa di antara mereka. Setiba di kantor Outward Bound Indonesia, alias camp, peserta dibagi jadi dua kelompok, A dan B. Saya masuk kelompok B. Sebenarnya tugas resmi saya sebagai pendamping dari Forum Kemanusiaan Jakarta. Namun, saya tak boleh memberitahukan hal ini pada anggota kelompok. Saya harus menjadi kawan mereka.

Tiap kelompok terdiri atas empat siswa SMK Budi Utomo, empat dari SMK 53, dan empat dari SMK 35. Meski kekuatan berimbang, perasaan seperti pelanduk yang bakal jadi bulan-bulanan gajah tetap ada.

Selama berkumpul, ada beberapa kegiatan bersama. Ada beberapa permainan yang membutuhkan kerja sama dan saling percaya. Ini sulit dilakukan. Setiap dipasangkan dengan sekolah berbeda, diam-diam mereka akan berganti pasangan.

Salah satu permainannya adalah melintasi dinding papan setinggi 3 m, tanpa alat bantu apa pun. Melihat kebekuan kelompok, cukup beralasan bila ada kesangsian untuk sampai ke balik dinding. Hampir sepuluh menit, semuanya sibuk dengan ego masing-masing. Ketika panduan terakhir dari instruktur tak juga terjawab, seorang instruktur memberi petunjuk bahwa mereka mesti berupaya sebagai satu kelompok. Ajaib! Semua langsung mengelompok dan menyusun rencana. Dengan, saling pondong, membentuk anak tangga, sambil bermandi keringat, mereka pun sampai di balik dinding papan. Sesampai di balik dinding papan semua baru sadar, ternyata yang jadi fondasi justru anak paling kerempeng di kelompok.

Rupanya permainan tadi baru pemanasan. Masih ada kegiatan lain untuk menguji nyali para petawur. Semua peserta mejelajah alam di sekitar Jatiluhur untuk mencapai suatu titik tujuan. Peserta seakan menjadi "bangsa nomaden" yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pukul 16.00 instruktur membagikan bekal berupa peralatan "tempur" yang harus dikemas dalan ransel. Namun, petunjuk pengisian ransel tak digubris. Mereka justru lebih terkesima melihat ransel, panci, kompor gas mini, dan tenda yang mesti mereka bawa. Maklum, barang-barang itu termasuk asing bagi "pendekar-pendekar" tawuran ini.

Barang bawaan disarankan seminim mungkin. Selain kebutuhan pribadi, ransel wajib dijejali barang milik kelompok. Mereka hanya diperkenankan membawa tiga pasang baju termasuk yang dipakai. Tanpa uang sesen pun, peralatan elektronik, dan rokok.

Mereka segera meninggalkan dunia beradab menuju sebuah "tanjung" sebagai perhentian pertama, tepat ketika matahari terbenam. Agar perjalanan esok hari lancar, tiap anggota kelompok mendapat tugas secara bergilir setiap hari. Leader bertanggung jawab atas keselamatan kelompok. Navigator menentukan arah langkah. Cook sebagai pengisi "kampung tengah". Cleaner petugas bersih-bersih. Sweeper bertugas sebagai "tukang sapu ranjau".

Sampai hari keempat, belum tampak tanda-tanda mereka bisa bekerja sama. Asal basis dan sekolah mendominasi pembicaraan. Perilaku bertawur sulit luntur. Ribut-ribut kecil, terjadi tiap hari, hanya karena masalah sepele. Sebuah sisir menyulut marah tenda Kampung Jawa karena dituduh menggunakan tanpa izin pemilik. Sendok bisa jadi penyebab ricuh. Tugas memanggul peralatan pun membuat mereka sempat berantem di pinggir danau. Kabarnya sampai ada yang mengeluarkan pisau. Untung ada yang melerai. Untuk mencegah dampak lebih buruk, empat pagi berturut-turut, komitmen baru selalu dibuat kalau masih akan melanjutkan perjalanan.

Pentolan bernyali ciut

Keinginan mengelompok sesuai asal sekolah, toh tetap sulit dibendung. Instruktur dan saya pura-pura tak tahu kalau sebenarnya malam-malam mereka telah saling ganti tempat dengan sukarela. Maka, terbentuk tenda Budut, Jawa, dan DKI.

Di hari kedua, peserta mesti melakukan pelayaran menggunakan kano berpasangan. Awalnya, ketika berlatih, mereka diminta mencari pasangan sendiri. Eh, usai latihan, pasangan ditentukan instruktur. Hampir semuanya bersungut-sungut.

Menurut peta, titik koordinat yang hendak dituju berjarak 5 km. Beberapa saat pasangan-pasangan baru mencoba beradaptasi. Namun, tampaknya begitu sulit. Ada kano yang cuma berputar-putar di tempat. Penyebabnya, masih sama, sulit bekerja sama.

Ketika harus melakukan atraksi individu, ternyata mereka tidak seberani saat tawuran. Misalnya, saat harus menuruni dinding tebing dengan badan tegak lurus terhadap tebing menggunakan kernmantel (tali nyawa), sit harness (tali selangkang), dan carabiner (cincin kait). "Mending gue 'disayur' sekalian," tolak seorang petawur. Sangat kontras dengan kebrutalannya ketika tawuran. Ia malah memohon keringanan sembari merengek-rengek diizinkan turun melalui jalan setapak di sisi lain bukit.

Keterampilan mereka rupanya terbatas pada mengayun-ayunkan dengan ngawur samurai, clurit, atau sejata tajam lainnya. Buktinya, saat harus bersama-sama membangun rakit, mereka tak bisa melakukannya secara benar. Usai gerak badan di hari keempat, instruktur membekali enam drum plastik, delapan batang bambu, dan beberapa tali sepanjang 10 m untuk membangun rakit guna menyeberang lagi. Dua kali membuat rakit, dua kali pula di bongkar. Kalaupun rakitnya jadi, itu pun tak cukup kuat. Sesampai di tengah waduk, rakit berantakan. Separuh dari penumpang pun terjun ke air.

Mereka senang bukan kepalang begitu mencapai daratan. Betapa tidak, dari semua peserta, ternyata hanya dua orang yang bisa berenang. Selebihnya, cuma nekat karena terpaksa.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju persinggahan baru, melewati perkampungan dan jalan becek. Muncul masalah lain. Tanda alam berupa pohon asam dan batu sebesar rumah Perumnas telah ditemukan, tapi pertigaan tempat berbelok menimbulkan perselisihan. Navigator dari Kampung Jawa bersikukuh dengan perhitungannya. Leader dari DKI ngotot dengan pendapat berbeda. Tak ada yang mengalah. Akibatnya, peserta tersesat sejauh lebih 6 km. Di tengah cuaca buruk, jalan makin becek dan licin. Ransel di punggung makin menyiksa. Tiga orang kembali ke zaman batu, gara-gara alas kaki tak mau kompromi. Sebelumnya, alas kaki dua orang peserta sudah tak lagi bisa dikenakan.

Selepas magrib, peserta dikumpulkan di lapangan berdinding batu untuk mempersiapkan perjalanan berikut yang sangat sulit. Sekalian untuk mengecek alat penerangan. Perjalanan akan melewati tebing curam. Kondisi medan termasuk berbahaya karena tanpa penerangan yang cukup. Satu-satunya jalan, menyisir dinding tebing curam. Di sisi kiri, jurang menganga siap menelan siapa pun yang terjerumus. Dalam keadaan sulit macam itu dengan alat penerangan terbatas, barulah mereka bisa bekerja sama. Semua saling ingin melindungi dan terlindungi. Kebersamaan di antara tiga kelompok petawur mulai terasa. Tidak ada Budut, DKI, ataupun Kampung Jawa. Semua lebur jadi kelompok Bravo. Akhirnya bisul permusuhan itu pecah juga.

Perjalanan berikutnya kembali membuktikan di antara petawur ternyata memang ada yang bernyali ciut untuk melakukan "adegan" berbahaya. Ini ditunjukkan oleh seorang peserta pentolan. Padahal, kabarnya dialah raja sepanjang Jl. Daan Mogot. Namanya diabadikan dengan cat semprot warna-warni mencorong di pagar-pagar dan jembatan penyeberangan. Namun, dari panjat tebing, highrope, hingga mendaki gunung, dia setia di nomor kincit. Wajahnya pucat pasi saat melangkah di jembatan yang ada di ketinggian 25 m dari tanah. Ketika rekan-rekan lain berteriak menyemangati, dia malah semakin grogi.

Umumnya mereka juga takut hantu. Setidaknya ini tampak saat sampai pada tiga perempat pendakian. Ujang, pejabat navigator hari itu, tergopoh-gopoh turun.

"Kita salah jalan. Ini pasti tempat keramat, gue ketemu hantu sapi di atas," katanya dengan napas ngos-ngosan. Semua berpandangan, ketakutan. Sungguh ganjil ditemukan sapi di ketinggian 600 m. Tak seorang pun mencoba bergerak. Hening, sunyi. Atas inisiatif seorang anggota, kami bergerilya pada radius 50 m. Tiba-tiba ada suara lenguhan tepat di belakang kami. Ketika berbalik, makhluk berkaki empat, warna putih, siap menanduk.

"Yaaiiik, hantu …!" Semua bubar tunggang langgang. Di puncak, misteri makhluk jadi-jadian tersingkap. Ternyata makhluk itu sapi betulan. Keberadaannyalah yang membuat daerah itu disebut Gunung Lembu.

Hari kedelapan pun harus dilalui dengan menyeberangi waduk. Dermaga impian sudah di depan mata. Tugas pamungkas akhirnya purna saat subuh menjelang.

Rasa takut yang pertama kali muncul ketika berhadapan dengan para petawur tak lagi beralasan. Wajah garang mereka, ternyata terbatas saat bertarung di jalan raya. Kedigdayaan ilmu tawuran mereka ditundukkan alam Jatiluhur. Sebenarnya mereka belum terlampau jauh meninggalkan "hidup normal" rekan sebayanya.

Akhirnya, alam Jatiluhur bisa menyatukan mereka, para petawur yang saling bermusuhan. Bahkan, mereka tetap bersahabat hingga kini, dua tahun setelah digembleng di alam Jatiluhur.

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej