|
|
Bulan Februari 2001
|
|
JATILUHUR TUNDUKKAN
TAWURAN
Semua diawali dengan perkenalan di lapangan tenis Senayan, Jakarta.
Ada rasa ngeri melihat mereka bergerombol, membentuk tiga kelompok
yang saling menjaga jarak di ruang pertemuan itu. Wajar sebenarnya,
mengingat merekalah The Big Three soal tawuran di jalan. Ketiga
kelompok berasal dari tiga sekolah, yang sebagian muridnya menjadi
musuh bebuyutan di jalanan Jakarta, yakni SMK Budi Utomo dengan nama
beken Budut, SMK 53 lebih dikenal dengan I DKI, dan SMK 35 alias
Kampung Jawa. Selanjutnya, nama top itu yang lebih akrab terdengar.
Mereka pentolan yang menguasai sepanjang jalan Sudirman, Daan Mogot,
Hayam Wuruk, Tanjung Priok, dan semua jalur menuju Kampung Rambutan.
Kengerian memuncak ketika kepala sekolah masing-masing bercerita,
bahwa semua peserta yang akan berangkat adalah pimpinan basis. Dalam
dunia tawuran, basis adalah segalanya. Demi basis mereka bertaruh
nyawa di jalanan. Basis amat tergantung pada arah tempat tinggal
siswa. Pimpinan basis, yang populer dengan sebutan pentolan, memiliki
kekuasaan melebihi ketua OSIS dan ditakuti lawan maupun kawan.
Selain berani, pentolan mesti mampu berlari kencang. Ia juga harus
berhati besi. Kewajibannya, "menyayur" (menyiksa) lawan yang
tertawan. Pentolan juga berhak memungut uang kolekan (pungutan
liar) untuk pengobatan anggota, menjenguk teman di penjara, dan,
mungkin, untuk diri-sendiri. Sumber dana lain datang dari kondektur
bus yang menolak mengangkut anak basis. Beberapa pentolan berbakat
preman, setelah lulus pun tetap minta kolekan atau memalak adik
kelas.
Mengingat perilaku petawur itu, rasanya saya ingin mengundurkan diri.
Tak terbayangkan hidup bersama mereka, yang sehari-harinya bermusuhan.
Rasa kecut menjadi berlipat melihat wajah dingin mereka jika beradu
pandang. Namun, rencana mesti tetap berjalan.
Dihantui dendam
Selama perjalanan menuju Jatiluhur, suasana tetap beku tanpa tegur
sapa di antara mereka. Setiba di kantor Outward Bound Indonesia, alias
camp, peserta dibagi jadi dua kelompok, A dan B. Saya masuk
kelompok B. Sebenarnya tugas resmi saya sebagai pendamping dari Forum
Kemanusiaan Jakarta. Namun, saya tak boleh memberitahukan hal ini pada
anggota kelompok. Saya harus menjadi kawan mereka.
Tiap kelompok terdiri atas empat siswa SMK Budi Utomo, empat dari SMK
53, dan empat dari SMK 35. Meski kekuatan berimbang, perasaan seperti
pelanduk yang bakal jadi bulan-bulanan gajah tetap ada.
Selama berkumpul, ada beberapa kegiatan bersama. Ada beberapa
permainan yang membutuhkan kerja sama dan saling percaya. Ini sulit
dilakukan. Setiap dipasangkan dengan sekolah berbeda, diam-diam mereka
akan berganti pasangan.
Salah satu permainannya adalah melintasi dinding papan setinggi 3 m,
tanpa alat bantu apa pun. Melihat kebekuan kelompok, cukup beralasan
bila ada kesangsian untuk sampai ke balik dinding. Hampir sepuluh
menit, semuanya sibuk dengan ego masing-masing. Ketika panduan
terakhir dari instruktur tak juga terjawab, seorang instruktur memberi
petunjuk bahwa mereka mesti berupaya sebagai satu kelompok. Ajaib!
Semua langsung mengelompok dan menyusun rencana. Dengan, saling
pondong, membentuk anak tangga, sambil bermandi keringat, mereka pun
sampai di balik dinding papan. Sesampai di balik dinding papan semua
baru sadar, ternyata yang jadi fondasi justru anak paling kerempeng di
kelompok.
Rupanya permainan tadi baru pemanasan. Masih ada kegiatan lain untuk
menguji nyali para petawur. Semua peserta mejelajah alam di sekitar
Jatiluhur untuk mencapai suatu titik tujuan. Peserta seakan menjadi
"bangsa nomaden" yang berpindah dari satu tempat ke tempat
lain.
Pukul 16.00 instruktur membagikan bekal berupa peralatan
"tempur" yang harus dikemas dalan ransel. Namun, petunjuk
pengisian ransel tak digubris. Mereka justru lebih terkesima melihat
ransel, panci, kompor gas mini, dan tenda yang mesti mereka bawa.
Maklum, barang-barang itu termasuk asing bagi
"pendekar-pendekar" tawuran ini.
Barang bawaan disarankan seminim mungkin. Selain kebutuhan pribadi,
ransel wajib dijejali barang milik kelompok. Mereka hanya
diperkenankan membawa tiga pasang baju termasuk yang dipakai. Tanpa
uang sesen pun, peralatan elektronik, dan rokok.
Mereka segera meninggalkan dunia beradab menuju sebuah
"tanjung" sebagai perhentian pertama, tepat ketika matahari
terbenam. Agar perjalanan esok hari lancar, tiap anggota kelompok
mendapat tugas secara bergilir setiap hari. Leader bertanggung
jawab atas keselamatan kelompok. Navigator menentukan arah
langkah. Cook sebagai pengisi "kampung tengah". Cleaner
petugas bersih-bersih. Sweeper bertugas sebagai "tukang
sapu ranjau".
Sampai hari keempat, belum tampak tanda-tanda mereka bisa bekerja
sama. Asal basis dan sekolah mendominasi pembicaraan. Perilaku
bertawur sulit luntur. Ribut-ribut kecil, terjadi tiap hari, hanya
karena masalah sepele. Sebuah sisir menyulut marah tenda Kampung Jawa
karena dituduh menggunakan tanpa izin pemilik. Sendok bisa jadi
penyebab ricuh. Tugas memanggul peralatan pun membuat mereka sempat
berantem di pinggir danau. Kabarnya sampai ada yang mengeluarkan
pisau. Untung ada yang melerai. Untuk mencegah dampak lebih buruk,
empat pagi berturut-turut, komitmen baru selalu dibuat kalau masih
akan melanjutkan perjalanan.
Pentolan bernyali ciut
Keinginan mengelompok sesuai asal sekolah, toh tetap sulit dibendung.
Instruktur dan saya pura-pura tak tahu kalau sebenarnya malam-malam
mereka telah saling ganti tempat dengan sukarela. Maka, terbentuk
tenda Budut, Jawa, dan DKI.
Di hari kedua, peserta mesti melakukan pelayaran menggunakan kano
berpasangan. Awalnya, ketika berlatih, mereka diminta mencari pasangan
sendiri. Eh, usai latihan, pasangan ditentukan instruktur. Hampir
semuanya bersungut-sungut.
Menurut peta, titik koordinat yang hendak dituju berjarak 5 km.
Beberapa saat pasangan-pasangan baru mencoba beradaptasi. Namun,
tampaknya begitu sulit. Ada kano yang cuma berputar-putar di tempat.
Penyebabnya, masih sama, sulit bekerja sama.
Ketika harus melakukan atraksi individu, ternyata mereka tidak
seberani saat tawuran. Misalnya, saat harus menuruni dinding tebing
dengan badan tegak lurus terhadap tebing menggunakan kernmantel
(tali nyawa), sit harness (tali selangkang), dan carabiner
(cincin kait). "Mending gue 'disayur' sekalian,"
tolak seorang petawur. Sangat kontras dengan kebrutalannya ketika
tawuran. Ia malah memohon keringanan sembari merengek-rengek diizinkan
turun melalui jalan setapak di sisi lain bukit.
Keterampilan mereka rupanya terbatas pada mengayun-ayunkan dengan
ngawur samurai, clurit, atau sejata tajam lainnya. Buktinya, saat
harus bersama-sama membangun rakit, mereka tak bisa melakukannya
secara benar. Usai gerak badan di hari keempat, instruktur membekali
enam drum plastik, delapan batang bambu, dan beberapa tali sepanjang
10 m untuk membangun rakit guna menyeberang lagi. Dua kali membuat
rakit, dua kali pula di bongkar. Kalaupun rakitnya jadi, itu pun tak
cukup kuat. Sesampai di tengah waduk, rakit berantakan. Separuh dari
penumpang pun terjun ke air.
Mereka senang bukan kepalang begitu mencapai daratan. Betapa tidak,
dari semua peserta, ternyata hanya dua orang yang bisa berenang.
Selebihnya, cuma nekat karena terpaksa.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju persinggahan baru, melewati
perkampungan dan jalan becek. Muncul masalah lain. Tanda alam berupa
pohon asam dan batu sebesar rumah Perumnas telah ditemukan, tapi
pertigaan tempat berbelok menimbulkan perselisihan. Navigator
dari Kampung Jawa bersikukuh dengan perhitungannya. Leader dari
DKI ngotot dengan pendapat berbeda. Tak ada yang mengalah.
Akibatnya, peserta tersesat sejauh lebih 6 km. Di tengah cuaca buruk,
jalan makin becek dan licin. Ransel di punggung makin menyiksa. Tiga
orang kembali ke zaman batu, gara-gara alas kaki tak mau kompromi.
Sebelumnya, alas kaki dua orang peserta sudah tak lagi bisa dikenakan.
Selepas magrib, peserta dikumpulkan di lapangan berdinding batu untuk
mempersiapkan perjalanan berikut yang sangat sulit. Sekalian untuk
mengecek alat penerangan. Perjalanan akan melewati tebing curam.
Kondisi medan termasuk berbahaya karena tanpa penerangan yang cukup.
Satu-satunya jalan, menyisir dinding tebing curam. Di sisi kiri,
jurang menganga siap menelan siapa pun yang terjerumus. Dalam keadaan
sulit macam itu dengan alat penerangan terbatas, barulah mereka bisa
bekerja sama. Semua saling ingin melindungi dan terlindungi.
Kebersamaan di antara tiga kelompok petawur mulai terasa. Tidak ada
Budut, DKI, ataupun Kampung Jawa. Semua lebur jadi kelompok Bravo.
Akhirnya bisul permusuhan itu pecah juga.
Perjalanan berikutnya kembali membuktikan di antara petawur ternyata
memang ada yang bernyali ciut untuk melakukan "adegan"
berbahaya. Ini ditunjukkan oleh seorang peserta pentolan. Padahal,
kabarnya dialah raja sepanjang Jl. Daan Mogot. Namanya diabadikan
dengan cat semprot warna-warni mencorong di pagar-pagar dan jembatan
penyeberangan. Namun, dari panjat tebing, highrope, hingga
mendaki gunung, dia setia di nomor kincit. Wajahnya pucat pasi
saat melangkah di jembatan yang ada di ketinggian 25 m dari tanah.
Ketika rekan-rekan lain berteriak menyemangati, dia malah semakin
grogi.
Umumnya mereka juga takut hantu. Setidaknya ini tampak saat sampai
pada tiga perempat pendakian. Ujang, pejabat navigator hari
itu, tergopoh-gopoh turun.
"Kita salah jalan. Ini pasti tempat keramat, gue ketemu
hantu sapi di atas," katanya dengan napas ngos-ngosan. Semua
berpandangan, ketakutan. Sungguh ganjil ditemukan sapi di ketinggian
600 m. Tak seorang pun mencoba bergerak. Hening, sunyi. Atas inisiatif
seorang anggota, kami bergerilya pada radius 50 m. Tiba-tiba ada suara
lenguhan tepat di belakang kami. Ketika berbalik, makhluk berkaki
empat, warna putih, siap menanduk.
"Yaaiiik, hantu …!" Semua bubar tunggang langgang. Di
puncak, misteri makhluk jadi-jadian tersingkap. Ternyata makhluk itu
sapi betulan. Keberadaannyalah yang membuat daerah itu disebut Gunung
Lembu.
Hari kedelapan pun harus dilalui dengan menyeberangi waduk. Dermaga
impian sudah di depan mata. Tugas pamungkas akhirnya purna saat subuh
menjelang.
Rasa takut yang pertama kali muncul ketika berhadapan dengan para
petawur tak lagi beralasan. Wajah garang mereka, ternyata terbatas
saat bertarung di jalan raya. Kedigdayaan ilmu tawuran mereka
ditundukkan alam Jatiluhur. Sebenarnya mereka belum terlampau jauh
meninggalkan "hidup normal" rekan sebayanya.
Akhirnya, alam Jatiluhur bisa menyatukan mereka, para petawur yang
saling bermusuhan. Bahkan, mereka tetap bersahabat hingga kini, dua
tahun setelah digembleng di alam Jatiluhur. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||