|
|
Bulan Februari 2001
|
|
KAMI DUA BAKU OM
Kali lain, saya mendengar seorang saudara sepupu suami saya, bernama
Yosephin, memanggil keponakan laki-laki dengan sebutan mama adik.
Keponakan laki-laki itu bernama Dinand, sehingga sang keponakan
dipanggil mama adik Dinand. "Apa tidak salah," pikir saya.
Kalau Yosephin pantas dipanggil mama adik. Itu menurut saya.
Pendapat saya memang benar. Yosephin, yang adik sepupu ibu Dinand
disebut mama adik. Ternyata di suku Ekagi, sebutan yang sama juga bisa
digunakan Yosephin untuk memanggil Dinand. Baku sebut atau saling
menyebut macam ini berlaku untuk semua hubungan kekerabatan. Seorang
cucu memanggil kakeknya tete. Sebaliknya, seorang kakek bisa
pula memanggil cucu perempuannya dengan sebutan tete. Bahkan
ketika si cucu masih balita sekalipun!
Selain itu, ada sebutan unik lain. Om adalah sebutan untuk adik
laki-laki ibu, dan bapa adik untuk adik laki-laki ayah. Tante sebutan
untuk adik perempuan ayah, sedangkan mama adik untuk adik perempuan
ibu. Demikian pula om tua adalah sebutan untuk kakak laki-laki ibu dan
bapa tua untuk kakak laki-laki ayah.
Karena sudah ada sebutan baku seperti itu, maka adik laki-laki suami
saya heran ketika saya mengajari anak saya untuk memanggilnya om.
"Ah, yang baku saudara dengan saya adalah ayahnya. Jadi saya bapa
adik, bukan om," ujarnya. Kesalahpahaman macam ini terutama
terjadi pada saudara suami saya yang baru datang dari kampung. Suami
saya, yang sudah 16 tahun tinggal di Jawa pun masih mengatakan
"Kami dua baku Om" untuk menunjukkan hubungan kekerabatannya
dengan salah satu keponakan perempuannya. Nah, ruwet 'kan? |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||