|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Ayam
Kurus Itu Bernama Majalah Jawa
Lebih tua dari RI
Majalah-majalah itu adalah Panjebar (baca panyebar) Semangat
(PS) dan Jaya Baya (JB) yang terbit di Surabaya serta Djaka
Lodang (DL) dan Mekar Sari (MS) dari Yogyakarta. Semuanya
menggunakan bahasa Jawa baku ngoko (tingkat biasa) seperti
bahasa Jawa tulis ragam resmi yang dipakai di Yogyakarta dan Surakarta
(Jawa Tengah). Memang, tahun 1990 pernah terbit tabloid bahasa Jawa
bernama Jawa Anyar (anyar = baru) dengan gaya dan isi
pop untuk menarik kalangan anak muda, namun tak berumur panjang.
Uniknya, majalah bahasa Jawa yang terbit di Surabaya lebih bisa hidup
daripada yang di Yogyakarta. Padahal Surabaya bukan pusat kebudayaan
Jawa, pun masyarakatnya sehari-hari kebanyakan menggunakan bahasa jawa
dialek Suroboyo-an yang khas.
Usianya pun lebih tua. Panjebar Semangat diterbitkan pertama
kali tahun 1933 oleh dr. Soetomo, pendiri Boedi Oetomo, yang namanya
diabadikan untuk nama rumah sakit pemerintah terbesar di kawasan
Indonesia bagian Timur yaitu RSUD dr. Soetomo Surabaya. Jadi Panjebar
Semangat lebih tua daripada Republik Indonesia. Pada 1 Desember
2000 Jaya Baya memasuki usia 55 tahun. Mekar Sari
berusia 43 tahun dan Djaka Lodang 30 tahun.
Jika ditotal pelanggan keempat majalah berbahasa Jawa itu cuma sekitar
40.000. Padahal harga ecerannya hanya sekitar Rp 2.500,- per
eksemplar. Tidak mengherankan, majalah bahasa Jawa menjadi bacaan
langka yang sulit diperoleh di kios-kios buku yang umumnya menyediakan
berbagai jenis majalah, tabloid, dan surat kabar.
Nah, di dalam kelangkaan itulah saya berkecimpung sebagai salah
seorang redaktur Majalah Jaya Baya. Berapa jumlah redaktur atau
wartawan langka, seperti saya, ini di Indonesia? Tak lebih dari 40
orang. Tentu jangan dibandingkan dengan ribuan wartawan yang bekerja
pada media cetak dan elektronik lainnya. Ke-40 wartawan itu tersebar
pada Majalah Jaya Baya 7 orang, Panjebar Semangat 9, Mekar
Sari 12 (termasuk tiga reporter dan dua fotografer), dan Djaka
Lodang enam orang. Kalau pun ada puluhan penulis dan koresponden
yang jumlahnya hingga puluhan, maka statusnya cuma penyumbang.
Ada wayang dan primbon
Namun, bagaimana pun majalah ini memiliki keistimewaan. Di antaranya,
wilayah peredarannya cukup luas, seluas wilayah keberadaan suku Jawa
yang tak melulu di Jawa, tapi sampai di Papua bahkan luar negeri. Jaya
Baya dan Panjebar Semangat misalnya, mempunyai pelanggan
setia di luar negeri. Termasuk di antaranya pengamat sastra Jawa,
George Quinn dari Australia, beberapa orang di Malaysia, Cina,
Belanda, dan Suriname.
Sebagai majalah umum, isi majalah berbahasa Jawa tidak cuma tentang
beraneka ragam kebudayaan Jawa. Isinya tidak kalah dengan majalah umum
berbahasa Indonesia. Ada rubrik Tajuk Rencana atau editorial dengan
nama yang bermacam-macam, yakni "Ature Redaksi" (Jaya
Baya) atau ungkapan redaksi, "Srumuwus" (Djaka Lodang)
maksudnya bersuara lantang, "Gagasan" (Mekar Sari)
dan "Pangudarasa" (Panjebar Semangat) berarti
ungkapan isi hati. Sebagaimana tajuk rencana pada umumnya, rubrik ini
berisi komentar dan sikap majalah yang bersangkutan terhadap isu
aktual di dalam negeri. Rubrik khas antara lain cerita rakyat, cerkak
(crita cekak, cerita pendek), cerbung (crita sambung,
cerita bersambung, novel), primbon, ramalan nasib, cerita wayang, dan
cerita misteri.
Peristiwa aktual luar negeri juga menjadi sorotan dan disajikan
melalui rubrik "Wawasan Manca Negara" (Jaya Baya) dan
"Wawasan Jaban Rangkah" (Djaka Lodang). Sebagai
pengasuh rubrik tersebut di Majalah Jaya Baya, saya mengambil
bahan tulisan dari media cetak dan elektronik dalam dan luar negeri,
termasuk CNN, CNBS, Time, dan Asiaweek.
Menyelenggarakan liputan sendiri di luar negeri jelas tidak mungkin
karena keterbatasan dana, kecuali ada yang mengundang, seperti yang
saya alami tahun 1997. Waktu itu saya diundang oleh sebuah organisasi
swasta berkeliling Malaysia (barat dan Timur) selama sebulan. Lumayan
untuk selingan tulisan hasil liputan sendiri.
Terhambat istilah
Bahasa Jawa mengenal delapan tingkat, mulai dari tingkat sejajar (ngoko),
halus (krama dan krama inggil), dan sangat halus
termasuk basa kedhaton (bahasa keraton). Dalam bahasa Jawa
ragam resmi yang ditulis dengan huruf latin, huruf "a"
dibaca "o" seperti "pokok", sedangkan huruf
"o" dibaca "o" seperti pada kata "toko".
Yang dipakai dalam majalah bahasa Jawa saat ini adalah bahasa ngoko
yang lebih komunikatif dan demokratis daripada bahasa krama.
Sebagaimana dialami kebanyakan wartawan atau reporter bahasa Jawa
lainnya - lebih-lebih yang berusia di bawah 40 tahun- , saya yang
semula koresponden harian nasional berbahasa Indonesia sering
kesulitan saat menerjemahkan sejumlah kata bahasa Indonesia dan asing
ke dalam bahasa Jawa. Kendalanya, belum ada terjemahannya dalam bahasa
Jawa. Dalam bausastra (kamus) Indonesia - Jawa pun tidak atau
belum tercantum.
Memang terkadang ditemukan padanannya dalam bahasa Jawa namun sudah
lama tidak terdengar dalam pergaulan sehari-hari. Jika dipaksakan,
tulisan saya menjadi kurang komunikatif dan kurang dipahami oleh
pembaca. Atau minimal kaku, padahal saya dituntut agar mau dan mampu
membuat tulisan berbahasa Jawa dari sisi kemampuan berbahasa Jawa
rata-rata pembaca majalah langka ini. Selain itu, kalimat yang tersaji
harus benar-benar kalimat bahasa Jawa, bukan kalimat berbahasa Jawa
bernuansa Indonesia.
Kata-kata yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Jawa misalnya
sandera, bajak laut, ragu-ragu, pengaruh, konflik, tersangka,
terdakwa, terhukum, terpidana, krisis dan provokator. Kata
"perkosa" menurut kamus menjadi rudapeksa (baca: rudopekso)
dalam bahasa Jawa, "perdamaian" arti resminya berarti bedhamen.
Kata rudapeksa dan bedhamen bukan kata sehari-hari dalam
masyarakat Jawa sekarang.
Untuk mengatasi kendala itu, jika memang tidak ada lagi padanan yang
pas dalam bahasa Jawa, satu-satunya cara adalah mengadopsi kata-kata
itu ke dalam bahasa Jawa. Sebagaimana sering terjadi dalam bahasa
Indonesia terhadap bahasa asing dan bahasa daerah (termasuk Jawa).
Di masa depan kendala yang dihadapi majalah bahasa Jawa akan semakin
berat. Petutur bahasa Jawa memang tidak akan punah selama masih ada
masyarakat atau komunitas Jawa, namun kemampuan membaca karya tulis
berbahasa Jawa, lebih-lebih yang memakai huruf Jawa, akan semakin
langka. Komunitas orang Jawa yang menguasai bahasa Jawa tulis akan
menurun drastis sebab bahasa Jawa cuma pelajaran muatan lokal yang
diajarkan hanya sampai kelas 3 SLTP. Ini karena bahasa Jawa bukan
bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, bahasa Jawa tidak
menentukan kenaikan kelas dan kelulusan siswa.
Penguasaan bahasa Jawa yang dhakik-dhakik (tingkat tinggi)
termasuk kesusastraan Jawa yang kompleks, di kalangan suku Jawa di
masa depan juga akan makin merosot. Apalagi mahasiswa jurusan bahasa
Jawa di IKIP, kini menjadi universitas, juga semakin sedikit. Keluarga
muda Jawa (di Jateng dan Jatim sekalipun) makin banyak yang
menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi antaranggota
keluarga.
Apakah majalah bahasa Jawa dan wartawannya (juga pembacanya) akan
semakin langka, bahkan hilang ditelan zaman? Mungkin saja jika tidak
ada lagi yang membela, nguri-uri, memetri (memelihara dan
mengembangkan) dan melestarikannya serta tidak ada lagi yang mampu
membacanya. Kelak untuk belajar sastra Jawa mungkin orang Indonesia
harus pergi ke Australia atau Negeri Belanda. Majalah Jawa (termasuk
wartawannya) bukan hanya bagai ayam kurus, tetapi ayam mati di lumbung
padi. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||