|
|
Bulan Februari 2001
|
|
MAKANAN
DAN MINUMAN KEMASAN, AMANKAH?
Banyak makanan dan minuman kemasan yang diproduksi dengan terutama
memperhatikan aspek selera, sehingga makanan dan minuman itu disukai
kaum tua maupun muda. Minuman ringan yang rasanya menyengat pun
ternyata bisa dinikmati oleh anak balita, apalagi junk food
berwujud makanan ringan yang memang rasanya menggugah selera.
Kecanggihan teknologi pengolahan makanan, pengemasan, dan penyimpanan
secara tidak langsung sebagian memang menguntungkan konsumen. Kalau
dulu kita sering jengkel karena susu yang kita buat banyak
gumpalannya, kini telah hadir susu instan yang dijamin tidak akan
menggumpal. Demikian pula kita bisa merasakan repotnya membuat mi
goreng atau rebus, tetapi saat ini dengan mudah orang bisa membeli mi
instan yang dapat disajikan dengan cepat dan rasanya tak kalah dengan
mi tradisional.
Masih banyak contoh makanan maupun minuman kemasan yang kini dapat
dengan mudah dijumpai di berbagai toko, warung, atau pasar swalayan.
Pertumbuhan makanan dan minuman kemasan ini demikian cepat sehingga
kalau pada waktu PD II dulu hanya bisa dijumpai kurang lebih 1.000
produk kemasan, kini bisa dijumpai lebih dari 10.000 produk yang siap
dikonsumsi.
Apa rahasia membanjirnya produk makanan dan minuman kemasan itu? Tak
salah lagi, peranan bahan tambahan makanan (BTM) sangatlah besar untuk
menghasilkan produk-produk kemasan. BTM bukan cuma zat pengawet tetapi
juga aroma stroberi pada minuman ringan serta warna merah pada minuman
cocktail. Dalam pembuatan dressing salad diperlukan emulsifiers
untuk mencampur minyak dan air agar tidak terpisah.
Salah satu alasan mengapa senyawa kimia diperlukan untuk pengawetan
makanan adalah karena berubahnya cara produksi, pemasaran, serta
konsumsi suatu makanan. Rentang waktu ketika makanan diproduksi dan
ketika mencapai konsumen kini semakin panjang. Di lain pihak, konsumen
mengharapkan semua makanan tersedia sepanjang tahun dan bebas dari
mikroorganisme pembawa penyakit. Berbagai mikroba dari jamur sampai
bakteri merupakan agen pembusuk yang sering menimbulkan masalah pada
keamanan pangan.
BTM bermacam-macam
Jika suatu zat kimia yang ditambahkan pada makanan dapat menyebabkan
kanker, zat kimia itu harus dilarang pemakaiannya. Ini sebuah prinsip
yang telah menjadi hukum di AS dan telah diundangkan sejak 1958.
Namun, produsen bisa pula berdalih, bagaimana jika zat kimia itu mampu
mencegah racun botulism yang mematikan yang terdapat pada
daging kalengan? Nitrit adalah senyawa pengawet itu, yang biasanya
ditambahkan pada daging kalengan dan menimbulkan perdebatan
berlarut-larut.
Keberadaan BTM adalah untuk membuat makanan tampak lebih berkualitas,
lebih menarik, serta rasa dan teksturnya lebih sempurna. Zat-zat itu
ditambahkan dalam jumlah sedikit, namun hasilnya sungguh menakjubkan.
BTM ternyata sudah lama digunakan dalam pengawetan makanan. Orang
Romawi kuno menggunakan garam untuk mengawetkan daging, dan sulfur
untuk mencegah terjadinya oksidasi pada minuman anggur. Kini,
keprihatinan masyarakat semakin bertambah dengan semakin panjangnya
daftar BTM. Ini meliputi jenis BTM yang telah diizinkan maupun dari
jenis yang belum diteliti.
Pendapat yang sering kontroversial adalah kemungkinan timbulnya kanker
akibat BTM. Sebenarnya, kanker adalah penyakit dengan beberapa
penyebab yang bersifat kompleks. Sebagian kanker justru diduga
disebabkan oleh faktor lingkungan, misalnya asap rokok, polusi udara,
sinar ultraviolet, dll. Kanker berkembang sangat lambat dalam tubuh
manusia. Biasanya memakan waktu 5 - 10 tahun setelah seseorang kontak
dengan bahan karsinogenik (penyebab kanker).
Karena itu mencari penyebab kanker pada manusia menjadi lebih sulit.
Untuk menguji suatu zat menyebabkan kanker, maka dilakukan percobaan
pada binatang. Secara alami usia hewan percobaan (tikus) adalah 2 - 3
tahun. Karena itu hewan ini mampu memberikan informasi cukup setelah
diberi makanan tertentu yang mengandung zat yang diduga bersifat
karsinogenik. Munculnya kanker pada hewan percobaan akan membuat kita
lebih berhati-hati ketika memilih makanan kemasan yang mengandung zat
karsinogenik itu.
Sampai saat ini belum ada dampak langsung (seketika) yang menunjukkan
BTM berakibat buruk pada janin dalam kandungan. Namun, pada binatang
percobaan terlihat sakarin (pemanis buatan) bersifat racun bagi janin.
Meskipun hal ini masih perlu penelitian yang lebih intens, sebaiknya
ibu hamil berhati-hati ketika memilih makanan atau minuman kemasan
yang mengandung sakarin.
Pada dekade 1970 - 1980-an terjadi perdebatan cukup panjang tentang
dampak monosodium glutamate atau MSG (bumbu masak). Tikus muda
yang baru lahir mengalami cacat setelah diberi ransum mengandung MSG.
Penelitian lainnya menggunakan anak ayam menunjukkan munculnya
gejala-gejala mengantuk setelah anak ayam mengonsumsi MSG. Itulah
sebabnya MSG pernah dilarang pada makanan bayi di Inggris dan
Singapura. Penelitian yang sama, yang dilakukan pada kera dan anjing,
ternyata tidak membuktikan hal itu.
Penggunaan bahan pengawet paling banyak digunakan di Indonesia adalah
sulfit, nitrit, BHA atau BHT, dan benzoat. Perdebatan para ahli
mengenai aman tidaknya behan pengawet itu masih seru. Sebagian orang
beranggapan, belum ada BTM yang pernah menyebabkan reaksi serius bagi
manusia dalam jumlah yang sering ditemukan pada makanan. Namun, bukti
lain menunjukkan, pemakaian dalam jangka panjang dapat menimbulkan
masalah kesehatan.
Bahan pengawet sulfit dapat menyebabkan reaksi cukup fatal bagi mereka
yang peka. Bagi penderita asma, sulfit dapat menyebabkan sesak dada,
sesak napas, gatal-gatal, dan bengkak. Sulfit digunakan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Jenis produk seperti jus
buah, sosis, dan acar kering sering menggunakan pengawet ini.
Pada 1989 terdapat kasus biskuit beracun yang menelan korban 38 jiwa
manusia. Ini akibat mengonsumsi natrium nitrit yang secara tidak
sengaja ditambahkan pada makanan karena kekeliruan. Nitrit adalah
pengawet pada daging. Pada daging kalengan (corned) nitrit bisa
digunakan dengan dosis 50 mg/kg.
Awalnya, nitrit dan nitrat digunakan untuk memperoleh warna merah yang
seragam pada daging yang diawetkan. Belakangan diketahui, zat itu
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Clostridium botulinum yang
sering muncul pada makanan awetan. Penggunaan nitrit dan nitrat
semakin meluas seperti pada pembuatan sosis, ham, dan hamburger.
Jika makanan diawetkan, umumnya akan kehilangan vitamin A dan E. Kedua
vitamin itu bersifat sebagai antioksidan untuk mencegah terjadinya
oksidasi yang menyebabkan kerusakan. Penggunaan BHA/BHT juga sebagai
antioksidan, namun sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa BHA/BHT
sebenarnya kurang baik karena menyebabkan kelainan kromosom sel bagi
orang yang alergi terhadap aspirin.
Pengguanaan pengawet benzoat dimaksudkan untuk mencegah kapang
dan bakteri khususnya pada produk sirup, margarin, kecap, selai, jeli,
dan cider. Benzoat sejauh ini dideteksi sebagai pengawet yang
aman. Di AS benzoat termasuk senyawa kimia pertama yang
diizinkan untuk makanan. Senyawa ini digolongkan dalam Generally
Recognized as Safe (GRAS). Bukti-bukti menunjukkan, pengawet ini
mempunyai toksisitas sangat rendah terhadap hewan maupun manusia. Ini
karena hewan dan manusia mempunyai mekanisme detoksifikasi benzoat
yang efisien.
Dilaporkan bahwa pengeluaran senyawa ini antara 66 - 95% jika benzoat
dikonsumsi dalam jumlah besar. Sampai saat ini benzoat
dipandang tidak mempunyai efek teratogenik (menyebabkan cacat bawaan)
jika dikonsumsi melalui mulut, dan juga tidak mempunyai efek
karsinogenik.
Masih tetap bergizi
Minuman ringan (soft drink) kini bagian tak terpisahkan dari
restoran fast food. Selain itu terdapat pula minuman ringan
dalam kemasan kaleng atau botol plastik. Minuman ringan mengandung
sukrosa (gula) relatif tinggi. Karena itu yang dapat diandalkan dari
minuman ini hanyalah kalorinya. Selain itu minuman ini juga mengandung
BTM yang diizinkan, seperti asam sitrat. Sebagian minuman ringan
mengandung kafein yang mmeberikan efek terjaga bagi orang yang
meminumnya.
Minuman bubuk instan dapat dibuat secara mudah dengan menambahkan air,
kemudian diaduk, dan siap dinikmati. Sayangnya, komposisi gizi minuman
instan ini sering tidak dicantumkan dalam label sehingga konsumen
tidak bisa mengetahui unsur gizi apa yang ada di dalamnya dan berapa
jumlahnya.
Kalau dulu kita hanya bisa menikmati susu segar, kini beragam produk
susu kemasan dapat dengan mudah kita temukan. Sebagian susu kemasan
mengandung zat pewarna dan zat penambah cita rasa sehingga susu bisa
dinikmati oleh siapa pun termasuk orang yang sebenarnya tidak menyukai
susu. Sebagai minuman yang bergizi, susu kemasan tetap dapat
diandalkan sebagai sumber protein dan kalsium. Dalam kemasan tetrapak
200 ml, susu mengandung 200 g kalsium dengan protein sekitar 6 g.
Sedangkan pada susu sapi segar terkandung 143 g kalsium per 100 ml
susu dan kandungan proteinnya relatif sama.
Sebagian dari kita mungkin telah menyadari manfaat minuman terbuat
dari jus buah atau sayur. Kita bisa memperoleh beragam vitamin,
mineral, dan serat dengan meminum jus tanpa harus merasa terlalu
kenyang. Peranan jus kini mulai tergantikan dengan adanya minuman
kemasan, baik untuk takaran individu maupun keluarga. Untuk
mempertinggi nilai gizinya, ada jus kemasan yang diperkaya dengan
vitamin dan mineral. Berbagai jus kemasan yang dijual di pasaran
umumnya mengandalkan vitamin C sebagai salah satu gizi unggulan. Dalam
kemasan 250 ml kandungan vitamin C berkisar 30 - 50 g. Ini setara
dengan satu buah jeruk segar.
Peranan kemasan sangat besar untuk mencegah terjadinya kerusakan
vitamin. Penggunaan karton tetrapak ternyata lebih menguntungkan
daripada botol. Dalam suhu kamar kerusakan vitamin C dalam minuman
kemasan botol dapat mencapai 70% setelah 10 minggu. Tetapi dengan
kemasan tetrapak kerusakannya hanya 30%. Penyimpanan dalam lemari
pendingin hanya menyebabkan kerusakan 10%.
Sayang sekali, banyak penjual minuman kemasan (khususnya
warung-warung) tidak melengkapi diri dengan lemari pendingin sehingga
minuman kemasan yang dijual banyak terpapar oleh panas matahari dan
menyebabkan kerusakan gizi.
Proses pengemasan itu sendiri sebenarnya tidak banyak merusak nilai
gizi. Bahkan sebenarnya konsumen harus merasa bersyukur karena dengan
teknologi kemasan kita dapat mengonsumsi beragam makanan dan minuman
dengan aneka cita rasa. Daging mempunyai produk olahan yang sudah
populer seperti sosis, corned, dan daging asap. Kalau daging
sapi mempunyai kandungan protein 18%, maka produk olahannya adalah
sebagai berikut: sosis 14,5%, corned (16%), daging asap (32%).
Daging asap mengandung protein tinggi karena kadar airnya yang sudah
sangat berkurang.
Uji inderawi dan kedaluwarsa
Kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan suatu makanan atau
minuman kemasan masih pantas dikonsumsi sulit ditentukan secara
kuantitatif. Berbagai analisis laboratorium baik secara kimia, fisik,
maupun mikrobiologi dapat digunakan untuk menilai mutu suatu produk,
tetapi acap kali sulit diinterpretasi tanpa melibatkan uji
organoleptik (uji inderawi).
Uji inderawi dilakukan dengan menggunakan panelis (pencicip yang telah
terlatih) untuk menilai mutu makanan atau minuman kemasan akibat
pengaruh daya simpan. Uji ini dianggap paling praktis dan lebih murah
biayanya. Tetapi ada juga kelemahannya. Misalnya, terdapatnya variasi
produk dan variasi kelompok-kelompok konsumen yang mungkin tidak bisa
terwakili oleh panelis. Panelis yang berasal dari laboratorium sering
bersikap lebih kritis dan mempunyai kecenderungan menilai lebih rendah
terhadap suatu produk.
Dalam penentuan daya simpan banyak sekali faktor yang terlibat, tetapi
faktor yang sangat menentukan adalah jenis makanan itu sendiri,
pengemasan, kondisi penyimpanan, dan distribusi. Dengan kemasan yang
baik suatu produk akan terhindar dari pengaruh buruk akibat uap air,
oksigen, sinar, panas, dan hama.
Untunglah para produsen makanan dan minuman kini semakin sadar akan
perlunya informasi tentang tanggal kedaluwarsa, sehingga hampir semua
produk makanan dan minuman sudah mencantumkannya dalam label. Aspek
kedaluwarsa ini menjadi tanggung jawab penuh produsen dan distributor,
sedangkan konsumen hendaknya lebih memperhatikan aspek gizi dan bahan
kimia yang ditambahkan dalam produk itu. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||