|
|
Bulan Februari 2001
|
|
Mengintip
Masa Depan Matahari
Itu baru dengan mata telanjang. Lebih indah lagi bila menggunakan alat
bantu astronomi macam teleskop. Bintang yang bisa diamati semakin
banyak jumlahnya walau tidak lebih besar tampilannya. Masih tampak
seperti titik-titik cahaya, hanya saja terlihat lebih terang.
Lebih mengejutkan lagi kalau diamati dengan teropong Zeiss milik Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Observatorium Bosscha, Institut Teknologi
Bandung (ITB). Bintang yang tadinya terlihat tunggal, ternyata banyak
sekali yang berpasangan. Tiap pasangan seperti lengket bak muda-mudi
yang lagi asyik berpacaran. Dalam astronomi mereka dinamai bintang
ganda. Bintang inilah yang menjadi salah satu objek pengamatan utama
Observatorium Bosscha, yang maskotnya berupa kubah raksasa tempat
berteduh teropong Zeiss.
Memiliki refraktor ganda berdiameter 60 cm dengan panjang titik api
10,7 m, teropong Ziess dilengkapi teropong pencari berdiameter 40 cm
dan kisi difraksi di muka lensa utama.
Masa depan Matahari
"Bintang di langit terang itu lebih dari 50%-nya bintang ganda.
Bintang ini, yang kita lihat sebagai bintang tunggal, ternyata dengan
teleskop (Zeiss) bisa diketahui terdiri atas dua, tiga, atau empat
bintang. Mereka saling mengorbit satu sama lain," jelas Dr.
Moedji Raharto, kepala UPT Observatorium Bosscha. Orbit inilah yang
diamati dari Bumi. Melalui pengamatan itu, massa bintang bisa
dihitung.
Pengamatan massa bintang ini, ungkap Moedji Raharto, untuk mengetahui
masa depan Matahari. Bintang-bintang itu tidak lain adalah
matahari-matahari yang sangat jauh letaknya. Matahari yang kita kenal
selama ini merupakan bintang paling dekat dengan kita. Masa depan
Matahari, struktur evolusinya, reaksi pembangkit energi yang ada di
pusatnya, sampai berapa miliar tahun lagi mau bersinar, apakah
cahayanya tetap seperti sekarang, apakah tiba-tiba tambah panas atau
tambah dingin, dan sebagainya, bisa dipelajari melalui pengamatan
bintang-bintang. Setidaknya, hasil dari mempelajari bintang-bintang
itu bisa meyakinkan kita bahwa 10 tahun lagi, misalnya, matahari masih
tetap bersinar.
Sistem bintang ganda sendiri dibedakan atas dua kelas, yakni bintang
ganda jauh dan dekat. Bintang ganda jauh adalah bintang ganda yang
tampak terpisah ketika diamati dengan teleskop. Bintang ganda ini
relatif lebih klasik, kurang menyajikan pengetahuan fisik bintang bagi
astronom. Studi objek ini lebih banyak berkisar pada penentuan orbit,
massa, struktur komponen-komponen, dan evolusi yang pada dasarnya
memberikan tambahan data pada katalog-katalog bintang serupa yang
sudah dipublikasikan.
Periode orbit bintang ganda jauh mencapai puluhan hingga ribuan tahun.
Sekadar contoh, sistem bintang ganda L (alpha) Centauri memiliki
periode orbit 80 tahun. Mengingat umur manusia rata-rata 70 tahun,
maka maksimal hanya sekali manusia dapat menyaksikan perputaran
bintang itu. Periode orbit berikutnya, maaf saja, tidak bisa
disaksikan lagi. Karena itu tidak begitu banyak astronom tertarik
untuk menelitinya.
Sementara pada bintang ganda dekat, sifat kegandaannya terungkap
melalui teknik-teknik pengamatan spektroskopik (spektrum cahaya) dan
fotometrik (kekuatan cahaya). "Bintang-bintang macam itu tentunya
tidak bisa diamati dengan teknik yang ada di teropong Zeiss,"
tambah Moedji. Melalui pengamatan teleskop, tidak bisa dilihat
komponen-komponennya secara terpisah. Sistem bintang ganda dekat
inilah yang saat ini menjadi konsentrasi penelitian astronomi. Di
samping periodenya pendek (umumnya memiliki orde harian), juga
menampilkan beragam fenomena fisik menakjubkan.
Evolusi bintang
Sejak selesai dibangun pada 1928 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha (15
Mei 1861 – 26 November 1928), pengusaha perkebunan teh di Malabar,
bersama Nederlands Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV,
perkumpulan ahli bintang Hindia Belanda), hingga sekarang
Observatorium Bosscha telah memiliki koleksi sekitar 9.000-an data
dari sekitar 400-an bintang ganda jauh. Menurut Moedji, kita tidak
mungkin mengamati semua bintang ganda jauh. Pengamatan dilakukan satu
hingga tiga tahun sekali untuk mengetahui apakah posisinya berubah
atau tidak.
Pengamatan bintang ganda jauh penuh dengan hal-hal menarik. Seperti
halnya manusia, bintang mengalami proses kehidupan: lahir, tumbuh dan
berkembang, serta akhirnya mati. Proses yang sering disebut evolusi
bintang itu berlangsung kira-kira jutaan hingga miliaran tahun.
Bintang yang terbentuk hampir tidak ada yang sama persis. Banyak
sekali yang sedikit berbeda, tapi mirip.
Proses terbentuknya bintang itu berawal dari awan gas dan debu
antarbintang. Di antara atom-atom awan terjadi tarik-menarik akibat
gaya gravitasi hingga membentuk nebula protobintang (kabut calon
bintang), yang mengerut, memanas, dan mulai bersinar. Ketika mengerut,
pusatnya mencapai suhu jutaan derajat Celcius, cukup panas untuk
berlangsungnya reaksi nuklir penghasil energi bintang. Dengan energi
itu, tekanan radiasi di pusat bisa mengimbangi keluruhan angkasa
bintang akibat gaya gravitasi. Dengan demikian bintang dapat stabil.
Daya desak dari luar ditahan tekanan radiasi dari dalam.
Pada pembentukan bintang ganda dekat, kontraksi akibat gaya gravitasi
antarpartikel dalam nebula selama jutaan bahkan miliaran tahun,
akhirnya melahirkan dua bola gas padat. Keduanya sangat panas sehingga
di masing-masing intinya terjadi reaksi fusi (penggabungan dua atom
hidrogen menjadi helium).
Pada tahap itu protobintang yang masih bersembunyi di balik sisa-sisa
nebula cuma memancarkan radiasi inframerah. Sisa nebula di sekitarnya
merupakan sumber emisi pada panjang gelombang radio. Radiasi
inframerah tidak akan pernah sampai ke permukaan Bumi lantaran
terserap uap air dalam atmosfer. Usia masing-masing komponen sistem
sangat ditentukan oleh massanya. Makin besar massa bintang, perjalanan
evolusinya makin cepat.
Terancam lingkungan sekitar
Data-data hasil pengamatan yang dilakukan Observatorium Bosscha tadi
berupa data fotografi. "Ke depan, Observatorium Bosscha akan
melangkah dari fotografik ke elektronik. Kami sedang melakukan
eksperimen untuk menggunakan detektor elektronik, supaya tetap bisa
mengoleksi data. Jadi, meneruskan sesuatu yang sudah dirintis
orang-orang terdahulu. Kalau sekarang datanya berupa fotografi lalu
diukur, nantinya menggunakan data elektronik," ungkap Moedji.
Perangkat kerasnya berupa Chart Couple Device (CCD).
Keunggulan detektor elektronik ini, kuantum efisiensinya tinggi
sekali. Kalau pada detektor fotografi cuma 1%, ia bisa mencapai lebih
dari 60%. Jadi, diharapkan bisa mengumpulkan data (objek) lebih lemah.
Kelemahannya, detektor elektronik tidak bisa membuat data sebesar plat
fotografi. Kalau pun ada, mungkin biayanya sangat mahal. "Bila
kelak alat canggih itu telah kami gunakan, kami tetap menggunakan
teleskop yang ada. Teleskop ini memiliki keunggulan berupa titik api
yang panjang. Artinya, dia dapat mengamati lebih rinci objek-objek
langit. Keuntungan lainnya, bidang fokusnya datar, sehingga dengan
detektor elektronik masih cocok," tambahnya.
Sayangnya, aktivitas pengamatan yang berguna untuk menganalisis masa
depan Matahari sebagai sumber kehidupan makhluk Bumi, terancam oleh
ulah manusia sendiri. Saat ini, Observatorium Bosscha, yang terletak
di 107o BT dan 6o49’ LS pada ketinggian 1.310
m dari permukaan laut, menghadapi kendala polusi cahaya lampu yang
terang benderang dari Bandung dan sekitarnya. Bahkan beberapa ratus
meter dari Observatorium Bosscha pun sudah tumbuh rumah-rumah, yang
pasti akan mengeluarkan cahaya di malam hari.
"Pada dasarnya kami ingin memelihara lingkungan ini agar tidak getting
worse," harap Moedji. Kalau tidak, suatu saat keberadaan
Observatorium Bosscha menjadi tidak ada artinya. Tanpa disadari
lingkungan Osevatorium Bosscha memang menjadi tidak bersahabat.
Padahal ketika didirikan, lingkungan observatorium itu sangat ideal.
Ia berada di tengah-tengah perkebunan teh yang nyaris bebas dari
polusi asap dan cahaya. Kita tidak tahu, apakah pembangunan sudah
berlangsung di sana-sini dengan tiba-tiba itu akibat ketidaktahuan
orang dan sebagainya. Pemda juga tidak tahu bagaimana menyetopnya.
Seminar juga sering dilakukan. "Dulu ‘kan rencana detail tata
ruang (RDTR) belum dibuat sehingga secara hukum sukar untuk
melarang," tambahnya.
Sebetulnya, yang menjadi pokok masalah adalah polusi cahaya itu paling
besar bersumber dari lingkungan paling dekat dengan observatorium.
Karena itu, pada radius 2,5 km perlu dilakukan pembenahan permukiman.
Dari topografinya jelas di radius itulah yang akan banyak sekali
terjadi konflik kepentingan dan juga berpotensi mengundang orang untuk
berlomba-lomba membangun.
Memang ada usulan untuk memindahkan observatorium ini, yang ketika
baru dibangun merupakan salah satu dari 17 observatorium di belahan
bumi selatan, dan satu-satunya yang berlokasi amat dekat dengan
katulistiwa. Akan tetapi, ide ini juga bukan menjadi jalan keluar
terbaik, sehingga sulit diterima.
"Untuk sementara ini kami harapkan, ada kesadaran masyarakat atau
yang lebih tinggi lagi untuk mengurangi cahaya lampu berlebihan,
terutama lampu pekarangan atau penerangan di luar rumah. Secara
bertahap barangkali bisa sadar untuk tidak membangun lebih luas. Tapi
kesadaran ini ternyata hanya suatu harapan. Bagaimanapun kami masih
memiliki suatu harapan," ujar Moedji.
Semoga saja harapan ini bisa didengar, direnungkan, dan bisa
menumbuhkan rasa empati. Siapa tahu, dari sana kepedulian terhadap
aset bernilai pendidikan tinggi ini bangkit dan berlanjut dengan
tindakan nyata. Maka, para astronom bisa tetap bekerja dengan baik dan
astronomi di negeri ini bisa terus berkembang untuk diwariskan kepada
anak cucu. Mereka pun masih berkesempatan mengintip indahnya
bintang-bintang di langit secara lebih jelas. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||