|
|
Bulan Februari 2001
|
|
KULIT BERSISIK AKIBAT PSORIASIS Seorang
bintang sinetron, sempat cemas ketika tiba-tiba kulitnya
berubah mengerikan. "Awalnya cuma bercak-bercak kemerahan yang
muncul di beberapa bagian tubuh saya," ceritanya seperti dikutip Citra
edisi 12 November 2000. "Saya bertambah panik ketika bercak merah
ini memenuhi seluruh bagian tubuh saya." Melalui beberapa
pemeriksaan, ia dinyatakan menderita psoriasis.
Sebagai artis sinetron tentu Tia khawatir penyakitnya akan menghambat
karirnya. Setelah mendatangi beberapa dokter tanpa hasil memuaskan, ia
berobat ke sebuah rumah sakit di Singapura. Berkat terapi teratur,
bercak di kulitnya berangsur hilang. Namun, dia harus selalu waspada
karena psoriasis bisa kambuh kapan saja.
Gejala yang dialami Tia ternyata masih ringan dibandingkan dengan yang
diderita Handi. Gejala pertamanya timbul saat Handi berusia 40-an.
Beberapa saat setelah minum obat tradisional yang disarankan rekannya,
penyakitnya bukannya sembuh tapi malah "mengamuk". Hampir
sekujur kaki dan tangannya serta sebagian tubuhnya melepuh kemerahan
seperti luka bakar. Sudah barang tentu ia tidak bisa beranjak dari
tempat tidur. Suhu badannya naik turun dan ia merasa kedinginan,
sehingga ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
Syukurlah setelah berobat jalan sekitar 1,5 bulan, kini Handi bisa
aktif kembali.
Kelainan bawaan
Di Asia, psoriasis termasuk penyakit kulit yang cukup banyak
penderitanya. Catatan di klinik sub-bagian kulit-kelamin FKUI/RSUPN
Cipto Mangunkusumo, Jakarta menunjukkan, penderita yang datang berobat
pada tahun 1999, mencakup 40 wanita dan 39 pria. Jadi cukup seimbang.
Nama penyakit ini berasal dari kata Yunani yang berarti gatal.
Penderitanya, lebih banyak orang kulit putih (Eropa dan Amerika Utara)
dan sangat jarang ditemukan pada suku Eskimo dan Indian.
"Penyebab kelainan kulit menahun ini sampai saat ini belum
diketahui, tapi pada penderita ditemukan beberapa gen tertentu yang
berkaitan dengan psoriasis," kata dr. Benny Wiryadi, dari
sub-bagian kulit-kelamin FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
"Artinya, bila seorang penderita psoriasis menikah, keturunannya
bisa berperan sebagai pembawa gen psoriasis walaupun selama hidupnya
penyakit ini belum tentu muncul," ujarnya.
Menurut ahli penyakit kulit-kelamin ini, disamping karena gen-gen
tadi, kemunculan penyakit ini juga dipengaruhi faktor lingkungan.
Faktor pencetus bisa macam-macam, misalnya stres mental, penyakit
infeksi atau obat-obatan tertentu. Psoriasis juga bisa muncul pada
usia berapapun.
Penelitian selama 25 tahun di AS menunjukkan, penyebab gangguan bawaan
ini bisa jadi terletak dalam gen-gen HLA (antigen limfosit manusia),
pada daerah kromosom 6. Katanya, gen-gen pada HLA tersebut
"mendikte" produksi protein yang cukup kritis terhadap
fungsi sel-T (satu jenis darah putih yang berhubungan dengan proses
imun pada kulit). Penelitian lain menghubungkan dengan beberapa dari
23 pasang kromosom dalam tubuh manusia. Konon, mata rantai kromosom
no. 6, 17 dan 20 yang menjadi gara-garanya.
Namun menurut dr. Benny, penelitian para pakar di AS tersebut sampai
sekarang masih belum bisa terbukti, karena ternyata imunitas pada
penderita masih cukup bagus. Jadi, bukan secara implisit daya tahan
tubuhnya melemah.
Overproduksi zat tanduk
Cetusan penyakit psoriasis berupa lesi-lesi kemerahan disertai
pembentukan sisik keperakan yang berlapis-lapis yang tidak terlalu
gatal. Pada penderita psoriasis memang pembuluh darah di bawah kulit
terlihat lebih banyak, berkelok-kelok serta melebar. Epidermis (bagian
kulit paling luar)-nya menjadi lebih tebal, produksi zat tanduk lebih
banyak yang manifestasinya berupa sisik transparan bertumpuk, yang
kemudian terlepas.
Yang membuat tak nyaman, lesi-lesi psoriasis bisa muncul di bagian
tubuh mana saja, dari kulit kepala, tubuh serta anggota badan sampai
ke daerah kelamin. Pada jenis ringan, psoriasis tipe guttate,
kelainan kulit berupa bercak-bercak berukuran sebesar tetesan air
berwarna kemerahan. Kalau tidak segera diobati, bercak ini cepat
meluas. Seringkali, psoriasis guttate muncul sehabis terkena
penyakit infeksi tenggorokan atau saluran pernafasan.
Menurut dr. Benny, jenis yang paling umum adalah psoriasis vulgaris.
Ukuran kelainan kulitnya sebesar uang logam 50-an atau lebih besar
lagi. Munculnya bisa pada tubuh, anggota badan, dan kulit kepala.
Penyakit ini biasanya tersebar hampir simetris (artinya kelainan pada
sisi tubuh yang satu merupakan bayangan pada sisi tubuh lainnya).
Ada lagi psoriasis yang menyerang kuku dengan gejala di bagian bawah
kuku tumbuh banyak sisik seperti bubuk. Kuku menjadi kekuningan serta
menebal, kemudian meradang, rapuh dan rusak. Cukup repot kalau
kelainan kulit ini menyerang telapak tangan atau kaki karena penderita
bisa sulit berjalan. Pasalnya kelainan ini biasanya bandel, sulit
sembuh.
Jenis lainnya, psoriasis pustulosa. Pada psoriasis jenis ini
terdapat bercak-bercak bernanah, dengan diameter kurang dari 1 cm.
"Kalau sampai tersebar ke seluruh tubuh, tubuh pun akan
berbau," kata dr.Benny yang mendalami penyakit psoriasis. Badan
penderita akan terasa lemas dan tampak sakit berat. Psoriasis pustulosa
yang meluas dan tersebar akan berkembang menjadi eritroderma, di mana
seluruh kulit atau sebagian besar kulit menjadi merah. Kemerahan kulit
ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh-pembuluh darah kapiler di bawah
kulit. Kalau kulit pasien eritroderma diraba, terasa hangat;
sebaliknya penderita sering menggigil (kedinginan) akibat kehilangan
kalori melalui pelebaran pembuluh-pembuluh kapiler tersebut.
Selain terjadinya akibat perluasan, psoriasis vulgaris bisa
juga akibat pengobatan psoriasis sendiri. Misalnya karena faktor
iritasi akibat pemakaian obat topikal. Jenis ini kalau tidak segera
ditangani bisa membahayakan jiwa penderita.
Yang paling menderita apabila pemunculan psoriasis dibarengi dengan
peradangan pada sendi (psoriasis arthritis). Sendi-sendi terasa
nyeri, membengkak, dan kaku, persis gejala rematik. Pasien harus
segera ditolong agar sendi-sendi kecil (jari-jari tangan), panggul,
dan tulang belakangnya tak sampai keropos.
Walaupun terkesan serius dan mengerikan, psoriasis bukan penyakit
menular dan bukan pula penyakit alergi.
Disiplin dan teratur
"Pengobatan psoriasis berlangsung seumur hidup, karena ia tidak
bisa disembuhkan. Maka sifat pengobatannya menekan (supresif) agar ia
tidak sampai muncul," tegas dr. Benny. Untuk menghindari
munculnya komplikasi seperti nanah, meluas ke seluruh bagian tubuh
atau arthritis, hendaknya penderita benar-benar mengikuti saran
dokter. Mencoba-coba sendiri sama sekali tidak dianjurkan. Sebaiknya
penderita memiliki catatan di rumah tentang apa saja tindakan yang
pernah dilakukan, sebagai panduan untuk dokter lain yang mungkin akan
menanganinya.
Apalagi diakui oleh ahli kulit ini, tidak mudah menerapkan terapi yang
tepat bagi penderita. "Sifatnya individual," katanya.
Pengobatan diupayakan yang dapat menghasilkan remisi panjang. Artinya,
dapat terbebas dari psoriasis cukup lama sampai bisa kambuh kembali.
Meniru obat pasien lain bahkan bisa memperparah atau menimbulkan
komplikasi. Karena sifatnya individual, sebelum pengobatan dimulai
dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah pasien mengidap
infeksi atau penyakit lain. Kalau ia sedang minum obat lain, harus
dilaporkan ke dokter sebab dikhawatirkan akan berinteraksi antar obat
tersebut.
Selain itu juga diteliti jenis psoriasisnya, ringan, sedang, atau
berat berdasarkan PASI (ukuran yang menggambarkan luas, ketebalan dan
warna merah lesi yang diderita). PASI merupakan salah satu cara untuk
menentukan keparahan dan luas psoriasisnya.
"Ada kalanya obat yang diberikan harus berganti-ganti, apalagi
kalau sudah tidak mempan lagi (resisten)," katanya. "Kalau
salep (pengobatan topikal) tidak mempan lagi, perlu dikombinasi dengan
obat sistemik (obat makan atau suntik), penyinaran ultra violet, atau
fototerapi".
Biasanya dokter akan mengawali terapinya dengan obat luar berupa
salep, khususnya bagi penderita ringan. Setidaknya ada tiga macam
salep untuk psoriasis. Pertama, salep dari bahan tar.
"Obat ini reaksinya memang lamban tapi cukup aman dan efeknya
bisa bertahan selama bertahun-tahun, asalkan tidak digunakan untuk
psoriasis daerah kelamin," jelas dr. Benny.
Obat luar lainnya, topical corticos steroid ada yang sangat
kuat, kuat dan sedang. Reaksi salep jenis ini rata-rata cepat, tapi
juga cepat kambuh kembali. Ada pula salep mengandung kortikos steroid
yang tidak boleh digunakan secara luas. Harus dibatasi 50 g /minggu.
"Jangan dikira bahwa obat berupa salep tidak diserap masuk ke
aliran darah dan kalau overdosis bisa menimbulkan efek sampingan pada
kulit (menipis dan mudah berdarah, mudah infeksi dan bisulan). Kalau
dioleskan dekat mata, mata gampang terkena katarak." Selain efek
sampingan lokal pada kulit, pemakaian overdosis juga dapat menimbulkan
efek samping sistemik.
Jenis salep ketiga terbuat dari bahan sistetik mirip Vitamin D3
yang khasiatnya hampir sama dengan kortikosteroid topikal kuat. Salep
ini bisa digunakan lebih lama dengan efek sampingan kecil. Namun,
jenis ini kadangkala beriritasi, menyebabkan gatal.
MOleh sebab itu, mskipun sebagai obat luar, penggunaan ketiga jenis
salep di atas mesti dengan pengawasan dokter. Dr. Benny juga
menganjurkan agar penderita berhenti merokok. Pasalnya, rokok bisa
memperberat penyakitnya.
Kapan disinar?
Penyinaran biasanya dilakukan apabila penyakit tidak responsif hanya
terhadap obat topikal. Indikasi penyinaran dengan sinar ultraviolet B
(UV-B) adalah jenis psoriasis sedang dan berat. Ada dua macam sinar
ultraviolet yang dipakai, broad band dannarrow band.
Yang penting, spektrum tidak boleh terlalu besar atau luas, sebab
dikhawatirkan kulit malah terbakar.
Cara lain, penyinaran UV-B dikombinasi dengan UV-A atau foto
kemoterapi yang dikombinasi dengan minum kapsul Psoralen.
Untuk psoriasis berat digunakan penyinaran PUVA. Selama disinar, mata,
alat kelamin,dan payudara (bagi wanita) harus ditutup agar terhindar
dari komplikasi, seperti katarak mata atau kanker. Karena dua belas
jam sebelumnya, pasien diberi kapsul Psoralen, begitu selesai
penyinaran, pasien tidak boleh terkena matahari sebab obat masih
terdapat dalam sirkulasi darah. Pengaruh ini bisa menyebabkan mata
rusak. Selain itu paparan sinar matahari juga mudah membakar kulit.
Sebab itu PUVA dianjurkan dilakukan sore hari.
Untuk menghindari komplikasi kapsul Psoralen, kini digunakankan metode
paint PUVA, yakni bagian yang hendak disinar "dicat"
dulu dengan larutan yang mengandung Psoralen, baru disinar. Ada lagi bath
PUVA yakni tubuh penderita direndam sekitar 15 menit dengan air
mengandung larutan Psoralen, baru disinar.
Namun, untuk jenis psoriasis eritroderma, dimana seluruh tubuh dan
anggota badan merah merata, terapi penyinaran dilarang, sebab cukup
berbahaya bagi keselamatan jiwanya.
Obat minum memang pilihan terakhir bagi dr. Benny, hanya pada kasus
berat. "Soalnya banyak efek sampingannya," jelasnya.
Sebagai misal Methotrexate (MTX) yang harganya cukup murah, diberikan
pada pasien berPASI psoriasis 18 - 20. Bila diminum tidak sesuai
anjuran dokter, bisa menyebabkan sirosis hati, menekan darah, impoten,
mandul, serta pada anak bisa mengganggu pertumbuhan. Obat ini dilarang
diberikan pada ibu hamil atau yang ingin mempunyai keturunan. Pada
penderita hamil dan anak sedapat mungkin hanya digunakan terapi salep
saja. Sebab itu sebelum obat diberikan, keadaan darah dan hati pasien
harus diperiksa dulu.
Obat lain, Neotigason (Retinoid) juga dilarang pada wanita hamil,
untuk menghindari kemungkinan cacat pada janin. Fungsi hati bisa
terganggu serta kadar lipid naik. Ada lagi Neoral, dilarang digunakan
pada pasien bertekanan darah tinggi atau/dan ginjalnya kurang beres,
mengidap keganasan, penyakit infeksi, sebab bisa memperparah keadaan.
Bila timbul arthritis, diberikan obat NSAIDs (non-steroidal
anti-inflamantory drugs) dikombinasikan dengan obat antiarthritis.
Setelah penyakitnya membaik, pengobatan harus dilanjutkan sebagai maintenance
therapy agar jangan cepat kambuh. Mengingat besarnya risiko obat
dan berlikunya aturan main terapi bagi masing-masing individu, agaknya
penting sekali peringatan dr. Benny, bahwa pasien harus disiplin
mematuhi anjuran dokter yang menanganinya serta mempunyai catatan
lengkap tentang tindakan apa saja yang pernah dilakukan terhadap
penyakitnya. (Nanny Selamihardja)
Boks: Jangan Disembunyikan |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||