globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KULIT BERSISIK AKIBAT PSORIASIS 

Seorang  bintang sinetron, sempat cemas ketika tiba-tiba kulitnya berubah mengerikan. "Awalnya cuma bercak-bercak kemerahan yang muncul di beberapa bagian tubuh saya," ceritanya seperti dikutip Citra edisi 12 November 2000. "Saya bertambah panik ketika bercak merah ini memenuhi seluruh bagian tubuh saya." Melalui beberapa pemeriksaan, ia dinyatakan menderita psoriasis.

Mungkin banyak orang merasa ngeri meyaksikan kulit kemerah-merahan bersisik penderita psoriasis. Padahal penyakit kulit ini tidak menular. Sebaliknya, penderita membutuhkan dukungan dari orang di sekitarnya, agar ia tidak merasa rendah diri.

Sebagai artis sinetron tentu Tia khawatir penyakitnya akan menghambat karirnya. Setelah mendatangi beberapa dokter tanpa hasil memuaskan, ia berobat ke sebuah rumah sakit di Singapura. Berkat terapi teratur, bercak di kulitnya berangsur hilang. Namun, dia harus selalu waspada karena psoriasis bisa kambuh kapan saja.

Gejala yang dialami Tia ternyata masih ringan dibandingkan dengan yang diderita Handi. Gejala pertamanya timbul saat Handi berusia 40-an. Beberapa saat setelah minum obat tradisional yang disarankan rekannya, penyakitnya bukannya sembuh tapi malah "mengamuk". Hampir sekujur kaki dan tangannya serta sebagian tubuhnya melepuh kemerahan seperti luka bakar. Sudah barang tentu ia tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Suhu badannya naik turun dan ia merasa kedinginan, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Syukurlah setelah berobat jalan sekitar 1,5 bulan, kini Handi bisa aktif kembali.

Kelainan bawaan

Di Asia, psoriasis termasuk penyakit kulit yang cukup banyak penderitanya. Catatan di klinik sub-bagian kulit-kelamin FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta menunjukkan, penderita yang datang berobat pada tahun 1999, mencakup 40 wanita dan 39 pria. Jadi cukup seimbang.

Nama penyakit ini berasal dari kata Yunani yang berarti gatal. Penderitanya, lebih banyak orang kulit putih (Eropa dan Amerika Utara) dan sangat jarang ditemukan pada suku Eskimo dan Indian.

"Penyebab kelainan kulit menahun ini sampai saat ini belum diketahui, tapi pada penderita ditemukan beberapa gen tertentu yang berkaitan dengan psoriasis," kata dr. Benny Wiryadi, dari sub-bagian kulit-kelamin FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. "Artinya, bila seorang penderita psoriasis menikah, keturunannya bisa berperan sebagai pembawa gen psoriasis walaupun selama hidupnya penyakit ini belum tentu muncul," ujarnya.

Menurut ahli penyakit kulit-kelamin ini, disamping karena gen-gen tadi, kemunculan penyakit ini juga dipengaruhi faktor lingkungan. Faktor pencetus bisa macam-macam, misalnya stres mental, penyakit infeksi atau obat-obatan tertentu. Psoriasis juga bisa muncul pada usia berapapun.

Penelitian selama 25 tahun di AS menunjukkan, penyebab gangguan bawaan ini bisa jadi terletak dalam gen-gen HLA (antigen limfosit manusia), pada daerah kromosom 6. Katanya, gen-gen pada HLA tersebut "mendikte" produksi protein yang cukup kritis terhadap fungsi sel-T (satu jenis darah putih yang berhubungan dengan proses imun pada kulit). Penelitian lain menghubungkan dengan beberapa dari 23 pasang kromosom dalam tubuh manusia. Konon, mata rantai kromosom no. 6, 17 dan 20 yang menjadi gara-garanya.

Namun menurut dr. Benny, penelitian para pakar di AS tersebut sampai sekarang masih belum bisa terbukti, karena ternyata imunitas pada penderita masih cukup bagus. Jadi, bukan secara implisit daya tahan tubuhnya melemah.

Overproduksi zat tanduk

Cetusan penyakit psoriasis berupa lesi-lesi kemerahan disertai pembentukan sisik keperakan yang berlapis-lapis yang tidak terlalu gatal. Pada penderita psoriasis memang pembuluh darah di bawah kulit terlihat lebih banyak, berkelok-kelok serta melebar. Epidermis (bagian kulit paling luar)-nya menjadi lebih tebal, produksi zat tanduk lebih banyak yang manifestasinya berupa sisik transparan bertumpuk, yang kemudian terlepas.

Yang membuat tak nyaman, lesi-lesi psoriasis bisa muncul di bagian tubuh mana saja, dari kulit kepala, tubuh serta anggota badan sampai ke daerah kelamin. Pada jenis ringan, psoriasis tipe guttate, kelainan kulit berupa bercak-bercak berukuran sebesar tetesan air berwarna kemerahan. Kalau tidak segera diobati, bercak ini cepat meluas. Seringkali, psoriasis guttate muncul sehabis terkena penyakit infeksi tenggorokan atau saluran pernafasan.

Menurut dr. Benny, jenis yang paling umum adalah psoriasis vulgaris. Ukuran kelainan kulitnya sebesar uang logam 50-an atau lebih besar lagi. Munculnya bisa pada tubuh, anggota badan, dan kulit kepala. Penyakit ini biasanya tersebar hampir simetris (artinya kelainan pada sisi tubuh yang satu merupakan bayangan pada sisi tubuh lainnya).

Ada lagi psoriasis yang menyerang kuku dengan gejala di bagian bawah kuku tumbuh banyak sisik seperti bubuk. Kuku menjadi kekuningan serta menebal, kemudian meradang, rapuh dan rusak. Cukup repot kalau kelainan kulit ini menyerang telapak tangan atau kaki karena penderita bisa sulit berjalan. Pasalnya kelainan ini biasanya bandel, sulit sembuh.

Jenis lainnya, psoriasis pustulosa. Pada psoriasis jenis ini terdapat bercak-bercak bernanah, dengan diameter kurang dari 1 cm.

"Kalau sampai tersebar ke seluruh tubuh, tubuh pun akan berbau," kata dr.Benny yang mendalami penyakit psoriasis. Badan penderita akan terasa lemas dan tampak sakit berat. Psoriasis pustulosa yang meluas dan tersebar akan berkembang menjadi eritroderma, di mana seluruh kulit atau sebagian besar kulit menjadi merah. Kemerahan kulit ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh-pembuluh darah kapiler di bawah kulit. Kalau kulit pasien eritroderma diraba, terasa hangat; sebaliknya penderita sering menggigil (kedinginan) akibat kehilangan kalori melalui pelebaran pembuluh-pembuluh kapiler tersebut.

Selain terjadinya akibat perluasan, psoriasis vulgaris bisa juga akibat pengobatan psoriasis sendiri. Misalnya karena faktor iritasi akibat pemakaian obat topikal. Jenis ini kalau tidak segera ditangani bisa membahayakan jiwa penderita.

Yang paling menderita apabila pemunculan psoriasis dibarengi dengan peradangan pada sendi (psoriasis arthritis). Sendi-sendi terasa nyeri, membengkak, dan kaku, persis gejala rematik. Pasien harus segera ditolong agar sendi-sendi kecil (jari-jari tangan), panggul, dan tulang belakangnya tak sampai keropos.

Walaupun terkesan serius dan mengerikan, psoriasis bukan penyakit menular dan bukan pula penyakit alergi.

Disiplin dan teratur

"Pengobatan psoriasis berlangsung seumur hidup, karena ia tidak bisa disembuhkan. Maka sifat pengobatannya menekan (supresif) agar ia tidak sampai muncul," tegas dr. Benny. Untuk menghindari munculnya komplikasi seperti nanah, meluas ke seluruh bagian tubuh atau arthritis, hendaknya penderita benar-benar mengikuti saran dokter. Mencoba-coba sendiri sama sekali tidak dianjurkan. Sebaiknya penderita memiliki catatan di rumah tentang apa saja tindakan yang pernah dilakukan, sebagai panduan untuk dokter lain yang mungkin akan menanganinya.

Apalagi diakui oleh ahli kulit ini, tidak mudah menerapkan terapi yang tepat bagi penderita. "Sifatnya individual," katanya. Pengobatan diupayakan yang dapat menghasilkan remisi panjang. Artinya, dapat terbebas dari psoriasis cukup lama sampai bisa kambuh kembali.

Meniru obat pasien lain bahkan bisa memperparah atau menimbulkan komplikasi. Karena sifatnya individual, sebelum pengobatan dimulai dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah pasien mengidap infeksi atau penyakit lain. Kalau ia sedang minum obat lain, harus dilaporkan ke dokter sebab dikhawatirkan akan berinteraksi antar obat tersebut.

Selain itu juga diteliti jenis psoriasisnya, ringan, sedang, atau berat berdasarkan PASI (ukuran yang menggambarkan luas, ketebalan dan warna merah lesi yang diderita). PASI merupakan salah satu cara untuk menentukan keparahan dan luas psoriasisnya.

"Ada kalanya obat yang diberikan harus berganti-ganti, apalagi kalau sudah tidak mempan lagi (resisten)," katanya. "Kalau salep (pengobatan topikal) tidak mempan lagi, perlu dikombinasi dengan obat sistemik (obat makan atau suntik), penyinaran ultra violet, atau fototerapi".

Biasanya dokter akan mengawali terapinya dengan obat luar berupa salep, khususnya bagi penderita ringan. Setidaknya ada tiga macam salep untuk psoriasis. Pertama, salep dari bahan tar.

"Obat ini reaksinya memang lamban tapi cukup aman dan efeknya bisa bertahan selama bertahun-tahun, asalkan tidak digunakan untuk psoriasis daerah kelamin," jelas dr. Benny.

Obat luar lainnya, topical corticos steroid ada yang sangat kuat, kuat dan sedang. Reaksi salep jenis ini rata-rata cepat, tapi juga cepat kambuh kembali. Ada pula salep mengandung kortikos steroid yang tidak boleh digunakan secara luas. Harus dibatasi 50 g /minggu.

"Jangan dikira bahwa obat berupa salep tidak diserap masuk ke aliran darah dan kalau overdosis bisa menimbulkan efek sampingan pada kulit (menipis dan mudah berdarah, mudah infeksi dan bisulan). Kalau dioleskan dekat mata, mata gampang terkena katarak." Selain efek sampingan lokal pada kulit, pemakaian overdosis juga dapat menimbulkan efek samping sistemik.

Jenis salep ketiga terbuat dari bahan sistetik mirip Vitamin D3 yang khasiatnya hampir sama dengan kortikosteroid topikal kuat. Salep ini bisa digunakan lebih lama dengan efek sampingan kecil. Namun, jenis ini kadangkala beriritasi, menyebabkan gatal.

MOleh sebab itu, mskipun sebagai obat luar, penggunaan ketiga jenis salep di atas mesti dengan pengawasan dokter. Dr. Benny juga menganjurkan agar penderita berhenti merokok. Pasalnya, rokok bisa memperberat penyakitnya.

Kapan disinar?

Penyinaran biasanya dilakukan apabila penyakit tidak responsif hanya terhadap obat topikal. Indikasi penyinaran dengan sinar ultraviolet B (UV-B) adalah jenis psoriasis sedang dan berat. Ada dua macam sinar ultraviolet yang dipakai, broad band dannarrow band. Yang penting, spektrum tidak boleh terlalu besar atau luas, sebab dikhawatirkan kulit malah terbakar.

Cara lain, penyinaran UV-B dikombinasi dengan UV-A atau foto kemoterapi yang dikombinasi dengan minum kapsul Psoralen.

Untuk psoriasis berat digunakan penyinaran PUVA. Selama disinar, mata, alat kelamin,dan payudara (bagi wanita) harus ditutup agar terhindar dari komplikasi, seperti katarak mata atau kanker. Karena dua belas jam sebelumnya, pasien diberi kapsul Psoralen, begitu selesai penyinaran, pasien tidak boleh terkena matahari sebab obat masih terdapat dalam sirkulasi darah. Pengaruh ini bisa menyebabkan mata rusak. Selain itu paparan sinar matahari juga mudah membakar kulit. Sebab itu PUVA dianjurkan dilakukan sore hari.

Untuk menghindari komplikasi kapsul Psoralen, kini digunakankan metode paint PUVA, yakni bagian yang hendak disinar "dicat" dulu dengan larutan yang mengandung Psoralen, baru disinar. Ada lagi bath PUVA yakni tubuh penderita direndam sekitar 15 menit dengan air mengandung larutan Psoralen, baru disinar.

Namun, untuk jenis psoriasis eritroderma, dimana seluruh tubuh dan anggota badan merah merata, terapi penyinaran dilarang, sebab cukup berbahaya bagi keselamatan jiwanya.

Obat minum memang pilihan terakhir bagi dr. Benny, hanya pada kasus berat. "Soalnya banyak efek sampingannya," jelasnya.

Sebagai misal Methotrexate (MTX) yang harganya cukup murah, diberikan pada pasien berPASI psoriasis 18 - 20. Bila diminum tidak sesuai anjuran dokter, bisa menyebabkan sirosis hati, menekan darah, impoten, mandul, serta pada anak bisa mengganggu pertumbuhan. Obat ini dilarang diberikan pada ibu hamil atau yang ingin mempunyai keturunan. Pada penderita hamil dan anak sedapat mungkin hanya digunakan terapi salep saja. Sebab itu sebelum obat diberikan, keadaan darah dan hati pasien harus diperiksa dulu.

Obat lain, Neotigason (Retinoid) juga dilarang pada wanita hamil, untuk menghindari kemungkinan cacat pada janin. Fungsi hati bisa terganggu serta kadar lipid naik. Ada lagi Neoral, dilarang digunakan pada pasien bertekanan darah tinggi atau/dan ginjalnya kurang beres, mengidap keganasan, penyakit infeksi, sebab bisa memperparah keadaan.

Bila timbul arthritis, diberikan obat NSAIDs (non-steroidal anti-inflamantory drugs) dikombinasikan dengan obat antiarthritis.

Setelah penyakitnya membaik, pengobatan harus dilanjutkan sebagai maintenance therapy agar jangan cepat kambuh. Mengingat besarnya risiko obat dan berlikunya aturan main terapi bagi masing-masing individu, agaknya penting sekali peringatan dr. Benny, bahwa pasien harus disiplin mematuhi anjuran dokter yang menanganinya serta mempunyai catatan lengkap tentang tindakan apa saja yang pernah dilakukan terhadap penyakitnya. (Nanny Selamihardja)

Boks: Jangan Disembunyikan

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej