|
|
Bulan Februari 2001
|
|
HEMAT
PULSA BERKAT ROWSET
Sebagai gambaran, saat ini Indonesia baru memiliki enam juta satuan
sambungan telepon (SST). Dibandingkan dengan jumlah penduduk memang
densitasnya masih rendah (2,8 per 100 penduduk). Mengutip ucapan
Dirjen Postel, Sasmito Dirdjo, angka ini salah satu yang terendah di
dunia.
Lebih nelangsa lagi, angka rendah itu masih belum dibarengi
dengan kualitas sambungan telepon yang bagus kecuali daerah tertentu,
misal Jln. Jend. Sudirman Jakarta yang sudah dilalui serat optik.
Selain itu, kini PT Telkom hanya (mau) bertanggung jawab terhadap
saluran telepon dari sentral telepon hingga kotak terminal batas/KTB
(Kepmenparpostel KM.22/Dirjen/1996). Setelah itu menjadi tanggung
jawab pelanggan. Padahal jalur ini rawan terhadap pembobolan pulsa.
Dalam kondisi serba terjepit itu, tak heran jika pada masa krisis
seperti sekarang ini orang cenderung menghemat dalam menggunakan
telepon. Misalnya, dengan menidurkan telepon. Padahal dengan semakin
banyaknya "telepon tidur", maka semakin bertambah pula beban
PT Telkom. Sebabnya, biaya perawatan setiap sambungan Rp 60.000,-,
sedangkan pelanggan hanya membayar tagihan bulanan Rp 22.500,-.
Ada lagi pelanggan yang langsung mengundurkan diri. Menurut Kadivre
II, Guntur Siregar, pada 1998 tercatat 130.000 pelanggan mengundurkan
diri. Kalaupun ada yang cuek, tiba-tiba saja terkaget-kaget
dengan tagihan yang melonjak. Apalagi mereka yang terjun dalam bisnis
yang berhubungan dengan telepon, misalnya Warnet (warung Internet).
Nah, mereka tentu mendambakan alat yang bisa membuat kantung tidak
jebol oleh biaya pulsa. Harapan itu terkabul berkat utak-atik lima
pemuda yang sehobi. Dari mereka lahirlah peralatan yang diberi nama
Rowset.
"Tujuan kami hanya ingin menghilangkan noise, seperti
suara radio, dan melindungi pesawat telepon dari petir. Ternyata
setelah dicoba ada efek sampingan yang berupa penghematan pulsa,"
kata Prasetyo Suratno mewakili teman-temannya.
Sinyal tak stabil, durasi mengecil
Prinsip kerja Rowset adalah menstabilkan dan menyaring sinyal telepon
yang masuk dan keluar dari pesawat telepon pada frekuensi 16 kHz.
Nilai ini merupakan nilai standar yang membuat durasi satu pulsa
telepon lokal maupun interlokal sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Misal tiga menit untuk pulsa lokal.
Di lapangan besaran sinyal yang dikirim dari sentra telepon PT Telkom
itu dalam perjalanan ke pelanggan frekuensinya tidak bisa sesuai
dengan nilai standar. Penyebabnya adalah kabel yang dipakai kebanyakan
memiliki nilai tahanan dalam kabel di atas angka yang ditetapkan oleh
PT Telkom, yakni 0,6 W (- ganti simbol ohm ini -).
"Di lapangan bisa 0,8 W. Bahkan ada yang 1 W," tegas
Prasetyo. Akibatnya, tegangan menjadi turun. Tegangan yang loyo itu
akhirnya menjadi tak berdaya manakala ada frekuensi lain menyusup ke
dalam kabel telepon. Frekuensi penyusup itu bisa berupa sinyal radio, handy
talkie, telepon seluler, dan kabel listrik tegangan tinggi. Lalu,
karena proses induksi dan interferensi dari sinyal-sinyal pengganggu
tadi, sinyal telepon PT Telkom bisa melonjak sampai mendekati angka 19
kHz.
Lonjakan frekuensi itu berpengaruh kepada durasi pulsa. Kalau menurut
standar, satu pulsa berdurasi tiga menit, misalnya, akibat lonjakan
frekuensi tadi durasinya bisa menyusut menjadi dua menit. Ibarat
saluran air yang kotor, tetes-tetes air banyak yang nyangkut di
kotoran. Pelanggan pun menjadi boros dalam memakai pulsa. Nah, fungsi
alat inilah yang menghilangkan kotoran-kotoran tadi. Pelanggan pun
bisa memperoleh durasi sesuai standar.
Kunci penstabilan tadi ada pada komponen chip yang ternyata
masih diimpor dari Singapura.
"Kami tidak memakai IC karena kalau pakai IC berarti butuh power
supply tambahan. Nah, kita mencoba memanfaatkan tegangan yang ada
di kabel," kata Prasetyo yang menjadi motor Papua.
Ada dua chip yang berfungsi sebagai stabilisator dan filter
sinyal telepon. Komponen lain adalah kumparan dan komponen yang
berfungsi seperti sekring. "Tapi bukan sekring. Inilah yang
berfungsi sebagai antipetir," jelas Prasetyo.
Komponen-komponen tadi dijamin tidak memiliki efek sampingan baik pada
jaringan maupun pesawat telepon. "Misalnya, jika dipakai untuk
ber-Internet tidak membuat koneksinya terganggu. Kata yang memakai,
malah mempercepat. Tapi saya tidak bilang begitu. Saya bilang tidak
memperlambat," ujar Prasetyo.
Seperti dijelaskan di awal tadi, Rowset juga dirancang sebagai alat
antipetir. "Bisa menangkal sampai 10 kV. Sudah lumayan besar, lo.
(Tegangan dari) PLN saja cuma 220 V."
Hanya saja alat ini belum dilengkapi sistem pentanahan (grounding).
Jadi, kalau kena petir, Rowset akan jebol. Pesawat teleponnya sih kagak
apa-apa.
Hanya cocok untuk transmisi kabel
Meski tujuan awalnya hanya untuk penstabil pulsa dan antipetir, dalam
pemakaiannya ternyata dilaporkan bahwa alat ini bisa menurunkan
tagihan telepon per bulannya.
"Banyak Warnet di daerah Setiabudi dan Cimahi, Bandung, yang
melaporkan bahwa tagihan bulanan mereka turun. Kalau sebelum memakai
Rowset mereka membayar rata-rata Rp 2,1 juta per bulan, setelah
memasang alat ini – yang informasinya diperoleh dari media massa
juga – tagihan turun menjadi Rp 1,7 juta. Bulan kemarin bahkan hanya
Rp 1,4 juta," terang Prasetyo.
Itu berarti bisa menghemat sekitar 30%. Jadi, dengan sinyal yang
bersih dan frekuensi yang stabil ada efisiensi. Tak heran kalau alat
ini menjadi idolanya Warnet di Bandung.
Akan tetapi, Agung – salah satu anggota Papua – mengakui bahwa
Rowset tidak berpengaruh bagi pelanggan yang lebih banyak menggunakan
SLI dan sambungan telepon ke ponsel. Rowset sangat berguna bagi
pelanggan yang sering membelanjakan duitnya untuk pulsa lokal, SLJJ,
dan Internet. "Pokoknya untuk telepon tetap (fixed telephone
– Red.) yang memakai jaringan kabel nasionallah," tandas
Prasetyo.
Karena itu, untuk sistem telepon radio seperti Ratelindo alat ini
tidak cocok jika penggunaannya dimaksudkan untuk menghemat pulsa.
"Ratelindo menggunakan transmisi, sehingga frekuensi sinyal yang
dikeluarkan PT Telkom akan sama dengan yang diterima pelanggan, yakni
800 kHz. Tapi, alat ini mampu membuat daya tangkapnya lebih
bersih," kata Prasetyo. Seperti diketahui, suara yang dihasilkan
Ratelindo masih belum jernih. Cenderung cempreng.
Rowset ternyata juga tidak berdaya jika menghadapi PABX, Wartel,
maupun hunting. Pada sistem itu, frekuensi sinyal yang diterima
hampir sama dengan yang dipancarkan jaringan Telkom. Di sini, baik
pada sentral telepon maupun peralatan di pelanggan, ada modul tambahan
yang mensinkronisasi frekuensi. Inilah yang membedakan biaya langganan
sistem tadi berbeda dengan biaya langganan residensial pada umumnya.
Diketawai lalu dipalsukan
Upaya untuk menemukan penstabil pulsa ini sendiri sudah sejak 1999
dilakukan oleh lima pemuda tadi. Mereka mengutak-atik alat yang
diyakini mampu menghemat pulsa. Berbekal hobi dan bermodal tekad,
berbagai referensi pun diburu. Bahkan alat serupa yang dipakai di luar
negeri pun dicobanya. Sayang, tidak berfungsi karena ternyata tidak
sesuai dengan jaringan telepon di Indonesia. "Alat kami pun
ternyata tidak berfungsi baik di Brunei," aku Prasetyo.
Latar belakang pengalaman dan pendidikan mereka juga punya andil,
seperti Prasetyo yang pernah bekerja di Indosat selama tiga tahun bisa
tahu seluk-beluk teknis kabel telepon di Indonesia. Termasuk permainan
di dalamnya tentu.
Prototipe alat itu pun berhasil dibuat sebulan setelah Papua Creativa
berdiri. Meski memakai nama Papua, mereka tidak ada sangkut pautnya
dengan nama Propinsi Irian Jaya itu. Papua merupakan kependekan dari
nama kelima pemuda tadi: Prasetyo Suratno, Agung Prabowo, Ponco Budi
Prihatmoro, Syahrudin, dan Sugianto.
Setelah prototipe terbentuk, mereka pun perlu memberi nama alat itu.
Memang ada pepatah, apalah arti sebuah nama. Tapi, karena ini
menyangkut barang yang mau dilempar ke publik, sangat lucu kalau nanti
ada orang yang butuh alat ini mencarinya dengan berbagai sebutan.
Terpilihnya nama Rowset atas bantuan seorang wartawan Tabloid Tekad.
Dasarnya adalah roset, yakni sebutan untuk kotak yang menjadi tempat
colokan pesawat telepon setelah dari KTB. Kotak itulah yang dipakai
sebagai casing prototipe.
"Saya sudah cek bahwa roset itu bukan merek. Orang pada tidak
tahu bahwa kotak tempat nyolokin pesawat telepon itu namanya
roset. Hanya orang Telkom saja yang tahu. Lalu ditambahi "w"
menjadi Rowset karena alat ini dipasangnya 'kan berjejer," cerita
Prasetyo.
Berbagai lembaga dan instansi seperti PT Telkom dan Lembaga
Elektronika Nasional (LEN) didatangi untuk memperoleh sertifikasi
maupun pengakuan.
"Umumnya mereka mendukung upaya kami karena alat ini memang
banyak memberi keuntungan kepada masyarakat dan tidak merugikan PT
Telkom," kata Prasetyo. Sertifikasi sendiri tidak mereka peroleh
karena mempersyaratkan paten diambil oleh lembaga yang mengeluarkan
sertifikat. Sementara untuk melindungi karya mereka, kini paten telah
mereka kantungi dari Departemen Kehakiman dengan nomor S 20000164
tanggal 24 Agustus 2000.
Paten ini menjadi perlu karena ternyata di kemudian hari banyak
ditemukan produk sejenis.
"Gini-gini produk kita dipalsuin, lo!" kelakar
Prasetyo dengan maksud serius. Awalnya adalah keluhan dari pelanggan
yang ternyata alat itu tidak sesuai dengan klaim dalam kotaknya.
Mereka pun bergerilya mencari alat itu. Ketemu di Glodok, Jakarta,
dengan harga penawaran Rp 250.000,-. Menurut sang pedagang, alat itu
katanya buatan Taiwan.
Lalu ada keluhan lain dari Bandung. Mereknya sama, yakni Commate. Cuma
ini diklaim impor dari Singapura. Setelah ditelusuri, akhirnya muara
alat ini ketemu, dari Semarang. Ditelusuri lagi, orang itu pernah
membeli produk Rowset empat buah. Dari luar memang mirip. Jeroannya
yang berbeda, soalnya chip yang menjadi kunci alat itu memang
sulit ditiru.
Pemalsuan itu sendiri sangat kontras dengan proses awal pemasaran
mereka. Tak ada distributor yang mau memasarkan Rowset. Malah
diketawai segala. Toh akhirnya ada juga pedagang yang mau mencobanya
dulu sebelum memasarkan. Pedagang ini kebetulan punya pengetahuan
tentang perteleponan.
Kini, melalui "pabriknya" Papua memperoleh order antara 500
– 1.500 per bulannya. Pangsa pasarnya sudah melebar ke seluruh
pelosok Nusantara, meski konsentrasinya tetap di Jawa. Pemasarannya
pun mulai memanfaatkan media Internet. Mereka pun menjalin kerja sama
dengan salah satu radio swasta di Bandung. Di sini mereka bebas
beriklan kapan saja. Asalkan penjualan Rowset khususnya untuk konsumen
Bandung melalui radio itu.
Dengan masuknya Rowset ke pasaran, bukan berarti Papua lalu leha-leha
menunggu order. "Kami sadar, barang ini sekali beli. Tidak
seperti pupuk yang harus dibeli secara berkala. Kecuali kalau kena
petir. Itu pun jarang."
Pengembangan memang menjadi langkah kunci agar nama Papua tetap eksis.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyempurnakan Rowset.
Misalnya untuk paralel empat telepon. Yang jelas, Prasetyo masih
memiliki senjata simpanan jika pasar sudah jenuh dengan Rowset.
"Tinggal menunggu timing-nya."
Di lain pihak, PT Telkom juga harus bijaksana dalam menyambut temuan
seperti itu. Jangan sampai kreativitas masyarakat divonis oleh yang
berwajib sebagai tindakan menyalahi hukum, macam kasus VoIP di Bandung
beberapa waktu lalu. Dengan kualitas yang ada seperti saat ini,
kehadiran alat ini justru membantu. Anda tertarik? Sayangnya, karena
masih ada komponen impor, harga Rowset ikut-ikutan naik-turun seiring
harga dolar Amerika. Menurut Prasetyo, harganya sekarang kira-kira Rp
100.000,-. (Dari pelbagai sumber/Yds). Boks:
Cara Memasangnya Gampang |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||