globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

HEMAT PULSA BERKAT ROWSET

Ada harapan bagi para pengguna jasa telepon yang semakin terbungkuk-bungkuk menanggung beban tarif pulsa. Itulah Rowset, peralatan rakitan lima pemuda dari Pondokgede, Jakarta Timur, yang tergabung dalam Papua Creativa.

Beginilah hidup di negara yang masih dilanda multikrisis. Demi hasrat pemerintah yang ingin memperluas jaringan telepon, pelanggan harus ikut menanggung beban melalui kenaikan tarif. Direncanakan kenaikan yang masuk dalam Letter of Intent antara pemerintah dan IMF itu sekitar 45% yang akan dilakukan secara bertahap.

Sebagai gambaran, saat ini Indonesia baru memiliki enam juta satuan sambungan telepon (SST). Dibandingkan dengan jumlah penduduk memang densitasnya masih rendah (2,8 per 100 penduduk). Mengutip ucapan Dirjen Postel, Sasmito Dirdjo, angka ini salah satu yang terendah di dunia.

Lebih nelangsa lagi, angka rendah itu masih belum dibarengi dengan kualitas sambungan telepon yang bagus kecuali daerah tertentu, misal Jln. Jend. Sudirman Jakarta yang sudah dilalui serat optik. Selain itu, kini PT Telkom hanya (mau) bertanggung jawab terhadap saluran telepon dari sentral telepon hingga kotak terminal batas/KTB (Kepmenparpostel KM.22/Dirjen/1996). Setelah itu menjadi tanggung jawab pelanggan. Padahal jalur ini rawan terhadap pembobolan pulsa.

Dalam kondisi serba terjepit itu, tak heran jika pada masa krisis seperti sekarang ini orang cenderung menghemat dalam menggunakan telepon. Misalnya, dengan menidurkan telepon. Padahal dengan semakin banyaknya "telepon tidur", maka semakin bertambah pula beban PT Telkom. Sebabnya, biaya perawatan setiap sambungan Rp 60.000,-, sedangkan pelanggan hanya membayar tagihan bulanan Rp 22.500,-.

Ada lagi pelanggan yang langsung mengundurkan diri. Menurut Kadivre II, Guntur Siregar, pada 1998 tercatat 130.000 pelanggan mengundurkan diri. Kalaupun ada yang cuek, tiba-tiba saja terkaget-kaget dengan tagihan yang melonjak. Apalagi mereka yang terjun dalam bisnis yang berhubungan dengan telepon, misalnya Warnet (warung Internet).

Nah, mereka tentu mendambakan alat yang bisa membuat kantung tidak jebol oleh biaya pulsa. Harapan itu terkabul berkat utak-atik lima pemuda yang sehobi. Dari mereka lahirlah peralatan yang diberi nama Rowset.

"Tujuan kami hanya ingin menghilangkan noise, seperti suara radio, dan melindungi pesawat telepon dari petir. Ternyata setelah dicoba ada efek sampingan yang berupa penghematan pulsa," kata Prasetyo Suratno mewakili teman-temannya.

Sinyal tak stabil, durasi mengecil

Prinsip kerja Rowset adalah menstabilkan dan menyaring sinyal telepon yang masuk dan keluar dari pesawat telepon pada frekuensi 16 kHz. Nilai ini merupakan nilai standar yang membuat durasi satu pulsa telepon lokal maupun interlokal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Misal tiga menit untuk pulsa lokal.

Di lapangan besaran sinyal yang dikirim dari sentra telepon PT Telkom itu dalam perjalanan ke pelanggan frekuensinya tidak bisa sesuai dengan nilai standar. Penyebabnya adalah kabel yang dipakai kebanyakan memiliki nilai tahanan dalam kabel di atas angka yang ditetapkan oleh PT Telkom, yakni 0,6 W (- ganti simbol ohm ini -).

"Di lapangan bisa 0,8 W. Bahkan ada yang 1 W," tegas Prasetyo. Akibatnya, tegangan menjadi turun. Tegangan yang loyo itu akhirnya menjadi tak berdaya manakala ada frekuensi lain menyusup ke dalam kabel telepon. Frekuensi penyusup itu bisa berupa sinyal radio, handy talkie, telepon seluler, dan kabel listrik tegangan tinggi. Lalu, karena proses induksi dan interferensi dari sinyal-sinyal pengganggu tadi, sinyal telepon PT Telkom bisa melonjak sampai mendekati angka 19 kHz.

Lonjakan frekuensi itu berpengaruh kepada durasi pulsa. Kalau menurut standar, satu pulsa berdurasi tiga menit, misalnya, akibat lonjakan frekuensi tadi durasinya bisa menyusut menjadi dua menit. Ibarat saluran air yang kotor, tetes-tetes air banyak yang nyangkut di kotoran. Pelanggan pun menjadi boros dalam memakai pulsa. Nah, fungsi alat inilah yang menghilangkan kotoran-kotoran tadi. Pelanggan pun bisa memperoleh durasi sesuai standar.

Kunci penstabilan tadi ada pada komponen chip yang ternyata masih diimpor dari Singapura.

"Kami tidak memakai IC karena kalau pakai IC berarti butuh power supply tambahan. Nah, kita mencoba memanfaatkan tegangan yang ada di kabel," kata Prasetyo yang menjadi motor Papua.

Ada dua chip yang berfungsi sebagai stabilisator dan filter sinyal telepon. Komponen lain adalah kumparan dan komponen yang berfungsi seperti sekring. "Tapi bukan sekring. Inilah yang berfungsi sebagai antipetir," jelas Prasetyo.

Komponen-komponen tadi dijamin tidak memiliki efek sampingan baik pada jaringan maupun pesawat telepon. "Misalnya, jika dipakai untuk ber-Internet tidak membuat koneksinya terganggu. Kata yang memakai, malah mempercepat. Tapi saya tidak bilang begitu. Saya bilang tidak memperlambat," ujar Prasetyo.

Seperti dijelaskan di awal tadi, Rowset juga dirancang sebagai alat antipetir. "Bisa menangkal sampai 10 kV. Sudah lumayan besar, lo. (Tegangan dari) PLN saja cuma 220 V."

Hanya saja alat ini belum dilengkapi sistem pentanahan (grounding). Jadi, kalau kena petir, Rowset akan jebol. Pesawat teleponnya sih kagak apa-apa.

Hanya cocok untuk transmisi kabel

Meski tujuan awalnya hanya untuk penstabil pulsa dan antipetir, dalam pemakaiannya ternyata dilaporkan bahwa alat ini bisa menurunkan tagihan telepon per bulannya.

"Banyak Warnet di daerah Setiabudi dan Cimahi, Bandung, yang melaporkan bahwa tagihan bulanan mereka turun. Kalau sebelum memakai Rowset mereka membayar rata-rata Rp 2,1 juta per bulan, setelah memasang alat ini – yang informasinya diperoleh dari media massa juga – tagihan turun menjadi Rp 1,7 juta. Bulan kemarin bahkan hanya Rp 1,4 juta," terang Prasetyo.

Itu berarti bisa menghemat sekitar 30%. Jadi, dengan sinyal yang bersih dan frekuensi yang stabil ada efisiensi. Tak heran kalau alat ini menjadi idolanya Warnet di Bandung.

Akan tetapi, Agung – salah satu anggota Papua – mengakui bahwa Rowset tidak berpengaruh bagi pelanggan yang lebih banyak menggunakan SLI dan sambungan telepon ke ponsel. Rowset sangat berguna bagi pelanggan yang sering membelanjakan duitnya untuk pulsa lokal, SLJJ, dan Internet. "Pokoknya untuk telepon tetap (fixed telephoneRed.) yang memakai jaringan kabel nasionallah," tandas Prasetyo.

Karena itu, untuk sistem telepon radio seperti Ratelindo alat ini tidak cocok jika penggunaannya dimaksudkan untuk menghemat pulsa.

"Ratelindo menggunakan transmisi, sehingga frekuensi sinyal yang dikeluarkan PT Telkom akan sama dengan yang diterima pelanggan, yakni 800 kHz. Tapi, alat ini mampu membuat daya tangkapnya lebih bersih," kata Prasetyo. Seperti diketahui, suara yang dihasilkan Ratelindo masih belum jernih. Cenderung cempreng.

Rowset ternyata juga tidak berdaya jika menghadapi PABX, Wartel, maupun hunting. Pada sistem itu, frekuensi sinyal yang diterima hampir sama dengan yang dipancarkan jaringan Telkom. Di sini, baik pada sentral telepon maupun peralatan di pelanggan, ada modul tambahan yang mensinkronisasi frekuensi. Inilah yang membedakan biaya langganan sistem tadi berbeda dengan biaya langganan residensial pada umumnya.

Diketawai lalu dipalsukan

Upaya untuk menemukan penstabil pulsa ini sendiri sudah sejak 1999 dilakukan oleh lima pemuda tadi. Mereka mengutak-atik alat yang diyakini mampu menghemat pulsa. Berbekal hobi dan bermodal tekad, berbagai referensi pun diburu. Bahkan alat serupa yang dipakai di luar negeri pun dicobanya. Sayang, tidak berfungsi karena ternyata tidak sesuai dengan jaringan telepon di Indonesia. "Alat kami pun ternyata tidak berfungsi baik di Brunei," aku Prasetyo.

Latar belakang pengalaman dan pendidikan mereka juga punya andil, seperti Prasetyo yang pernah bekerja di Indosat selama tiga tahun bisa tahu seluk-beluk teknis kabel telepon di Indonesia. Termasuk permainan di dalamnya tentu.

Prototipe alat itu pun berhasil dibuat sebulan setelah Papua Creativa berdiri. Meski memakai nama Papua, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan nama Propinsi Irian Jaya itu. Papua merupakan kependekan dari nama kelima pemuda tadi: Prasetyo Suratno, Agung Prabowo, Ponco Budi Prihatmoro, Syahrudin, dan Sugianto.

Setelah prototipe terbentuk, mereka pun perlu memberi nama alat itu. Memang ada pepatah, apalah arti sebuah nama. Tapi, karena ini menyangkut barang yang mau dilempar ke publik, sangat lucu kalau nanti ada orang yang butuh alat ini mencarinya dengan berbagai sebutan.

Terpilihnya nama Rowset atas bantuan seorang wartawan Tabloid Tekad. Dasarnya adalah roset, yakni sebutan untuk kotak yang menjadi tempat colokan pesawat telepon setelah dari KTB. Kotak itulah yang dipakai sebagai casing prototipe.

"Saya sudah cek bahwa roset itu bukan merek. Orang pada tidak tahu bahwa kotak tempat nyolokin pesawat telepon itu namanya roset. Hanya orang Telkom saja yang tahu. Lalu ditambahi "w" menjadi Rowset karena alat ini dipasangnya 'kan berjejer," cerita Prasetyo.

Berbagai lembaga dan instansi seperti PT Telkom dan Lembaga Elektronika Nasional (LEN) didatangi untuk memperoleh sertifikasi maupun pengakuan.

"Umumnya mereka mendukung upaya kami karena alat ini memang banyak memberi keuntungan kepada masyarakat dan tidak merugikan PT Telkom," kata Prasetyo. Sertifikasi sendiri tidak mereka peroleh karena mempersyaratkan paten diambil oleh lembaga yang mengeluarkan sertifikat. Sementara untuk melindungi karya mereka, kini paten telah mereka kantungi dari Departemen Kehakiman dengan nomor S 20000164 tanggal 24 Agustus 2000.

Paten ini menjadi perlu karena ternyata di kemudian hari banyak ditemukan produk sejenis.

"Gini-gini produk kita dipalsuin, lo!" kelakar Prasetyo dengan maksud serius. Awalnya adalah keluhan dari pelanggan yang ternyata alat itu tidak sesuai dengan klaim dalam kotaknya. Mereka pun bergerilya mencari alat itu. Ketemu di Glodok, Jakarta, dengan harga penawaran Rp 250.000,-. Menurut sang pedagang, alat itu katanya buatan Taiwan.

Lalu ada keluhan lain dari Bandung. Mereknya sama, yakni Commate. Cuma ini diklaim impor dari Singapura. Setelah ditelusuri, akhirnya muara alat ini ketemu, dari Semarang. Ditelusuri lagi, orang itu pernah membeli produk Rowset empat buah. Dari luar memang mirip. Jeroannya yang berbeda, soalnya chip yang menjadi kunci alat itu memang sulit ditiru.

Pemalsuan itu sendiri sangat kontras dengan proses awal pemasaran mereka. Tak ada distributor yang mau memasarkan Rowset. Malah diketawai segala. Toh akhirnya ada juga pedagang yang mau mencobanya dulu sebelum memasarkan. Pedagang ini kebetulan punya pengetahuan tentang perteleponan.

Kini, melalui "pabriknya" Papua memperoleh order antara 500 – 1.500 per bulannya. Pangsa pasarnya sudah melebar ke seluruh pelosok Nusantara, meski konsentrasinya tetap di Jawa. Pemasarannya pun mulai memanfaatkan media Internet. Mereka pun menjalin kerja sama dengan salah satu radio swasta di Bandung. Di sini mereka bebas beriklan kapan saja. Asalkan penjualan Rowset khususnya untuk konsumen Bandung melalui radio itu.

Dengan masuknya Rowset ke pasaran, bukan berarti Papua lalu leha-leha menunggu order. "Kami sadar, barang ini sekali beli. Tidak seperti pupuk yang harus dibeli secara berkala. Kecuali kalau kena petir. Itu pun jarang."

Pengembangan memang menjadi langkah kunci agar nama Papua tetap eksis. Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyempurnakan Rowset. Misalnya untuk paralel empat telepon. Yang jelas, Prasetyo masih memiliki senjata simpanan jika pasar sudah jenuh dengan Rowset. "Tinggal menunggu timing-nya."

Di lain pihak, PT Telkom juga harus bijaksana dalam menyambut temuan seperti itu. Jangan sampai kreativitas masyarakat divonis oleh yang berwajib sebagai tindakan menyalahi hukum, macam kasus VoIP di Bandung beberapa waktu lalu. Dengan kualitas yang ada seperti saat ini, kehadiran alat ini justru membantu. Anda tertarik? Sayangnya, karena masih ada komponen impor, harga Rowset ikut-ikutan naik-turun seiring harga dolar Amerika. Menurut Prasetyo, harganya sekarang kira-kira Rp 100.000,-. (Dari pelbagai sumber/Yds).

Boks: Cara Memasangnya Gampang

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej