|
|
Bulan Februari 2001
|
|
BERKAT UANG SELIPAN
Di antara kita pasti pernah lupa membawa
uang selagi telanjur membeli sesuatu atau naik kendaraan umum. Kita
jadi malu, bingung, atau cemas. Kejadian semacam itu pernah pula saya
alami, yakni ketika naik kendaraan umum. Beruntung saya belum sempat
diturunkan kondektur di tengah perjalanan. Bukan berkat kebaikan hati
sang kondektur atau bantuan teman seperjalanan, tetapi berkat uang
selipan di dalam tas saya.
Saya memang memiliki kebiasaan menyelipkan uang di dalam saku-saku tas
atau dompet, baik yang sering maupun jarang dipakai. Uang yang
diselipkan nilainya memang tak seberapa. Setidaknya hanya cukup untuk
ongkos angkutan umum yang biasa saya gunakan pergi-pulang. Uang
tersebut saya lupakan dan saya anggap tidak menyimpan uang di
saku-saku tersebut. Yang saya ingat cuma uang di saku tempat saya
biasa menaruh uang.
Meskipun cara ini boleh dibilang kuno, terlebih saat ini kartu ATM
sudah biasa digunakan, kebiasaan ini tetap saya lakukan. Pasalnya,
saya telah beberapa kali tertolong oleh uang selipan. Misalnya, ketika
kecopetan, dompet tertinggal, serta kehilangan atau kehabisan uang.
Dengan uang selipan, paling tidak saya tak perlu pinjam uang teman,
selamat dari umpatan kondektur, atau tak perlu mencari-cari letak ATM
sekadar untuk mengambil uang untuk naik ongkos kendaraan umum. (Sri
Lestari) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||