|
|
Bulan Februari 2001
|
|
DUNIA YANG HILANG DI VU
QUANG
Bagaimana tidak? Dalam beberapa tahun saja para biolog berhasil
menemukan banyak binatang ganjil yang sama sekali belum pernah dikenal
oleh ilmu pengetahuan modern.
Bekas persembunyian pejuang
Vu Quang terletak di sepanjang perbatasan Laos, di sebelah utara
Pegunungan Annamite. Sebagian daerahnya bergunung-gunung terjal. Pada
masa pendudukan Prancis, daerah berhutan lebat ini dikenal sebagai
tempat persembunyian seorang pejuang Vietnam. Pahlawan kemerdekaan
abad XIX itu bernama Phan Dinh Phung (1847 - 1895). Dari daerah yang
sukar dijangkau ini, Phung melancarkan perjuangannya. Pemerintah
kolonialis sulit menemukan persembunyiannya. Sebagai penghormatan
kepadanya, pada 1986 pemerintah Vietnam menatapkan wilayah itu sebagai
cagar budaya.
Riwayat pembukaan hutan Vu Quang dimulai pada 1961 ketika The Vu Quang
Forest Enterprise Concession memperoleh hak pengusahaan hutan.
Tujuannya adalah menebang kayu dan menanaminya kembali dengan tanaman
baru. Selama waktu itu, perusahaan membuka jalan untuk mengangkut kayu
hasil tebangan. Daerah ini, terutama di sepanjang sungai, dibuka
besar-besaran. Daerah penebangan itu akhirnya menarik pendatang yang
sebagian besar terkonsentrasi di wilayah yang sekarang menjadi daerah
penyangga. Tahun 1988 usaha penanaman dihentikan karena perusahaan
kekurangan dana.
Penemuan sao la
Hutan Vu Quang mungkin tidak akan jauh beda nasibnya dengan banyak
hutan lain di Vietnam kalau tak ada peristiwa yang menggemparkan.
Semua berawal sejak penemuan sao la. Makhluk ini sejenis
binatang langka yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Sao la
ditemukan tahun 1992 oleh tim gabungan peneliti World Wide Fund for
Nature (WWF) dan Kementerian Kehutanan Vietnam. Tim ini menemukan
tengkorak dan tanduk di sebuah pondok pemburu di tengah hutan. Inilah
penemuan terbesar mamalia sejak penemuan okapi (Okapia
johnson) di Afrika pada 1910. Sao la juga salah satu dari
hanya tujuh jenis mamalia baru yang ditemukan pada abad XX.
Sao la dalam bahasa lokal berarti "tanduk spiral".
Binatang ini diduga sebagai keluarga primitif dari kerbau, sapi, dan
antelop bertanduk spiral. Para peneliti memberinya nama ilmiah Pseudoryx
nghetinensis. Pseudoryx berarti oryx (sejenis
antelop bertanduk spiral) palsu. Nghetinensis berasal dari nama
Propinsi Nghe Tien, tempat sao la ditemukan.
Sejak penemuannya, belum satu pun binatang hidup berhasil ditemukan.
Barulah pada Januari 1994, seekor sao la berhasil ditangkap
hidup-hidup oleh seorang pemburu lokal di hutan di luar Vu Quang. Anak
sao la berkelamin betina itu diperkirakan berumur empat-lima
tahun. Penangkapan itu merupakan keberhasilan besar karena ia sulit
sekali ditangkap.
Pada bulan Agustus tahun itu, seekor sao la jantan juga
berhasil ditangkap. Sayang, kedua binatang itu tidak berumur panjang,
dan menemui ajal pada akhir September akibat gangguan pernapasan dan
pencernaan. Sementara spesimen ketiga yang berhasil ditangkap, seekor sao
la muda, juga mengalami nasib serupa. Binatang ini ditemukan di
Propinsi Nghe An, di sebelah selatan Hanoi pada 1995. "Kematian
ini merupakan sebuah tragedi. Binatang ini sungguh-sungguh sulit
dipelihara," kata sebuah sumber dari pemerintah.
Sao la hidup di tepi hutan tropis dan di sekitar sungai. Mereka
sering ditemukan di dataran tinggi pada musim panas ketika sungai di
bagian atas berair banyak. Pada musim dingin, ketika sungai di bagian
atas mulai kering, ia turun ke dataran rendah. Diduga mereka hidup
dalam kelompok kecil, sekitar tiga sampai tujuh ekor. Jumlah
keseluruhan diprakirakan tinggal beberapa ratus ekor saja.
Makanan utamanya dedaunan dan ranting tanaman yang tumbuh di sekitar
sungai. Salah satu makanan favoritnya adalah sejenis tanaman yang
dijuluki "kekuatan ribuan tahun" (Homanelema aromatica).
Penduduk lokal percaya, akarnya yang dikeringkan dan diminum dengan
campuran air dapat menguatkan lengan. Jenis makanan lainnya belum
diketahui karena sao la sangat pemalu. Mereka jarang terlihat
apalagi mengunjungi daerah pertanian. Mungkin itulah yang
menyebabkannya tetap misterius.
Jendela masa lalu
Vu Quang memang bak cermin masa lalu sekaligus museum alam yang
menakjubkan. Penemuan-penemuan mengejutkan pun tetap berlangsung. Pada
April 1994, tim gabungan yang pernah menemukan sao la kembali
mengejutkan dunia dengan penemuan sejenis muncak (sejenis kijang
kecil). Muncak yang diberi nama Megamuntiacus vuquangensis itu
besarnya dua kali muncak biasa (Muntiacus muncak). Tim ini juga
menemukan ikan karper jenis baru. Dr. Ha Dinh Duc menemukan sejenis
binatang mirip kambing. Sedangkan koleganya dari Universitas Xuan Mai
menemukan dua jenis musang baru.
Mengapa daerah ini begitu kaya dengan binatang baru? Kuncinya mungkin
adalah isolasi selama ratusan tahun. Selama puluhan tahun, wilayah
yang sekarang dikenal sebagai Vietnam nyaris tak berubah. Peperangan
bahkan menjadi semacam barrier yang melindungi daerah ini dari
jangkauan luar. Praktis selama masa isolasi itu, hanya penduduk lokal
yang tahu betul binatang di Vu Quang. Sao la dan muncak raksasa
merupakan binatang yang lazim bagi penduduk lokal yang menangkapnya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah topografinya yang
bergelombang. Akibatnya, tercipta aneka habitat yang berbeda dalam
daerah yang relatif sempit, sekaligus kaya dengan keanekaragaman
hayati. Hutan dataran rendah (20 - 300 m) yang mencakup sepertiga luas
kawasan, merupakan tempat tinggal berbagai binatang menakjubkan
seperti gajah asia. Di daerah ketinggian (300 - 600 m), hutan
perbukitan dihiasi oleh pepohonan berbuah yang mendukung populasi
penghuni pepohonan seperti gibon (sejenis siamang) berpipi putih yang
langka.
Gangguan terhadap Vu Quang sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelum
penemuan sao la. Seperti ekosistem Annan tengah lainnya, Vu
Quang terancam oleh perluasan daerah pertanian dan aktivitas lain
manusia seperti penggembalaan ternak, penangkapan ikan, penebangan
hutan, dan pemungutan hasil hutan secara berlebihan.
Gangguan itu semakin menjadi-jadi menyusul penemuan sao la dan
binatang baru lain. Binatang itu segera saja menjadi terkenal. Harga
penawarannya pun melambung tinggi. Diam-diam banyak pihak ingin
memilikinya. Banyak kolektor dan museum terkenal berani membayar mahal
kepada pemburu lokal untuk binatang baru dari Vu Quang. Dalam rentang
bulan September 1993 sampai Februari 1994, ditemukan 4.000 jerat
pemburu yang sengaja dipasang dalam suaka itu. Penduduk lokal
dilaporkan berhasil menangkap 15 hingga 20 muncak raksasa serta tiga
ekor sao la.
Mendengar laporan itu, Kementerian Kehutanan segera menetapkan
larangan perburuan. Pemerintah juga memperluas kawasan suaka dari
16.000 ha menjadi 60.000 ha. Namun, usaha itu tampaknya tidak terlalu
berhasil. "Konservasi alam masih baru di sini," kata Pham
Mong Giau, ahli mamalia dari Kementerian Kehutanan.
Harus ditempuh cara lain yang lebih efektif untuk melestarikan sao
la dan binatang lain. Salah satu cara adalah meningkatkan
pendapatan penduduk di sekitar kawasan. Ada sekitar 20.000 orang yang
tinggal di dalam atau sekitar suaka Vu Quang. Meski sebagian besar
hidup bertani, pendapatan paling tinggi didapat dari berburu. Binatang
buruan utama adalah babi hutan dan muncak biasa. Muncak raksasa
sepertinya menjadi buruan favorit ketiga, selain sao la.
Melihat kebiasaan penduduk itu, Vu Van Dung, kepala bagian botani dari
Forest Inventory and Planning Institute, mengusulkan peternakan rusa
sika (Cervus nippon) sebagai alternatif pendapatan penduduk.
Rusa yang tidak dilindungi ini biasanya dipelihara untuk diambil kulit
tanduknya yang dapat digunakan sebagai obat untuk mencegah pendarahan
dan anemia. Sebuah riset yang pernah dilakukan di bekas negara bagian
Uni Soviet menyimpulkan, kulit tanduk itu mengandung sebuah zat yang
disebut pantocrin. Zat ini secara klinis terbukti berguna
sebagai tonik dan dapat meningkatkan kemampuan dalam penyembuhan luka.
Peternakan rusa memang usaha yang menguntungkan. Di Vietnam, tanduk
rusa sika dijual seharga 30 juta Dong (sekitar AS $ 3.000) per kg.
Pemilik tanduk juga cukup berharga. Seekor rusa jantan muda laku 6
juta Dong (kira-kira AS $ 600). Betinanya malah laku 30 - 80 juta Dong
(AS $ 3.000 - 8.000).
Lagi pula peternakan ini bukan hal yang sama sekali baru. Di desa-desa
seperti Duc Loc, di dekat Vu Quang, peternakan rusa sangat populer.
"Beternak rusa sangat mudah dan tidak banyak makan tempat,"
ujar Nguyen Van Ngo, seorang peternak rusa. Ngo memulai usahanya pada
1985 dengan seekor rusa jantan. Keuntungan dari hasil penjualannya
digunakan untuk membeli seekor rusa betina. Akhirnya, rusa itu
menghasilkan tiga ekor anak.
Penduduk Vu Quang tampaknya siap memulai usaha peternakan ini. Namun,
penduduk yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman beternak tidak
dapat melakukannya. Akhirnya, proyek lain dikembangkan. Meliputi
perkebunan karet dan cinnamon (kayu manis) di luar suaka yang
disponsori pemerintah.
Perkebunan ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi
penduduk lokal dan dapat menyerap sampai 130 atau lebih mantan pekerja
Vu Quang Forest Enterprise. WWF berharap, para mantan perusak hutan
itu berubah menjadi pelindung. "Dengan pengetahuannya terhadap
hutan, mereka dapat menjadi pelindung yang baik," kata David
Huise, wakil WWF di Vietnam. "Tapi perlu waktu lama untuk
mengubah pola pikir mereka."
Konservasi Vu Quang memang benar-benar mendesak. Bisa dimengerti jika
Vu Quang sangat terancam. Wilayah ini berada dalam sebuah negara
berpenduduk 75 juta jiwa yang lingkungannya terancam oleh peperangan
dan embargo ekonomi berkepanjangan. "Sangat tragis jika
jenis-jenis binatang yang mampu bertahan hidup selama 30 tahun masa
peperangan, segera punah karena perburuan, justru setelah perang
berakhir," ucap Shantini Dawson, pelaksana proyek WWF di Vu
Quang.
Tanpa perlindungan, sao la dan binatang lain di Vu Quang akan
tinggal kenangan. Bahkan pahlawan legendaris Phan Dinh Phung yang
percaya betul dengan kelebatan hutan Vu Quang, tidak dapat
menyelamatkan dirinya dari pembunuhan tentara kolonialis Prancis.
Apalagi sao la! |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||