globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Februari 2001

Intisari berduka cita atas meninggalnya Bapak Slamet Soeseno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

DUNIA YANG HILANG DI VU QUANG

Arthur Conan Doyle pernah menulis buku fiksi ilmiah berjudul The Lost World (Dunia yang Hilang), kisah petualangan beberapa ilmuwan yang menemukan binatang prasejarah di jantung rimba Amazon. Kini, para ilmuwan modern menemukan dunia yang hilang yang sebenarnya di jantung Asia Tenggara.

Beberapa dekade terakhir ini negara-negara Indocina menderita kemunduran ekonomi akibat peperangan. Vietnam merangkak naik setelah bertahun-tahun hancur akibat perang saudara. Di satu sisi, peperangan mengakibatkan kemunduran, tetapi di lain sisi, isolasi akibat peperangan menyebabkan hutan-hutan perawannya tidak terjamah. Salah satu wilayah perawan yang masih menyimpan kekayaan besar adalah daerah Vu Quang. Oleh para ilmuwan, Vu Quang dijuluki dunia yang hilang (the lost world).

Bagaimana tidak? Dalam beberapa tahun saja para biolog berhasil menemukan banyak binatang ganjil yang sama sekali belum pernah dikenal oleh ilmu pengetahuan modern.

Bekas persembunyian pejuang

Vu Quang terletak di sepanjang perbatasan Laos, di sebelah utara Pegunungan Annamite. Sebagian daerahnya bergunung-gunung terjal. Pada masa pendudukan Prancis, daerah berhutan lebat ini dikenal sebagai tempat persembunyian seorang pejuang Vietnam. Pahlawan kemerdekaan abad XIX itu bernama Phan Dinh Phung (1847 - 1895). Dari daerah yang sukar dijangkau ini, Phung melancarkan perjuangannya. Pemerintah kolonialis sulit menemukan persembunyiannya. Sebagai penghormatan kepadanya, pada 1986 pemerintah Vietnam menatapkan wilayah itu sebagai cagar budaya.

Riwayat pembukaan hutan Vu Quang dimulai pada 1961 ketika The Vu Quang Forest Enterprise Concession memperoleh hak pengusahaan hutan. Tujuannya adalah menebang kayu dan menanaminya kembali dengan tanaman baru. Selama waktu itu, perusahaan membuka jalan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Daerah ini, terutama di sepanjang sungai, dibuka besar-besaran. Daerah penebangan itu akhirnya menarik pendatang yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah yang sekarang menjadi daerah penyangga. Tahun 1988 usaha penanaman dihentikan karena perusahaan kekurangan dana.

Penemuan sao la

Hutan Vu Quang mungkin tidak akan jauh beda nasibnya dengan banyak hutan lain di Vietnam kalau tak ada peristiwa yang menggemparkan. Semua berawal sejak penemuan sao la. Makhluk ini sejenis binatang langka yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Sao la ditemukan tahun 1992 oleh tim gabungan peneliti World Wide Fund for Nature (WWF) dan Kementerian Kehutanan Vietnam. Tim ini menemukan tengkorak dan tanduk di sebuah pondok pemburu di tengah hutan. Inilah penemuan terbesar mamalia sejak penemuan okapi (Okapia johnson) di Afrika pada 1910. Sao la juga salah satu dari hanya tujuh jenis mamalia baru yang ditemukan pada abad XX.

Sao la dalam bahasa lokal berarti "tanduk spiral". Binatang ini diduga sebagai keluarga primitif dari kerbau, sapi, dan antelop bertanduk spiral. Para peneliti memberinya nama ilmiah Pseudoryx nghetinensis. Pseudoryx berarti oryx (sejenis antelop bertanduk spiral) palsu. Nghetinensis berasal dari nama Propinsi Nghe Tien, tempat sao la ditemukan.

Sejak penemuannya, belum satu pun binatang hidup berhasil ditemukan. Barulah pada Januari 1994, seekor sao la berhasil ditangkap hidup-hidup oleh seorang pemburu lokal di hutan di luar Vu Quang. Anak sao la berkelamin betina itu diperkirakan berumur empat-lima tahun. Penangkapan itu merupakan keberhasilan besar karena ia sulit sekali ditangkap.

Pada bulan Agustus tahun itu, seekor sao la jantan juga berhasil ditangkap. Sayang, kedua binatang itu tidak berumur panjang, dan menemui ajal pada akhir September akibat gangguan pernapasan dan pencernaan. Sementara spesimen ketiga yang berhasil ditangkap, seekor sao la muda, juga mengalami nasib serupa. Binatang ini ditemukan di Propinsi Nghe An, di sebelah selatan Hanoi pada 1995. "Kematian ini merupakan sebuah tragedi. Binatang ini sungguh-sungguh sulit dipelihara," kata sebuah sumber dari pemerintah.

Sao la hidup di tepi hutan tropis dan di sekitar sungai. Mereka sering ditemukan di dataran tinggi pada musim panas ketika sungai di bagian atas berair banyak. Pada musim dingin, ketika sungai di bagian atas mulai kering, ia turun ke dataran rendah. Diduga mereka hidup dalam kelompok kecil, sekitar tiga sampai tujuh ekor. Jumlah keseluruhan diprakirakan tinggal beberapa ratus ekor saja.

Makanan utamanya dedaunan dan ranting tanaman yang tumbuh di sekitar sungai. Salah satu makanan favoritnya adalah sejenis tanaman yang dijuluki "kekuatan ribuan tahun" (Homanelema aromatica). Penduduk lokal percaya, akarnya yang dikeringkan dan diminum dengan campuran air dapat menguatkan lengan. Jenis makanan lainnya belum diketahui karena sao la sangat pemalu. Mereka jarang terlihat apalagi mengunjungi daerah pertanian. Mungkin itulah yang menyebabkannya tetap misterius.

Jendela masa lalu

Vu Quang memang bak cermin masa lalu sekaligus museum alam yang menakjubkan. Penemuan-penemuan mengejutkan pun tetap berlangsung. Pada April 1994, tim gabungan yang pernah menemukan sao la kembali mengejutkan dunia dengan penemuan sejenis muncak (sejenis kijang kecil). Muncak yang diberi nama Megamuntiacus vuquangensis itu besarnya dua kali muncak biasa (Muntiacus muncak). Tim ini juga menemukan ikan karper jenis baru. Dr. Ha Dinh Duc menemukan sejenis binatang mirip kambing. Sedangkan koleganya dari Universitas Xuan Mai menemukan dua jenis musang baru.

Mengapa daerah ini begitu kaya dengan binatang baru? Kuncinya mungkin adalah isolasi selama ratusan tahun. Selama puluhan tahun, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Vietnam nyaris tak berubah. Peperangan bahkan menjadi semacam barrier yang melindungi daerah ini dari jangkauan luar. Praktis selama masa isolasi itu, hanya penduduk lokal yang tahu betul binatang di Vu Quang. Sao la dan muncak raksasa merupakan binatang yang lazim bagi penduduk lokal yang menangkapnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah topografinya yang bergelombang. Akibatnya, tercipta aneka habitat yang berbeda dalam daerah yang relatif sempit, sekaligus kaya dengan keanekaragaman hayati. Hutan dataran rendah (20 - 300 m) yang mencakup sepertiga luas kawasan, merupakan tempat tinggal berbagai binatang menakjubkan seperti gajah asia. Di daerah ketinggian (300 - 600 m), hutan perbukitan dihiasi oleh pepohonan berbuah yang mendukung populasi penghuni pepohonan seperti gibon (sejenis siamang) berpipi putih yang langka.

Gangguan terhadap Vu Quang sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelum penemuan sao la. Seperti ekosistem Annan tengah lainnya, Vu Quang terancam oleh perluasan daerah pertanian dan aktivitas lain manusia seperti penggembalaan ternak, penangkapan ikan, penebangan hutan, dan pemungutan hasil hutan secara berlebihan.

Gangguan itu semakin menjadi-jadi menyusul penemuan sao la dan binatang baru lain. Binatang itu segera saja menjadi terkenal. Harga penawarannya pun melambung tinggi. Diam-diam banyak pihak ingin memilikinya. Banyak kolektor dan museum terkenal berani membayar mahal kepada pemburu lokal untuk binatang baru dari Vu Quang. Dalam rentang bulan September 1993 sampai Februari 1994, ditemukan 4.000 jerat pemburu yang sengaja dipasang dalam suaka itu. Penduduk lokal dilaporkan berhasil menangkap 15 hingga 20 muncak raksasa serta tiga ekor sao la.

Mendengar laporan itu, Kementerian Kehutanan segera menetapkan larangan perburuan. Pemerintah juga memperluas kawasan suaka dari 16.000 ha menjadi 60.000 ha. Namun, usaha itu tampaknya tidak terlalu berhasil. "Konservasi alam masih baru di sini," kata Pham Mong Giau, ahli mamalia dari Kementerian Kehutanan.

Harus ditempuh cara lain yang lebih efektif untuk melestarikan sao la dan binatang lain. Salah satu cara adalah meningkatkan pendapatan penduduk di sekitar kawasan. Ada sekitar 20.000 orang yang tinggal di dalam atau sekitar suaka Vu Quang. Meski sebagian besar hidup bertani, pendapatan paling tinggi didapat dari berburu. Binatang buruan utama adalah babi hutan dan muncak biasa. Muncak raksasa sepertinya menjadi buruan favorit ketiga, selain sao la.

Melihat kebiasaan penduduk itu, Vu Van Dung, kepala bagian botani dari Forest Inventory and Planning Institute, mengusulkan peternakan rusa sika (Cervus nippon) sebagai alternatif pendapatan penduduk. Rusa yang tidak dilindungi ini biasanya dipelihara untuk diambil kulit tanduknya yang dapat digunakan sebagai obat untuk mencegah pendarahan dan anemia. Sebuah riset yang pernah dilakukan di bekas negara bagian Uni Soviet menyimpulkan, kulit tanduk itu mengandung sebuah zat yang disebut pantocrin. Zat ini secara klinis terbukti berguna sebagai tonik dan dapat meningkatkan kemampuan dalam penyembuhan luka.

Peternakan rusa memang usaha yang menguntungkan. Di Vietnam, tanduk rusa sika dijual seharga 30 juta Dong (sekitar AS $ 3.000) per kg. Pemilik tanduk juga cukup berharga. Seekor rusa jantan muda laku 6 juta Dong (kira-kira AS $ 600). Betinanya malah laku 30 - 80 juta Dong (AS $ 3.000 - 8.000).

Lagi pula peternakan ini bukan hal yang sama sekali baru. Di desa-desa seperti Duc Loc, di dekat Vu Quang, peternakan rusa sangat populer. "Beternak rusa sangat mudah dan tidak banyak makan tempat," ujar Nguyen Van Ngo, seorang peternak rusa. Ngo memulai usahanya pada 1985 dengan seekor rusa jantan. Keuntungan dari hasil penjualannya digunakan untuk membeli seekor rusa betina. Akhirnya, rusa itu menghasilkan tiga ekor anak.

Penduduk Vu Quang tampaknya siap memulai usaha peternakan ini. Namun, penduduk yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman beternak tidak dapat melakukannya. Akhirnya, proyek lain dikembangkan. Meliputi perkebunan karet dan cinnamon (kayu manis) di luar suaka yang disponsori pemerintah.

Perkebunan ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk lokal dan dapat menyerap sampai 130 atau lebih mantan pekerja Vu Quang Forest Enterprise. WWF berharap, para mantan perusak hutan itu berubah menjadi pelindung. "Dengan pengetahuannya terhadap hutan, mereka dapat menjadi pelindung yang baik," kata David Huise, wakil WWF di Vietnam. "Tapi perlu waktu lama untuk mengubah pola pikir mereka."

Konservasi Vu Quang memang benar-benar mendesak. Bisa dimengerti jika Vu Quang sangat terancam. Wilayah ini berada dalam sebuah negara berpenduduk 75 juta jiwa yang lingkungannya terancam oleh peperangan dan embargo ekonomi berkepanjangan. "Sangat tragis jika jenis-jenis binatang yang mampu bertahan hidup selama 30 tahun masa peperangan, segera punah karena perburuan, justru setelah perang berakhir," ucap Shantini Dawson, pelaksana proyek WWF di Vu Quang.

Tanpa perlindungan, sao la dan binatang lain di Vu Quang akan tinggal kenangan. Bahkan pahlawan legendaris Phan Dinh Phung yang percaya betul dengan kelebatan hutan Vu Quang, tidak dapat menyelamatkan dirinya dari pembunuhan tentara kolonialis Prancis. Apalagi sao la! (Koen Setyawan, staf paruh waktu Yayasan Semesta Biru)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej