|
|
Bulan Juli 2001 Bahasa Indonesia JS Badudu |
|
MENGHUJANI, MENJATUHI, MEMENANGKAN Perhatikan empat buah kalimat di bawah ini yang saya kutip dari sebuah surat kabar besar ibu kota:
Penggunaan sufiks -i dan -kan pada keempat patah kata yang bercetak miring dalam frasa kalimat-kalimat di atas semuanya tidak tepat. Perhatikan penjelasan berikut. Kalau dikatakan menghujani roket, maka yang dikenai oleh pekerjaan menghujani adalah roket itu, padahal roket adalah alat yang digunakan dan yang dikenai oleh pekerjaan itu adalah dua pos polisi Palestina. Jadi, kalimat itu haruslah diubah agar artinya sesuai dengan yang dimaksud sbb.: Israel menghujani dua pos polisi Palestina dengan roket. Frasa menjatuhi hukuman penjara dalam kalimat kedua tidak tepat karena yang dikenai bukanlah hukuman penjara, melainkan orang yang bersalah. Hukuman penjara adalah objek yang digunakan untuk tindakan menjatuhi itu. Jadi, pada kata bukan sufiks -i yang seharusnya digunakan, melainkan sufiks -kan. Kalimat itu haruslah diubah menjadi sbb.: Pemerintah Prancis menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada seorang tersangka pemerkosa dan pembunuh tujuh wanita. Atau, kalimat itu diubah susunannya: Pemerintah Perancis menjatuhi pemerkosa dan pembunuh tujuh wanita hukuman penjara seumur hidup. Kata memenangkan pada kalimat ketiga berarti "membuat jadi menang" karena sufiks -kan pada kata itu bermakna gramatikal kausalitas. Tidak mungkin pertandingan dibuat jadi menang, bukan? Malaysia dalam hal seperti itu menggunakan bentuk memenangi. Ini lebih tepat karena sufiks -i pada kata itu sama artinya dengan "pada" atau "dalam". Jadi, memenangi pertandingan berarti "menang dalam pertandingan". Bentuk memenangkan seperti itu dewasa ini banyak digunakan sehingga telah menjadi salah kaprah. Sufiks -kan pada kata menjebolkan dalam kalimat keempat juga salah digunakan. Menjebolkan gawang lawan tidak mungkin karena yang dapat dijebolkan ialah bola, dijebolkan ke dalam gawang. Yang dijebol ialah gawang itu. itu sebabnya sufiks -kan pada kata menjebolkan itu seharusnya tidak digunakan sehingga kalimat yang benar adalah sbb.: Strategi itulah yang akhirnya merepotkan para pemain depan Barcelona untuk menjebol gawang Liverpool. Kalimat-kalimat di atas saya kutip dari sebuah surat kabar ibu kota yang terkenal terbitan tanggal 6 April y.l. Kalimat itu ditulis oleh wartawan surat kabar itu. Sayang sekali saudara wartawan belum juga menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Seorang wartawan yang baik tidak seharusnya membuat kesalahan-kesalahan bahasa yang tidak perlu seperti itu. Demi profesinya sebagai wartawan dia selalu harus cermat, teliti, dalam menggunakan bahasa Indonesia yang merupakan senjatanya yang ampuh yang setiap hari harus digunakannya. Kita semua pemakai bahasa Indonesia, siapa pun dia, terutama kaum intelektual, termasuk wartawan, haruslah teliti dan hati-hati dalam menggunakan bahasa. Kesalahan penggunaan kata (karena tidak tepat artinya atau salah bentuknya), kesalahan penyusunan kata dalam kalimat, bahkan kesalahan dalam menggunakan tanda-tanda baca dapat membuat maksud kalimat berubah atau tidak dapat dipahami pembaca dengan baik. Setiap orang harus berusaha menggunakan bahasa secara baik karena bahasa itu adalah alat komunikasi kita. Perasaan, keinginan, dan pikiran kita kita nyatakan dengan bahasa dan itu hanya dapat mencapai sasarannya bila bahasa yang kita gunakan tidak cacat karena kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalamnya. Jadilah pemakai bahasa Indonesia yang baik dan gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran. Itulah sikap yang terpuji. |
|||||