|
|
Bulan Juli 2001 Kelirumologi Jaya Suprana |
|
Onomatope Salah satu fenomena upaya manusia berbahasa adalah mencipta kata-kata untuk melukiskan bentuk suara atau bunyi. Dalam Ilmu Bahasa, formasi kata pelukis bunyi itu diberi nama yang cukup rumit membuat lidah berbelit yakni onomatope (dari onomatopoeia). Di dunia komik, onomatope asyik dimanfaatkan sebagai elemen pendukung komunikasi maupun estetika. Tanpa peran serta onomatope, seolah komik sekadar film bisu yang bahkan tanpa iringan live-music, terkesan sunyi sepi membisu seribu bahasa. Namun, dalam komunikasi sehari-hari pun, onomatope kerap kali memegang peran penting demi mengekspresikan aneka ragam bunyi. Yang fenomenal, sementara bunyi-bunyian pada hakikatnya universal, sama dan seragam di mana saja, kapan saja, namun keliru jika kita menduga bahwa onomatope juga sama dan seragam di mana dan kapan saja. Ternyata setiap bahasa memiliki tafsir saling beda terhadap bunyi yang sama. Maka bermunculan aneka ragam onomatope yang saling beda satu sama lain, meski berasal dari realita bunyi yang sama. Misalnya, onomatope suara kambing mengembik di Indonesia adalah embeek, namun di Jerman maeh, sementara di Spanyol bee, mirip di Inggris baa. Suara anjing menyalak di Indonesia ditafsirkan sebagai huk-huk, yang memang agak mirip di Belanda yang wuf-wuf, namun jelas lain dari di Jerman yang waf-waf, atau di Norwegia vov-vov, di Spanyol guau-guau, di Prancis whou-whou, di Amerika Serikat bow-wow. Masalah makin rumit, akibat jika kesakitan, suara anjing di Indonesia malah langsung berubah menjadi kaing-kaing! Anehnya, tafsir ekspresif terhadap suara kucing masih lebih mirip satu dengan lainnya. Suara kucing di Indonesia meong-meong, tidak terlalu jauh dari di Cina yang miau-miau, atau di Irlandia: meow-meow. Suara bebek di Indonesia kwek-kwek, mirip di Inggris quack-quack, tetapi entah kenapa di Prancis bisa menjadi coin-coin. Lebih kacau adalah onomatope suara ayam betina berkotek di Indonesia ko-kok-pe-tok, sementara di Italia ko-ko-day, dan di Skotlandia cukup: cluck-cluck. Suara jago berkokok di Jawa Tengah ku-ku-ru-yuk, meski sebenarnya bertetangga namun di Jawa Barat langsung berubah menjadi kong-ke-ro-ngok, apalagi nun jauh di Inggris lain sama sekali: cock-a-doodle-doo, di Belanda ku-ke-le-ku, di Jerman ki-ke-ri-ki, selafal dengan di Italia chic-chi-ri-chi, padahal pada kenyataan bunyi ayam sebenarnya di mana saja sama! Tidak ada suara ayam dialek Jerman, dialek Amerika, atau dialek Indonesia, apalagi Jateng atau Jabar, atau mana saja! Daya imajinatif berbagai bahasa dalam upaya menafsirkan bunyi halilintar juga tidak kalah menakjubkan sekaligus membingungkan! Tafsir bahasa Jawa terhadap bunyi (campur visualisasi) halilintar adalah byar-byar! ... dhuer! Atau bisa juga: kelelap! ... jle-ghur! Namun dalam bahasa Jerman, halilintar yang sama bisa berbunyi sama sekali lain, yaitu blitz! blitz! ... bum! Sementara oleh para kreator komik Amerika Serikat, bunyi petir lincah diterjemahkan menjadi: zap! zap! ... whaam! Percaya atau tidak, dalam salah satu dialek Cina, onomatope suara halilintar malah: lung-lung-lung ... bi-ye-le-lek! Ampuun ..., padahal pada kenyataan, gelegar halilintar di mana saja, kapan saja, sepanjang sebenarnya sama dan seragam saja, ya begitu itu. |
|||||