|
|
Bulan Juli 2001
|
|
AWAS! SETAN GENTAYANGAN DI UDARA Ini bukan mengada-ada. Semburan asap kendaraan bermotor di sejumlah kota besar menyumbang berton-ton polutan (debu, Pb, NOx, CO, dll) ke atmosfer, yang siap diirup hidung siapa pun. Dampaknya tak main-main. Memicu penyakit saluran pernapasan, jantung, mata, darah tinggi, hingga menimbulkan kematian. Bahkan, tak mustahil dapat melahirkan fenomena hujan asam yang merusak alam. Idealnya, udara bersih dan layak irup terdiri atas N2 (78%), O2 (21%), H2, dan unsur lain (0,1%). Mau lebih segar lagi, oksigen murni (100% O2) yang terkemas dalam tabung, yang hanya dijual atau tersedia di bar oksigen, seperti di Jepang, Bangkok, juga Jakarta. Sementara kenyataannya, udara kita dipenuhi partikulat dan senyawa beracun yang jahatnya melebihi setan.
Laporan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, Mei 2000)
menyebutkan, dari mutu udara di Jakarta, Pontianak, Jambi, Denpasar,
Serpong, cuma udara Denpasar terhitung masih aman untuk diirup. Sedangkan
empat kota lainnya berpotensi menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan
akut (ISPA).
Di antara debu (TSP/Total Suspended Particulate), karbon monooksida
(CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx),
dan ozon (O3), debu merupakan polutan paling berbahaya. Untuk
ukuran di atas 50 mikron, ia masih kasat mata, tersaring oleh bulu hidung.
Tapi debu di bawah 10 mikron tak terlihat mata. Bahkan, ia bisa langsung
menyusup ke paru-paru, mengganggu sistem pernapasan.
Khusus Jakarta, menurut Dollaris Riauaty MA dari Swisscontact Indonesia,
polusi udaranya malah jauh lebih mengkhawatirkan daripada catatan Bapedal.
Bahkan, kota Jakarta dinilai sudah tidak layak untuk dihuni manusia! Betapa
tidak,
konsentrasi debunya rata-rata 57 - 254 mikrogram per m3 udara.
Padahal, ambang batas toleransi tubuh hanya 60 mikrogram/m3
udara.
Ancaman hujan asam
Buruknya udara Jakarta terutama karena transportasi, diikuti industri,
pemukiman, dan sampah. Data Bapedal (1992) menyebutkan, knalpot menyumbang
44% debu, 87,56% hidrokarbon (HC), 97,40% timah hitam (Pb), 73,21% NOx,
dan 97,68% CO. Polutan asap industri SO2 (63%), partikel dari
asap pembakaran sampah (41%).
Dengan jumlah ranmor 3.021.138 unit di Jakarta (1997), polusi mencapai
2.232,2853 ton/hari. Diperkirakan mengandung Pb 0,5 mikrogram/m3
udara (Bapedalda, 1998) hingga 1,8 mikrogram/m3 udara (Safrudin,
A.). Bayangkan saja, di Monas dan sekitarnya bertebaran CO 25 - 29
ton/tahun, partikulat 800 - 1.200 ton/tahun. Artinya, setiap hari
bergentayangan CO 74 kg dan debu 2,7 ton (Yuswijayanto, T). Itu kondisi
1997. Boleh dikata, di hampir seluruh Jakarta berseliweran debu sebanyak 150
- 300 mikrogram/m3 udara (Bapedalda, 1998).
Pantas bila United Nation for Environmental Program (UNEP) mengukuhkan
Jakarta tercemar ketiga dunia, setelah Mexico City dan Bangkok. Dan,
Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) memasukkan Indonesia
dalam urutan kelima negara tercemar, setelah India, Cina, Vietnam, dan
Filipina.
Bandung dan Surabaya pun senasib. Polutan udara di Bandung mencapai 157 mg/m3
- 172 mg/m3, melebihi baku mutu 150 mg/m3 (Bapedalda,
2000). Sedangkan Kota Surabaya, menurut catatan Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan (BTKL) Surabaya (2000), polutan udaranya didominasi CO dan debu.
Kadar CO-nya malah 2,14 ppm - 12,62 ppm, jauh melampaui standar WHO (1 ppm
CO).
Bila polusi semakin parah, hujan asam tidak terelakkan. Jika betul terjadi,
semua jadi serba asam (pH <6). Indikasi umumnya pH 5,6. Dampaknya? Akan
merusak ekosistem darat dan air. Juga merusak hutan dan bangunan,
mempengaruhi iklim global pula. PH <6 akan membunuh makhluk renik sumber
makanan ikan. PH <5,5, ikan tak mampu bereproduksi, kurang nutrisi, dan
mati lemas. PH <5, ikan pada mati. Bagaimana dengan PH <4? Kehidupan
akan menjadi sama sekali berbeda dari sebelumnya!
Keselamatan janin terancam
Dampak polusi udara terbukti memang membahayakan kesehatan. Hasil riset ahli
Swiss mengindikasikan, polusi udara tidak hanya mengancam kesehatan orang
dewasa, tapi juga anak-anak dan bayi. Menurut Dr. Reinhard Kaiser dari
Institute of Social and Preventive Medicine, di Basel, Swiss, buruknya
kualitas udara ada korelasinya dengan kematian bayi di kota-kota besar di
AS.
Partikulat, bagian terkecil debu berdiameter 10 mikron (PM10) atau sekitar
sepertujuh dari ukuran rambut manusia, dikhawatirkan berdampak buruk
terhadap sistem pernapasan yang dapat menyebabkan kematian prematur. Ada
dugaan, 9% kematian bayi usia 1 - 12 bulan akibat polusi PM10.
Risiko menyeramkan juga pernah diutarakan Prof. Dr. Umar Fahmi dari Fakultas
Kesehatan Masyarakat UI (kini Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman), anak terkontaminasi timah hitam sampai 10
mikrogram bakalan mengalami degradasi kecerdasan alias idiot. Pada orang
dewasa, Pb mengurangi kesuburan, bahkan menyebabkan kemandulan. Atau,
keguguran pada wanita hamil. Kalaupun tidak keguguran, sel otak janin tak
bisa berkembang.
Bukti bahwa polusi udara menghambat pertumbuhan janin, pernah dilaporkan New
Scientist (17/10/1996). Menurut Frederica Perera dari Universitas
Columbia, New York, bayi-bayi di Polandia yang ibunya saat hamil terpapar
polutan kurang dari 10 mikrogram, lahir dengan kepala dan tubuh kecil.
Bahkan juga berisiko terkena kanker, dan kemampuan belajarnya terganggu.
Dollaris, yang terlibat Clean Air Project Jakarta, sempat juga mengingatkan,
polusi udara Jakarta sudah melampui ambang batas. Bila orang setiap hari
mengirup udara tercemar timah hitam (Pb-plumbum) hingga jangka waktu
tertentu, bakal mengalami dampak terburuk. Lahir anak dengan mental
terbelakang alias idiot.
Di Jakarta, anak di bawah 15 tahun yang terserang bronkitis mencapai 606
anak (WHO, 1999). Polusi udara bikin kambuh asma 862 penderita, dan 28 orang
(di atas 25 tahun) terserang asma. Secara ekonomis, Jakarta merugi Rp 2,4
triliun untuk perawatan kesehatan dan menurunnya produktivitas. Bila sampai
2020 tak ada penuntasan polusi, diprediksi masyarakat Jakarta harus
menyediakan anggaran Rp 7 trilyun, hanya untuk perawatan kesehatan.
Nasib sial juga dialami anak-anak di Surabaya, dalam tubuh mereka
terakumulasi Pb rata-rata 68 mikrogram/l. Kadar sebanyak itu menyebabkan
anak makin agresif, kurang konsentrasi (Hakim, 1998). Bahkan, menyebabkan
kanker (Siswanto, 1994). Kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)
anak-anak di Surabaya pun tinggi.
Di Mexico City, biaya kesehatan karena polusi udara mencapai AS $ 1,5 milyar
setahun. Tingginya polusi menyebabkan rata-rata masyarakat kota kehilangan
2,4 hari kerja per tahun, dan terjadi 6.400 kasus kematian per tahun.
Tingginya Pb menyebabkan hipertensi pada 20% orang dewasa, bahkan Pb pun
mengembara dalam darah 29% anak-anak.
Tingginya kadar Pb di udara menyebabkan terjadinya 200.000 - 500.000 kasus
hipertensi di Bangkok (Thailand), dan menyebabkan 400 kematian setiap tahun.
Anak-anak kehilangan rata-rata empat poin IQ pada usia 7 tahun. Dalam jangka
panjang berdampak pada menurunnya produktivitas.
Memicu serangan jantung
Seiring dengan tingginya polutan udara, tekanan darah akan menaik (American
Journal of Public Health, April 2001). Apa nian penyebabnya? Menurut
Angela Ibald-Mulli dan koleganya dari GSF-National Research Center for
Environment and Health di Neuherberg, Jerman, polusi memungkinkan perubahan
dalam sistem saraf yang mengatur tekanan darah, berarti meningkatkan peluang
terserang jantung atau gangguan lain.
Memang, dari pengukuran tekanan darah responden dewasa usia 25 - 64 tahun di
wilayah selatan Jerman, juga di Eropa Tengah saat polusi terparah, tercatat
ada peningkatan jumlah pasien penyakit jantung. Apalagi pada orang bergejala
awal penyakit jantung, polusi udara malah memicu kematian mendadak (The
Los Angeles Times, 5/6/2000).
Dengan gas CO yang gentayangan di udara bebas, manusia pantas ngeri. Bila
terirup, menurut Abdul Rohim Tualeka, dosen Ilmu Toksikologi Universitas
Airlangga, CO akan mengikat haemoglobine darah. Akibatnya, pasokan O2
dalam darah minus. CO dalam darah (COHb) menimbulkan beragam gangguan
(Siswanto, 1994). Tergantung pada kadarnya, gas ini bisa menaikkan aliran
darah (sehingga emosi pun terpicu). Kadar COHb 10 - 20% menimbulkan sakit
kepala, gangguan napas, bahkan kematian janin. Pada tingkat-tingkat yang
lebih tinggi, ia membuat pelipis berdenyut dan muntah-muntah; lebih gawat
lagi penderita merasa lemah, atau sakit kepala dan pingsan, bahkan collaps,
koma. CoHb kadar amat tinggi menyebabkan depresi pernapasan jantung. Yang
paling fatal kalau kadarnya 70 - 80%.
Bahwa polusi mengancam jiwa manusia disimpulkan oleh sebuah studi di AS
selama tujuh tahun di 151 kota. Telaah yang melibatkan 550.000 orang itu
menunjukkan, penduduk kota yang tinggi tingkat polusinya memiliki
kemungkinan mati 15 - 17% lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di kota
yang tidak terpolusi.
Tingginya pencemaran akibat gas buang ranmor, menurut Prof. Dr. Iwin
Sumarman, Kepala Sub Spes Alergi-imunologi THT FK Unpad/RS Hasan Sadikin
Bandung, juga berhubungan dengan kenaikan prevalensi alergis dan infeksi
saluran napas.
Stop bensin timbal
Untuk menciptakan udara bersih, nyaman dan sehat, memang tak ada formula
yang cespleng. Tapi harus ada prioritas utama, yakni mengendalikan sumber
polutan. Tinggalkan bensin Pb! Programnya sudah dicanangkan pemerintah.
Diawali dengan pelenyapan premium di Jabotabek, digeser bensin tanpa timbal
(2001). Tahun 2002, targetnya mencakup wilayah Jawa, dan seluruh Indonesia
(sampai 2003).
Selain tune up secara periodik, penggunaan bahan bakar Super TT
(bensin tanpa timbal) merupakan cara paling baik. Karena, gas sisa
pembakaran Super TT lebih ramah lingkungan. Sayangnya, Super TT
direkomendasikan untuk mobil baru. Sedangkan "mobil lawas"
keluaran sebelum 1992, tak dianjurkan memakai bahan bakar jenis ini.
Pasalnya, kendaraan tua biasanya membutuhkan bahan bakar bertimah sebagai
pelumas pada dudukan katup agar tak lekas aus.
Upaya selanjutnya, pemakaian bahan bakar gas (BBG) untuk menggeser BBM.
Alasannya, emisi gas buangnya rendah polutan. CO pembakaran gas hanya 7%
(bensin hampir 96%) untuk setiap gram per kilometer. Untuk setiap giga joule
energi yang dihasilkan, secara komulatif bensin (premium) menghasilkan CO
10.400 gram, solar 340 gram, sementara BBG hanya 4 gram. NOx
bensin 400 gram, solar 300 gram, dan BBG, lagi-lagi, hanya 140 gram, untuk
setiap giga joule energi (EPA Report, 1990). Tapi repotnya, pemakaian BBG
belum populer di masyarakat, dan masih terbatas pada sejumlah angkutan umum
Jakarta. Lagi pula stasiun pompa gas belum memadai.
Sedangkan polutan timah hitam (Pb) yang dihasilkan bensin, menurut Sulzer
Technical Review No.2 tahun 1987, sebesar 0,09 gram dan hidrokarbon (HC)
2,2 gram, dalam setiap kilometer jarak tempuh. Sementara BBG bebas Pb, dan
hanya menghasilkan 1,6 gram HC, untuk setiap kilometer jarak tempuh.
Selaras dengan kemajuan teknologi otomotif, rancang bangun mesin sudah
semestinya diarahkan agar ramah lingkungan. Pasokan bahan bakar injeksi dan
terkendali komputer mengoptimalkan kinerja mesin dan meminimalkan gas racun.
Sistem Electronic Fuel Injection (EFI) dan catalytic converter bisa
menjadi alternatif mengurangi emisi gas beracun. Adanya katalis konverter
terdiri atas penyangga dan inti logam aktif yang dipasang pada saluran
knalpot, gas buang akan teroksidasi dan tereduksi menjadi emisi ramah
lingkungan.
Sebagai alternatif, ya menciptakan mobil yang ramah lingkungan. Semisal,
mobil listrik atau hidro 100% bebas polusi, mobil hibrida (kombinasi listrik
dan bensin). Atau, pemakaian bahan bakar lain: fuelcell, alkohol,
metanol, LPG (liquefied petroleum gas), gas alam. Yang juga mendesak,
perlu segera dikembangkan transportasi massal.
Uji emisi setiap kendaraan umum dan pribadi, wajib hukumnya. Menteri Negara
Lingkungan Hidup Sonny Keraf pernah mengusulkan kepada Kepala Kepolisian RI,
agar salah satu syarat perpanjangan STNK adalah tingkat emisi kendaraan
harus aman bagi kesehatan dan lingkungan.
Menurut ahli mekanik Martin Teiseran, setidaknya ada tiga cara mengurangi CO
(Kompas Cyber Media). Pertama, tes kompresi mobil, sesuai spesifikasi
mesin mobil. Mesin bensin bertekanan kompresi rendah, umumnya tak bertenaga,
boros oli. Ujung knalpot berjelaga hitam. Kedua, saringan udara sering
dibersihkan dan diganti setiap 20.000 km. Saringan udara yang tersumbat
debu, lebih banyak menyedot bensin, membuat campuran udara tak imbang.
Ketiga, pemasangan catalytic converter pada saluran gas buang
mengurangi CO, NOx, dan HC.
Tanam pohon, jangan ngebut
Pepohonan pun mampu mengurangi polutan, di samping juga meredam kebisingan
kendaraan, dan memberikan keindahan. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan
Pengembangan Jalan, Departemen Pekerjaan Umum menyebutkan, ada lima jenis
pohon, lima jenis tanaman perdu, dan beberapa macam semak mampu menyaring
polutan. Ir. Nanny Kusminingrum, peneliti Puslitbang PU, membuktikan adanya
korelasi erat antara volume kerimbunan daun dan jarak tanam tumbuhan dengan
penurunan NOx.
Sesungguhnya langit bersih bukan semata-mata tanggung jawab pemerintan lewat
Program Langit Biru yang dicanangkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 6
Agustus 1996. Masing-masing kita pun wajib berperan serta.
Caranya, "puasa" memakai kendaraan pribadi, bagi yang punya, untuk
mengurangi racun di udara. Kalau 10% penduduk dunia cuma mengandalkan
angkutan umum, akan menghemat 513 juta liter bensin per tahun.
Tidak ngebut (56 - 72 km/jam) membantu memperkecil polusi. Perawatan mesin
penting. Mobil tidak terawat emisinya 10 kali emisi kendaraan yang terawat
baik. Usahakan pula tak mengisi tanki terlalu penuh, untuk menghindari
tumpah. Sebaiknya dilakukan malam hari. Sebab, sinar matahari membantu
reaksi pembentukan ozon troposfer dari senyawa yang menguap dari bensin.
Nah, mari menjaga udara kita, demi keselamatan nyawa jutaan manusia, bayi
dan anak-anak. Baca juga: |
|||||