globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juli 2001

 Flona

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Belimbing Si Buah Bintang

Dinamakan begitu karena memang bentuknya serupa bintang kalau diiris tipis melintang. Akan tetapi ini hanya berlaku bagi buah belimbing yang rasanya manis sehingga menjadi buah meja. Ada jenis belimbing lain, yang walaupun diiris setipis dan semelintang mungkin tidak akan menghasilkan bentuk bintang. Buah yang dikenal dengan nama belimbing wuluh ini pantasnya ditaruh di meja dapur sebagai salah satu bahan membuat sayur.

Nama buah bintang (star fruit) tadi memang diimpor dari negara Barat. Belimbing berbentuk bulat panjang dengan rusuk tajam berjumlah lima ini memang sudah umum dikenal oleh mereka. Rasanya manis menyegarkan dengan aroma khas yang membangunkan selera. Apalagi kalau sudah didinginkan dan dimakan di hari yang panas, wah, bakalan minta dan minta lagi ...!

Sayangnya, belimbing yang di negara Barat itu tidak seperti yang beredar di sini, yang kebanyakan rasanya agak asam. Bisa jadi belimbing yang beredar di negara Barat merupakan buah impor yang dari tempat asalnya sengaja dipetik sebelum masak. Maksudnya agar tidak membusuk begitu sampai di tempat tujuan. Karena itu, di negara sana belimbing kebanyakan dijadikan salad atau dibuat minuman. Tidak seperti di negara kita yang dijadikan buah meja.

Berbuah sepanjang masa

Dari dua macam buah belimbing, yang rasanya manis dan berbentuk bintanglah (Averrhoa carambola) yang dikenal secara umum sebagai belimbing. Sedangkan jenis kedua adalah belimbing sayur atau belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), yang rasanya asam. Dari kedua jenis buah yang termasuk suku Oxalidaceae itu, belimbing manis memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi sehingga lebih banyak dibudidayakan.

Konon, nama Averrhoa diambil dari nama seorang filsuf Islam berkebangsaan Arab yang pertama kali menulis tentang belimbing, Ibn Roesjd yang tinggal di Kordoba, Spanyol. Lha kok jauh sekali hubungannya? Ya, begitulah. Setelah bersusah payah mencoba melafalkan Roesjd, orang bule itu hanya sampai ke lafal Averroes. Dari situ mereka ubah lagi menjadi Averrhoa.

Sementara nama carambola adalah pemberian pelaut Portugis ketika mereka pertama kali menemukan buah ini di pantai Malabar (India). Mereka juga menemukan belimbing sewaktu melanjutkan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara.

Penemuan itu dipertegas ketika seorang pegawai VOC berkebangsaan Belanda bernama Georg Rumpf menemukan belimbing di Maluku. Hal itu tercantum dalam bukunya yang berjudul Het Amboinsche Kruidboek (Rempah Ambon). Meskipun ada yang mengatakan belimbing berasal dari India atau Sailan (Srilanka), umumnya pakar botani sepakat bahwa Indonesia-lah tanah asal si buah bintang ini.

Selain di Indonesia, budi daya belimbing juga dilakukan di negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Kini, pohon buah belimbing sudah menyebar secara luas ke negara-negara tropis lainnya. Bahkan Amerika dan Australia yang beriklim subtropis pun sudah dirambah belimbing, meskipun terbatas pada daerah yang iklimnya mirip iklim tropis seperti di Kalifornia (Amerika Serikat) atau Queensland (Australia).

Dibandingkan dengan buah tropis lainnya, belimbing memiliki kelebihan. Ia tersedia sepanjang tahun. Artinya, belimbing bukanlah buah musiman sehingga tidak perlu menunggu waktu kalau ingin mengonsumsinya. Asalkan kondisi lingkungannya kondusif, yakni tersedia air yang cukup.

Umumnya belimbing dipanen 3 – 4 kali setahun. Panen besar biasanya terjadi pada permulaan musim hujan (sekitar Juli – Agustus). Inilah saat tepat menikmati belimbing sepuasnya. Soalnya, dengan pasokan melimpah, harga tentunya agak turun.

Warna lebih diperhatikan

Varietasnya pun cukup beragam. Sayang dari yang cukup banyak itu hanya beberapa yang bisa dibilang varietas unggul. Kelebihan varietas unggul adalah buahnya yang relatif lebih besar, warnanya lebih menarik, berserat halus, banyak mengandung air, dan rasanya manis menyegarkan. Namanya juga unggul, kalau rentan penyakit, ya enggak unggul dong .... Maka nilai plus lainnya adalah tahan banting terhadap hama penyakit.

Beberapa varietas yang sudah dikenal unggul adalah demak kapur, demak kunir, demak jingga, dewi, bangkok, wulan, wijaya, filipina, malaya, paris, sembiring, siwalan, dan taiwan. Penamaan itu bisa diambil dari nama tempat asal. Bisa juga dari nama pengembang atau yang ada kaitannya dengan si pengembang. Tapi ada juga yang asal memberi nama. (Mungkin dipikirnya, gitu aja kok repot.)

Nama demak, bangkok, siwalan, dan taiwan tentu mengacu nama tempat asal belimbing. Akan tetapi tidak dengan filipina, malaya, dan paris. Belimbing filipina diberi nama begitu saja oleh seorang petani dari daerah Kebunjeruk, Jakarta, ketika ia menerima bibit belimbing dari kawannya tanpa alasan yang jelas. Belimbing malaya malah berasal dari Medan dan tak seorang pun tahu mengapa diberi nama demikian. Sedangkan belimbing paris diduga karena varietas ini memiliki sifat serupa dengan pepaya paris yang buahnya lebih cepat matang dibandingkan dengan varietas lainnya.

Yang mengambil nama pengembang adalah belimbing sembiring. T. Sembiring, begitu nama pengembangnya, merupakan seorang petani tua ulet dari Medan. Varietas yang mengambil nama orang lainnya adalah belimbing wulan. Hanya bukan si Wulan yang mengembangkannya, tapi bapaknya, Subandi, seorang pensiunan pegawai perkebunan yang tinggal di Madiun. Tipuan penamaan serupa juga dipakai oleh varietas belimbing dewi. Nama itu bukan anak atau saudara si pengembang (yakni Ibu Permanasari), tetapi nama kebun bibitnya: PT Dewi Jaya. Sedangkan nama varietas belimbing wijaya diambil dari nama keluarga Harsudi Wijaya, seorang petani dari Pati, Jawa Tengah.

Dari sekian banyak varietas unggul tadi, baru belimbing demak kapur dan kunir yang diakui secara nasional oleh Pemerintah melalui pengumuman resmi Menteri Pertanian. Sementara belimbing bangkok dan dewi dianjurkan untuk dibudidayakan. Belimbing demak (baik kapur maupun kunir) memang sudah sangat terkenal di negara kita. Saking tenarnya sampai menjadi nama catutan penjual buah-buahan agar laris belimbingnya.

Menurut pakar buah-buahan, dalam hal cita rasa demak kapur lebih unggul daripada demak kunir. Mengapa? Karena rasa manis belimbing demak kapur disertai sedikit asam sehingga tidak membosankan. Ini berbeda kalau hanya manis tok kayak demak kunir. Toh konsumen (yang sebagian besar bukan pakar) cenderung memilih demak kunir karena warnanya yang kuning keemasan dibandingkan dengan demak kapur yang putih kekuningan meskipun sudah masak sempurna. Apakah ini membuktikan bahwa visual lebih membangkitkan selera daripada rasa? Atau karena emasnya?

Kelebihan belimbing bangkok karena embel-embel bangkoknya. Awam sudah mengenal sebagai jaminan mutulah. Memang, belimbing varietas ini rasanya manis dan mengandung banyak air. Kebalikan dengan itu, belimbing dewi tidak begitu banyak mengandung air sehingga tahan disimpan agak lama. Keistimewaan lain daging buahnya padat. Soal rasa, ya manis to.

Tunggu dua hari dulu

Cita rasa belimbing sangat ditentukan oleh tingkat kemasakannya. Yang paling enak dimakan tentu jika belimbing dipetik pada saat masak di pohon. Belimbing model begitu kulitnya tampak mengkilat dan berwarna kuning (kecuali demak kunir yang dari sononya cuma berwarna putih kekuningan). Selain itu daging buah pada rusuk-rusuknya kelihatan penuh.

Tapi jangan buru-buru dimakan lo! Sebaiknya disimpan dulu barang dua hari. Kok repot-repot amat sih? La iya, dengan disimpan itu akan terjadi proses enzimatik yang membuat rasanya lebih manis, segar, serta renyah. Kalau nafsu sudah memuncak, ya bolehlah langsung ngacir ke pasar membeli belimbing (kalau pas ada). Hal ini dikarenakan selama pengangkutan dari kebun ke pasar, belimbing sudah mengalami proses pemasakan secara enzimatik dengan sendirinya.

Kalau membeli di pasar, hati-hati dalam memilih. Kadang kita jumpai belimbing yang kulitnya berwarna kuning mengkilat, tapi kelihatan layu (tidak segar). Jika dipijit terasa lembut. Belimbing seperti ini biasanya sudah kedaluwarsa karena terlalu lama disimpan. Rasanya sudah kurang enak. Aroma yang tercium pun aroma belimbing busuk.

Jangan pula memilih belimbing yang kulitnya berwarna hijau dan rusuk-rusuknya kelihatan ramping. Ini belimbing masih muda! Rasanya sudah pasti asam dan sepat. Jangan berpikiran, ah nanti toh bisa diperam. Salah besar kalau berpikiran seperti itu sebab belimbing bukan termasuk buah-buahan yang bisa diperam. Istilah bagusnya, buah nonklimaterik. Buah kategori ini proses pemasakannya tidak akan berlanjut setelah buah itu dipetik dari pohonnya. Kalau sekadar ingin mencoba, ya boleh. Yang jelas, setelah diperam kulit buahnya menjadi keriput dan berwarna pucat.

Lalu kalau sebagian kulitnya ada noda kehitam-hitaman, jangan dibeli. Belimbing seperti itu akan cepat membusuk. Noda kehitam-hitaman itu biasanya terbentuk karena belimbing jatuh sewaktu dipanen atau karena benturan-benturan keras selama pengangkatan.

Kiat memilih yang terakhir, meski tidak mutlak, pilih belimbing hasil panenan musim kemarau. Rasanya lebih manis dibandingkan dengan belimbing hasil panenan musim hujan. Akan tetapi, perkembangan teknologi pemupukan bisa membuat belimbing hasil panenan musim hujan semanis belimbing hasil panenan musim kemarau. Hanya saja, apakah semua belimbing hasil panenan musim hujan sudah mengadopsi teknologi itu?

Repot kalau diserbu lalat

Meski sudah memakai varietas unggul, bukan berarti antihama. Hama masih bisa menyerang lo! Yang paling umum adalah lalat buah (Dacus pedestrias). Belimbing yang terkena serangan hama ini pada kulit buahnya akan tampak titik noda berwarna hitam. Bila dibelah akan terlihat belatung atau larva lalat buah yang berwarna putih dengan ukuran sekitar 3 mm pada bagian dalamnya. Larva inilah yang menggerogoti daging buah sehingga buah menjadi busuk dan akhirnya rontok sebelum masak.

Lalat buah itu sendiri bentuknya mirip dengan lalat rumah yang sering berkeliaran di rumah kita. Sayapnya datar dan transparan. Sementara kepalanya berwarna coklat kemerahan, dadanya kelabu, dan perutnya kuning. Perut lalat buah jantan agak membulat, sedangkan betinanya agak runcing. Si betina inilah yang menjadi musuh dalam perut belimbing.

Cara kerja lalat buah ini cukup rapi. Mirip kuda troya. Hanya di sini yang menjadi kudanya adalah ujung perut si lalat betina yang runcing tadi. Dengan menusukkannya ke kulit buah belimbing hingga menembus dagingnya, telur-telur yang berukuran lebih kurang dari 1 mm disusupkan ke dalam daging buah belimbing. Dua atau tiga hari kemudian telur ini menetas dan menjadi belatung atau larva. Sesaat setelah buah yang terserang tadi rontok jatuh ke tanah, belatung akan masuk ke dalam tanah untuk menjadi kepompong. Seminggu kemudian kepompong ini berubah menjadi lalat buah. Siklus hidup si lalat pun mulai sudah.

Nah, untuk memberantasnya, ya siklus tadi dipotong. Buah-buah yang bernoda hitam, baik yang masih di pohon atau sudah di tanah, dikumpulkan, lalu dibakar. Tanah di bawah pohon belimbing didangir dan sekaligus dibersihkan dari rerumputan agar kepompong lalat buah tidak bersarang lagi di situ.

Sementara itu buah yang masih sehat segera dibungkus atau disemprot dengan insektisida secara berkala. Sebagai bahan pembungkus bisa plastik transparan atau bahan lainnya. Saat yang paling tepat untuk melakukan pembungkusan adalah ketika belimbing berukuran sebesar jempol tangan orang dewasa. Kalau buahnya sedikit, ya no problem. Kalau banyak? Ya, repot memang. Tapi pilih mana, diserbu lalat buah atau diserbu orang? (Ir. Irwan Daud)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej