|
|
Bulan Juli 2001 Flona |
|
Belimbing Si Buah Bintang Dinamakan begitu karena memang bentuknya serupa bintang kalau diiris tipis
melintang. Akan tetapi ini hanya berlaku bagi buah belimbing yang rasanya
manis sehingga menjadi buah meja. Ada jenis belimbing lain, yang walaupun
diiris setipis dan semelintang mungkin tidak akan menghasilkan bentuk
bintang. Buah yang dikenal dengan nama belimbing wuluh ini pantasnya ditaruh
di meja dapur sebagai salah satu bahan membuat sayur.
Nama buah bintang (star fruit) tadi memang diimpor dari negara Barat.
Belimbing berbentuk bulat panjang dengan rusuk tajam berjumlah lima ini
memang sudah umum dikenal oleh mereka. Rasanya manis menyegarkan dengan
aroma khas yang membangunkan selera. Apalagi kalau sudah didinginkan dan
dimakan di hari yang panas, wah, bakalan minta dan minta lagi ...!
Sayangnya, belimbing yang di negara Barat itu tidak seperti yang beredar di
sini, yang kebanyakan rasanya agak asam. Bisa jadi belimbing yang beredar di
negara Barat merupakan buah impor yang dari tempat asalnya sengaja dipetik
sebelum masak. Maksudnya agar tidak membusuk begitu sampai di tempat tujuan.
Karena itu, di negara sana belimbing kebanyakan dijadikan salad atau dibuat
minuman. Tidak seperti di negara kita yang dijadikan buah meja.
Berbuah sepanjang masa
Dari dua macam buah belimbing, yang rasanya manis dan berbentuk bintanglah (Averrhoa
carambola) yang dikenal secara umum sebagai belimbing. Sedangkan jenis
kedua adalah belimbing sayur atau belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi),
yang rasanya asam. Dari kedua jenis buah yang termasuk suku Oxalidaceae
itu, belimbing manis memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi sehingga
lebih banyak dibudidayakan.
Konon, nama Averrhoa diambil dari nama seorang filsuf Islam berkebangsaan
Arab yang pertama kali menulis tentang belimbing, Ibn Roesjd yang tinggal di
Kordoba, Spanyol. Lha kok jauh sekali hubungannya? Ya, begitulah. Setelah
bersusah payah mencoba melafalkan Roesjd, orang bule itu hanya sampai ke
lafal Averroes. Dari situ mereka ubah lagi menjadi Averrhoa.
Sementara nama carambola adalah pemberian pelaut Portugis ketika mereka
pertama kali menemukan buah ini di pantai Malabar (India). Mereka juga
menemukan belimbing sewaktu melanjutkan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara.
Penemuan itu dipertegas ketika seorang pegawai VOC berkebangsaan Belanda
bernama Georg Rumpf menemukan belimbing di Maluku. Hal itu tercantum dalam
bukunya yang berjudul Het Amboinsche Kruidboek (Rempah Ambon).
Meskipun ada yang mengatakan belimbing berasal dari India atau Sailan
(Srilanka), umumnya pakar botani sepakat bahwa Indonesia-lah tanah asal si
buah bintang ini.
Selain di Indonesia, budi daya belimbing juga dilakukan di negara-negara
kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Kini, pohon buah belimbing sudah menyebar secara luas ke negara-negara
tropis lainnya. Bahkan Amerika dan Australia yang beriklim subtropis pun
sudah dirambah belimbing, meskipun terbatas pada daerah yang iklimnya mirip
iklim tropis seperti di Kalifornia (Amerika Serikat) atau Queensland
(Australia).
Dibandingkan dengan buah tropis lainnya, belimbing memiliki kelebihan. Ia
tersedia sepanjang tahun. Artinya, belimbing bukanlah buah musiman sehingga
tidak perlu menunggu waktu kalau ingin mengonsumsinya. Asalkan kondisi
lingkungannya kondusif, yakni tersedia air yang cukup.
Umumnya belimbing dipanen 3 – 4 kali setahun. Panen besar biasanya terjadi
pada permulaan musim hujan (sekitar Juli – Agustus). Inilah saat tepat
menikmati belimbing sepuasnya. Soalnya, dengan pasokan melimpah, harga
tentunya agak turun.
Warna lebih diperhatikan
Varietasnya pun cukup beragam. Sayang dari yang cukup banyak itu hanya
beberapa yang bisa dibilang varietas unggul. Kelebihan varietas unggul
adalah buahnya yang relatif lebih besar, warnanya lebih menarik, berserat
halus, banyak mengandung air, dan rasanya manis menyegarkan. Namanya juga
unggul, kalau rentan penyakit, ya enggak unggul dong .... Maka nilai plus
lainnya adalah tahan banting terhadap hama penyakit.
Beberapa varietas yang sudah dikenal unggul adalah demak kapur, demak kunir,
demak jingga, dewi, bangkok, wulan, wijaya, filipina, malaya, paris,
sembiring, siwalan, dan taiwan. Penamaan itu bisa diambil dari nama tempat
asal. Bisa juga dari nama pengembang atau yang ada kaitannya dengan si
pengembang. Tapi ada juga yang asal memberi nama. (Mungkin dipikirnya, gitu
aja kok repot.)
Nama demak, bangkok, siwalan, dan taiwan tentu mengacu nama tempat asal
belimbing. Akan tetapi tidak dengan filipina, malaya, dan paris. Belimbing
filipina diberi nama begitu saja oleh seorang petani dari daerah Kebunjeruk,
Jakarta, ketika ia menerima bibit belimbing dari kawannya tanpa alasan yang
jelas. Belimbing malaya malah berasal dari Medan dan tak seorang pun tahu
mengapa diberi nama demikian. Sedangkan belimbing paris diduga karena
varietas ini memiliki sifat serupa dengan pepaya paris yang buahnya lebih
cepat matang dibandingkan dengan varietas lainnya.
Yang mengambil nama pengembang adalah belimbing sembiring. T. Sembiring,
begitu nama pengembangnya, merupakan seorang petani tua ulet dari Medan.
Varietas yang mengambil nama orang lainnya adalah belimbing wulan. Hanya
bukan si Wulan yang mengembangkannya, tapi bapaknya, Subandi, seorang
pensiunan pegawai perkebunan yang tinggal di Madiun. Tipuan penamaan serupa
juga dipakai oleh varietas belimbing dewi. Nama itu bukan anak atau saudara
si pengembang (yakni Ibu Permanasari), tetapi nama kebun bibitnya: PT Dewi
Jaya. Sedangkan nama varietas belimbing wijaya diambil dari nama keluarga
Harsudi Wijaya, seorang petani dari Pati, Jawa Tengah.
Dari sekian banyak varietas unggul tadi, baru belimbing demak kapur dan
kunir yang diakui secara nasional oleh Pemerintah melalui pengumuman resmi
Menteri Pertanian. Sementara belimbing bangkok dan dewi dianjurkan untuk
dibudidayakan. Belimbing demak (baik kapur maupun kunir) memang sudah sangat
terkenal di negara kita. Saking tenarnya sampai menjadi nama catutan penjual
buah-buahan agar laris belimbingnya.
Menurut pakar buah-buahan, dalam hal cita rasa demak kapur lebih unggul
daripada demak kunir. Mengapa? Karena rasa manis belimbing demak kapur
disertai sedikit asam sehingga tidak membosankan. Ini berbeda kalau hanya
manis tok kayak demak kunir. Toh konsumen (yang sebagian besar bukan pakar)
cenderung memilih demak kunir karena warnanya yang kuning keemasan
dibandingkan dengan demak kapur yang putih kekuningan meskipun sudah masak
sempurna. Apakah ini membuktikan bahwa visual lebih membangkitkan selera
daripada rasa? Atau karena emasnya?
Kelebihan belimbing bangkok karena embel-embel bangkoknya. Awam sudah
mengenal sebagai jaminan mutulah. Memang, belimbing varietas ini rasanya
manis dan mengandung banyak air. Kebalikan dengan itu, belimbing dewi tidak
begitu banyak mengandung air sehingga tahan disimpan agak lama. Keistimewaan
lain daging buahnya padat. Soal rasa, ya manis to.
Tunggu dua hari dulu
Cita rasa belimbing sangat ditentukan oleh tingkat kemasakannya. Yang paling
enak dimakan tentu jika belimbing dipetik pada saat masak di pohon.
Belimbing model begitu kulitnya tampak mengkilat dan berwarna kuning
(kecuali demak kunir yang dari sononya cuma berwarna putih kekuningan).
Selain itu daging buah pada rusuk-rusuknya kelihatan penuh.
Tapi jangan buru-buru dimakan lo! Sebaiknya disimpan dulu barang dua hari.
Kok repot-repot amat sih? La iya, dengan disimpan itu akan terjadi proses
enzimatik yang membuat rasanya lebih manis, segar, serta renyah. Kalau nafsu
sudah memuncak, ya bolehlah langsung ngacir ke pasar membeli
belimbing (kalau pas ada). Hal ini dikarenakan selama pengangkutan dari
kebun ke pasar, belimbing sudah mengalami proses pemasakan secara enzimatik
dengan sendirinya.
Kalau membeli di pasar, hati-hati dalam memilih. Kadang kita jumpai
belimbing yang kulitnya berwarna kuning mengkilat, tapi kelihatan layu
(tidak segar). Jika dipijit terasa lembut. Belimbing seperti ini biasanya
sudah kedaluwarsa karena terlalu lama disimpan. Rasanya sudah kurang enak.
Aroma yang tercium pun aroma belimbing busuk.
Jangan pula memilih belimbing yang kulitnya berwarna hijau dan
rusuk-rusuknya kelihatan ramping. Ini belimbing masih muda! Rasanya sudah
pasti asam dan sepat. Jangan berpikiran, ah nanti toh bisa diperam. Salah
besar kalau berpikiran seperti itu sebab belimbing bukan termasuk
buah-buahan yang bisa diperam. Istilah bagusnya, buah nonklimaterik. Buah
kategori ini proses pemasakannya tidak akan berlanjut setelah buah itu
dipetik dari pohonnya. Kalau sekadar ingin mencoba, ya boleh. Yang jelas,
setelah diperam kulit buahnya menjadi keriput dan berwarna pucat.
Lalu kalau sebagian kulitnya ada noda kehitam-hitaman, jangan dibeli.
Belimbing seperti itu akan cepat membusuk. Noda kehitam-hitaman itu biasanya
terbentuk karena belimbing jatuh sewaktu dipanen atau karena
benturan-benturan keras selama pengangkatan.
Kiat memilih yang terakhir, meski tidak mutlak, pilih belimbing hasil
panenan musim kemarau. Rasanya lebih manis dibandingkan dengan belimbing
hasil panenan musim hujan. Akan tetapi, perkembangan teknologi pemupukan
bisa membuat belimbing hasil panenan musim hujan semanis belimbing hasil
panenan musim kemarau. Hanya saja, apakah semua belimbing hasil panenan
musim hujan sudah mengadopsi teknologi itu?
Repot kalau diserbu lalat
Meski sudah memakai varietas unggul, bukan berarti antihama. Hama masih bisa
menyerang lo! Yang paling umum adalah lalat buah (Dacus pedestrias).
Belimbing yang terkena serangan hama ini pada kulit buahnya akan tampak
titik noda berwarna hitam. Bila dibelah akan terlihat belatung atau larva
lalat buah yang berwarna putih dengan ukuran sekitar 3 mm pada bagian
dalamnya. Larva inilah yang menggerogoti daging buah sehingga buah menjadi
busuk dan akhirnya rontok sebelum masak.
Lalat buah itu sendiri bentuknya mirip dengan lalat rumah yang sering
berkeliaran di rumah kita. Sayapnya datar dan transparan. Sementara
kepalanya berwarna coklat kemerahan, dadanya kelabu, dan perutnya kuning.
Perut lalat buah jantan agak membulat, sedangkan betinanya agak runcing. Si
betina inilah yang menjadi musuh dalam perut belimbing.
Cara kerja lalat buah ini cukup rapi. Mirip kuda troya. Hanya di sini yang
menjadi kudanya adalah ujung perut si lalat betina yang runcing tadi. Dengan
menusukkannya ke kulit buah belimbing hingga menembus dagingnya, telur-telur
yang berukuran lebih kurang dari 1 mm disusupkan ke dalam daging buah
belimbing. Dua atau tiga hari kemudian telur ini menetas dan menjadi
belatung atau larva. Sesaat setelah buah yang terserang tadi rontok jatuh ke
tanah, belatung akan masuk ke dalam tanah untuk menjadi kepompong. Seminggu
kemudian kepompong ini berubah menjadi lalat buah. Siklus hidup si lalat pun
mulai sudah.
Nah, untuk memberantasnya, ya siklus tadi dipotong. Buah-buah yang bernoda
hitam, baik yang masih di pohon atau sudah di tanah, dikumpulkan, lalu
dibakar. Tanah di bawah pohon belimbing didangir dan sekaligus dibersihkan
dari rerumputan agar kepompong lalat buah tidak bersarang lagi di situ.
Sementara itu buah yang masih sehat segera dibungkus atau disemprot dengan
insektisida secara berkala. Sebagai bahan pembungkus bisa plastik transparan
atau bahan lainnya. Saat yang paling tepat untuk melakukan pembungkusan
adalah ketika belimbing berukuran sebesar jempol tangan orang dewasa. Kalau
buahnya sedikit, ya no problem. Kalau banyak? Ya, repot memang. Tapi
pilih mana, diserbu lalat buah atau diserbu orang? (Ir. Irwan Daud) |
|||||