|
|
Bulan Juli 2001 Infotekno |
|
MOBIL HIDROGEN, ALTERNATIF UNTUK MASA DEPAN
Isu
lingkungan membuat pabrikan mobil melirik kendaraan ramah lingkungan. Mobil
hijau ini ditandai dengan hasil buangannya yang tidak berbahaya bagi
lingkungan. Jika bosan menunggu mobil listrik, ada alternatif baru: mobil
sel bahan bakar (fuel cell).
Berbobot hampir 2.600 kg, mobil kekar yang nongkrong di pinggir kota
Detroit tempat pabrik mobil DaimlerChrysler itu terlihat bukan seperti
"mobil masa depan". Lekuk-lekuknya masih mengingatkan mobil buatan
akhir abad ke-20. Begitu memasuki kabin, nuansa kendaraan sport (SUV, sport
utility vehicle) pun langsung terasa. Akan tetapi, bukalah kap mesinnya.
Hoopla…!
Jeroan kendaraan yang dinamai Commander II ini ternyata tidak seperti
kendaraan SUV umumnya. Di tempat mesin pembakar terdapat pengilang terpadu
– sistem prosesor bahan bakar dari gas bertekanan tinggi, kompresor, dan
reaktor kimia yang mengubah metanol menjadi gas hidrogen. Gas hidrogen ini
menjadi menu utama bagi dua tumpukan sel bahan bakar (fuel cell). Sel
ini menggabungkan hidrogen dan oksigen di dalam reaksi kimia sehingga
dihasilkan listrik yang bisa menjalankan SUV tadi ke jalan raya.
Pengoperasian mobil ini bersih dan efisien. Hanya menghasilkan air,
karbondioksida, dan panas. Tak ada polutan udara dan jelaga seperti
kendaraan konvensional. Pembuatnya, DaimlerChrysler dan rekannya –
pengembang fuel cell dari Kanada, Ballard Power System, serta saingan
Daimler, Ford Motor Co. – percaya bahwa kendaran ini memiliki kekuatan dan
kinerja yang setara dengan kendaraan yang digunakan saat ini.
Keajaiban membran
Dibanding mobil listrik maupun hibrida, mobil fuel cell ini lebih
menarik untuk dikembangkan. Ia bebas listrik yang berasal dari tenaga
baterai sehingga membuatnya menjadi mobil terbersih di jalanan saat ini.
Memang, mobil bertenaga baterai begitu responsif, hampir tak bersuara karena
tak ada bunyi dari piston. Akan tetapi jangkauannya masih terbatas.
Untuk memperluas jangkauan itu, salah satu cara adalah dengan membawa bahan
bakar yang bisa menghasilkan listrik onboard. Pendekatan inilah yang
dilakukan oleh mobil hibrida listrik–bensin seperti Toyota Prius. Prius
memakai mesin pembakaran yang kecil dan efisien, ditambah setumpukan baterai
yang mendukung mesin selama akselerasi dan menyerap daya dari roda ketika
mengerem. Masalahnya, teknologi ini rumit dan mahal karena menggabungkan
teknologi pendorong listrik dan mekanis.
Nah, menyusul pengembangan mobil hibrida listrik-bensin, yang ternyata cukup
rumit dan mahal karena menggabungkan teknologi pendorong listrik dan
mekanis, terpikirlah tentang fuel cell. Tidak seperti baterai yang
menyimpan muatan, fuel cell menghasilkan listrik saat mobil berjalan.
Cukup menggotong bahan bakar, dan fuel cell akan mengantar mobil Anda
ke mana pun pergi.
Ada banyak bahan bakar dan material yang dapat dipakai dalam sistem ini.
Namun yang menjadi pilihan favorit adalah proton exchange membrane
(PEM). Sel PEM ini padat dan kompak serta bisa dioperasikan pada temperatur
yang relatif "dingin", 80o C. Jantung dari sel PEM ini
adalah membran plastik elastis yang dilapisi katalis platinum. Katalis ini
memisahkan gas hidrogen menjadi proton dan elektron; hanya proton yang bisa
melewati membran. Elektron "berkeliaran" di sekitar membran,
menghasilkan arus listrik yang berguna sebelum bergabung kembali dengan
proton dan oksigen di sisi lain membran untuk membentuk air. Penumpukan
serangkaian pasangan membran-katalis seperti ini, atau disebut
"sel", bisa melipatgandakan tegangan.
Sistem ini telah berhasil membawa Gemini memutari Bumi tahun 1960-an. Hanya
saja, untuk aplikasi komersial seperti mobil, misalnya, sistem ini masih
terlalu mahal dan terlalu besar. Pengembangan pun dilakukan. Misalnya di
akhir tahun 1980-an para peneliti di Los Alamos National Laboratory berhasil
mengurangi pemakaian platinum sampai 90%. Ballard juga sukses meningkatkan
densitas daya dengan menjaga membran basah tapi tidak kuyup dan
menyempurnakan pemipaan yang mengalirkan hidrogen, oksigen, dan air di dalam
rangkaian sel tadi.
Dua tahun lalu Ballard telah melewati batas minimum densitas daya bagi
keperluan automobil – 1.000 watt per liter – melalui rangkaian sel Mark
700, dua di antaranya dipakai untuk menggerakkan Commander II. Rangkaian sel
Marks 900 diluncurkan awal tahun ini, menghasilkan 1.350 watt per liter.
"Kerapatan daya sebesar itulah yang praktis bagi kendaraan saat
ini," kata Paul Lancaster, direktur keuangan Ballard.
Metanol masih berbahaya
Tantangan utama Ballard adalah membuat rangkaian sel lebih murah. Salah satu
cara, selain berkongsi dengan Ford dan DaimlerChrysler untuk mengoptimalkan
rancangan rangkaian sel tadi, Ballard juga mengomersialisasikan fuel cell
dengan mengaplikasikan pada beberapa alat; tidak hanya untuk kendaraan, tapi
juga generator portabel, generator rumahan, dan pembangkit listrik tetap.
Sementara itu, DaimlerChrysler and Ford memusatkan pada pembuatan bagian
lain dari mobil. Kendala terberat mereka adalah menjaga suplai hidrogen ke
rangkaian. "Persoalan fuel cell adalah persoalan bahan bakar.
Sudah bukan persoalan fuel cell lagi," kata Mohsen Shabana,
manajer program kendaraan fuel cell di bagian rekayasa teknik
DaimlerChrysler di Rochester Hills, Michigan.
Ada tiga macam bahan bakar yang dipertimbangkan: bensin, metanol, dan
hidrogen. Jika dipakai bensin, soal ketersediaan tidak masalah. Bensin ada
di mana-mana. Akan tetapi sulit menyuling hidrogen dari bensin di atas
kendaraan. Proses itu biasa dilakukan oleh pabrik kimia maupun penyulingan
minyak. Memindahkan ke bawah kap bukan perkara mudah. Belum adanya sulfur
yang bisa mengancam fuel cell.
DaimlerChrysler pun mencoba mengembangkan sistem metanol. Beberapa fuel
cell langsung berjalan menggunakan metanol dibandingkan dengan hidrogen.
Metanol menjadi target yang lebih gampang dibandingkan dengan bensin sebab
bebas sulfur dan hidrogen yang dihasilkan secara relatif berada di
pertengahan 300o C. Akan tetapi menyuling metanol masih menjadi
proses rumit yang membutuhkan banyak tahapan, masing-masing harus diberi
tempat sendiri dan pada temperatur khusus.
Selain itu, untuk memanaskan prosesor yang besar memerlukan waktu lama
karena menggunakan uap. Persoalan ini diatasi dengan menerapkan katalis
sebagai pengganti uap. Sayangnya, "Sistem ini begitu rumit, dan perlu
banyak komputer untuk saling berbicara," kata Bruce Kopf, direktur
TH!NK Technologies, perusahaan mobil listrik milik Ford. "Tidak banyak
orang yang bisa membuat sistem ini jalan."
Hal lain yang menjadi kendala bagi metanol adalah sifat kimianya. Metanol
merupakan bahan yang berbahaya – bisa berakibat fatal jika masuk perut.
Sifatnya yang larut dalam air membuat metanol menjadi ancaman bagi reservoar
air bawah tanah. Ketika bau kimia tercium di air minum di kawasan
Kalifornia, buru-buru perusahaan minyak mengeluarkan aditif bahan bakar
berbasis metanol methyl tertiary butyl ether (MTBE) dari bensin hasil
olahan mereka.
Pipa saluran masa depan
Solusi paling jelas, tentu saja, menggunakan hidrogen langsung sebagai bahan
bakar. Apalagi jika dilihat dari kemampuannya menghasilkan energi per berat
yang lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar lain. Jika dibandingkan
dengan bensin misalnya, energi per berat yang dihasilkan hidrogen tiga kali
lipat. Hanya saja, masih sulit untuk memasukkan gas energetik ini ke dalam
tanki bahan bakar. Selain itu, hidrogen termasuk gas yang mudah terbakar.
Ingat kasus Hindenburg?
Toh masih ada celah. DaimlerChrysler, misalnya, menggunakan tanki hidrogen
cair. Sayangnya, teknologi cyrogenic untuk menyimpan bahan bakar pada
temperatur –253o C (hanya 20 derajat di atas nol absolut) masih
menjadi mainan peneliti. Lagi pula, beruntunglah Anda menemukan stasiun
pengisi hidrogen; hanya ada setengah lusin di seluruh dunia!
Itulah yang menjadi tantangan Graham Batcheler, presiden Texaco Energy
System di Houston. Ia percaya fuel cell akan menggantikan mesin
pembakaran internal (internal combustion engine). Maka perusahaannya
tak ragu lagi untuk berinvestasi dalam teknologi yang bisa memudahkan
hidrogen ditangkikan.
Salah satu kemungkinan adalah dengan pemampatan. Dengan tangki yang lebih
kuat hidrogen dimampatkan sampai tekanan yang lebih besar. Bisa juga dengan
mendesain ulang kerangka kendaraan yang dapat menampung tangki lebih besar
tanpa kehilangan kinerjanya. Pilihan lain adalah dengan mengepak material
yang mengikat hidrogen ke dalam tangki. Serat grafit dengan struktur nano
yang ruwet, sebagai contoh, telah menunjukkan kemampuannya menyerap lebih
dari 20% hidrogen per berat.
Ballard, DaimlerChrysler, dan Ford akan menguji coba teknologi mereka tahun
depan di Kalifornia. Ford dan DaimlerChrysler bahkan berjanji akan melempar
ke pasar mobil fuel cell tahun 2004. Walaupun mereka tahu akan
kehilangan uang untuk proyek itu. Tapi Kopf menyatakan, selalu ada
kemungkinan bahwa teknologi akan segera melunasi (investasi yang telah
ditanamkan) lebih cepat dari yang diharapkan. Ketidakstabilan di Timur
Tengah, misalnya, bisa memompa harga bensin sampai AS $ 5 per galon.
Proyek ini memang jangka panjang. Fuel cell menjanjikan mobil yang
berkelanjutan (sustainable), memangkas polusi, dan membebaskannya
dari politik minyak. Daya tarik yang besar adalah, "Janji emisi gas
buang yang nol, secara potensi tidak mengeluarkan gas emisi rumah kaca dan
tidak menimbulkan ketergantungan energi," kata Kopf. "Itu
merupakan mantra suci industri otomotif."
Juergen Schrempp, direktur DaimlerChrysler, sendiri secara pribadi membela
kredit bagi program fuel cell senilai AS $ 1 miliar sebagai
"pipa saluran masa depan." World Engineers Convention pun
menelurkan sikap, "Kita semua berbagi tanggung jawab untuk
menyelesaikan proyek ini, karena menerima tanggung jawab adalah bagian dari
martabat umat manusia." Baca juga: Berlomba menjadi yang terdepan |
|||||