|
|
Bulan Juli 2001 Infotekno |
|
Menyulap Sampah Jadi Rupiah Bayangkanlah satu masa nan indah. Saat Jakarta (dan kota-kota besar lainnya) tak lagi butuh truk pengangkut sampah dan tempat khusus untuk menimbun limbah. Maklum, semua sampah habis disulap jadi rupiah, hasil berdagang pupuk, kertas, plastik, serta batako daur ulang. Ekonomi rakyat terangkat, bau tak sedap pun lenyap. Alangkah indahnya ....
Sah-sah saja menyebut bayangan tadi sebagai
angan-angan. La iya, mana mungkin sampah Jakarta bisa dibikin nihil, wong
baunya ada di mana-mana kok. Tapi, buat para peneliti di Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT), impian tadi bukannya tak mungkin menjadi
kenyataan. "Boleh dong, kita punya gambaran masa depan yang lebih
menyenangkan," ujar Ir. Bambang Heruhadi dari Direktorat Teknologi
Lingkungan, Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat BPPT.
Bambang dan konco-konconya memang sedang bangga-bangganya pada pilot project
mereka yang diberi nama sandi "Zero Waste Skala Kawasan" (ZWSK).
Karena kalau sukses, mereka berpeluang membebaskan Jakarta dan kota-kota
besar lainnya dari belenggu limbah. Konsepnya sudah dipraktikkan sejak awal
tahun 2001 di daerah Rawasari, Jakarta Pusat. "Dan berjalan sangat
baik, hingga banyak pemda kota yang melirik," ujar Bambang bernada
girang.
Pembuang sampah produktif
Omong-omong, seberapa genting sih soal sampah ini, sampai-sampai BPPT
bersusah payah bikin konsep zero waste alias nihil sampah? Apalagi selain
BPPT, sebuah perusahaan nasional, PT Biotama Recovery Indonesia (BRI) juga
mencanangkan pembuatan pabrik pengolahan pupuk dari sampah organik senilai
Rp 100 miliar, Juli 2001 ini. Melihat besaran investasinya, pengolahan
sampah satu ini pasti versi konglomerat.
Kabarnya, pabrik yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara, itu rencananya
bakal mengolah ribuan ton sampah organik Jakarta per hari. Cuma, beda dengan
BPPT yang menyelipkan misi kerakyatan, BRI murni mengusung motif bisnis.
"Kami mengincar pasar ekspor. Kalau dilihat, pasar pupuk organik dunia
mengalami pertumbuhan antara 10 - 20% per tahun," tegas Ir. I.M. Eddy
Sutrisno, Presdir BRI, saat berpresentasi di sebuah seminar pengolahan
sampah, April 2001 lalu.
Menanggapi rencana BRI, Bambang Heruhadi cuma tersenyum. Sambil tetap
senyum, dia menyodorkan data statistik yang barangkali cukup membuat kening
Anda berkerut, namun langsung memahami mengapa soal sampah ini jadi begitu
menarik. Data itu menunjukkan betapa produktifnya warga kota besar di
Indonesia dalam memproduksi limbah. Rata-rata per orang mencapai 2,5 - 3 l
per hari.
Paling ribet, tentu saja Jakarta, yang jumlah penduduknya selangit. Versi
Kepala Sub-Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Ir. Chaerul Mukti, total sampah
yang disumbang penduduk DKI Jakarta rata-rata 26.000-an m3 atau
sekitar 6.500-an ton per hari. Dari jumlah itu, "Yang terangkut sarana
transportasi hanya sekitar 21.000-an m3 atau 80% saja,"
tutur Chaerul. Sisanya, dikanibal masyarakat tempat sampah berasal.
Sedangkan menurut jenisnya, barang buangan itu bisa diklasifikasi atas
sampah organik (basah, sekitar 65%), semisal dedaunan. Selebihnya, sampah
non-organik (kering, sekitar 35%), yang terdiri atas plastik, kaca, kayu.
Tak tanggung-tanggung, untuk mengurusi barang terbuang ini, Pemda DKI rela
merogoh kocek hingga Rp 100 miliar per tahun, sementara pemasukannya nol
besar. Makin banyak sampahnya, tentu saja, makin besar pasak dari tiang.
Lama-lama, ya, bikin pusing juga.
Ini bisa terjadi karena pemda belum serius memikirkan sistem penanganan
sampah terpadu, terutama yang bermuara pada proses daur ulang. Selama ini,
olah sampah versi pemda berhenti pada proses penampungan di tempat
pembuangan sementara (TPS), kemudian menimbunnya di tempat pembuangan akhir
(TPA). Padahal, lahan TPA di ibukota makin lama kian langka. TPA terbesar
saat ini, di Bantar Gebang, Jakarta Timur, terasa makin sempit dengan
bertambahnya volume limbah. Belum lagi protes penduduk sekitar yang merasa
dicemari bau tak sedap.
Dari warga, untuk warga
Nah, kata Bambang Heruhadi, kalau konsep kuno seperti ini terus
dipertahankan, di masa depan, Indonesia bakal diterpa banyak masalah.
Pasalnya, penambahan sarana dan prasarana pengelolaan limbah tidak secepat
pertambahan timbunan sampah yang harus ditangani.
Tahun 1986 misalnya, sampah Jakarta "masih" 18.000 m3
per hari. Namun, seiring pertambahan penduduk, jumlahnya melonjak jadi
21.000 m3 per hari pada 1996. Saat ini, kabarnya sudah mentok
23.000 m3 per hari. Sebuah penambahan yang sangat signifikan.
"Selain kesulitan mencari lahan murah, potensi pencemaran lingkungan
mulai membahayakan. Polusi baunya itu, lo," terang Bambang.
Untuk menebas hambatan-hambatan itulah, proyek percontohan zero waste
diluncurkan. Paling terasa manfaatnya di sektor angkutan. Beda dengan cara
konvensional yang harus memakai truk untuk membawa sampah ke TPA, ZWSK
justru memfokuskan kegiatannya di lingkungan tempat kotoran dihasilkan.
Istilah beken-nya, "Dari warga, untuk warga." Itu sebabnya, nama
programnya diembel-embeli skala lingkungan.
Alhasil, biaya transportasi terpangkas hingga 0%. Lumayan 'kan, bisa
menghemat ratusan juta rupiah, baik untuk pembelian truk maupun
maintenance-nya. Sebagai gantinya, limbah dibawa langsung ke lokasi ZWSK
oleh para "kolektor", pakai gerobak. "Agar aman buat
lingkungan, kotoran memang harus ditangani langsung di lokasi terdekat
dengan sumbernya," tegas Bambang, yang pernah menimba ilmu di Jepang.
Jadi, sampah produksi Pondok Indah (PI) misalnya, mesti didaur ulang di PI
juga, bukan di Kebayoran Lama atau Cengkareng. Kalau skenario ini berjalan
lancar, tentu saja pemda bisa mengucap good bye pada TPA. "Sedangkan
TPS bisa dimanfaatkan sebagai calon lokasi ZWSK," imbuh Ir. Sri
Bebassari, M.Si., juga peneliti BPPT.
Memperalat cacing
Selain irit ongkos mondar-mandir, cara ini juga memungkinkan berlangsungnya
proses daur ulang terpadu alias satu atap. Kerjanya mirip samsat, karena
beragam proses, seperti mengubah sampah organik jadi pupuk kompos maupun
mendayagunakan kembali kertas dan plastik bekas, bisa dilakukan di tempat
yang sama secara berbarengan.
Seperti bisa dilihat dalam pilot project Rawasari, sampah yang dikumpulkan
dari warga langsung dipilah-pilah berdasarkan bahan. Ada pos untuk menampung
sampah organik, (terbanyak, bisa lebih dari 60%), kertas, plastik, logam,
botol. Tahap ini disebut fase praproses atau persiapan.
Kemudian dilanjutkan dengan fase pengolahan. Sampah organik diolah jadi
pupuk (kompos) dengan memanfaatkan "reaktor cacing". Binatang
kecil ini memang dikenal sebagai penyantap sampah yang rakus, "Lewat
proses vermikasi, cacing diperalat untuk menghasilkan kompos," ujar
Bambang.
Pada saat bersamaan, dilakukan pengolahan bahan-bahan lainnya menjadi produk
daur ulang. Sampah yang tak bisa diolah kembali, seperti botol dan kaca,
dikumpulkan untuk diolah sesuai keperluan. Sementara sisa limbah (yang tak
mungkin lagi dijadikan komoditas dagang) bakal diberangus di fase terakhir,
yakni pembakaran tuntas, tas, tasss ....
Dari hasil penelitian BPPT, setiap 10 m3 (2 ton) sampah
berpotensi menghasilkan pupuk kompos atau vermikompos sekitar 0,4 ton per
hari atau sekitar 12 ton per bulan. Berikut bahan daur ulang sekitar 0,28
ton/hari atau 84 ton per bulan, yang terdiri atas kertas daur ulang, bijih
plastik, logam, dan bahan konstruksi (bata, batako). Ada juga abu sampah
sisa pembakaran, biasanya untuk campuran kompos.
Kalau mau menghasilkan out put lebih besar, kapasitas pengolahan harus
ditingkatkan, sekaligus butuh lahan lebih besar. Berdasarkan perhitungan,
lahan seluas 400 m2 dapat memproses 10 hingga 20 m3
sampah per hari. Dengan beragam efisiensi, sebenarnya kapasitas bisa saja
melampaui 20 m3. "Ini tantangan buat kita," tegas
Bambang.
Tak perlu teknologi canggih
Yang menarik, aktivitas mengenolkan limbah ini tidak memerlukan teknologi
canggih. BPPT sengaja memasyarakatkan alat-alat sederhana agar mudah
dioperasikan awam. Untuk mengubah sampah organik menjadi kompos, misalnya,
hanya diperlukan alat pencacah untuk memperkecil ukuran sampah, sejenis
blender besar untuk mengolah sampah tertentu jadi makanan cacing, serta rak
untuk proses vermikasi dan menyimpan sampah yang telah dikemas.
Sedangkan untuk mendaur ulang kertas, plastik, dan bahan-bahan daur ulang
lainnya, ada blender yang bertugas melumat sampah-sampah tadi jadi bubur.
Baru kemudian "dicetak" menjadi kertas, bijih plastik, serta bahan
konstruksi daur ulang. Oh ya, ada juga fasilitas pembakaran sisa-sisa sampah
tak terolah. Prinsipnya, biar sederhana, yang penting lengkap.
Menilik sistem kerja "samsat sampah" BPPT, maunya jelas, tak
secuil pun limbah dibiarkan tersisa. Maunya juga kelak, di tempat pembuangan
akhir maupun dalam skala lebih rendah, tak dikenal istilah penimbunan
sampah. Karena begitu masuk penampungan, barang buangan langsung disulap
jadi benda layak jual. Asyik, 'kan?
Catatan dari proyek percontohan ZWSK di Rawasari (luasnya 400 m2)
menunjukkan, sampah yang berhasil diolah mencapai 20 m3 per hari.
Setelah direka-reka, jumlah itu ternyata sama dengan sumbangan sampah 1.000
- 2.000 kepala keluarga (tergantung tingkat kepadatan penduduknya), atau
setara dengan 2 - 5 komunitas Rukun Warga (RW).
Kalau dilakukan secara kontinyu, proyek ini berpotensi mengurangi timbunan
sampah di TPA hingga 7.200 m3 per tahun. Otomatis, risiko
penyebaran bau tak sedap makin berkurang. Udara Jakarta makin segar, karena
dunia persampahan tak lagi menjijikkan. Sekali lagi, boleh 'kan
berangan-angan? (Muhammad Sulhi) Baca juga: Swadaya Lebih Oke |
|||||