|
|
Bulan Juli 2001 Perkara Kriminal |
|
Tumbal Rencana Perkawinan
Sudah sejam bocah berumur 8 tahun itu melempari
tembok apartemen dengan bola karet. Bunyi bola mencium tembok dan derit
sepatu olahraga di lantai semen mewarnai suasana pagi itu.
Di seberang jalan, Edna berlutut di tamannya. Hati-hati ia menggali umbi
bunga tulip dari bedengan yang terawat rapi. Dibersihkannya umbi itu lalu
disodorkan ke suaminya, Barney, yang lalu menempatkannya ke kantung kertas
yang berbeda-beda sesuai namanya.
Wus ... wus ... tiba-tiba bola itu melayang melintasi kepala pirang si anak,
lalu tersangkut di pagar tanaman yang memisahkannya dengan rumah sebelah.
Rumah batu dua tingkat bercat putih itu laksana gambar dalam kartu pos.
Halamannya penuh bedengan bunga yang bermekaran. Untuk menutupi dinding
gedung apartemen yang buruk, di halaman belakang ditanam tumbuhan merambat.
"Semoga bolanya tidak jatuh ke halaman Farley. Bisa merinding dia
dimaki-maki Bu Farley dari liang kubur," kata Edna.
"Lo, apakah Bu Farley sudah meninggal?" tanya Barney sambil
menyeka tanah dari umbi.
"Minggu lalu, waktu kamu pergi mancing. Umurnya 'kan 95."
Barney menjatuhkan umbi yang entah apa namanya ke kantung bertuliskan Golden
Towers. Biar saja istrinya bingung kalau nanti ternyata umbi itu Regent
Red.
"Para tetangga tidak melayat, ya?" tanya Barney.
"Marcie tidak memberi kesempatan. Lagi pula siapa yang mau
melayat?"
"Yah, bagaimanapun dia orang tua. Mestinya kita menghormati dia.
Setidaknya buat terakhir kali."
Wus ... wus ... kali ini bola memantul menyeberangi jalan, ke tempat John
Henry mengawasi diam-diam. Serta merta John Henry menangkap bola dengan
giginya, lalu mengibas-ngibaskan ekor tanda ingin ikut bermain. Anak
laki-laki itu memandang John Henry dengan waspada. John Henry adalah anjing
besar hitam yang menyeramkan. Barney mengangsurkan tangannya,
"Berikan."
Ketegasan suara itu mengisyaratkan majikannya tidak main-main. Dengan enggan
ia menjatuhkan bola ke tangan Barney. Barney melemparkan bola itu kepada si
anak dengan keluwesan yang tadinya ia kira sudah meninggalkan ototnya.
"Seharusnya Bu Farley dilepas dengan upacara khidmat."
Edna menyerahkan umbi terakhir lalu bangkit sambil membersihkan celana
panjangnya. "Bukan urusan kita, Barney. Selain menjengkelkan,
almarhumah amat egois."
Edna menyerahkan umbi terakhir. "Kamu yakin telah memasukkan umbi ke
tempat yang tepat?"
"Yakin sekali," Barney berdusta. "Aku pergi dulu. Aku perlu
bercukur sebelum menghadiri pernikahan."
"Lonceng hadiah untuk Denise belum kamu selesaikan."
"Rasanya aku tidak akan memberikannya kepada Denise. Aku tidak mau
memberikan loncengku pada orang yang tidak bisa menghargai barang seni. Biar
saja mereka membeli lonceng plastik di toserba."
"Hei, Howard menunggu Marcie selama 30 tahun, 'kan? Kamu mau menunggu
aku 30 tahun?"
"Asalkan kamu tidak menanam tulip."
Anak tangga ketiga
Barney menjentikkan tangan pada John Henry. Anjing itu mengekor. Di tepi
jalan, anak laki-laki yang sama memperagakan gaya melempar berbeda, seakan
mencoba menembak lawan yang sedang berlari. Tahu-tahu bola itu dipantulkan
oleh dinding apartemen lalu melambung melewati pagar tanaman ke halaman
rumah Bu Farley. Di sana bola menghajar batang pohon ek dan memantul ke
belakang rumah.
John Henry lari menyeberangi jalan untuk menangkap bola yang menggelinding.
Ia sangka anak itu mengajak bermain. Namun anak itu malah minta tolong pada
Barney.
Sambil mengibas-ngibaskan ekornya, anjing itu berjalan ke arah Barney,
tetapi di tengah halaman ia berhenti. Kepalanya digerakkan ke kanan-kiri,
moncongnya direndahkan. Lalu bola di mulut dijatuhkan. Ia kembali beberapa
langkah ke belakang, mengendus-endus tanah, lalu mengikuti jejak yang tidak
tampak menuju bedengan rumput di bawah jendela. Lalu ia ke belakang rumah.
Bau-bau yang membangkitkan minatnya selalu membuatnya lupa dengan apa yang
sedang dikerjakan.
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Seorang pria pendek gemuk dan berambut
warna pasir ke luar sambil memaki-maki anak itu, membuat si bocah kabur.
John Henry masih di halaman rumput mengendus-endus tanah, ekornya
mengibas-ngibas. Barney bersiul. Pria tadi menoleh ke arahnya dan melihat
John Henry. Ia berteriak-teriak, tangannya dikibaskan mengusir John Henry,
tepat saat John Henry hendak mematuhi siulan Barney. Pria itu sempat
ketakutan saat sosok hitam berbobot 50 kg menyeringai sambil mengambil
posisi di belakang Barney.
"Suruh dia keluar dari sini, Barney! Sekali lagi dia masuk,
kutembak," hardik Howard.
"Jangan begitu, Howard," kata Barney. Howard membuka mulut, tapi
begitu melihat sorot wajah Barney, ia merunduk, "Kamu benar, Barney.
Aku sedang risau. Marcie amat terpukul. Itu sebabnya aku di sini."
"Aku mengerti. Kalian 'kan sudah lama sekali akrab. Apa Bu Farley
meninggal tiba-tiba?"
"Tidak. Dia terjatuh. Sebetulnya tidak dari tempat tinggi, cuma dari
anak tangga ketiga dari bawah, kata Marcie. Tapi namanya orang tua. Kata
dokter yang kupanggil, dia sudah meninggal. Tapi dokter bersikeras menyuruh
kami membawanya ke rumah sakit.
"Usai diautopsi, paginya jenazah dijemput Whitman, direktur rumah duka.
Tadinya kukira kematian disebabkan oleh luka di kepala, ternyata karena
jantung. Siang itu kami memakamkannya karena Marcie tidak mau repot."
Penantian panjang
Barney berjalan perlahan-lahan sambil mengenang saat ia dan Edna membeli
rumah di seberang rumah Bu Farley, Marcie masih cantik dan menyenangkan.
Tahu-tahu ibunya mendapat serangan jantung. Rencana pernikahannya dengan
Howard pun ditunda dan ditunda terus.
Bu Farley berhasil membuat Marcie dan Howard berjanji tidak menikah selama
ia masih hidup, karena ia membutuhkan Marcie. Saat itu, janji itu masuk
akal. Siapa sangka Bu Farley hidup tiga puluh tahun lagi dan tetap menuntut
Marcie menepati janji.
Barney yakin, setiap tahun Marcie dan Howard menyangka itu saat-saat
terakhir Bu Farley. Ketika kemudian mereka sadar, sebagian besar dari masa
hidup mereka sudah lewat.
Marcie bertambah tua, malah tampak lebih tua dari Edna. Tubuhnya kurus
dengan tulang-tulang wajah menonjol. Rambutnya yang kelabu dipotong pendek.
Barney melihat Howard setia datang dua kali seminggu. Kencan mereka cuma
mengobrol di ruang tamu. Kalaupun keluar, cuma makan di restoran dengan
dikawal Bu Farley yang rewel.
Edna sering menyanjung Howard. Mau-maunya dia menunggu Marcie sekian lama.
Kalau orang lain yang mengalami, pasti nenek cerewet dan penuntut itu sudah
dicekoki racun. Tidak heran Marcie dan Howard memakamkan Bu Farley secepat
mungkin. Barney merasa, kalau ia menjadi Howard, ia akan menggali liang
kubur dengan wajah tersenyum. Namun Howard tidak tersenyum. Aneh, mustahil
ia sedih.
Salon tukang pangkas berada di ujung gedung kecil. Di gedung itu ada toko
kue, toko obat yang juga menjual barang-barang lain, binatu, dan kantor
realestat. Di belakangnya ada gang kumuh, surga bagi anjing.
Tiga bulan lalu, penduduk melihat kehadiran seorang wanita setengah baya
yang pendiam di gang itu. Wanita yang disebut Jessie itu tadinya menghuni
rumah sakit jiwa, karena perkembangan mentalnya terhenti saat ia
kanak-kanak. Akhirnya ia dibebaskan bersama sejumlah penghuni lain oleh
seorang hakim yang menganggap kurungan melanggar hak-hak asasi manusia.
Suatu pagi ia muncul tiba-tiba, lalu menetap di ruang mesin pemanas bagi
penghuni gedung. Sepanjang hari wanita kurus itu keluyuran di daerah
perumahan yang apik di pinggiran kota itu.
Sebenarnya pemerintah daerah sudah menyediakan panti sosial untuk menampung
Jessie dan empat mantan penghuni lain yang sama-sama dikembalikan ke
masyarakat. Namun setiap kali Sersan Corcoran membawanya ke panti, ia
berhasil kembali dengan berjalan kaki ke gang kumuh itu. Padahal letaknya
jauh. Beberapa tawaran tempat tinggal yang lebih layak dari orang-orang yang
peduli padanya pun tidak ditanggapi.
Usaha mengeluarkannya dari ruang pemanas dihentikan setelah pemilik gedung
berhasil dibujuk untuk memperbaiki ruangan itu agar layak ditempati. Warga
menunjuk seorang pekerja sosial untuk merawatnya. Setidaknya agar ia mau
mandi seminggu sekali, berganti pakaian, dan pergi memeriksakan kesehatan ke
dokter.
Cuma sedikit yang berhasil menggugah kepedulian Jessie. Salah satunya, John
Henry. Ia selalu mengelus kepala anjing itu dengan lembut walau cuma
sebentar.
Karena ingin dielus, beberapa meter sebelum gang itu, John Henry sudah
berlari dan mendorong pagar yang mengalanginya. Barney membuka pagar itu
agar John Henry bisa lewat. Namun, anjing itu cuma berjalan hilir -mudik
seperti kebingungan.
Barney bersiul memanggilnya. "Mungkin dia sedang berjalan-jalan. Nanti
kita ke sini lagi."
Jessie lenyap
Sal Melchiorre terbangun dari tidur siangnya. Pria gemuk berambut kelabu itu
segera menyambut Barney. John Henry rebah di sebuah sudut. Pipinya ditaruh
di dua kaki depannya.
"Dia tampak sedih," kata Sal.
"Ia ingin ketemu Jessie, tapi yang bersangkutan tidak ada."
Sal terus mengoceh sambil mengikat tali celemek di leher Barney, "Kamu
pergi memancing sih, jadi kamu tidak mendengar kalau Jessie
menghilang sejak sekitar seminggu lalu."
"Apakah Corcoran mengembalikannya ke panti?"
"Pasti tidak. Kemarin dulu Corcoran datang menanyaiku, kapan terakhir
kali melihat Jessie. Mana aku tahu."
Alat cukur listrik mendengung di tengkuk Barney.
"Aneh," kata Barney.
"Kata pekerja sosial, itu hal biasa. Menurut psikiater, Jessie pergi
mungkin karena menemukan tempat yang lebih aman."
Gunting sibuk di sekitar telinga Barney.
"Kudengar Nenek Farley, tetanggamu, meninggal," kata Sal.
"Aku juga baru dengar," sahut Barney singkat.
"Kata Whitman, pemakaman Bu Farley merupakan pemakaman paling cepat
yang pernah ia tangani. Sebenarnya dia bisa melaksanakannya lebih cepat
lagi. Tapi dia harus menunggu surat-surat yang diperlukan. Sungguh repot
meninggalkan dunia ini.
"Mesti mengurus surat-surat yang diminta pemerintah untuk membuktikan
kematian kita. Para politisi tidak membiarkan pembayar pajak pergi begitu
saja. Lain kalau orang-orang seperti Jessie yang meninggal. Mereka tidak
peduli. Kuharap, tidak ada orang yang mencelakakan dia," Sal terus
mengoceh.
Sal melumurkan busa hangat ke tengkuk, sekeliling telinga, dan bawah cambang
Barney. Bulu kuduk Barney berdiri. Ia selalu waswas kalau ada orang
membawa-bawa pisau telanjang di dekatnya.
"Ya, mudah-mudahan. Aku kasihan melihatnya tinggal di gang itu. Manusia
berhak untuk hidup lebih baik."
"Saat dia lewat, aku sering berpikir: dari mana asalnya, tak adakah
sanak keluarga yang bisa mengurusinya?" sahut Sal sambil menyisir
rambut Barney.
Barney tersenyum. Biasanya Sal cuma memikirkan skor pertandingan bisbol.
"Seperti apa dia waktu masih kecil ya, Barney?"
"Sama seperti anak lain sampai ia berhenti berkembang."
Barney yakin, Jessie pernah mempunyai anjing hitam. Soalnya, ketika pertama
kali melihat John Henry, wajahnya menjadi lembut dan berkata pelahan,
"Boomer?" Lalu kelembutannya hilang. Rupanya terlalu sulit atau
terlalu menyakitkan untuk mengingat masa lalunya. Wajahnya yang
bergaris-garis kembali kosong.
Sal menyikat sisa-sisa rambut di bahu Barney. "Kamu tampak dua puluh
tahun lebih muda."
"Jangan ge-er. Kamu cuma tukang cukur, bukan tukang sulap."
Semua data musnah
John Henry berkeliling di gang sebelum menyusul Barney. "Dia pergi.
Tapi jangan putus asa. Siapa tahu Corcoran menemukannya."
Saat mendekati rumah mereka, John Henry berlari menuju rumah Farley.
Biasanya John Henry menghindari halaman rumah Farley karena Bu Farley lebih
benci terhadap anjing daripada terhadap anak-anak. Tampaknya ada liang
kelinci di bawah pagar sehingga John Henry tertarik mencarinya.
Barney tidak meladeni komentar Edna mengenai potongan rambutnya. "Kamu
sudah bertemu Marcie sejak ibunya meninggal?"
"Tentu saja. Aku 'kan datang menyatakan belasungkawa. Tapi dia
kelihatan lebih risau daripada sedih. Kenapa, ya?"
"Howard juga begitu. Apa yang mereka risaukan?"
Tiba-tiba Edna menunjuk tempat Barney membuat lonceng di garasi.
"Loncengmu. Kalau besok belum selesai, aku beli kado."
Bagian-bagian lonceng yang dirancang Barney untuk cucu keponakan Edna yang
akan menikah tergeletak di meja kerja, sudah diwarnai dan divernis, tinggal
digosok sampai mengkilap sebelum dirakit. Menjelang pekerjaannya selesai,
pintu diketuk. Corcoran muncul dengan seorang wanita muda yang cantik,
pirang, berpakaian biru tua.
"Maaf mengganggu. Boleh berbicara sebentar, Barney?"
"Boleh. Tidak keberatan kalau aku sambil menggosok, ya? Edna
memburu-buru aku, nih."
"Ini Miss Elliott," Corcoran memperkenalkan. "Pekerja sosial
yang menangani kasus Jessie."
"Saya dengar dari Sal, Jessie menghilang."
"Karena itu kami kemari. Anda dan John Henry selalu berkeliling daerah
perumahan ini dua kali sehari. Mungkin Anda melihat sesuatu."
"Kami pernah ketemu dia beberapa kali, tapi bukan beberapa minggu
ini."
"Barangkali Anda sempat memperhatikan. Apakah ia mengikuti pola
tertentu saat keluyuran?" tanya Miss Elliot.
"Mengapa Anda mengira ia mengikuti pola tertentu?" tanya Barney.
"Begini. Kami tidak tahu pasti mengapa Jessie dimasukkan ke rumah
perawatan saat dia masih kecil. Semua catatan dirinya musnah dalam
kebakaran. Kalau tahu secara pasti, kami bisa menanganinya dengan tepat.
"Dulu ada dokter atau psikiater yang pernah menyatakan, umur mentalnya
tidak akan berkembang melebihi umur 5 tahun. Menyedihkan, padahal dia cuma
lamban belajar. Perlu waktu dan kesabaran untuk mengajarinya agar bisa
mengurusi diri sendiri dan melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana.
"Meski terbelakang, ia masih bisa merasa. Seperti anak-anak, ia
tergantung pada orang-orang yang ia cintai. Bisa dibayangkan saat ia diambil
dari keluarganya dan ditempatkan di rumah perawatan. Hatinya luka. Ia
kehilangan pegangan. Apalagi perawat-perawat yang dekat dengannya tewas
dalam kebakaran. Itu memperparah keadaannya. Sebelum kebakaran mestinya ia
tahu siapa namanya dan di mana dia tinggal. Namun setelah itu semua
lenyap."
Mencari rumah
"Tidak adakah anggota keluarga yang mencarinya?"
"Entahlah, tapi tidak pernah ada orang menjenguk atau menanyakannya.
Dia lantas disebut Jessie Doe dalam berkas-berkas, dan Jessie si Pendiam
bagi orang-orang di sekitarnya. Waktu dikirim ke panti, dia selalu kabur.
Setiap ditanya mengapa, ia hanya bergumam. Katanya, mencari sesuatu. Lalu
suatu hari ia menetap di gang itu dan tidak mau beranjak lagi.
"Ia sering bergumam: 'rumah'. Menurut psikiater, gang itu dianggapnya
rumah. Tapi saya pikir, mungkin lingkungan ini mengingatkannya pada rumah di
masa kecil. Ia pun keluyuran mencari rumahnya."
Lonceng Barney selesai dirakit, tapi belum dilem. Sisi depan lonceng
setinggi hampir 45 cm itu berlekuk-lekuk luwes. Ada serambi kecilnya. Mata
Miss Elliot berbinar-binar. "Wah, ini bagus sekali."
Barney tersenyum. Ada orang-orang yang bisa menghargai keindahan tanpa harus
dijelaskan.
Tiba-tiba terdengar teriakan Edna dari halaman, "Barney! John Henry di
halaman Farley. Panggil dia pulang!"
Biasanya John Henry suka pada Corcoran. Apa yang lebih menarik perhatiannya?
Mereka pergi ke jalan.
John Henry sedang duduk di depan pintu rumah keluarga Farley, seakan-akan
berkunjung. Barney bersiul. John Henry menoleh. Begitu melihat Corcoran ia
berlari menyeberang jalan. Selesai ditepuk-tepuk Corcoran, ia mengalihkan
perhatian pada Miss Eliott. Setelah mengendus sepatu biru Miss Eliott ia
mengelilingi wanita itu sambil mengibas-ngibaskan ekornya .
Miss Eliott melirik Barney. "Mau apa dia?"
"Entahlah. Dari mana Anda sebelum ke sini?"
"Ke tempat Jessie, mengecek kalau-kalau dia sudah pulang."
"Ah! Teman Jessie berarti temannya juga. Mungkin Anda benar, Jessie
berasal dari sini?"
Miss Eliott tersenyum. "Meski tidak mendapat pendidikan formal, saya
yakin, Jessie tahu lebih banyak daripada yang diduga orang. Rupanya, intuisi
wanitanya membawanya ke tempat yang tepat."
"Masalahnya, di mana dia sekarang,?"
"Ini daerah perumahan tua. Rumahnya besar dengan garasi terpisah.
Karena letaknya berjauhan, keadaannya pun sepi. Dia bisa sembunyi di mana
saja."
"Berapa sih umurnya?"
"Kira-kira 45. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi saya," jawab Miss
Eliott sambil mengeluarkan kartu nama.
Masih hidup atau sudah tewas?
Barney melanjutkan pekerjaan. Sambil memasang sekrup, pikirannya melayang ke
tempat lain.
Ia mendapat kesan, Corcoran yang pragmatis merasa Jessie sudah meninggal
seminggu lalu. Cuma ia tidak tega berterus terang pada Miss Eliott.
Barney menyisihkan loncengnya, lalu memanggil John Henry, tiba saatnya
berjalan-jalan siang. Sambil melewati rumah-rumah, John Henry di depannya
mengendus-endus. Barney sadar, penghuni kawasan ini, sejak ia pindah 30
tahun lalu, kebanyakan masih itu-itu juga.
Selesai berkeliling, ia mendapatkan Edna sedang duduk memeriksa daftar
belanja.
"Temanmu yang cantik itu, Bu Martino, masih bekerja di rumah
sakit?"
"Masih. Kenapa?"
"Aku mau ke sana, ada yang ingin kubicarakan dengannya."
Rumah sakit sudah memikrofilmkan catatan-catatan paling tua. Barney
menjelaskan alasannya ingin memeriksa catatan itu. Bu Martino segera
mengesampingkan segala peraturan dan mempersilakan Barney membongkar catatan
kelahiran. Sejam kemudian, dengan kepala pusing dan mata lelah karena lama
memelototi huruf-huruf buram, Barney menemukan apa yang dicarinya.
Dengan mobil ia menuju balai kota. Dua jam kemudian, dengan kepala lebih
pusing dan mata berkunang-kunang ia menelepon Miss Eliott.
Barney dan John Henry sudah menunggu ketika mobil Miss Eliott datang.
"Sal si tukang cukur bercerita betapa kita terikat pada
surat-surat," kata Barney. "Saya jadi ingat, bukan hanya saat
meninggal, tapi saat lahir pun mesti ada surat dan catatannya. Kalau Jessie
dilahirkan oleh penghuni kawasan ini, kemungkinan besar ia lahir di rumah
sakit setempat. Saya mengecek ke sana dan menemukan, ada bayi yang diberi
nama Jessica lahir 58 tahun lalu. Sampai kini keluarganya masih tinggal di
sini."
"Tapi, saya tidak menemukan catatan kematiannya. Apa yang terjadi
dengan Jessie? Apakah ia tinggal dengan kerabatnya di tempat lain?"
"Atau tinggal di rumah perawatan," kata Miss Eliott. "Berikan
alamatnya kepada saya."
Ditinggal begitu saja
"Mari kita ke sana," kata Barney. Ia menggandeng Miss Eliott ke
depan pintu rumah keluarga Farley dan menekan bel.
Marcie membuka pintu.
Barney menarik napas dalam-dalam. "Anda mempunyai saudara perempuan
bernama Jessica. Apa yang terjadi padanya?"
Tak terduga, Marcie pingsan dan jatuh ke pelukan Howard.
Dada Barney terasa beku. Seminggu. Seminggu waktu yang lama. Kalau saja ia
tidak pergi memancing ....
Howard menengadah ke atas dengan mata kosong. "Di atas, di tempat yang
ia sebut kamarnya."
Barney menyingkir sebelum yang berwewenang tiba. Ia, Edna, dan John Henry
mengawasi dari rumah seberang. Beberapa kendaraan, di antaranya mobil
Corcoran, memenuhi jalan.
"Rasanya aku belum bisa percaya," kata Edna.
"Kata Howard, waktu Marcie baru 8 tahun, terjadi dua hal. Suatu pagi
ayahnya pergi dan tidak pernah kembali. Tidak lama kemudian ibunya membawa
Jessie pergi, dan pulang tanpa anak itu.
"Ibunya tidak pernah menjelaskan ke mana Jessie. Marcie cuma diberi
tahu bahwa kini mereka tinggal berdua. Mereka harus menghadapi dunia
bersama-sama. Itu rupanya yang membuat Marcie mau berjanji tidak menikah
selama ibunya masih hidup.
"Bu Farley melarang Marcie menyebut-nyebut ayahnya dan Jessie.
Akhirnya, Marcie menganggap keduanya sudah meninggal. Barangkali kamu ingat,
ketika kita baru membeli rumah ini, ia bilang ayahnya sudah lama
meninggal."
"Astaga! Bu Farley meninggalkan anaknya begitu saja setelah suaminya
pergi," seru Edna.
"Entah mengapa suaminya pergi. Tapi aku pantang menaruh bunga di
makamnya yang entah di mana. Soalnya, ia membantu membentuk keadaan Bu
Farley yang seperti itu. Dia lepas tanggung jawab atas dua anak perempuannya
yang masih kecil.
"Howard tentu saja tidak pernah mendengar tentang Jessie. Kira-kira
seminggu lalu Jessie muncul di depan pintu rumah keluarga Farley. Mungkin
dia mengenali rumah itu, atau mungkin asal pilih saja. Ketika Marcie membuka
pintu, Jessie langsung masuk. Marcie berteriak ketakutan. Howard berlari
datang. Bu Farley sedang menuruni tangga.
"Jessie langsung menghampiri Bu Farley dan berkata, 'Saya pulang, Bu.'
Tak aneh Bu Farley yang selama 50 tahun hidup dengan perasaan berdosa kaget
setengah mati."
"Kuduga, saat ibunya jatuh, Marcie sadar bahwa Jessie adalah saudara
perempuannya yang lama hilang. Howard merasa tidak bisa menangani semua
peristiwa ini sekaligus. Jadi, Bu Farley buru-buru dikuburkan dulu. Setelah
itu ia berdua dengan Marcie berpikir-pikir: akan diapakan Jessie."
Pura-pura tidak tahu
Corcoran dan Miss Eliott menyeberangi jalan ke arah mereka.
"Beres. Ia dilepas dari rumah perawatan agar bisa tinggal di rumah
biasa. Kini dia menemukan rumahnya sendiri. Saya akan mengatur semua
keperluannya dan menjenguknya sekali seminggu." kata Miss Eliott
tersenyum.
"Adakah penjelasan perihal apa tepatnya penyebab kematian Bu Farley dan
tentang disembunyikannya Jessie selama seminggu?" tanya Barney.
"Serangan jantung di umur 95 bisa saja disebabkan oleh tagihan telepon
yang tinggi."
Miss Eliott mengulurkan tangan. "Terima kasih Barney." Barney
mengangguk. Corcoran menunggu sampai Miss Eliott sudah masuk ke mobil.
"Aku pergi ke halaman belakang, Barney," kata Corcoran pelahan.
"Aku kira dia tidak perlu tahu."
"Aku setuju. Cari saja kriminal yang sungguh-sungguh kriminal,
Corcoran."
Ketika Corcoran sudah pergi, Edna mencolek lengan Barney.
"Apa sih maksudnya?"
"Jika Miss Eliott tidak muncul dengan teori bahwa Jessie mencari
rumahnya, aku akan menyangka John Henry cuma mengendus-endus liang kelinci
liar, karena anjing pun tidak bisa mencium bau yang sudah berumur seminggu.
Tapi terpikir olehku, siapa tahu yang dia endus itu bau Jessie. Karena itu
aku memeriksa catatan-catatan kelahiran. Kalau tidak, bisa-bisa nasib Jessie
tak ada yang tahu."
Mata Edna melotot. "Ah, masa begitu?"
"Corcoran sepikiran denganku. Bayangkan: kematian Bu Farley akan
membebaskan Marcie dan Howard. Tapi kedatangan Jessie akan memperpanjang
beban mereka. Mereka tak akan bebas selamanya. Sekali itu mereka tidak mau
diam.
"Bu Farley bisa tetap hidup sebab mereka tidak bisa menyingkirkannya
tanpa ketahuan. Namun bila Jessie lenyap, tidak akan ada orang yang menanyai
mereka."
"Lenyap? Bagaimana caranya?" bisik Edna.
"Bertahun-tahun Howard mengerjakan taman Marcie seperti aku mengerjakan
tamanmu. Kamu tidak pernah memintaku menggali bedengan lebih dalam dari 20
cm. Paling-paling 30 cm. Tapi Howard menggali sedalam satu meter. Buat
menanam apa, coba?"
"Mungkin mereka mau mengganti tanah," sanggah Edna
Memang Howard mau mengganti tanah dengan sesuatu, pikir Barney. Istrinya
yang baik hati memang tidak pencuriga. Edna juga tidak menyertainya saat ia
berkeliling halaman belakang rumah keluarga Farley bersama Howard.
Waktu itu Barney mendengarkan curahan hati Howard yang selama berpuluh-puluh
tahun memendam benci pada Bu Farley. Masih terngiang-ngiang di telinganya
suara Howard yang tinggi.
"Kini Jessie aman di sana. John Henry pun patut mendapat hadiah,"
ujar sambil mengutarakan niatnya memberikan lonceng pada Miss Eliott.
"Kita beli saja kado buat Denise."
Sambil memandang rumah di seberang jalan, Edna mengangguk. Itu caranya untuk
menunjukkan bahwa Barney benar tentang lubang di kebun seberang, tanpa ia
harus mengakuinya dengan terang-terangan. (Fiksi-Stephen Wasylyk/HI) |
|||||