globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juli 2001

Terapi

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

LOW VISION, KALAU KACAMATA PUN TAK MEMBANTU

Bila terlambat ditangani, anak penderita low vision akan kehilangan penglihatannya. Sebaliknya, bila segera ditangani, yang berpotensi menjadi penderita bisa selamat. Yang sudah menjadi penderita pun, sisa-sisa daya tajam penglihatannya bisa dipertahankan.

Hati-hati menangani bayi prematur. Itulah nasihat yang harus diingat ketika anak kita lahir prematur. Ia sepatutnya mendapatkan penanganan oleh suatu tim dokter. Bukan cuma dokter anak, tetapi juga dokter paru-paru dan dokter mata, misalnya. Berkaitan dengan mata, tanpa penanganan komprehensif, bayi yang lahir lebih dini bisa saja akan menjadi penderita low vision.

Dalam kasus macam ini, untuk bisa bertahan hidup bayi perlu mendapat bantuan oksigen. Celakanya pada saat bersamaan, mata anak belum siap menerima oksigen terlalu banyak. Bila tiba-tiba "digerojok" oksigen berlebihan, retinanya justru tidak bisa tumbuh lagi (retinopati prematuritas), sehingga bagian penting dari organ penglihatan tersebut menggulung. Itulah salah satu sebab terjadinya low vision pada anak yang dikemukakan dr. Rini Mahendrastari Singgih, spesialis mata anak dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.

Selama ini low vision masih belum menjadi perhatian orang tua. Padahal, gangguan penglihatan ini bisa menyulitkan anak pada masa mendatang bila tidak dicegah atau ditangani secara dini. Jumlah penderitanya pun tidak diketahui dengan pasti. Namun, dari sekitar 1.200 pasien yang ditangani dr. Rini setiap bulan di RS Siloam Gleneagles, ada sekitar 25 di antaranya menderita low vision. Jelas, ini belum merupakan potret menyeluruh, karena pasien rumah sakit tersebut hanya mewakili lapisan masyarakat tertentu.

"Kalau dimasukkan dari kalangan menengah ke bawah, mungkin dalam setiap 1.000 anak ada 100 anak yang menderita low vision. Kebanyakan disebabkan oleh malnutrisi," ungkap dr. Rini. Sementara, hasil penelitian di Jakarta Selatan menunjukkan bahwa 50% siswa Sekolah Luar Biasa-A ternyata menderita low vision. Untung fungsi penglihatan sebagian besar dari mereka masih dapat ditingkatkan dengan alat bantu penglihatan.

Lebih celaka lagi, di Indonesia saat ini cuma RS Siloam Gleneagles yang melakukan pelatihan untuk pasien low vision. "Jadi, bagaimana kita bisa menjangkau pasien di Sorong atau Palangkaraya misalnya?" Yayasan yang membantu anak penderita low vision pun cuma satu-dua. Salah satunya adalah The Inverso Baglivo Foundation (The I.B. Foundation).

Akibat kerusakan jaringan mata atau otak

Low vison adalah daya tajam penglihatan yang sangat rendah, lebih rendah dari 1/300 daya tajam penglihatan normal. "Artinya dia cuma bisa melihat hand movement," jelas dr. Rini. Definisi WHO menyebutkan, jika kacamata biasa atau lensa kontak tidak dapat mengembalikan ketajaman penglihatan seseorang ke keadaan normal, berarti ada kerusakan pada sistem penglihatannya, orang tersebut dikatakan menderita low vision. Tajam penglihatannya setelah koreksi refraktif >3/60 - <3/10 dan lapang penglihatannya < 10o. Jelaslah low vision berbeda dengan buta. Penderitanya cuma kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki penglihatan sisa yang dapat ditingkatkan bila difungsikan dengan benar.

Menurut The I.B. Foundation, semakin tinggi usianya, ciri-ciri anak yang menderita low vision akan semakin nyata. Misalnya, setiap membaca atau menulis, jarak mata terlalu dekat, hanya dapat membaca huruf ukuran besar, di tengah matanya terlihat putih (katarak) atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut, mata tidak terlihat menatap lurus ke depan, sering memicingkan atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat mencoba melihat sesuatu. Selain itu, ia mengeluh lebih jelas melihat sesuatu siang hari dibandingkan malam hari.

Kita juga pantas curiga bila ia acapkali mendorong bola mata dengan jari atau buku jari untuk melihat sesuatu serta sering mengeluh pusing dan mual begitu selesai mengerjakan sesuatu dari jarak dekat. Tanda lainnya, ia pernah mengalami operasi mata dan memakai kacamata sangat tebal, tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas.

Selain penanganan bayi prematur yang tidak komprehensif di atas, banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seorang anak menjadi penderita low vision. Dr. Rini menyebutkan faktor pertama adalah kerusakan jaringan mata. "Yang paling sedih bila retinanya yang rusak." Penentu terbesar kedua, gangguan jaringan otak, tempat gambar "dicetak".

Faktor genetik pun bisa menyebabkan seorang anak menderita low vision. Retinitis pigmentosa (hilangnya respons retina secara progresif, atrofi retina, melemahnya pembuluh-pembuluh retina, dan gumpalan pigmen, dengan penyempitan lapang pandang) misalnya, bisa pula menyebabkan seorang anak yang tadinya berpenglihatan normal menjadi penderita low vision. Kongenital glaukoma (glaukoma sejak lahir) juga bisa menjadi penyebab low vision.

Selain itu, penyakit diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, juga bisa menggiring seorang anak menjadi penderita low vision. "Yang lebih mengenaskan adalah penderita dengan faktor demikian," ujar dokter yang juga aktif di The I.B. Foundation ini.

Khusus pada kalangan bawah, low vision banyak terjadi akibat malnutrisi. Karena kurangnya makanan bergizi pada saat anak dalam kandungan atau saat sudah dilahirkan, kornea mata si anak menjadi kering sehingga penglihatannya pun terganggu. Jangan dilupakan pula infeksi TORCH (kuman Toxoplasma, Rubella, Cyto Megalo Virus, Herpes) pada ibu hamil, yang juga membuka peluang terjadinya low vision pada anak yang dikandungnya.

Dengan latihan dan alat bantu

Dibandingkan dengan low vision yang disebabkan oleh berbagai faktor tadi, low vision akibat malnutrisi masih memiliki peluang sembuh. "Kalau belum terlalu jauh, dia bisa ditolong. Dia (bisa) tidak lagi menjadi penderita low vision tapi tetap dengan penglihatan terbatas.... Dia bisa kita bantu dengan alat bantu penglihatan seperti kacamata," tutur dr. Rini.

Tak hanya itu, penderita low vision akibat kerusakan jaringan otak pun masih punya harapan. "Kalau kelainan otaknya masih bisa diperbaiki secara medik, penderita low vision juga masih bisa ditolong."

Low vision akibat katarak bawaan, dengan ciri-ciri tampak bintik putih pada bola mata yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh, dapat ditanggulangi dengan jalan operasi disertai pemasangan lensa mata buatan. Namun kerusakan retina (retinitis pigmentosa) yang menyebabkan hilangnya penglihatan tepi secara terus menerus dan glaukoma (kerusakan saraf penglihatan akibat perubahan tekanan dalam bola mata) termasuk kelainan yang cukup sulit diobati. "Namun bila datang (ke dokter) tidak terlambat masih bisa tertolong," kata dr. Rini. Pengobatan glaukoma bisa dengan melakukan bedah mikro untuk membuat lubang agar tekanan bola mata menurun.

Tentunya tingkat keberhasilan penanganan low vision sangat tergantung faktor penyebabnya dan kapan awal suatu treatment diberikan. "Makin dini makin baik," tegas dr. Rini. Persentase perbaikan yang bisa dicapai juga tergantung kedinian tadi.

Treatment yang diberikan bila low vision akibat malnutrisi tentu dengan terapi nutrisi dan latihan melihat. Pada low vision bukan karena malnutrisi, terapi nutrisi tidak dijadikan fokus perhatian. Namun, apa pun penyebabnya, penderita low vision akan mendapat latihan melihat.

"Untuk melihat kembali, mata tidak sekadar diberi kacamata, tapi dia harus tahu apa sih melihat itu. Latihan itu bisa pasif, bisa pula aktif. Latihan pasif menggunakan tetes mata yang bekerja membangunkan daya tajam penglihatan. Misalnya, salah satu mata terlalu pintar melihat dan yang lainnya bodoh, mata yang pintar diberi tetes mata yang bisa menghambat kepintarannya, sehingga mata yang bodoh bisa berkembang menjadi lebih pintar."

Latihan aktif, menggunakan alat yang bisa memicu pusat-pusat (saraf) ** mata dengan baik bila semua organ matanya bekerja dengan baik. Alat tersebut juga ada tingkatannya, dari grade I, II, III, sampai pada tingkat anak itu total dapat menjangkau tajam penglihatan atau akhir dari suatu proses belajar. Proses belajar melihat diawali dari cuma bisa melihat bayangan (masing-masing mata sendiri hingga kedua mata bisa berkoordinasi), melihat pada jarak tertentu, melihat tata ruang penglihatan (tiga dimensi).

Bila organ matanya yang terserang, misalnya oleh TORCH, dan hanya punya sedikit zona mata yang bisa dipakai, diperlukan alat bantu khusus. Misalnya, teleskop, kaca mata kaca pembesar dengan pencahayaan. "Hanya saja, alat-alat ini sangat terbatas penggunaannya. Misalnya, kaca pembesar, tidak bisa digunakan untuk jalan karena lapang pandangnya kecil."

Kapan waspada

Dalam perkembangan anak, proses belajar melihat, yang terpenting pada usia 0 – 2 tahun, di mana mata anak harus sempurna, terang, semua cahaya diterima oleh retina lalu dijabarkan dan direspons kembali oleh otak, terbaca apa yang dilihat. "Kalau ini terhambat, cahaya yang ditangkap remang-remang, bagaimana retina bisa tumbuh. Bagaimana otak merespons, mengetahui saja tidak."

Untuk mengetahui daya penglihatan seorang anak dan mencegah low vision menjadi parah, bayi yang baru berusia tiga hari dianjurkan sudah mulai diperiksa matanya. Apalagi, kalau salah satu orang tuanya sejak muda merupakan pengguna alat bantu penglihatan, kacamata misalnya. Juga bila saat dalam kandungan ibunya terkena masalah, misalnya minum obat, sakit, muntah-muntah, bobot badan ibunya tidak meningkat banyak atau malah kebanyakan, lahir terlalu cepat atau terlalu lambat.

Bila anak dilahirkan prematur, perawatan menjadi faktor penting. "Sekarang kita harus pilih, apakah kita ingin bayi itu hidup tapi penglihatannya terganggu, atau memilih win-win solution. Kalau pilihan kedua yang diambil, perlu adanya suatu tim dokter, misalnya terdiri atas dokter anak, dokter paru-paru, dokter mata. Orang tua pun juga harus dilibatkan," tegas dr. Rini.

Kita pun, terutama seorang ibu, bisa melakukannya pemeriksaan mata anak secara sederhana. Kalau bola matanya saja terlihat tidak normal, itu harus segera dicurigai dari sejak lahir. Paling mudah dengan menggunakan senter.

"Begitu disenter, anak harus mengejap. Kalau mengejap berarti OK. Seminggu kemudian kita senter lagi. Mata coba dibuka, ada bayangan aneh tidak. Bila ada katarak, di mata akan terlihat bintik kecil putih di mata. Kalau itu terlihat, cepat periksakan. Bintik itu bisa juga pertanda adanya kanker, retino blastoma."

Mata anak yang selalu berair juga perlu segera mendapatkan pertolongan. Paling tidak mendapatkan nasihat dari dokter. "Mereka yang datang dini itu yang terpenting mendapat nasihat. Anak itu harus segera diketahui kondisi matanya. Kami yang mengukur," jelas dr. Rini. Menurut dia, 80% bayi ukurannya adalah antara +2 dan +4. Bila saat bayi matanya terlihat sudah mau minus, dinasihatkan agar bayi tidak tidur di ruangan terlalu terang, supaya tidak distimulasi menjadi lebih minus. Sebaliknya bila plus-nya 8, anak ini pasti akan juling. "Jangan diberi mainan yang digantung di dekat hidung. Jadi yang terpenting nasihatnya. Itu tugas seorang dokter."

Pemeriksaan itu tidak harus dilakukan dokter mata anak. Dokter mata pada umumnya pun bisa melakukannya. "Tinggal mau enggaknya saja." Bahkan, dokter di Puskesmas pun bisa.

Sementara, pemeriksaan mata penderita low vision harus pula dilakukan secara teratur. "Sebab, low vision bisa stabil, bisa pula tiba-tiba menjadi buta sama sekali. Hilanglah apa yang ia punyai. Jadi me-maintain apa yang ia punya sangat diperlukan. Disarankan pemeriksaan itu 3 – 5 bulan sekali, tergantung jenis low vision-nya."

Bila ada faktor genetik dalam hal gangguan penglihatan, orang tua tak perlu panik dengan memberikan "terapi nutrisi", misalnya dengan memberi wortel, secara berlebihan. "Salah bila mempunyai anggapan bahwa hanya wortel yang dapat menunjang kesehatan mata," kata dr. Rini. "Sayuran dan buah-buahan lain pun sama baiknya. Malah kalau anak terlalu banyak makan wortel bisa mengganggu organ lain, misalnya hati."

Penderita low vision pun masih bisa sekolah di sekolah biasa, asal derajat low vision-nya tidak terlalu berat. "Ini memerlukan kerjasama dengan guru. Misalnya, anak yang menderila low vision ditempatkan lebih depan. Dia diberi fotokopi atau pelatihan di bangku, bukan lihat papan tulis." Tapi ini semua memerlukan dukungan sistem yang memadai. Perlu kerjasama yang baik antara orang tua, guru (sistem pendidikan di sekolah), dan dokter mata." (Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej