|
|
Bulan Juli 2001 Terapi |
|
LOW VISION, KALAU KACAMATA PUN TAK MEMBANTU Bila terlambat ditangani, anak penderita low vision akan kehilangan penglihatannya. Sebaliknya, bila segera ditangani, yang berpotensi menjadi penderita bisa selamat. Yang sudah menjadi penderita pun, sisa-sisa daya tajam penglihatannya bisa dipertahankan.
Hati-hati menangani bayi prematur. Itulah
nasihat yang harus diingat ketika anak kita lahir prematur. Ia sepatutnya
mendapatkan penanganan oleh suatu tim dokter. Bukan cuma dokter anak, tetapi
juga dokter paru-paru dan dokter mata, misalnya. Berkaitan dengan mata,
tanpa penanganan komprehensif, bayi yang lahir lebih dini bisa saja akan
menjadi penderita low vision.
Dalam kasus macam ini, untuk bisa bertahan hidup bayi perlu mendapat bantuan
oksigen. Celakanya pada saat bersamaan, mata anak belum siap menerima
oksigen terlalu banyak. Bila tiba-tiba "digerojok" oksigen
berlebihan, retinanya justru tidak bisa tumbuh lagi (retinopati
prematuritas), sehingga bagian penting dari organ penglihatan tersebut
menggulung. Itulah salah satu sebab terjadinya low vision pada anak
yang dikemukakan dr. Rini Mahendrastari Singgih, spesialis mata anak dari RS
Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.
Selama ini low vision masih belum menjadi perhatian orang tua.
Padahal, gangguan penglihatan ini bisa menyulitkan anak pada masa mendatang
bila tidak dicegah atau ditangani secara dini. Jumlah penderitanya pun tidak
diketahui dengan pasti. Namun, dari sekitar 1.200 pasien yang ditangani dr.
Rini setiap bulan di RS Siloam Gleneagles, ada sekitar 25 di antaranya
menderita low vision. Jelas, ini belum merupakan potret menyeluruh,
karena pasien rumah sakit tersebut hanya mewakili lapisan masyarakat
tertentu.
"Kalau dimasukkan dari kalangan menengah ke bawah, mungkin dalam setiap
1.000 anak ada 100 anak yang menderita low vision. Kebanyakan
disebabkan oleh malnutrisi," ungkap dr. Rini. Sementara, hasil
penelitian di Jakarta Selatan menunjukkan bahwa 50% siswa Sekolah Luar
Biasa-A ternyata menderita low vision. Untung fungsi penglihatan
sebagian besar dari mereka masih dapat ditingkatkan dengan alat bantu
penglihatan.
Lebih celaka lagi, di Indonesia saat ini cuma RS Siloam Gleneagles yang
melakukan pelatihan untuk pasien low vision. "Jadi, bagaimana
kita bisa menjangkau pasien di Sorong atau Palangkaraya misalnya?"
Yayasan yang membantu anak penderita low vision pun cuma satu-dua.
Salah satunya adalah The Inverso Baglivo Foundation (The I.B. Foundation).
Akibat kerusakan jaringan mata atau otak
Low vison adalah daya tajam penglihatan yang sangat rendah, lebih
rendah dari 1/300 daya tajam penglihatan normal. "Artinya dia cuma bisa
melihat hand movement," jelas dr. Rini. Definisi WHO
menyebutkan, jika kacamata biasa atau lensa kontak tidak dapat mengembalikan
ketajaman penglihatan seseorang ke keadaan normal, berarti ada kerusakan
pada sistem penglihatannya, orang tersebut dikatakan menderita low vision.
Tajam penglihatannya setelah koreksi refraktif >3/60 - <3/10
dan lapang penglihatannya < 10o. Jelaslah low vision
berbeda dengan buta. Penderitanya cuma kehilangan sebagian penglihatannya
dan masih memiliki penglihatan sisa yang dapat ditingkatkan bila difungsikan
dengan benar.
Menurut The I.B. Foundation, semakin tinggi usianya, ciri-ciri anak yang
menderita low vision akan semakin nyata. Misalnya, setiap membaca
atau menulis, jarak mata terlalu dekat, hanya dapat membaca huruf ukuran
besar, di tengah matanya terlihat putih (katarak) atau kornea (bagian bening
di depan mata) terlihat berkabut, mata tidak terlihat menatap lurus ke
depan, sering memicingkan atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang
atau saat mencoba melihat sesuatu. Selain itu, ia mengeluh lebih jelas
melihat sesuatu siang hari dibandingkan malam hari.
Kita juga pantas curiga bila ia acapkali mendorong bola mata dengan jari
atau buku jari untuk melihat sesuatu serta sering mengeluh pusing dan mual
begitu selesai mengerjakan sesuatu dari jarak dekat. Tanda lainnya, ia
pernah mengalami operasi mata dan memakai kacamata sangat tebal, tetapi
masih tidak dapat melihat dengan jelas.
Selain penanganan bayi prematur yang tidak komprehensif di atas, banyak
faktor lain yang bisa menyebabkan seorang anak menjadi penderita low
vision. Dr. Rini menyebutkan faktor pertama adalah kerusakan jaringan
mata. "Yang paling sedih bila retinanya yang rusak." Penentu
terbesar kedua, gangguan jaringan otak, tempat gambar "dicetak".
Faktor genetik pun bisa menyebabkan seorang anak menderita low vision.
Retinitis pigmentosa (hilangnya respons retina secara progresif, atrofi
retina, melemahnya pembuluh-pembuluh retina, dan gumpalan pigmen, dengan
penyempitan lapang pandang) misalnya, bisa pula menyebabkan seorang anak
yang tadinya berpenglihatan normal menjadi penderita low vision.
Kongenital glaukoma (glaukoma sejak lahir) juga bisa menjadi penyebab low
vision.
Selain itu, penyakit diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, juga bisa
menggiring seorang anak menjadi penderita low vision. "Yang
lebih mengenaskan adalah penderita dengan faktor demikian," ujar dokter
yang juga aktif di The I.B. Foundation ini.
Khusus pada kalangan bawah, low vision banyak terjadi akibat
malnutrisi. Karena kurangnya makanan bergizi pada saat anak dalam kandungan
atau saat sudah dilahirkan, kornea mata si anak menjadi kering sehingga
penglihatannya pun terganggu. Jangan dilupakan pula infeksi TORCH (kuman
Toxoplasma, Rubella, Cyto Megalo Virus, Herpes) pada ibu hamil, yang juga
membuka peluang terjadinya low vision pada anak yang dikandungnya.
Dengan latihan dan alat bantu
Dibandingkan dengan low vision yang disebabkan oleh berbagai faktor
tadi, low vision akibat malnutrisi masih memiliki peluang sembuh.
"Kalau belum terlalu jauh, dia bisa ditolong. Dia (bisa) tidak lagi
menjadi penderita low vision tapi tetap dengan penglihatan
terbatas.... Dia bisa kita bantu dengan alat bantu penglihatan seperti
kacamata," tutur dr. Rini.
Tak hanya itu, penderita low vision akibat kerusakan jaringan otak
pun masih punya harapan. "Kalau kelainan otaknya masih bisa diperbaiki
secara medik, penderita low vision juga masih bisa ditolong."
Low vision akibat katarak bawaan, dengan ciri-ciri tampak bintik
putih pada bola mata yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh, dapat
ditanggulangi dengan jalan operasi disertai pemasangan lensa mata buatan.
Namun kerusakan retina (retinitis pigmentosa) yang menyebabkan hilangnya
penglihatan tepi secara terus menerus dan glaukoma (kerusakan saraf
penglihatan akibat perubahan tekanan dalam bola mata) termasuk kelainan yang
cukup sulit diobati. "Namun bila datang (ke dokter) tidak terlambat
masih bisa tertolong," kata dr. Rini. Pengobatan glaukoma bisa dengan
melakukan bedah mikro untuk membuat lubang agar tekanan bola mata menurun.
Tentunya tingkat keberhasilan penanganan low vision sangat tergantung
faktor penyebabnya dan kapan awal suatu treatment diberikan.
"Makin dini makin baik," tegas dr. Rini. Persentase perbaikan yang
bisa dicapai juga tergantung kedinian tadi.
Treatment yang diberikan bila low vision akibat malnutrisi
tentu dengan terapi nutrisi dan latihan melihat. Pada low vision
bukan karena malnutrisi, terapi nutrisi tidak dijadikan fokus perhatian.
Namun, apa pun penyebabnya, penderita low vision akan mendapat
latihan melihat.
"Untuk melihat kembali, mata tidak sekadar diberi kacamata, tapi dia
harus tahu apa sih melihat itu. Latihan itu bisa pasif, bisa pula aktif.
Latihan pasif menggunakan tetes mata yang bekerja membangunkan daya tajam
penglihatan. Misalnya, salah satu mata terlalu pintar melihat dan yang
lainnya bodoh, mata yang pintar diberi tetes mata yang bisa menghambat
kepintarannya, sehingga mata yang bodoh bisa berkembang menjadi lebih
pintar."
Latihan aktif, menggunakan alat yang bisa memicu pusat-pusat (saraf) ** mata
dengan baik bila semua organ matanya bekerja dengan baik. Alat tersebut juga
ada tingkatannya, dari grade I, II, III, sampai pada tingkat anak itu
total dapat menjangkau tajam penglihatan atau akhir dari suatu proses
belajar. Proses belajar melihat diawali dari cuma bisa melihat bayangan
(masing-masing mata sendiri hingga kedua mata bisa berkoordinasi), melihat
pada jarak tertentu, melihat tata ruang penglihatan (tiga dimensi).
Bila organ matanya yang terserang, misalnya oleh TORCH, dan hanya punya
sedikit zona mata yang bisa dipakai, diperlukan alat bantu khusus. Misalnya,
teleskop, kaca mata kaca pembesar dengan pencahayaan. "Hanya saja,
alat-alat ini sangat terbatas penggunaannya. Misalnya, kaca pembesar, tidak
bisa digunakan untuk jalan karena lapang pandangnya kecil."
Kapan waspada
Dalam perkembangan anak, proses belajar melihat, yang terpenting pada usia 0
– 2 tahun, di mana mata anak harus sempurna, terang, semua cahaya diterima
oleh retina lalu dijabarkan dan direspons kembali oleh otak, terbaca apa
yang dilihat. "Kalau ini terhambat, cahaya yang ditangkap
remang-remang, bagaimana retina bisa tumbuh. Bagaimana otak merespons,
mengetahui saja tidak."
Untuk mengetahui daya penglihatan seorang anak dan mencegah low vision
menjadi parah, bayi yang baru berusia tiga hari dianjurkan sudah mulai
diperiksa matanya. Apalagi, kalau salah satu orang tuanya sejak muda
merupakan pengguna alat bantu penglihatan, kacamata misalnya. Juga bila saat
dalam kandungan ibunya terkena masalah, misalnya minum obat, sakit,
muntah-muntah, bobot badan ibunya tidak meningkat banyak atau malah
kebanyakan, lahir terlalu cepat atau terlalu lambat.
Bila anak dilahirkan prematur, perawatan menjadi faktor penting.
"Sekarang kita harus pilih, apakah kita ingin bayi itu hidup tapi
penglihatannya terganggu, atau memilih win-win solution. Kalau
pilihan kedua yang diambil, perlu adanya suatu tim dokter, misalnya terdiri
atas dokter anak, dokter paru-paru, dokter mata. Orang tua pun juga harus
dilibatkan," tegas dr. Rini.
Kita pun, terutama seorang ibu, bisa melakukannya pemeriksaan mata anak
secara sederhana. Kalau bola matanya saja terlihat tidak normal, itu harus
segera dicurigai dari sejak lahir. Paling mudah dengan menggunakan senter.
"Begitu disenter, anak harus mengejap. Kalau mengejap berarti OK.
Seminggu kemudian kita senter lagi. Mata coba dibuka, ada bayangan aneh
tidak. Bila ada katarak, di mata akan terlihat bintik kecil putih di mata.
Kalau itu terlihat, cepat periksakan. Bintik itu bisa juga pertanda adanya
kanker, retino blastoma."
Mata anak yang selalu berair juga perlu segera mendapatkan pertolongan.
Paling tidak mendapatkan nasihat dari dokter. "Mereka yang datang dini
itu yang terpenting mendapat nasihat. Anak itu harus segera diketahui
kondisi matanya. Kami yang mengukur," jelas dr. Rini. Menurut dia, 80%
bayi ukurannya adalah antara +2 dan +4. Bila saat bayi matanya terlihat
sudah mau minus, dinasihatkan agar bayi tidak tidur di ruangan terlalu
terang, supaya tidak distimulasi menjadi lebih minus. Sebaliknya bila
plus-nya 8, anak ini pasti akan juling. "Jangan diberi mainan yang
digantung di dekat hidung. Jadi yang terpenting nasihatnya. Itu tugas
seorang dokter."
Pemeriksaan itu tidak harus dilakukan dokter mata anak. Dokter mata pada
umumnya pun bisa melakukannya. "Tinggal mau enggaknya saja."
Bahkan, dokter di Puskesmas pun bisa.
Sementara, pemeriksaan mata penderita low vision harus pula dilakukan
secara teratur. "Sebab, low vision bisa stabil, bisa pula
tiba-tiba menjadi buta sama sekali. Hilanglah apa yang ia punyai. Jadi me-maintain
apa yang ia punya sangat diperlukan. Disarankan pemeriksaan itu 3 – 5
bulan sekali, tergantung jenis low vision-nya."
Bila ada faktor genetik dalam hal gangguan penglihatan, orang tua tak perlu
panik dengan memberikan "terapi nutrisi", misalnya dengan memberi
wortel, secara berlebihan. "Salah bila mempunyai anggapan bahwa hanya
wortel yang dapat menunjang kesehatan mata," kata dr. Rini.
"Sayuran dan buah-buahan lain pun sama baiknya. Malah kalau anak
terlalu banyak makan wortel bisa mengganggu organ lain, misalnya hati."
Penderita low vision pun masih bisa sekolah di sekolah biasa, asal
derajat low vision-nya tidak terlalu berat. "Ini memerlukan
kerjasama dengan guru. Misalnya, anak yang menderila low vision
ditempatkan lebih depan. Dia diberi fotokopi atau pelatihan di bangku, bukan
lihat papan tulis." Tapi ini semua memerlukan dukungan sistem yang
memadai. Perlu kerjasama yang baik antara orang tua, guru (sistem pendidikan
di sekolah), dan dokter mata." (Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana) |
|||||