|
|
Bulan Juli 2001
|
|
Fajar Stupa Hening
Nun di sana, di gunung itu, Merapi sibuk bergulat terbatuk-batuk, ada gangguan yang menggerogoti tubuh tuanya. Seolah nyala geramnya menyebar ke tiap sudut pelosok di kakinya. Menebar seram, mencengkeram nyali, maka tak lagi ada yang berani tegar menantang Merapi. Namun di sini, di candi ini, Borobudur, senyap bergeming. Pagi masih gelap. Lembut usapan semilir angin mengiring pendar "warna-warna sesaat" dari ufuk timur. Sinar pagi tak seketika menampilkan ujud sang surya. Tinggal di bumi yang sama, di tanah yang sama. Tapi itulah harmoni. Ada merah ada putih, ada takut ada berani, ada gemuruh ada sunyi. Ada Merapi yang murka, ada Borobudur yang tenang. Stupa sang Buddha tegak terpaku di tempatnya. Para arca tetap kukuh bersila tanpa suara. Sayup-sayup angin mengusik, membangkitkan kesadaran. Dituntun sinar samar yang terangnya membawa diri ingin mengusap awan kabut yang merambat pelahan di pepohonan sekitaran dataran rendah. Pelahan sang surya bergulir. Keras sinarnya menampar di belah kanan arca amoghasidhi. Kemilau sinarnya memandikan, menyusuri, dan menelisik segenap dimensi Borobudur. Alur, tekstur, dan pori-pori batuan pun makin lantang berteriak. Sang kala berlalu. Tanah mulai terang, insan manusia mengadu untung. Tangan-tangan berbeda masa terulur menyalurkan hasrat mencapai arca bimo di stupa tingkat arupadhatu. Candi Borobudur, secara keseluruhan memang sebuah stupa. Stupa merupakan salah satu bangunan tanda peringatan khusus agama Buddha. Dalam bahasa Sanskerta, stupa berarti gundukan atau timbunan tanah. Ucap legenda, sebelum meninggal dunia, sang Buddha ditanya oleh para muridnya, apakah yang dapat dilakukan terhadap tubuhnya setelah ia meninggal nanti. Dia menyuruh para muridnya untuk membakar tubuhnya, kemudian abunya ditutup dengan stupa. Untuk menunjukkan bagaimana membangun stupa, sang Buddha melipat jubahnya, kemudian di atasnya diletakkan mangkuk terbalik yang berbentuk kerucut. Di atas mangkuk terbalik itu diletakkan tongkatnya secara tegak (Borobudur, Pawon dan Mendut, Kanisius 1993). Memang, itulah unsur-unsur dasar stupa: dasar (prasadha), belahan bola (dagob), dan puncak (yati). Bagaimanapun Borobudur tetap mampu mengusik, membangkitkan kesadaran, bahwa ada alam sebelum yang sekarang ada. Alam dan warisannya yang patut dilestarikan. (Teks dan foto: Sabar Basuki) |
|||||||||||||||