globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juli 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Fajar Stupa Hening

Pagi ini arca amoghasidhi kembali menyaksikan munculnya matahari.
Arca bimo atau kunto bimo atau werkudoro, duduk bersila dengan sikap tangan dharmacakramudra. Ini isyarat pergerakan roda dharma (ajaran), yaitu sikap tangan yang sedang menggerakkan sebuah roda dharma, menggambarkan waktu sang Buddha pertama kali memberikan kotbah.
Candi Borobudur yang oleh UNESCO dinyatakan sebagai World Heritage Monument (monumen cagar budaya dunia) ini terletak di Desa Borobudur, Kelurahan Borobudur, Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah.
Poerbatjaraka, anak bangsa ahli bahasa Jawa kuno mengatakan, Borobudur berasal dari kata "biara" (kuil atau tempat suci) dan "bidur" (tempat yang tinggi). Berpatokan dari kedua kata itu, Borobudur adalah kuil di tempat tinggi. Kenyataannya candi ini ada di ketinggian 265 m dpl.
Percaya boleh, tidak percaya lebih aman. Pada tingkat arupadhatu di sisi timur sebelah kanan tangga naik ada stupa yang dipercaya masyarakat sekitar akan memberikan berkah jika kita berhasil menyentuh arca bimo yang ada di dalamnya. Celakanya, konon, kegagalan siap mengadang bila kita tidak berhasil menggapainya.

Nun di sana, di gunung itu, Merapi sibuk bergulat terbatuk-batuk, ada gangguan yang menggerogoti tubuh tuanya. Seolah nyala geramnya menyebar ke tiap sudut pelosok di kakinya. Menebar seram, mencengkeram nyali, maka tak lagi ada yang berani tegar menantang Merapi.

Namun di sini, di candi ini, Borobudur, senyap bergeming. Pagi masih gelap. Lembut usapan semilir angin mengiring pendar "warna-warna sesaat" dari ufuk timur. Sinar pagi tak seketika menampilkan ujud sang surya.

Tinggal di bumi yang sama, di tanah yang sama. Tapi itulah harmoni. Ada merah ada putih, ada takut ada berani, ada gemuruh ada sunyi. Ada Merapi yang murka, ada Borobudur yang tenang.

Stupa sang Buddha tegak terpaku di tempatnya. Para arca tetap kukuh bersila tanpa suara. Sayup-sayup angin mengusik, membangkitkan kesadaran. Dituntun sinar samar yang terangnya membawa diri ingin mengusap awan kabut yang merambat pelahan di pepohonan sekitaran dataran rendah.

Pelahan sang surya bergulir. Keras sinarnya menampar di belah kanan arca amoghasidhi. Kemilau sinarnya memandikan, menyusuri, dan menelisik segenap dimensi Borobudur. Alur, tekstur, dan pori-pori batuan pun makin lantang berteriak.

Sang kala berlalu. Tanah mulai terang, insan manusia mengadu untung. Tangan-tangan berbeda masa terulur menyalurkan hasrat mencapai arca bimo di stupa tingkat arupadhatu.

Candi Borobudur, secara keseluruhan memang sebuah stupa. Stupa merupakan salah satu bangunan tanda peringatan khusus agama Buddha. Dalam bahasa Sanskerta, stupa berarti gundukan atau timbunan tanah.

Ucap legenda, sebelum meninggal dunia, sang Buddha ditanya oleh para muridnya, apakah yang dapat dilakukan terhadap tubuhnya setelah ia meninggal nanti. Dia menyuruh para muridnya untuk membakar tubuhnya, kemudian abunya ditutup dengan stupa. Untuk menunjukkan bagaimana membangun stupa, sang Buddha melipat jubahnya, kemudian di atasnya diletakkan mangkuk terbalik yang berbentuk kerucut. Di atas mangkuk terbalik itu diletakkan tongkatnya secara tegak (Borobudur, Pawon dan Mendut, Kanisius 1993).

Memang, itulah unsur-unsur dasar stupa: dasar (prasadha), belahan bola (dagob), dan puncak (yati). Bagaimanapun Borobudur tetap mampu mengusik, membangkitkan kesadaran, bahwa ada alam sebelum yang sekarang ada. Alam dan warisannya yang patut dilestarikan. (Teks dan foto: Sabar Basuki)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej