|
|
Bulan Juli 2001
|
|
INSTRUKTUR KEBUGARAN: MODALNYA KREATIF Menjadi instruktur aerobik tak cuma mengajar berjingkrak mencari keringat. Konon, di lahan profesi ini, hanya mereka yang kreatif dan rajin menelurkan ide-ide baru yang mampu bertahan.
Kebetulan bisa mendatangkan kemujuran.
Penggambaran ini pas buat Fahmy Fachrezzy (37), instruktur kebugaran kondang
yang kerap nongol membawakan acara "Prima Raga" di sebuah stasiun
TV swasta.
Ia sebenarnya sudah cukup puas meniti karier sebagai dosen di Fakultas
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri
Jakarta). Sampai suatu ketika seorang rekan menawarinya mengajar senam di
sebuah kantor di Jakarta. Dengan niat coba-coba, Fahmy pun mengyakannya.
Kapok? Ternyata tidak. Ia malah menikmati dan tertantang menerapkan berbagai
teori dan praktik olahraga yang didapat di bangku kuliah.
Pengalaman itu mengantarkannya ke dunia aerobik. Untungnya, bidang ini masih
dekat dengan olahraga kegemarannya, taekwondo, atletik, dan sepak bola.
Memang, lajang berkulit gelap itu pernah mewakili kontingen PON DKI Jaya
untuk cabang taekwondo. Belakangan terbukti, aneka jenis olahraga itu
membentuk karakternya. Ia mudah saja memasukkan jurus silat atau taekwondo
dalam latihan aerobik.
Dengan latar belakang pendidikan olahraga di perguruan tinggi, Fahmy paham
betul cara membuat variasi gerakan yang berguna. Berbagai alat bantu
sederhana tak pantang ia pakai, semisal panci dan ember. Masalah muncul bila
ia harus mengakomodasikan beragam kelompok umur dalam satu paket latihan.
Maka, ia mencoba-coba 2 - 3 kali pertemuan sebelum menemukan program yang
pas.
Meramu musik sendiri
Tak disangka, pekerjaan sampingan itu mendatangkan hoki. Fahmy mengaku, itu
tak lepas dari munculnya kegandrungan orang, terutama di kota-kota besar,
untuk berolahraga aerobik.
Secara harfiah aktivitas badan berarti olahraga yang menggunakan oksigen
dalam jangka waktu relatif lama. Dalam praktiknya, aerobik dilakukan dengan
bergerak tanpa henti sambil menggoyang-goyang badan, tangan, dan kaki
diiringi musik.
Musik! Menurut Fahmi, mutlak ada sebagai hiburan. Manfaatnya? Semangat
peserta bisa dipacu tanpa merasa capek hingga latihan jeda. "Kalau
mengajar di lingkungan yang mayoritas Jawa, saya perdengarkan kaset Sujiwo
Tedjo atau lagu Bengawan Solo. Bersama anak-anak, saya pakai lagu
anak. Orang tua, ya lagu zaman mereka dulu," paparnya.
Musik itu ia ramu dari berbagai kaset di pasaran. Dikumpulkan, dirapikan,
dipotong-potong, baru direkam dalam kaset. "Kaset-kaset di pasaran
sulit dipakai. Yang ada house music melulu," katanya.
Musik dan aerobik rupanya mudah dipadukan. Apalagi gerakan aerobik adalah
aktivitas sederhana yang tidak merepotkan. Kemampuannya memadukan gerakan
dan musik makin terasah saat berkiprah di lingkungan perusahaan Martha
Tilaar. Format pengajaran ia mantapkan sambil mendidik para calon instruktur
sampai 26 angkatan. Agaknya, Fahmy unggul dalam menjadikan aerobik sebagai
olahraga sarat hiburan. Ia tawarkan sesuatu yang tidak membosankan.
Fahmy menabukan gerakan halus, indah, dan kenes. Gerakan demikian umumnya
tidak disukai pria yang ingin tampil macho. "Ini sepele, tapi
bisa jadi ganjalan buat kaum pria," katanya. Ia juga pantang dengan
gerakan semacam orang menari. Bisa jadi gerakan itu sering muncul lantaran
banyak instruktur berasal dari sanggar tari atau mantan penari. Gerak tari
mengesankan senam aerobik hanya untuk kaum hawa. Dari sisi kebugaran gerakan
halus macam itu kecil sumbangannya dalam melatih kebugaran jantung dan
pembakaran lemak.
Dengan jam terbang tinggi sebagai instruktur kebugaran, Fahmy merasa sudah
menemukan format mengajar yang enak, runtut, jelas, dan tepat guna. Kini,
sistematika itu ia pakai dan sebarluaskan bersama para asistennya.
Urung bikin keping cakram
Untuk memasyarakatkan aerobik ia berniat meluncurkan keping cakram (VCD).
Sayang, ide bagusnya terganjal oleh penawaran penyandang dana yang kesannya
cuma mau menonjolkan penampilan cewek-cewek seksi tapi kagok berolah tubuh.
"Cakep boleh-boleh saja, tetapi gerakannya tetap harus lincah,"
ujar Fahmy.
Dari segi bisnis pun cenderung mengabaikan prinsip tawar-menawar yang
sama-sama menguntungkan. "Enggak apa-apa, barangkali itu bukan rezeki
saya," katanya.
Menyinggung soal rezeki, Fahmy berujar pendek, "Alhamdulillah saya bisa
bantu keluarga dan adik-adik." Bursa pendapatan instruktur kebugaran,
menurut Fahmy, sangat bervariasi. Ia ambil contoh, instruktur yang tidak
berlatar pendidikan formal bisa mengantongi honor Rp 50 - 75 ribu per
jamnya. Bila cara mengajarnya lebih bagus, honor otomatis terkatrol Rp 100 -
150 ribu. Honor bakal melambung sejalan kepiawaian mengajar. Seberapa tinggi
melambungnya, Fahmy tak mengungkap.
Lepas dari besar kecilnya pendapatan, instruktur aerobik tetap perlu bekal
memadai. Tidak cukup hanya dengan beberapa kali ikut kursus aerobik dan
mendengarkan kaset lantas berani memproklamasikan diri sebagai instruktur.
Bila demikian, bisa-bisa gerakan-gerakan yang diajarkan malah membahayakan
tubuh. Misalnya, membuat tangan dan kaki keseleo, atau badan cedera.
Sayangnya, menurut Fahmy, instruktur asal-asalan masih banyak dijumpai.
Jadi, ia menganjurkan, calon peserta senam aerobik harus mengamati metode
pengajaran sang instruktur. Dari unsur keamanan, kesehatan, manfaat, dan
kegembiraan bisa dinilai kualitas seorang instruktur.
Wajib tidur siang
Kini pria yang tak suka daging dan ikan itu menjalani hidup yang amat
teratur. Bangun pagi, pergi ke kampus untuk berlatih, atau mengajar sampai
sekitar pukul 11.00. Siangnya pulang ke rumah di kawasan Jakarta Barat untuk
beristirahat dan tidur. Sore hari ia kembali berlatih.
Di sela-sela kegiatan rutin sebagai dosen, Fahmy masih kerap diundang ke
sana kemari sebagai instruktur. Bagi penggemar berat kopi ini undangan itu
terasa menghibur dan tentu menambah tebal koceknya. Sementara pengelola
pusat kebugaran diuntungkan lantaran memberikan variasi latihan bagi para
anggotanya. Untuk acara-acara macam itu Fahmy perlu dikontak sebulan di
muka. "Saya 'kan juga perlu persiapan," katanya.
Menurut Fahmy, pada dasarnya seorang instruktur tidak memerlukan
syarat-syarat khusus. Yang pasti, ia harus suka olahraga. Akan lebih baik
kalau ia gemar musik, seni gerak, dan tahu irama. Sukses tidaknya sangat
tergantung pada kreativitas. Mereka yang kreatif akan cepat menanjak. Tak
kalah penting adalah sifat periang dan semangat untuk terus belajar.
Gendut? "Enggak masalah," kata Fahmy. Bahkan sebagian peserta
aerobik justru lebih percaya diri jika instrukturnya gendut. Mereka merasa
mendapat contoh ideal.
Kendati selalu tampil ceria, Fahmy pernah tersandung pengalaman pahit.
Pernah ada sebuah kantor yang membayarnya lumayan mahal. Ia sudah setengah
mati mempersiapkan lagu yang bagus. Tapi begitu ia tampil, tampak peserta
pria terlihat ogah-ogahan sambil sesekali menyemangati peserta wanita dari
pinggir arena. Fahmy bingung. Ia pun menemui pihak pengundang dan
mengundurkan diri. Ia mengatakan, mereka sebetulnya tidak suka aerobik, jadi
lebih baik dana yang ada dipakai untuk kegiatan olahraga lain yang disukai.
Profesi instruktur pun tak steril dari konflik kerja. Misalnya, instruktur
yang ogah diberi masukan soal cara mengajarnya yang tidak profesional.
Sehingga kemudian timbul kubu-kubu di antara sesama instruktur. "Saya
cuma bisa mengelus dada. Konsumen sudah pandai memilih. Ibarat mau makan
bakso, terserah pembeli mau pilih yang mana," tandas Fahmy.
Menggambar dan menghapal
Dibandingkan dengan Fahmy, Lybertyna Brotosayogyo yang lebih dikenal sebagai
Berty Tilarso sudah lebih awal terjun di kancah kemeriahan aerobik. Sebelum
namanya kondang, lima tahun lamanya Berty bergabung dengan sanggar senam
Namarina. Rupanya, selama itu Ibu Nany Lubis, pengasuhnya, mengamati
bakatnya.
Berty yang mantan atlet nasional ski air dan hoki ini tak pernah absen untuk
ikut lomba. Salah satu prestasinya, menyabet juara I lomba aerobik selama
dua jam nonstop tahun 1980-an. Sejak itu, namanya sering muncul di berbagai
media cetak. "Kebetulan wartawan olahraga banyak yang kenal saya semasa
masih aktif bermain hoki dan ski," katanya.
Melihat kesungguhannya, Nany Lubis menawarinya menjadi instruktur. Ia
menolak. Tapi ia menerima ajakan Nany untuk menggantikannya memimpin
pemanasan. Sejak itu, tak ada lagi toleransi bagi Berty. Ia harus memimpin
senam di kantor-kantor. "You mesti belajar, praktik," kata
Berty menirukan Nany.
Di masa awal itu Berty menggambar dan menghapalkan semua gerakan yang akan
dicontohkan. Gambar itu ia letakkan di atas tape recorder.
Dari sini tampaknya tonggak kesuksesan ditancapkan. Ia mundur dari Namarina,
lalu mendirikan sanggar senam yang dinamai persis tanggal lahirnya, tanggal
6 bulan 7. Tahun 1988 berdiri Studio 67. Sejak itu hokinya menggelinding.
Nama Berty Tilarso berkibar.
Aktivitasnya kontan meningkat. Ia diminta memperagakan senam untuk mengisi
acara Sehat dan Bugar-nya TVRI. Acara itu bertahan sampai 10 tahun.
Kegiatan lainnya, mengisi rubrik kebugaran di Majalah Kartini. Masih
seabreg kesibukannya, misalnya memberikan seminar, workshop, lomba,
dan mengajar di berbagai kota di Tanah Air. "Waktu itu bisa seminggu
tiga kali saya terbang ke Surabaya," katanya.
Kini ia tak sesibuk dulu lagi. "Saya agak milih-milih, bukan
zamannya lagi saya memimpin lomba," kata Berty yang juga instruktur di
sanggar senam milik artis Venna Melinda.
Kini, Berty cuma mau menerima order yang kegiatannya di dalam ruangan
seperti workshop dan seminar yang diisi dengan senam aerobik. Untuk
permintaan luar kota ia hanya melayani di hari Sabtu. Itu pun harus bolos
mengajar di studionya di kawasan Pondok Indah dan Senayan. Untuk acara di
Jakarta ia masih menyanggupi pada hari biasa dengan menyisipkannya di luar
jam mengajar.
Keseriusan menggeluti aerobik ia wujudkan dengan belajar menjadi instruktur
ke Australia dan negara-negara Eropa. Di sana ia memperdalam teori aerobik
dan anatomi tubuh. Ia jadi tahu perkembangan teori aerobik. Misalnya, soal
gerakan yang boleh dilakukan.
Senam kebugaran pasutri
Menurut Berty, latihan aerobik di pelbagai sanggar pada prinsipnya sama.
Meliputi gerakan aerobik untuk membakar kalori, body language, dan
senam lantai yang dikenal dengan pembentukan. Yang membedakan adalah
kreativitas instruktur untuk memasukkan dan memvariasikan berbagai unsur.
"Di tempat saya ada senam salsa, salsa yang dibikin aerobik,"
tandas Berty.
Dengan bekal kreativitas Berty tak pernah henti menelurkan ide-ide baru.
Misalnya, senam body language yang diluncurkan tahun 2000 dan Senam
Kegel tahun 2001. Ia juga rajin melansir pengajaran senam lewat keping
cakram. Tahun 2000 sudah ada enam keping cakram. "Rencananya setiap dua
bulan keluar satu cakram, biar enggak pikun," papar Berty yang energik
itu.
Senam Kegel yang ia lansir, dulu di Indonesia dikenal sebagai senam seks.
Tapi ia merasa kurang sreg dengan sebutan itu. Menurut Berty, senam
seks di sanggar-sanggar senam tak lebih dari memindahkan adegan ranjang ke
dalam sanggar senam. Dengan alasan itu ia memunculkan senam Kegel yang
bertujuan meningkatkan kebugaran untuk menunjang hubungan suami-istri.
Menurut Berty, semua ide ia ambil dari hal-hal yang ada di masyarakat, yang
lantas dikembangkan. Yaitu dengan meningkatkan intensitas latihan sesuai
porsi pembakaran lemak yang diinginkan.
Apa lalu bisa langsung langsing? Berty tak menjanjikan. "Saya bukan
tukang jual obat langsing. Jadi, ikutilah dulu program latihan secara
benar," pesan Berty yang bertinggi 160 cm dengan berat 50 kg itu.
Selain melatih, Berty pun memberi resep menu. Kedua program itu harus
dijalankan secara simultan. Kalau peserta malas datang, sekali sebulan atau
dua kali, target pelangsingan pasti meleset.
Menurut dia, berat badan tidak bisa diturunkan mendadak. Idealnya,
pengurangan berat maksimal 2 kg dalam sebulan. Lebih dari itu justru akan
membahayakan tubuh. Sebaliknya, untuk tujuan menggemukkan, latihan aerobik
sebaiknya dalam porsi ringan, yang justru merangsang nafsu makan. Latihan
itu harus disertai penggunaan beban untuk membentuk otot.
Soal pendapatan, Berty tak gamblang menyebut. Menurut dia, seorang
instruktur senior yang cara mengajarnya benar dan agak terkenal, akan
memiliki penghasilan lumayan. Sedangkan yang tidak terkenal, tapi
mengajarnya bagus, tetap masih bisa hidup. Tapi, soal gaji asistennya, ia
berterus terang, "Tiga juta per bulan."
Puluhan tahun menggeluti dunia aerobik membuat Berty tampil profesional. Ia
tidak ingin pengundangnya kapok. Tapi, ia pun amat berhati-hati agar tidak
dikibuli. "Tergantung siapa yang mengundang, saya sudah menetapkan
honor dan fasilitas yang harus disediakan," tegas Berty. Saat
menandatangani perjanjian, separo honor, juga tiket pulang-pergi, harus
diberikan. Kalau penyelenggara membatalkan acara, honor yang sudah
dibayarkan hilang. Namun, Berty pun kena sanksi bila tidak datang.
Barangkali benar, profesi apa pun harus ditampilkan secara profesional,
kalau mau diperhatikan. Anda setuju? (G. Sujayanto) |
|||||