globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juli 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

INSTRUKTUR KEBUGARAN: MODALNYA KREATIF

Menjadi instruktur aerobik tak cuma mengajar berjingkrak mencari keringat. Konon, di lahan profesi ini, hanya mereka yang kreatif dan rajin menelurkan ide-ide baru yang mampu bertahan.

Kebetulan bisa mendatangkan kemujuran. Penggambaran ini pas buat Fahmy Fachrezzy (37), instruktur kebugaran kondang yang kerap nongol membawakan acara "Prima Raga" di sebuah stasiun TV swasta.

Ia sebenarnya sudah cukup puas meniti karier sebagai dosen di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta). Sampai suatu ketika seorang rekan menawarinya mengajar senam di sebuah kantor di Jakarta. Dengan niat coba-coba, Fahmy pun mengyakannya. Kapok? Ternyata tidak. Ia malah menikmati dan tertantang menerapkan berbagai teori dan praktik olahraga yang didapat di bangku kuliah.

Pengalaman itu mengantarkannya ke dunia aerobik. Untungnya, bidang ini masih dekat dengan olahraga kegemarannya, taekwondo, atletik, dan sepak bola. Memang, lajang berkulit gelap itu pernah mewakili kontingen PON DKI Jaya untuk cabang taekwondo. Belakangan terbukti, aneka jenis olahraga itu membentuk karakternya. Ia mudah saja memasukkan jurus silat atau taekwondo dalam latihan aerobik.

Dengan latar belakang pendidikan olahraga di perguruan tinggi, Fahmy paham betul cara membuat variasi gerakan yang berguna. Berbagai alat bantu sederhana tak pantang ia pakai, semisal panci dan ember. Masalah muncul bila ia harus mengakomodasikan beragam kelompok umur dalam satu paket latihan. Maka, ia mencoba-coba 2 - 3 kali pertemuan sebelum menemukan program yang pas.

Meramu musik sendiri

Tak disangka, pekerjaan sampingan itu mendatangkan hoki. Fahmy mengaku, itu tak lepas dari munculnya kegandrungan orang, terutama di kota-kota besar, untuk berolahraga aerobik.

Secara harfiah aktivitas badan berarti olahraga yang menggunakan oksigen dalam jangka waktu relatif lama. Dalam praktiknya, aerobik dilakukan dengan bergerak tanpa henti sambil menggoyang-goyang badan, tangan, dan kaki diiringi musik.

Musik! Menurut Fahmi, mutlak ada sebagai hiburan. Manfaatnya? Semangat peserta bisa dipacu tanpa merasa capek hingga latihan jeda. "Kalau mengajar di lingkungan yang mayoritas Jawa, saya perdengarkan kaset Sujiwo Tedjo atau lagu Bengawan Solo. Bersama anak-anak, saya pakai lagu anak. Orang tua, ya lagu zaman mereka dulu," paparnya.

Musik itu ia ramu dari berbagai kaset di pasaran. Dikumpulkan, dirapikan, dipotong-potong, baru direkam dalam kaset. "Kaset-kaset di pasaran sulit dipakai. Yang ada house music melulu," katanya.

Musik dan aerobik rupanya mudah dipadukan. Apalagi gerakan aerobik adalah aktivitas sederhana yang tidak merepotkan. Kemampuannya memadukan gerakan dan musik makin terasah saat berkiprah di lingkungan perusahaan Martha Tilaar. Format pengajaran ia mantapkan sambil mendidik para calon instruktur sampai 26 angkatan. Agaknya, Fahmy unggul dalam menjadikan aerobik sebagai olahraga sarat hiburan. Ia tawarkan sesuatu yang tidak membosankan.

Fahmy menabukan gerakan halus, indah, dan kenes. Gerakan demikian umumnya tidak disukai pria yang ingin tampil macho. "Ini sepele, tapi bisa jadi ganjalan buat kaum pria," katanya. Ia juga pantang dengan gerakan semacam orang menari. Bisa jadi gerakan itu sering muncul lantaran banyak instruktur berasal dari sanggar tari atau mantan penari. Gerak tari mengesankan senam aerobik hanya untuk kaum hawa. Dari sisi kebugaran gerakan halus macam itu kecil sumbangannya dalam melatih kebugaran jantung dan pembakaran lemak.

Dengan jam terbang tinggi sebagai instruktur kebugaran, Fahmy merasa sudah menemukan format mengajar yang enak, runtut, jelas, dan tepat guna. Kini, sistematika itu ia pakai dan sebarluaskan bersama para asistennya.

Urung bikin keping cakram

Untuk memasyarakatkan aerobik ia berniat meluncurkan keping cakram (VCD). Sayang, ide bagusnya terganjal oleh penawaran penyandang dana yang kesannya cuma mau menonjolkan penampilan cewek-cewek seksi tapi kagok berolah tubuh. "Cakep boleh-boleh saja, tetapi gerakannya tetap harus lincah," ujar Fahmy.

Dari segi bisnis pun cenderung mengabaikan prinsip tawar-menawar yang sama-sama menguntungkan. "Enggak apa-apa, barangkali itu bukan rezeki saya," katanya.

Menyinggung soal rezeki, Fahmy berujar pendek, "Alhamdulillah saya bisa bantu keluarga dan adik-adik." Bursa pendapatan instruktur kebugaran, menurut Fahmy, sangat bervariasi. Ia ambil contoh, instruktur yang tidak berlatar pendidikan formal bisa mengantongi honor Rp 50 - 75 ribu per jamnya. Bila cara mengajarnya lebih bagus, honor otomatis terkatrol Rp 100 - 150 ribu. Honor bakal melambung sejalan kepiawaian mengajar. Seberapa tinggi melambungnya, Fahmy tak mengungkap.

Lepas dari besar kecilnya pendapatan, instruktur aerobik tetap perlu bekal memadai. Tidak cukup hanya dengan beberapa kali ikut kursus aerobik dan mendengarkan kaset lantas berani memproklamasikan diri sebagai instruktur. Bila demikian, bisa-bisa gerakan-gerakan yang diajarkan malah membahayakan tubuh. Misalnya, membuat tangan dan kaki keseleo, atau badan cedera.

Sayangnya, menurut Fahmy, instruktur asal-asalan masih banyak dijumpai. Jadi, ia menganjurkan, calon peserta senam aerobik harus mengamati metode pengajaran sang instruktur. Dari unsur keamanan, kesehatan, manfaat, dan kegembiraan bisa dinilai kualitas seorang instruktur.

Wajib tidur siang

Kini pria yang tak suka daging dan ikan itu menjalani hidup yang amat teratur. Bangun pagi, pergi ke kampus untuk berlatih, atau mengajar sampai sekitar pukul 11.00. Siangnya pulang ke rumah di kawasan Jakarta Barat untuk beristirahat dan tidur. Sore hari ia kembali berlatih.

Di sela-sela kegiatan rutin sebagai dosen, Fahmy masih kerap diundang ke sana kemari sebagai instruktur. Bagi penggemar berat kopi ini undangan itu terasa menghibur dan tentu menambah tebal koceknya. Sementara pengelola pusat kebugaran diuntungkan lantaran memberikan variasi latihan bagi para anggotanya. Untuk acara-acara macam itu Fahmy perlu dikontak sebulan di muka. "Saya 'kan juga perlu persiapan," katanya.

Menurut Fahmy, pada dasarnya seorang instruktur tidak memerlukan syarat-syarat khusus. Yang pasti, ia harus suka olahraga. Akan lebih baik kalau ia gemar musik, seni gerak, dan tahu irama. Sukses tidaknya sangat tergantung pada kreativitas. Mereka yang kreatif akan cepat menanjak. Tak kalah penting adalah sifat periang dan semangat untuk terus belajar.

Gendut? "Enggak masalah," kata Fahmy. Bahkan sebagian peserta aerobik justru lebih percaya diri jika instrukturnya gendut. Mereka merasa mendapat contoh ideal.

Kendati selalu tampil ceria, Fahmy pernah tersandung pengalaman pahit. Pernah ada sebuah kantor yang membayarnya lumayan mahal. Ia sudah setengah mati mempersiapkan lagu yang bagus. Tapi begitu ia tampil, tampak peserta pria terlihat ogah-ogahan sambil sesekali menyemangati peserta wanita dari pinggir arena. Fahmy bingung. Ia pun menemui pihak pengundang dan mengundurkan diri. Ia mengatakan, mereka sebetulnya tidak suka aerobik, jadi lebih baik dana yang ada dipakai untuk kegiatan olahraga lain yang disukai.

Profesi instruktur pun tak steril dari konflik kerja. Misalnya, instruktur yang ogah diberi masukan soal cara mengajarnya yang tidak profesional. Sehingga kemudian timbul kubu-kubu di antara sesama instruktur. "Saya cuma bisa mengelus dada. Konsumen sudah pandai memilih. Ibarat mau makan bakso, terserah pembeli mau pilih yang mana," tandas Fahmy.

Menggambar dan menghapal

Dibandingkan dengan Fahmy, Lybertyna Brotosayogyo yang lebih dikenal sebagai Berty Tilarso sudah lebih awal terjun di kancah kemeriahan aerobik. Sebelum namanya kondang, lima tahun lamanya Berty bergabung dengan sanggar senam Namarina. Rupanya, selama itu Ibu Nany Lubis, pengasuhnya, mengamati bakatnya.

Berty yang mantan atlet nasional ski air dan hoki ini tak pernah absen untuk ikut lomba. Salah satu prestasinya, menyabet juara I lomba aerobik selama dua jam nonstop tahun 1980-an. Sejak itu, namanya sering muncul di berbagai media cetak. "Kebetulan wartawan olahraga banyak yang kenal saya semasa masih aktif bermain hoki dan ski," katanya.

Melihat kesungguhannya, Nany Lubis menawarinya menjadi instruktur. Ia menolak. Tapi ia menerima ajakan Nany untuk menggantikannya memimpin pemanasan. Sejak itu, tak ada lagi toleransi bagi Berty. Ia harus memimpin senam di kantor-kantor. "You mesti belajar, praktik," kata Berty menirukan Nany.

Di masa awal itu Berty menggambar dan menghapalkan semua gerakan yang akan dicontohkan. Gambar itu ia letakkan di atas tape recorder.

Dari sini tampaknya tonggak kesuksesan ditancapkan. Ia mundur dari Namarina, lalu mendirikan sanggar senam yang dinamai persis tanggal lahirnya, tanggal 6 bulan 7. Tahun 1988 berdiri Studio 67. Sejak itu hokinya menggelinding. Nama Berty Tilarso berkibar.

Aktivitasnya kontan meningkat. Ia diminta memperagakan senam untuk mengisi acara Sehat dan Bugar-nya TVRI. Acara itu bertahan sampai 10 tahun. Kegiatan lainnya, mengisi rubrik kebugaran di Majalah Kartini. Masih seabreg kesibukannya, misalnya memberikan seminar, workshop, lomba, dan mengajar di berbagai kota di Tanah Air. "Waktu itu bisa seminggu tiga kali saya terbang ke Surabaya," katanya.

Kini ia tak sesibuk dulu lagi. "Saya agak milih-milih, bukan zamannya lagi saya memimpin lomba," kata Berty yang juga instruktur di sanggar senam milik artis Venna Melinda.

Kini, Berty cuma mau menerima order yang kegiatannya di dalam ruangan seperti workshop dan seminar yang diisi dengan senam aerobik. Untuk permintaan luar kota ia hanya melayani di hari Sabtu. Itu pun harus bolos mengajar di studionya di kawasan Pondok Indah dan Senayan. Untuk acara di Jakarta ia masih menyanggupi pada hari biasa dengan menyisipkannya di luar jam mengajar.

Keseriusan menggeluti aerobik ia wujudkan dengan belajar menjadi instruktur ke Australia dan negara-negara Eropa. Di sana ia memperdalam teori aerobik dan anatomi tubuh. Ia jadi tahu perkembangan teori aerobik. Misalnya, soal gerakan yang boleh dilakukan.

Senam kebugaran pasutri

Menurut Berty, latihan aerobik di pelbagai sanggar pada prinsipnya sama. Meliputi gerakan aerobik untuk membakar kalori, body language, dan senam lantai yang dikenal dengan pembentukan. Yang membedakan adalah kreativitas instruktur untuk memasukkan dan memvariasikan berbagai unsur. "Di tempat saya ada senam salsa, salsa yang dibikin aerobik," tandas Berty.

Dengan bekal kreativitas Berty tak pernah henti menelurkan ide-ide baru. Misalnya, senam body language yang diluncurkan tahun 2000 dan Senam Kegel tahun 2001. Ia juga rajin melansir pengajaran senam lewat keping cakram. Tahun 2000 sudah ada enam keping cakram. "Rencananya setiap dua bulan keluar satu cakram, biar enggak pikun," papar Berty yang energik itu.

Senam Kegel yang ia lansir, dulu di Indonesia dikenal sebagai senam seks. Tapi ia merasa kurang sreg dengan sebutan itu. Menurut Berty, senam seks di sanggar-sanggar senam tak lebih dari memindahkan adegan ranjang ke dalam sanggar senam. Dengan alasan itu ia memunculkan senam Kegel yang bertujuan meningkatkan kebugaran untuk menunjang hubungan suami-istri.

Menurut Berty, semua ide ia ambil dari hal-hal yang ada di masyarakat, yang lantas dikembangkan. Yaitu dengan meningkatkan intensitas latihan sesuai porsi pembakaran lemak yang diinginkan.

Apa lalu bisa langsung langsing? Berty tak menjanjikan. "Saya bukan tukang jual obat langsing. Jadi, ikutilah dulu program latihan secara benar," pesan Berty yang bertinggi 160 cm dengan berat 50 kg itu.

Selain melatih, Berty pun memberi resep menu. Kedua program itu harus dijalankan secara simultan. Kalau peserta malas datang, sekali sebulan atau dua kali, target pelangsingan pasti meleset.

Menurut dia, berat badan tidak bisa diturunkan mendadak. Idealnya, pengurangan berat maksimal 2 kg dalam sebulan. Lebih dari itu justru akan membahayakan tubuh. Sebaliknya, untuk tujuan menggemukkan, latihan aerobik sebaiknya dalam porsi ringan, yang justru merangsang nafsu makan. Latihan itu harus disertai penggunaan beban untuk membentuk otot.

Soal pendapatan, Berty tak gamblang menyebut. Menurut dia, seorang instruktur senior yang cara mengajarnya benar dan agak terkenal, akan memiliki penghasilan lumayan. Sedangkan yang tidak terkenal, tapi mengajarnya bagus, tetap masih bisa hidup. Tapi, soal gaji asistennya, ia berterus terang, "Tiga juta per bulan."

Puluhan tahun menggeluti dunia aerobik membuat Berty tampil profesional. Ia tidak ingin pengundangnya kapok. Tapi, ia pun amat berhati-hati agar tidak dikibuli. "Tergantung siapa yang mengundang, saya sudah menetapkan honor dan fasilitas yang harus disediakan," tegas Berty. Saat menandatangani perjanjian, separo honor, juga tiket pulang-pergi, harus diberikan. Kalau penyelenggara membatalkan acara, honor yang sudah dibayarkan hilang. Namun, Berty pun kena sanksi bila tidak datang.

Barangkali benar, profesi apa pun harus ditampilkan secara profesional, kalau mau diperhatikan. Anda setuju? (G. Sujayanto)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej