|
|
Bulan Juli 2001
|
|
MENENGOK ISI KOTAK OBAT DI RUMAH
Bila menderita penyakit tertentu, belum tentu kita harus segera mengunjungi
dokter. Kita bisa mengobatinya sendiri. Untuk itu, kita perlu mengisi kotak
obat dengan obat-obat yang diperlukan. Apa saja?
Suatu Sabtu pagi salah satu stasiun TV swasta menayangkan acara edukatif
tentang "terapi sentuhan" pada bayi dan anak ketika terserang
batuk-pilek. Sayangnya, isi acara tersebut mengecewakan. Sajiannya ternyata
berupa anjuran untuk mengusapkan vaporub tertentu bila anak kita
terserang batuk-pilek. Rupanya, acara itu hanyalah promosi yang dikemas agar
terkesan ilmiah. Sebaliknya, yang menarik dari acara itu justru pada
penjelasan dokter narasumber bahwa kalau si Buyung atau si Upik batuk-pilek,
kita belum perlu segera membawanya ke dokter. Jadi, kapan kita perlu ke
dokter? Ya setelah upaya pengobatan sendiri tidak menunjukkan hasil ....
Memang, self-medication atau upaya pengobatan oleh si penderita atau
keluarganya, merupakan kebiasaan tua yang sudah dilakukan oleh nenek moyang
kita sejak dahulu. Namun sekarang, dalam dunia kedokteran yang demikian
canggih, dengan ragam penyakit semakin banyak dan ribuan jenis obat bersifat
spesifik dan luar biasa kuatnya sehingga hanya boleh digunakan di bawah
pengawasan dokter, self-medication tetap punya tempat khusus.
Bahkan karena orang mulai mempertimbangkan cost-effectiveness setiap
tindakan, kedudukan pengobatan sendiri justru semakin kokoh. Oleh karena itu
sangatlah bijaksana kalau setiap rumah tangga melengkapi dengan kotak obat
yang bukan sekadar kotak P3K. Di dalamnya seyogianya terdapat obat dan alat
kesehatan untuk keperluan self-medication.
Obat dasar dan obat wajib apotik
Isi kotak obat rumah tangga (KORT) tentu saja bergantung pada komposisi
keluarga. Keluarga muda, yang terdiri atas sepasang suami istri muda dan
seorang anak balita, isi kotak obatnya akan berbeda dengan keluarga yang
terdiri atas suami istri paruh baya dan anak-anak yang berangkat dewasa.
Juga berbeda dengan KORT untuk pasangan lanjut usia.
Walaupun demikian, ada obat yang merupakan kebutuhan orang pada umumnya.
Sebutannya, obat dasar. Obat tersebut untuk mengatasi kecelakaan di rumah
tangga (tersayat, jatuh, terkilir, terbakar atau tersiram air mendidih,
digigit serangga, dsb.), keluhan dan gejala fisik yang remeh tetapi
mengganggu (demam, sakit kepala, pilek, batuk, pegal otot), serta keluhan
dan gejala fisik yang berpotensi membahayakan (diare pada manula maupun
balita, dan kejang demam pada anak balita). Obat dasar biasanya juga
disertai dengan alat kesehatan.
Selebihnya, KORT harus berisi obat khusus untuk penyakit yang diderita oleh
salah satu anggota keluarga, yang mungkin bersifat kambuhan macam mimisan,
asma bronkiale, alergi makanan/obat, penyakit jantung koroner, nyeri haid,
kejang, gastritis, sembelit, dan gangguan tidur. Tentu saja, obat-obat ini
kita peroleh dengan bantuan dokter keluarga, sebab sebagian besar
obat-obatnya merupakan obat keras yang hanya digunakan di bawah pengawasan
dokter.
Obat dasar, yang harus ada dalam KORT, umumnya adalah obat yang bersifat
simtomatik, menghilangkan gejala. Sebagai obat bebas terbatas, obat-obat ini
dijual bebas tetapi penggunaannya dibatasi oleh tata cara dan dosis
tertentu. Oleh karena itu jangan lupa membaca aturan pakai dan peringatan
pada kemasan atau pada lembar sisip dalam kemasan, serta mematuhinya.
Sayangnya, informasi tersebut tidak selengkap patient package insert
(PPI) yang dikenal di negara Barat.
Obat dasar tadi meliputi:
§
Obat luka & luka bakar. Di dalamnya termasuk obat merah, yakni
antiseptik yang dijual tanpa merek, atau yang tersedia dalam botol kecil
maupun besar dengan merek. Juga, perubalsam atau salef levertran untuk luka
bakar ringan. Tetapi tindakan pertama untuk luka bakar ringan yang harus
dilakukan adalah pendinginan dengan es atau rendaman air dingin supaya panas
segera didinginkan dari luar dan tidak "membakar" jaringan lebih
dalam.
§
Obat pereda nyeri dan demam (analgesik dan antipiretik. Dalam
kelompok ini adalah obat-obat yang mengandung parasetamol (nama lainnya:
asetaminofen) macam Panadol atau Biogesic. Dalam bentuk kombinasi,
parasetamol juga terdapat dalam Oskadon dan Neozep, misalnya. Pereda nyeri
dan demam yang baik lainnya adalah asam asetilsalisilat, atau asetosal.
Bahan tersebut terkandung dalam puluhan produk lainnya (seperti Aspirin,
Naspro). Analgesik-antipiretik biasanya tersedia juga dalam bentuk sirup
atau tetesan untuk pasien anak-anak, misalnya Tempra, Bodrexin, Termorex.
Beberapa obat lebih bersifat analgesik dan tidak bekhasiat antipiretik
sehingga bukan obat tepat untuk demam, misalnya asam mefenamat (dalam
Ponstan), ibuprofen (dalam Axalan, Ibufen). Obat-obat ini baik sekali untuk
menghilangkan nyeri otot dan sendi, atau nyeri haid.
§
Obat flu. Kelompok ini merupakan obat kombinasi yang selalu
mengandung analgesik-antipiretik, tetapi berbeda dengan kelompok di atas.
Obat flu biasanya mengandung zat aktif lain untuk mengurangi produksi lendir
atau mengatasi hidung tumpat (decongestant). Fenilpropanolamin (PPA)
dan pseudoefedrin adalah contoh dekongestan. Beberapa antiflu juga
mengandung antialergi, penekan batuk (antitusif), atau pemacu batuk
(ekspektoran), karena gejala flu memang bermacam-macam. Kita dapat memilih
jenis antiflu yang cocok dengan gejala yang sering muncul ketika terserang
flu. Sekali lagi jangan lupa membaca lembar sisip (PPI) produk karena
kelompok obat ini merupakan obat bebas terbatas.
§
Obat gosok. Kelompok ini sudah lama dikenal sebagai obat untuk
menghangatkan atau mendinginkan tubuh. Juga dapat mengatasi gatal atau sakit
akibat gigitan serangga. Di dalamnya termasuk minyak atsiri (seperti minyak
kayu putih, minyak sereh, atau minyak cengkeh), yang biasanya menghangatkan
tubuh sehingga dapat membantu mengatasi perut kembung. Vaporub
tertentu ternyata juga mengandung minyak kayu putih. Sementara itu, berbagai
balsem atau salef sebenarnya mengandung metilsalisilat atau analgesik
lainnya. Hanya saja, tambahan mentol dan kamfer membuat obat gosok ini
mula-mula menimbulkan rasa dingin sehingga setelah diurutkan, bagian tubuh
tersebut harus ditutup. Uap yang ditimbulkan oleh obat-obat ini akan
terhirup dan memberikan juga rasa hangat dan lega di saluran napas.
§
Garam oralit. Obat ini diperlukan oleh anak-anak dan orang dewasa
yang mengalami mencret-mencret. Sebenarnya diare merupakan cara tubuh untuk
mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat diterima oleh usus, misalnya makanan
busuk atau racun yang dilepas oleh virus dan kuman. Sayangnya, orang dewasa
sering melupakannya, bila mencret-mencret. Dalam keadaan lemas bukannya
oralit yang diminum, tetapi obat diare. Tampaknya, konsep tentang manfaat
diare belum dipahami oleh masyarakat, sehingga orang sering ingin buru-buru
menghentikan diare.
Selain obat dasar, KORT sebaiknya juga berisi bahan atau alat kesehatan. Di
antaranya, plester, pembalut, kasa, kapas, dan gunting. Plester dapat
dibedakan atas plester biasa dan plester obat (misalnya Hansaplast atau Band
Aid) yang berguna untuk mengobati luka kecil. Untuk luka lebih luas
sebaiknya digunakan potongan kecil kasa steril yang dikemas dalam kotak.
Pembalut biasa umumnya dijual dalam gulungan yang lebarnya macam-macam.
Gunting yang disiapkan dalam KORT sebaiknya tidak terlalu kecil.
KORT bisa pula diisi dengan obat wajib apotik, yaitu obat keras yang bila
diperlukan dapat diperoleh di apotik walaupun tanpa resep. Apotik bahkan
wajib memberikannya kepada konsumen yang membutuhkan dan wajib memberikan
penjelasan seperlunya. Apotik hanya boleh memberikannya dalam jumlah
terbatas dan tenaga apoteker atau asistennya harus memberikan informasi
tentang penggunaannya. Obat-obat yang masuk dalam kelompok ini ditetapkan
oleh pemerintah pada tahun 1990. Tiga tahun kemudian daftar obat ini menjadi
lebih panjang lagi. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan pengobatan
sendiri. Ya, self-medication harus dijalankan dengan benar barulah
bermanfaat, kalau tidak, bisa jadi mudarat yang datang.
Obat yang tergolong dalam obat wajib apotik antara lain: § Kontrasepsi § Obat saluran cerna: obat
"maag", obat mules, obat mual dan kembung, obat radang usus, juga
obat cacing § Obat batuk dan asma dalam
bentuk tablet maupun obat hirup §
Obat kulit untuk infeksi kuman, jamur, eksim § Obat-obat antialergi.
Menentukan isi KORT
Bagi keluarga muda yang punya anak balita, selain berisi obat dasar, KORT
hendaknya berisi tambahan obat yang biasanya dibutuhkan untuk penyakit anak
balita. Obat-obat tambahan tersebut adalah:
§
Bedak untuk menghilangkan gatal akibat biang keringat
§
Obat kejang demam bila balita kita pernah mengalami kejang demam.
Untuk itu, mintalah nasihat dokter dalam mengantisipasi kejang demamnya.
Kalau dokter membekali puyer berisi obat kejang, sebelum menggunakannya,
periksa dulu apakah puyer tersebut masih layak pakai. Dokter juga mungkin
menganjurkan Anda menyimpan krim diazepam yang tersedia dalam tube kecil
untuk dimasukkan ke dubur ketika anak mengalami serangan kejang. Pelajari
betul cara penggunaannya.
§
Andrenalin (1 - 2 ampul) bila si kecil sering mimisan. Simpan obat
itu untuk dibubuhkan ke kapas dan disumbatkan ke lubang hidung yang
berdarah. Obat ini hanya boleh didapat dengan resep dokter, jadi kita perlu
melapor ke dokter keluarga bila anak kita mengalami mimisan. Daun sirih yang
digulung kemudian dimasukkan ke lubang hidung merupakan cara tradisional
yang sama manjurnya.
§
Tablet atau obat hirup salbutamol, atau aminofilin supositoria bila
di rumah kita ada penderita asma bronkiale. Perhatikan bahwa obat hirup
untuk anak takarannya lebih kecil. Jangan lupa: pelajari betul cara
menggunakan obat hirup tersebut.
§
Tablet CTM dan tablet deksametason bila ada anggota keluarga yang
menderita alergi terhadap makanan atau obat tertentu. Bila kita yakin bahwa
kulit merah dan gatal setelah makan udang itu adalah gejala alergi,
segeralah minum kedua tablet tadi masing-masing satu.
Pada keluarga yang lebih lanjut, pola penyakitnya tentu berbeda. Keluhan
saluran cerna, mulai dari mual, kembung, mules, sampai ke sembelit; gangguan
tidur; penyakit jantung, hipertensi; penyakit kencing manis; dan rematik
mewarnai kehidupan keluarga paruh baya atau lanjut usia. Maka obat yang
perlu ditambahkan pada KORT meliputi:
§
Berbagai antasida yang digabung dengan obat pelemas usus (antispasmodik).
Merek obat ini banyak dan dapat dibeli bebas. Pirenzepin baik sekali untuk
mengatasi kelebihan asam lambung, metoklopramid (Primperan) untuk mengatasi
mual, sedangkan sediaan bismut dapat mengatasi kembung. Ketiga obat ini
merupakan obat wajib apotik.
§
Cairan parafin, seperti yang terdapat dalam Laxadine, dapat dibeli
bebas, sementara obat sembelit lain yang dipasarkan dan diiklankan dengan
nama Dulcolax merupakan obat bebas terbatas yang penggunaannya harus
hati-hati.
§
Obat mules semacam Buscopan, yang harus digunakan di bawah pengawasan
dokter. Upaya darurat mengatasi serangan mules, misalnya tengah malam,
adalah menghangatkan perut dengan botol panas atau dengan minyak atsiri.
Yang juga perlu diperhatikan, obat batuk berdahak, misalnya, yang mengandung
asetilsistein atau bromheksin tidak perlu disimpan dalam KORT sebab kita
dapat membelinya esok atau lusa, atau tidak sama sekali karena minum air
dalam volume banyak pun sudah sama manjurnya. Selain itu, sirup obat tak
baik disimpan lama.
Dalam keadaan tertentu, KORT juga perlu diisi dengan obat-obat khusus. Yang
termasuk dalam kelompok ini antara lain:
§
Tablet isosorbid dinitrat untuk penderita angina pektoris (nyeri dada
yang dicetuskan oleh kerja keras dan kegembiraan berlebih). Obat yang
penggunaannya diletakkan di bawah lidah ini hanya dapat diperoleh melalui
resep dokter. Biasanya dokterlah yang menyarankannya. Supaya pemakaiannya
tepat, tanyakan benar cara menggunakannya dan tanda bahaya yang mengharuskan
penderita segera menggunakan tablet ini.
§
Obat penenang semacam diazepam mungkin perlu disimpan kalau insomnia
sangat mengganggu. Namun, biarlah dokter yang memilih obat penenang terbaik
buat pasien, sebab insomnia banyak bentuknya dan berbeda obatnya. Selain
itu, pastikan bahwa obat itu aman dari penyalahgunaan oleh anggota keluarga
lainnya. Kalau dirasa tidak aman, lebih baik tidak menyimpan obat penenang
dalam KORT.
§
Zalf atau jeli yang mengandung diklofenak atau piroksikam mungkin
diperlukan untuk radang sendi yang memang berat dan obat gosok biasa mungkin
tidak menolong.
Obat khusus lainnya adalah obat-obat yang memang digunakan rutin untuk
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, lemah jantung,
kencing manis, tuberkulosis, dan lain sebagainya. Obat-obat ini harus
diminum dengan aturan tertentu, jadi pastikan bahwa persediaannya tidak
"putus". Bila obat-obat itu tinggal 2 - 3 tablet saja, segeralah
temui dokter untuk periksa ulang atau meminta resep baru.
Dari daftar yang panjang itu tentu tidak semua harus kita siapkan di KORT.
Akan lebih boros bila obat-obat itu ternyata tidak banyak digunakan sebab
obat yang kemasannya telah dibuka umumnya tidak dapat disimpan lama.
Penderitalah yang tahu pola penggunaannya, maka ia pula yang menentukan
apakah ia perlu menyimpannya dalam KORT. (Dr. Zunilda S Bustami, MS.,
SpFK., dokter keluarga dan pengajar bagian Farmakologi FKUI) |
|||||