|
|
Bulan Juli 2001
|
|
Passionsspiele, hajatan kelas dunia oleh para amatir Bagaimana sebuah kota berpenduduk 5.000 orang mampu menyuguhkan tontonan berskala dunia yang menarik 5.000 turis setiap hari, selama berbulan-bulan, tanpa bantuan tenaga profesional? PASSIONSSPIELE adalah hajatan besar yang diadakan di sebuah kota kecil, tetapi telah bertahan selama ratusan tahun.
Kota kecil Oberammergau terletak di sebuah
lembah, tepatnya di tepi Sungai Ammer, Jerman. Sepuluh tahun sekali, kota
kecil ini mengadakan hajatan besar, "Passionsspiele", yang dapat
diterjemahkan sebagai Pertunjukan Suci. Pementasan itu sendiri mengisahkan
kehidupan Yesus Kristus.
Gaung Passionsspiele terdengar hingga mancanegara, sehingga dikenal luas
oleh masyarakat internasional. Kecilnya frekuensi penyelenggaraan menjadikan
pertunjukan itu banyak diminati penonton mancanegara. Alhasil,
Passionsspiele menjadi objek wisata budaya yang ditunggu-tunggu. Tak heran
jauh-jauh hari para peminat sudah memesan tempat dan membeli karcis.
Gambaran harapan
Lebih dari tiga abad silam, tepatnya tahun 1633, di tengah peperangan 30
tahun, Kota Oberammergau diserang wabah penyakit pes. Banyak penduduk
menjadi korban. Maka, penduduk Oberammergau yang kristiani itu bersepakat
menyelenggarakan pertunjukan drama tentang penderitaan Yesus, yang mampu
memberikan kesan mendalam. Tujuannya tak lain, membangkitkan harapan dan
kekuatan pada seluruh warga.
Tahun 1634 dilangsungkan Passionsspiele pertama yang diadakan di atas pentas
di halaman gereja. Maka tidak heran jika pada tahun 1934 dan 1984 telah
diperingati hari jadi Passionsspiele yang ke-300 dan ke-350.
Herannya, dikatakan penyelenggaraan di tahun 2000 adalah pertunjukan yang
ke-40 kali. Padahal mestinya 'kan baru 36 kali, bukan? Sayangnya
penyelenggara tak menginformasikan dari mana bisa muncul angka 40 tersebut.
Bisa jadi, pada tahun-tahun tertentu pernah diselenggarakan hajatan serupa
dengan pertimbangan khusus pula. Misalnya saja tahun 2000 mestinya bukan
tahun kelipatan 10 dari penyelenggaraan Passionsspiele?
Pada zaman pertengahan, pertunjukan serupa memang banyak diadakan di Eropa.
Sedangkan pada zaman Barok, pertunjukan macam itu berkembang di lingkungan
masyarakat Katolik di Jerman Selatan. Meski larangan pementasan di kota-kota
besar pernah dikeluarkan pada abad XVI, masyarakat Oberammergau dapat
mempertahankan tradisi mereka. Alasannya, untuk memenuhi janji kepada
leluhur.
Rumah penduduk pun jadi
Yang sangat mengagumkan, seluruh masyarakat kota kecil itu - yang jumlah
penduduknya hanya sekitar 5.000 orang - merasa "punya gawe".
Dengan penuh semangat bergotong royong, mereka semua kerja keras untuk
mensukseskan pesta yang cuma diadakan sekali dalam satu dekade.
Seluruh warga, pria, wanita, maupun anak-anak, berperan aktif. Dalam
pertunjukan spektakuler itu ada yang menjadi artis pemain, ada pula yang
memilih bertanggung jawab sebagai organisator pertunjukan.
Selama hampir lima bulan dilangsungkan pertunjukan, mulai 21 Mei - 8 Oktober
2000, setiap hari mereka akan menerima sekitar 5.000 tamu. Wah, ini artinya
sama dengan jumlah penduduk Oberammergau sendiri.
Bisa dibayangkan, kerepotan yang harus diatasi. Karena selain menyajikan
pertunjukan di pentas, sebagai penyelenggara mereka harus pula mengatur
segala sesuatunya, mulai masalah akomodasi, makanan, transportasi, dsb.
Repotnya lagi, hotel di Kota Oberammergau tidak dapat menampung sebanyak
5.000 orang. Akibatnya, para tamu ditampung di rumah penduduk dan kota kecil
sekitarnya. Namun, penampungan di rumah penduduk tidak dilakukan secara
asal-asalan. Panitia menetapkan standar tertentu, misalnya pelayanan, kamar
tidur, dan makan pagi yang memadai. Minimal para tamu dapat bermalam dengan
santai, seperti di rumah sendiri. Bagaimanapun, para tamu adalah wisatawan,
yang perlu mendapat pengalaman mengesankan.
Para pengunjung mendapat makan siang dan makan malam di rumah makan yang
ada. Harus menyediakan makan bersamaan untuk 5.000 orang tentu bukan masalah
ringan. Apalagi mengingat kecilnya kota itu, tentu sarananya terbatas.
Sejak awal kedatangan, para pengunjung harus mendaftarkan diri pada panitia
untuk mendapat kupon penginapan, makan malam, dan makan siang. Selanjutnya
dengan shuttle bus mereka diantar menuju "penginapan"
masing-masing yang berupa rumah penduduk. Tak hanya bertugas mengantar, pada
jadwal tertentu minibus itu juga berkeliling menjadi alat transportasi para
tamu untuk pergi makan, berbelanja, menonton pertunjukan, dsb.
Setiba di "penginapan", tuan rumah telah siap menyambut tamu.
Selain memberikan penjelasan seperlunya, ia juga membagikan buku peta
Oberammergau lengkap dengan informasi seperlunya, plus buku teks pertunjukan
"Passion Play".
Manggung 100 kali
Pertunjukan Passsionspiele tahun 2000 diadakan di gedung teater yang baru
direnovasi. Desain gedung berkapasitas 4.700 penonton itu unik karena
beratap lengkung berkonstruksi beton dengan bentangan lebar tanpa kolom.
Maka, penonton tidak terganggu saat memandang ke pentas selebar 40 m yang
terbuka tanpa atap. Pentas itu memang dibuat luas, karena harus menampung
ratusan pemain.
Pada musim pertunjukan tahun itu berlangsung sebanyak 100 pementasan.
Pementasan dilakukan hampir setiap hari mulai pukul 09.30 - 18.00, yang
diselingi istirahat makan siang dari pukul 12.15 - 15.00. Berapa jumlah
total penontonnya dalam satu musim pementasan? Diduga mencapai 500.000
orang!
Semula kami yang nonkristiani khawatir akan jemu menonton pertunjukan berbau
"keagamaan" yang makan waktu hampir 6 jam. Jangan-jangan kami akan
tertidur. Ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Pementasan itu mampu
menyihir ribuan penontonnya. Penuh antusias penonton mengikuti jalannya
drama dengan serius.
Memang benar penonton Passionspiele memiliki latar belakang yang beragam.
Penonton tak hanya berasal dari Jerman atau melulu kristiani. Keanekaragaman
itu dinyatakan oleh seorang penonton berkulit putih tetangga kursi kami yang
ternyata berkebangsaan Jerman. Pria yang datang dari kota lain sejauh 500 km
itu mengatakan, rasanya hanya ia berdua bersama istrinya saja yang berasal
dari Jerman, sedangkan penonton lainnya berasal dari luar Jerman.
Untuk itulah mengapa kepada setiap penonton dibagikan sejilid buku
terjemahan teks dalam bahasa Inggris, meski sebenarnya skenario dalam bahasa
Jerman. Maka, penonton yang tidak memahami bahasa Jerman pun dapat mengikuti
jalan cerita dengan baik.
Skenario asli ditulis oleh Othmar Weis pada tahun 1811, yang kemudian
diperbaiki oleh Joseph Alois Daisenberger tahun 1860 - 1870. Untuk
pertunjukan tahun 2000, naskah disempurnakan lagi oleh Otto Huber dan
Christian Stuckl. Sedangkan musik digubah oleh Rochus Dedler, yang lalu
diubah oleh Prof. Eugen Paper pada tahun 1950. Sedangkan untuk pementasan
tahun 2000 musik ditata lagi oleh Markus Zwink.
Penyelenggaraan Passionspiele patut mendapat acungan jempol. Tak hanya
pementasan drama di pentas sebagai kegiatan utama yang berlangsung sukses,
berbagai kegiatan pendukung lain pun berjalan lancar. Acara kunjungan ke
objek wisata setempat, berbelanja barang kebutuhan maupun cenderamata
misalnya, tentu saja memberi keuntungan pada penyelenggara, warga, maupun
pemerintah setempat. Meningkatnya pendapatan warga Oberammergau akan
berdampak pula pada perkembangan Oberammergau.
Hebatnya lagi seluruh acara hajatan ini sama sekali tidak menggunakan jasa
tenaga profesional, tapi oleh warga kota Oberammergau dan sekitarnya.
Sungguh suatu semangat kerja sama, seia-sekatanya dalam mewujudkan harapan
dan keinginan sebuah kelompok masyarakat yang patut menjadi cermin untuk
kita teladani.
Alangkah indahnya, para warga di kota-kota kecil yang tersebar di seluruh
Nusantara dapat bersatu padu dan bergotong royong mengerjakan sesuatu yang
mulia yang dapat menyejahterakan warganya. Bila warga Oberammergau mampu
melakukannya, tentunya kita pun dapat. Bukankah potensi kita lebih besar,
karena jumlah kita lebih banyak? Semoga. (B. Kusuma) |
|||||||||||