globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juli 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Passionsspiele, hajatan kelas dunia oleh para amatir

Bagaimana sebuah kota berpenduduk 5.000 orang mampu menyuguhkan tontonan berskala dunia yang menarik 5.000 turis setiap hari, selama berbulan-bulan, tanpa bantuan tenaga profesional? PASSIONSSPIELE adalah hajatan besar yang diadakan di sebuah kota kecil, tetapi telah bertahan selama ratusan tahun.
Ratusan pemain ditampung di panggung luas tanpa atap, sementara penonton dinaungi atap lengkung tanpa kolom. (Repro)

Kota kecil Oberammergau terletak di sebuah lembah, tepatnya di tepi Sungai Ammer, Jerman. Sepuluh tahun sekali, kota kecil ini mengadakan hajatan besar, "Passionsspiele", yang dapat diterjemahkan sebagai Pertunjukan Suci. Pementasan itu sendiri mengisahkan kehidupan Yesus Kristus.

Gaung Passionsspiele terdengar hingga mancanegara, sehingga dikenal luas oleh masyarakat internasional. Kecilnya frekuensi penyelenggaraan menjadikan pertunjukan itu banyak diminati penonton mancanegara. Alhasil, Passionsspiele menjadi objek wisata budaya yang ditunggu-tunggu. Tak heran jauh-jauh hari para peminat sudah memesan tempat dan membeli karcis.

Gambaran harapan

Lebih dari tiga abad silam, tepatnya tahun 1633, di tengah peperangan 30 tahun, Kota Oberammergau diserang wabah penyakit pes. Banyak penduduk menjadi korban. Maka, penduduk Oberammergau yang kristiani itu bersepakat menyelenggarakan pertunjukan drama tentang penderitaan Yesus, yang mampu memberikan kesan mendalam. Tujuannya tak lain, membangkitkan harapan dan kekuatan pada seluruh warga.

Tahun 1634 dilangsungkan Passionsspiele pertama yang diadakan di atas pentas di halaman gereja. Maka tidak heran jika pada tahun 1934 dan 1984 telah diperingati hari jadi Passionsspiele yang ke-300 dan ke-350.

Herannya, dikatakan penyelenggaraan di tahun 2000 adalah pertunjukan yang ke-40 kali. Padahal mestinya 'kan baru 36 kali, bukan? Sayangnya penyelenggara tak menginformasikan dari mana bisa muncul angka 40 tersebut. Bisa jadi, pada tahun-tahun tertentu pernah diselenggarakan hajatan serupa dengan pertimbangan khusus pula. Misalnya saja tahun 2000 mestinya bukan tahun kelipatan 10 dari penyelenggaraan Passionsspiele?

Pada zaman pertengahan, pertunjukan serupa memang banyak diadakan di Eropa. Sedangkan pada zaman Barok, pertunjukan macam itu berkembang di lingkungan masyarakat Katolik di Jerman Selatan. Meski larangan pementasan di kota-kota besar pernah dikeluarkan pada abad XVI, masyarakat Oberammergau dapat mempertahankan tradisi mereka. Alasannya, untuk memenuhi janji kepada leluhur.

Rumah penduduk pun jadi

Yang sangat mengagumkan, seluruh masyarakat kota kecil itu - yang jumlah penduduknya hanya sekitar 5.000 orang - merasa "punya gawe". Dengan penuh semangat bergotong royong, mereka semua kerja keras untuk mensukseskan pesta yang cuma diadakan sekali dalam satu dekade.
Di waktu istirahat makan siang, para wisatawan mem-bludak memenuhi jalan.(Foto: Dok. B. Kusuma)

Seluruh warga, pria, wanita, maupun anak-anak, berperan aktif. Dalam pertunjukan spektakuler itu ada yang menjadi artis pemain, ada pula yang memilih bertanggung jawab sebagai organisator pertunjukan.

Selama hampir lima bulan dilangsungkan pertunjukan, mulai 21 Mei - 8 Oktober 2000, setiap hari mereka akan menerima sekitar 5.000 tamu. Wah, ini artinya sama dengan jumlah penduduk Oberammergau sendiri.

Bisa dibayangkan, kerepotan yang harus diatasi. Karena selain menyajikan pertunjukan di pentas, sebagai penyelenggara mereka harus pula mengatur segala sesuatunya, mulai masalah akomodasi, makanan, transportasi, dsb.

Repotnya lagi, hotel di Kota Oberammergau tidak dapat menampung sebanyak 5.000 orang. Akibatnya, para tamu ditampung di rumah penduduk dan kota kecil sekitarnya. Namun, penampungan di rumah penduduk tidak dilakukan secara asal-asalan. Panitia menetapkan standar tertentu, misalnya pelayanan, kamar tidur, dan makan pagi yang memadai. Minimal para tamu dapat bermalam dengan santai, seperti di rumah sendiri. Bagaimanapun, para tamu adalah wisatawan, yang perlu mendapat pengalaman mengesankan.

Para pengunjung mendapat makan siang dan makan malam di rumah makan yang ada. Harus menyediakan makan bersamaan untuk 5.000 orang tentu bukan masalah ringan. Apalagi mengingat kecilnya kota itu, tentu sarananya terbatas.

Sejak awal kedatangan, para pengunjung harus mendaftarkan diri pada panitia untuk mendapat kupon penginapan, makan malam, dan makan siang. Selanjutnya dengan shuttle bus mereka diantar menuju "penginapan" masing-masing yang berupa rumah penduduk. Tak hanya bertugas mengantar, pada jadwal tertentu minibus itu juga berkeliling menjadi alat transportasi para tamu untuk pergi makan, berbelanja, menonton pertunjukan, dsb.

Setiba di "penginapan", tuan rumah telah siap menyambut tamu. Selain memberikan penjelasan seperlunya, ia juga membagikan buku peta Oberammergau lengkap dengan informasi seperlunya, plus buku teks pertunjukan "Passion Play".

Manggung 100 kali

Pertunjukan Passsionspiele tahun 2000 diadakan di gedung teater yang baru direnovasi. Desain gedung berkapasitas 4.700 penonton itu unik karena beratap lengkung berkonstruksi beton dengan bentangan lebar tanpa kolom. Maka, penonton tidak terganggu saat memandang ke pentas selebar 40 m yang terbuka tanpa atap. Pentas itu memang dibuat luas, karena harus menampung ratusan pemain.
Suasana pedesaan sekitar rumah warga yang menjadi "penginapan". (Foto: Dok. B. Kusuma)

Pada musim pertunjukan tahun itu berlangsung sebanyak 100 pementasan. Pementasan dilakukan hampir setiap hari mulai pukul 09.30 - 18.00, yang diselingi istirahat makan siang dari pukul 12.15 - 15.00. Berapa jumlah total penontonnya dalam satu musim pementasan? Diduga mencapai 500.000 orang!

Semula kami yang nonkristiani khawatir akan jemu menonton pertunjukan berbau "keagamaan" yang makan waktu hampir 6 jam. Jangan-jangan kami akan tertidur. Ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Pementasan itu mampu menyihir ribuan penontonnya. Penuh antusias penonton mengikuti jalannya drama dengan serius.

Memang benar penonton Passionspiele memiliki latar belakang yang beragam. Penonton tak hanya berasal dari Jerman atau melulu kristiani. Keanekaragaman itu dinyatakan oleh seorang penonton berkulit putih tetangga kursi kami yang ternyata berkebangsaan Jerman. Pria yang datang dari kota lain sejauh 500 km itu mengatakan, rasanya hanya ia berdua bersama istrinya saja yang berasal dari Jerman, sedangkan penonton lainnya berasal dari luar Jerman.

Untuk itulah mengapa kepada setiap penonton dibagikan sejilid buku terjemahan teks dalam bahasa Inggris, meski sebenarnya skenario dalam bahasa Jerman. Maka, penonton yang tidak memahami bahasa Jerman pun dapat mengikuti jalan cerita dengan baik.

Skenario asli ditulis oleh Othmar Weis pada tahun 1811, yang kemudian diperbaiki oleh Joseph Alois Daisenberger tahun 1860 - 1870. Untuk pertunjukan tahun 2000, naskah disempurnakan lagi oleh Otto Huber dan Christian Stuckl. Sedangkan musik digubah oleh Rochus Dedler, yang lalu diubah oleh Prof. Eugen Paper pada tahun 1950. Sedangkan untuk pementasan tahun 2000 musik ditata lagi oleh Markus Zwink.

Penyelenggaraan Passionspiele patut mendapat acungan jempol. Tak hanya pementasan drama di pentas sebagai kegiatan utama yang berlangsung sukses, berbagai kegiatan pendukung lain pun berjalan lancar. Acara kunjungan ke objek wisata setempat, berbelanja barang kebutuhan maupun cenderamata misalnya, tentu saja memberi keuntungan pada penyelenggara, warga, maupun pemerintah setempat. Meningkatnya pendapatan warga Oberammergau akan berdampak pula pada perkembangan Oberammergau.

Hebatnya lagi seluruh acara hajatan ini sama sekali tidak menggunakan jasa tenaga profesional, tapi oleh warga kota Oberammergau dan sekitarnya. Sungguh suatu semangat kerja sama, seia-sekatanya dalam mewujudkan harapan dan keinginan sebuah kelompok masyarakat yang patut menjadi cermin untuk kita teladani.

Alangkah indahnya, para warga di kota-kota kecil yang tersebar di seluruh Nusantara dapat bersatu padu dan bergotong royong mengerjakan sesuatu yang mulia yang dapat menyejahterakan warganya. Bila warga Oberammergau mampu melakukannya, tentunya kita pun dapat. Bukankah potensi kita lebih besar, karena jumlah kita lebih banyak? Semoga. (B. Kusuma)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej