|
|
Bulan Juli 2001
|
|
MELAWAN PENYAKIT DENGAN YOGA Masih banyak orang mengira, yoga tak ubahnya akrobat. Kepala di bawah dengan kaki lurus ke atas. Atau, kedua kaki disangkutkan di leher. Padahal gerakan yoga tidak harus seperti itu. Gerakan yoga haruslah dirasakan nyaman dan mudah. Dengan gerakan tanpa paksaan itu beragam penyakit sudah bisa diusir.
Kalau Anda penderita hipertensi, apa yang harus
Anda jalani dari sudut pandang kedokteran barat? Seumur hidup Anda akan
selalu tergantung pada obat antihipertensi.
Bagaimana kalau mencoba melakukan yoga, apa yang bakal terjadi? Jalan menuju
kesembuhan akan lebih terbuka. Mula-mula Anda mungkin tetap minum obat
sembari melakukan latihan yoga. Dua bulan setelah itu, mungkin tekanan darah
Anda turun drastis. Lalu, apa yang mesti dilakukan kemudian? Menentukan
pilihan: berhenti beryoga dan tetap tergantung pada obat, atau terus beryoga
dengan melepaskan ketergantungan pada obat. Terserah Anda.
Bagaimana kalau yang diderita dua penyakit yang saling bertentangan, macam
diabetes dan penyakit kuning (atau lever dan hepatitis A)? Diabetes
antigula, liver butuh gula. Yoga pun bisa mengurusi keduanya.
Itulah gambaran yang diberikan Anand Krishna dari Pusat Kesehatan Holistik
dan Meditasi Anand Ashram, Jakarta, tentang manfaat melakukan yoga.
Ibarat lautan
Belakangan ini yoga mulai dilirik lagi untuk berbagai tujuan termasuk
penyembuhan penyakit. Di berbagai negara Eropa, Amerika Serikat, Singapura,
Bangladesh, bahkan kini Indonesia, orang tertarik mendatangi pusat-pusat
pelatihan yoga. Sejumlah selebriti dunia macam Christy Turlington, Madonna,
Sting, Geri Halliwell, bahkan Ricky Martin termasuk di dalamnya. Juga
Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina beryoga setiap hari sebelum ngantor.
Demam yoga pun merambah kalangan artis kita seperti Dian Mayasari atau
pengacara ternama Humphrey Djemat. Tujuan mereka macam-macam. Sekadar
mencari jalan penyembuhan penyakit atau lebih dari itu.
Mengusir penyakit sebenarnya hanyalah bagian kecil dari yoga. Bilang Anand,
pada tingkat paling awal, yoga bisa dikatakan menyatukan tubuh, pikiran,
emosi, dan spirit (jiwa) agar semua bekerja seimbang. Pada tingkat lebih
lanjut, yoga justru mengantar kita pada pelampauan segala macam kondisi yang
membuat kita tergantung, bahkan pada keseimbangan sekalipun.
Menurut dia, yoga itu ibarat lautan mahaluas. Seberapa pun besarnya cawan,
Anda masih bisa mengisinya dengan air laut. Tapi betapa indahnya kalau Anda
langsung masuk ke dalam laut, tidak usah pakai cawan. "Yoga merupakan
cara pandang holistik, keseluruhan, dalam pengertian ‘dari kesempurnaan
kita keluarkan kesempurnaan, ia tetap masih sempurna’. Ini konsep dasar
yoga yang menjadi tujuan yoga,” ungkap pria kelahiran Solo ini.
Untuk menjalankan yoga dalam konteks generik, terdapat delapan cara, yakni bhakti,
karma, jnana, raja, mantra, laya, tantra,
dan hatha yoga.
“Saya melihat semuanya harus jalan bersama, tidak bisa dipisah-pisahkan.
Namun, orang yang memisahkan juga punya dalil (alasan - Red.) kuat.
Saya melihat, manusia zaman sekarang jauh lebih kompleks daripada manusia
zaman dulu. Dulu, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, misalnya, cukup dengan bhakti
yoga (ritual, sesaji, sembahyang). Atau salah satu cara yoga lainnya.
Sekarang mana bisa. Seorang pendeta atau pedanda pun harus mengurusi
keluarga,” jelasnya.
Atas dasar itu, menjalani yoga saat ini tidak bisa cuma dengan satu cara.
Maka, muncullah Kundalini Yoga, seperti diaplikasikan Anand Krishna. Dalam
situs www.yogaworld.org yoga ini dinyatakan sebagai cara yoga
tersendiri walaupun umumnya merupakan gabungan antara yoga raja, hatha,
tantra, laya, dan mantra.
Nyaman dan mudah
Secara utuh, yoga memiliki delapan bagian (ashtangga) yang bisa
diibaratkan delapan bagian tubuh yang sama penting. Kedelapan bagian itu
ialah yama (peraturan), niyama (apa yang harus dihindari), asana
(postur yoga), pranayama (pernapasan), pratyahara (menarik
diri dari segala hal yang mengikat), dharana (konsentrasi), dhyana
(meditasi), samadi (keseimbangan).
Inilah sistematika yoga dalam konteks generik, yang dihasilkan oleh
Patanjali, seorang yogi (pelaku yoga) yang hidup lebih dari 1.000 tahun
lalu. Sistematika itu kemudian dikenal sebagai Patanjali Yoga Sutra.
Lalu, pujangga bernama Shangkara memberikan sistematika baru. Dalam sebuah
buku, dia memberikan penjelasan utuh tentang manusia, cara menjalani hidup
secara seimbang, serta bagaimana cara bertahan hidup kalau tidak ada
keseimbangan. Itulah yoga secara utuh.
Hanya saja ujung-ujungnya (yang paling kita butuhkan) adalah yoga untuk
terapi, untuk menyamankan badan, mental-emosional. Maka yang lebih berperan
adalah asana (postur yoga) dan pranayama (pernapasan). Jadi,
bukan yoga secara utuh. “Inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai yoga
untuk penyembuhan penyakit,” jelas Anand.
Asana selain berarti postur yoga, juga nyaman atau mudah. Nyatalah
latihan postur yoga mesti dilakukan dengan nyaman dan mudah. Setidaknya ada
19 postur yoga. Salah satu contoh paling populer adalah Padmasana
(postur teratai).
Pada postur ini kita duduk bersila dengan kaki kiri di atas paha kanan dan
kaki kanan di atas paha kiri, kedua tangan diletakkan (menengadah) di atas
lutut dengan ujung jari telunjuk berada di bawah jempol dan tiga jari
lainnya dibuka mengarah ke depan. Postur ini sangat baik untuk berdzikir,
dan membantu kita mencapai ketenangan jiwa.
“Kalau kita melakukannya dengan cara akrobatik, dengan memaksa diri sampai
membuat kita pusing atau pegal, itu bukan yoga. Apa pun yang dilakukan, kata
akhirnya ya asana, kenyamanan, kemudahan. Sementara nyaman itu
relatif, mudah juga relatif. Karena itu dalam tradisi, latihan diberi
variasi. Satu gerakan memiliki kurang lebih delapan variasi. Misalnya,
gerakan Pada Hastasana (membungkuk hingga kepala berada di bawah dan
tangan menyentuh kaki). Tujuannya, agar darah mudah mengalir ke kepala.
Orang gemuk pasti tidak bisa melakukannya secara sempurna. Kalau tidak bisa,
enggak apa-apa, tangan cukup sampai di paha. Kalau masih tidak bisa, sampai
di perut juga boleh. Asal kepala ditundukkan sedikit. Jadi, tidak usah
memaksa diri sampai mencapai kesempurnaan dalam latihan itu.”
Kalau azas asana tidak diindahkan, kita memaksa diri, kecelakaan bisa
terjadi. Contohnya, gerakan kepala di bawah dan kaki di atas. Gerakan ini di
India diajarkan pada anak-anak usia 5 – 6 tahun, tujuannya untuk memory
development. Namun kalau diajarkan pada orang berusia 30-an tahun, dan
dilakukan untuk jangka waktu 10 – 15 tahun, kemungkinan bisa terjadi
perdarahan otak. “Kelihatannya tidak bisa dikaitkan langsung. Tetapi saya
tahu, kecelakaan itu karena latihan yoga yang dipaksakan,” tambah Anand.
Sementara, dalam pranayama, kita rileks dan mengatur pernapasan.
Tarik napas, buang napas. Dengan pengaturan napas, aktivitas otak berkurang
sedikit. Dengan menyadari proses pernapasan, kita sebenarnya menyadari
mekanisme mind, menyadari pola pikir kita serta segala sesuatu yang
ada di dalam dan di luar diri kita.
Setidaknya ada enam macam pranayama. Salah satunya adalah tiger
breathing, pernapasan ala macan. Di Barat tiger breathing banyak
dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang usia. Gerakan ini bisa
memperpanjang usia karena mungkin rangsangan yang diterima tulang punggung
luar biasa. Kalau tulang punggung kita lurus, kita bisa hidup lebih lama.
Karena aktivitas fisik orang zaman sekarang relatif kurang, maka sebelum
melakukan asana dan pranayama, ada gerakan yang disebut vyayam
(pemanasan). Tujuannya untuk melenturkan tubuh sebelum memasuki latihan
inti. Vyayam tidak dikenal pada zaman Patanjali. Namun tidak menjadi
maslah, karena pada zaman itu orang banyak melakukan aktivitas fisik. Tubuh
mereka sudah lentur sehingga siap melakukan yoga kapan saja.
Dalam praktik yoga, beberapa asana dan beberapa pranayama
digabungkan sesuai kebutuhan. Oleh Anand gabungan itu dinamakan sebagai
etape. Secara keseluruhan ada delapan etape. Setiap etape terdiri atas
getaran suara, beberapa gerakan vyayam, beberapa gerakan asana,
dan beberapa gerakan pranayama. “Kami memberikan serangkaian
latihan yang kira-kira cocok untuk sepanjang usia kita sampai akhir hayat.
Di dalamnya ada yang mengurusi pernapasan, pencernaan, pembuangan angin,
jantung,” jelas Anand.
Jadi, “Apa pun penyakit dia, kami akan memberikan serangkaian latihan.
Kemudian juga dikombinasikan dengan penjelasan bahwa yoga bukan semata-mata
untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk memperbaiki gaya hidup,” tambah
pria bertubuh subur ini.
Merangsang simpul saraf otak
Gerakan-gerakan Kundalini Yoga sebenarnya berkaitan dengan simpul-simpul
saraf otak. Kalau otak tenang, seluruh badan akan mengikuti petunjuk otak.
Terjadilah keseimbangan dengan hasil kesehatan. Gerakan-gerakan tertentu
berkaitan dengan bagian otak tertentu.
Ambil contoh gerakan postur Paschimatanasana atau serangga. Gerakan
ini memberikan stimulus pada satu saraf otak yang mengurusi pankreas. Dia
kemudian mengirim informasi ke pankreas tentang produksi insulin, apakah
kurang, cukup, atau berlebih. Nah, gerakan tersebut akan menciptakan
keseimbangan itu. Pada saat yang sama, otak bisa mengirim sinyal ke saraf di
mulut yang mengurusi rasa untuk menolak gula. “Jadi, ada sistem yang
kompleks sekali dan ini berlaku untuk semua jenis penyakit,” tegasnya.
Satu gerakan yoga ternyata tidak boleh dilakukan selama lebih dari tiga
menit. Kita bisa memulainya selama 20 detik. Lalu ditingkatkan dalam waktu
kelipatan 20 detik hingga mampu mencapai tidak lebih dari tiga menit.
Mengapa kelipatan 20 detik?
“Karena latihan selama kelipatan 20 detiklah yang akan memberikan stimulus
kepada otak. Kalau saya melakukan suatu gerakan selama 15 detik, lalu saya
mengulangi lagi 15 detik, lalu 17 detik dan 19 detik, manfaat dari segi
yoganya nol. Meskipun manfaat dari segi badan bisa oke. Seperti
berolahragalah, berkeringat sedikit, badan lebih enak sedikit. Tapi manfaat
dari sisi yoga nol, karena tidak kelipatan 20 detik. Daripada melakukan lima
kali masing-masing 15 detik, lebih baik satu kali 20 detik, si otak sudah
mendapatkan stimuli dan dia mulai bekerja," jelas Anand.
Tidak ada aturan baku tentang frekuensi melakukan gerakan yoga. Latihan ini
bisa dilakukan seperti makan obat, tiga atau empat kali sehari. Hanya saja
ada anjuran, sebaiknya dilakukan sekitar empat jam setelah makan. Yang pasti
dalam keadaan perut agak kosong atau tidak terlalu kenyang, sehingga tidak
timbul rasa mual. Sehingga, kalau anjuran ini dipatuhi, paling-paling kita
bisa melakukan yoga 2 – 3 kali sehari. “Pagi satu kali, sekitar pukul
16.00 satu kali, dan malam satu kali. Namun yoga boleh dilakukan setiap
hari, khususnya untuk terapi,” tambah Anand.
“Tapi jangan mengharapkan penyembuhan secara instan. Jalur yoga itu lebih
panjang. Dia butuh waktu,” ujar Anand. Dari pengamatannya, dengan
program-program residensial (latihan sendiri di rumah) seseorang baru bisa
benar-benar sembuh dari asma antara 20 – 45 hari.
Itu pun, “Sembuh di sini artinya tidak kambuh lagi. Bahkan kalau bukan
program residensial (apa?), pasien dengan kondisi penyakit dan
mental-emosional mirip malah perlu waktu 3 – 6 bulan untuk sembuh,”
tambah pria berkumis dan berjenggot lebat ini.
Mau mencoba? (I Gede Agung Yudana) Baca juga:
Dian Mayasari Menemukan Jati Diri |
|||||