|
|
Bulan Juni 2001
|
|
PERIKSAKAN MATA ANAK SEJAK
DINI
Tahun lalu, salah seorang anak dari keluarga yang saya kelola kesehatannya
mulai menggunakan kacamata gara-gara pertanyaan saya: “Bagaimana kabar
Tody, Bu ?” yang dijawab dengan keluhan menurunnya prestasi belajar Tody.
Percakapan selanjutnya di ruang praktik itu berakhir dengan penulisan surat
rujukan ke dokter mata yang berpraktek tidak jauh dari tempat kami tinggal.
Ternyata Tody, yang duduk di kelas 4 SD, memerlukan kacamata. Ukurannya
minus 4 lagi! Syukurlah gangguan penglihatan seperti ini dapat diatasi
dengan penggunaan kaca mata.
Tody memang tidak sendirian. Di Inggris, sekitar 3,6 persen anak-anak
tiba-tiba menderita gangguan penglihatan hebat pada usia sekitar 11 tahun.
Data seperti ini mungkin terlalu canggih untuk sistem pelayanan kesehatan
kita. Tapi kita dapat mengambil pelajaran dari sistem pelayanan yang hampir
sempurna itu. Pelajaran pertama, tentu saja: bila ada perubahan dalam
prestasi belajar si upik atau si buyung, jangan lupa menanyakan: “Di baris
kursi ke berapa ia duduk di dalam kelas? Apakah ia melihat jelas apa yang
tercatat di papan tulis? Apakah ia sering mengantuk atau pusing di sekolah?
” Jawabannya mungkin berhubungan erat dengan kelainan refraksi.
Perubahan pada penglihatan, terkadang juga merupakan titik awal dari
pencarian ke arah tumor otak. Pada anak perempuan menjelang akil balig,
tidak munculnya menars (haid pertama) yang dibarengi dengan gangguan
penglihatan dapat merupakan tanda adanya tumor kelenjar hipofisis. Kelenjar
ini terletak di belakang mata. Perubahan penglihatan ini dapat berupa
penglihatan kabur, penglihatan mendua (diplopia), atau mata juling.
Di Indonesia, penyebab gangguan penglihatan yang paling sering memang masih
trakhoma dan kekurangan vitamin A. Tetapi, karena kelainan refraksi
sebenarnya dapat diatasi sejak dini, maka hendaknya kita memeriksakan mata
dan penglihatan anak kita menjelang ia masuk sekolah. Ironisnya, ini paling
sering kita lupakan. Padahal, pemeriksaan mata pada usia prasekolah mungkin
akan mengungkapkan adanya kelainan refraksi, buta warna, mata juling yang
tersembunyi (latent), atau kekurangan vitamin A.
Kelainan refraksi dan mata juling dapat dikoreksi dan tidak akan menimbulkan
masalah kalau segera ditemukan. Kekurangan vitamin A dapat segera diatasi
dengan pemberian vitamin A. Sedangkan trakhoma yang merupakan infeksi mata
oleh kuman chlamydia dapat diobati dengan antibiotik tertentu.
Sementara itu, buta warna adalah cacat bawaan yang tidak mungkin dikoreksi.
Tetapi itu juga bukan masalah. Hanya saja anak buta warna tidak dapat
menjalankan profesi tertentu ketika dia dewasa. Misalnya, tentara, pekerja
di laboratorium, dokter, pekerja tambang, ahli farmasi, dan beberapa profesi
lain yang memerlukan kemampuan membedakan warna. Dengan telah mengenal
cacatnya, seorang anak dibantu orang tuanya akan dapat memilih pendidikan
yang sesuai.
Karena mata adalah jendela untuk melihat dunia, kita perlu memelihara
fungsinya dengan baik dan menemukan kelainannya sejak dini. Periksakanlah
penglihatan anak kita menjelang ia masuk TK.
Jika selama mengikuti pendidikan di sekolah anak kita mengeluh ada yang tak
beres dengan penglihatannya, jangan abaikan. Lebih baik kita ajak ia
mengunjungi dokter mata untuk memeriksakan matanya. |
|||||