globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

Advis Medis Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp. FK

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

PERIKSAKAN MATA ANAK SEJAK DINI  

Ketika anak kita akan memasuki bangku sekolah, perhatian kita lebih tersedot pada pemilihan sekolah dan pemeriksaan kecerdasan. Hampir tak ada di antara kita yang memeriksakan kesehatannya, padahal kesehatan fisik berperan besar dalam menunjang prestasi si anak. Penglihatan yang terganggu, umpamanya, sering menjadi penyebab turunnya prestasi anak.

Tahun lalu, salah seorang anak dari keluarga yang saya kelola kesehatannya mulai menggunakan kacamata gara-gara pertanyaan saya: “Bagaimana kabar Tody, Bu ?” yang dijawab dengan keluhan menurunnya prestasi belajar Tody. Percakapan selanjutnya di ruang praktik itu berakhir dengan penulisan surat rujukan ke dokter mata yang berpraktek tidak jauh dari tempat kami tinggal. Ternyata Tody, yang duduk di kelas 4 SD, memerlukan kacamata. Ukurannya minus 4 lagi! Syukurlah gangguan penglihatan seperti ini dapat diatasi dengan penggunaan kaca mata.

Tody memang tidak sendirian. Di Inggris, sekitar 3,6 persen anak-anak tiba-tiba menderita gangguan penglihatan hebat pada usia sekitar 11 tahun. Data seperti ini mungkin terlalu canggih untuk sistem pelayanan kesehatan kita. Tapi kita dapat mengambil pelajaran dari sistem pelayanan yang hampir sempurna itu. Pelajaran pertama, tentu saja: bila ada perubahan dalam prestasi belajar si upik atau si buyung, jangan lupa menanyakan: “Di baris kursi ke berapa ia duduk di dalam kelas? Apakah ia melihat jelas apa yang tercatat di papan tulis? Apakah ia sering mengantuk atau pusing di sekolah? ” Jawabannya mungkin berhubungan erat dengan kelainan refraksi.

Perubahan pada penglihatan, terkadang juga merupakan titik awal dari pencarian ke arah tumor otak. Pada anak perempuan menjelang akil balig, tidak munculnya menars (haid pertama) yang dibarengi dengan gangguan penglihatan dapat merupakan tanda adanya tumor kelenjar hipofisis. Kelenjar ini terletak di belakang mata. Perubahan penglihatan ini dapat berupa penglihatan kabur, penglihatan mendua (diplopia), atau mata juling.

Di Indonesia, penyebab gangguan penglihatan yang paling sering memang masih trakhoma dan kekurangan vitamin A. Tetapi, karena kelainan refraksi sebenarnya dapat diatasi sejak dini, maka hendaknya kita memeriksakan mata dan penglihatan anak kita menjelang ia masuk sekolah. Ironisnya, ini paling sering kita lupakan. Padahal, pemeriksaan mata pada usia prasekolah mungkin akan mengungkapkan adanya kelainan refraksi, buta warna, mata juling yang tersembunyi (latent), atau kekurangan vitamin A.

Kelainan refraksi dan mata juling dapat dikoreksi dan tidak akan menimbulkan masalah kalau segera ditemukan. Kekurangan vitamin A dapat segera diatasi dengan pemberian vitamin A. Sedangkan trakhoma yang merupakan infeksi mata oleh kuman chlamydia dapat diobati dengan antibiotik tertentu. Sementara itu, buta warna adalah cacat bawaan yang tidak mungkin dikoreksi. Tetapi itu juga bukan masalah. Hanya saja anak buta warna tidak dapat menjalankan profesi tertentu ketika dia dewasa. Misalnya, tentara, pekerja di laboratorium, dokter, pekerja tambang, ahli farmasi, dan beberapa profesi lain yang memerlukan kemampuan membedakan warna. Dengan telah mengenal cacatnya, seorang anak dibantu orang tuanya akan dapat memilih pendidikan yang sesuai.

Karena mata adalah jendela untuk melihat dunia, kita perlu memelihara fungsinya dengan baik dan menemukan kelainannya sejak dini. Periksakanlah penglihatan anak kita menjelang ia masuk TK.

Jika selama mengikuti pendidikan di sekolah anak kita mengeluh ada yang tak beres dengan penglihatannya, jangan abaikan. Lebih baik kita ajak ia mengunjungi dokter mata untuk memeriksakan matanya. (dr. Zunilda S. Bustami, dokter keluarga)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej