|
|
Bulan Juni 2001 Flona |
|
Harimau Gigi Pedang Membantu Penyebaran Manusia
Bayangkan kita berada di zaman 20.000 tahun lalu, ketika Bumi masih dihuni makhluk-makhluk raksasa seperti mastodon (gajah purba), mammoth (gajah raksasa), sloth raksasa, dan singa amerika. Padang rumput Amerika mirip dengan savana Serengeti di Afrika, dengan satwa herbivora yang berkeliaran bebas. Tetapi di mana para pemangsa? Siapakah pemangsa paling buas saat itu?
Singa amerika memang masih bebas berkeliaran seperti sepupunya saat ini di Afrika. Tetapi pemangsa yang sesungguhnya adalah harimau bergigi pedang. Ketika zaman es hampir berakhir, harimau bergigi pedang berevolusi menjadi pemangsa hebat sebelum akhirnya punah di akhir zaman es 11.000 tahun lalu. Harimau bergigi pedang sebenarnya bukanlah harimau seperti yang dikenal saat ini. Lebih tepat jika disebut kucing besar purba. Sedangkan kata pedang diimbuhkan ke namanya lantaran taring atasnya tumbuh tidak wajar: sangat panjang dan terjulur ke luar rahangnya seperti sebilah pedang. Soal panjang ini ukurannya berbeda-beda. Yang paling terkenal adalah smilodon. Besarnya hampir sama dengan singa afrika modern. Tapi badannya lebih berat, kurang lebih 200 kg. Kaki-kaki dan ekornya pendek, sehingga sekilas lebih mirip lynx raksasa. Ciri-ciri demikian menandakan ia tidak mengejar mangsanya seperti kebanyakkan kucing besar. Kaki belakangnya teradaptasi menjadi semacam pegas alami yang kuat. Smilodon berburu dengan cara menyergap mangsanya. Ia bersembunyi di balik dedaunan menunggu mangsanya lewat. Mangsanya biasanya para mamalia bertubuh raksasa seperti sloth, badak, atau anak mammoth. Itu kalau ada. Kalau sepi, ya binatang kecil seperti antelop dan kuda primitif tak ditolaknya. Bahkan, saat perut sudah berorkestra, bangkai pun mau! Mangsa yang mendekati tempat persembunyiannya diserbu dengan tiba-tiba. Bukan dengan cara menerjangnya menggunakan kedua gigi taringnya, tapi dirobohkan dengan kedua kaki depannya yang kuat. Ketika sang mangsa jatuh menggelepar, kedua gigi raksasanya bekerja dengan cepat, menghunjam perut dan tengkuknya. Kedua bagian itu sengaja dipilih karena lebih empuk daripada bagian tubuh lain. Kini tinggal menunggu sang mangsa kelojotan, kehabisan darah, dan akhirnya mati. Dagingnya kemudian dirobek-robek menggunakan gigi-gigi tajamnya. Pengetahuan tentang kehidupan smilodon sebagian besar didapatkan dari fosil-fosil yang ditemukan di Rancho La Brea di Kalifornia. Di kuburan massal yang terkenal itu, ditemukan lebih dari 2.000 ekor smilodon. Sebagian besar terjebak dalam larutan aspal pekat dan terawetkan. Pada 12.000 tahun lalu, smilodon pernah mendiami Amerika Utara dan Selatan. Ada tiga spesies yang dikenal. Spesies terbesar adalah Smilodon populator. Besarnya hampir sama dengan singa modern. Binatang ini muncul di Amerika Selatan bagian timur pada sekitar 1 juta tahun lalu. Smilodon tertua sekaligus terkecil adalah Smilodon gracilis. Kucing ini hidup sejak 2,5 juta tahun lalu. Smilodon fatalis merupakan jenis smilodon terakhir yang muncul, tapi paling populer. Tubuhnya lebih kecil daripada Smilodon populator, tapi lebih besar daripada Smilodon gracilis. Inilah puncak perkembangan smilodon. Dari hasil analisis fosil-fosilnya disimpulkan, kehidupan smilodon mirip dengan singa modern. Kecuali gaya berburunya, smilodon nyaris serupa dengan raja hutan Afrika itu. Misalnya, smilodon hidup dalam kelompok kecil. Pernyataan ini didasarkan pada temuan beberapa fosilnya. Beberapa fosil yang ditemukan menunjukkan tanda-tanda bekas luka yang kemudian sembuh. Hanya binatang yang hidup dalam kelompok, yang dapat bertahan hidup saat tubuhnya terluka parah. Binatang soliter akan segera menemui ajalnya karena kelaparan. Jenis binatang seperti ini tentu tidak mampu berburu saat terluka. Sedangkan pada smilodon, binatang yang terluka tetap dapat hidup meskipun terluka dan tidak mampu berburu. Rekan-rekannyalah yang dengan senang hati mencarikan makanan dan merawatnya selama ia menderita. Kesamaan lainnya, anak-anak smilodon sangat tergantung pada induknya seperti layaknya anak-anak singa masa kini. Bahkan, ada yang yakin smilodon jantan juga bersurai seperti singa jantan. Alasannya, surai itu penting dalam berbagai tujuan sosial dalam sebuah kelompok seperti singa. Pendapat ini sulit dibuktikan karena sisa-sisa rambut jarang terawetkan. Meskipun begitu, ada juga perbedaan mencolok di antara keduanya. Tampang kucing besar ini lebih menyeramkan. Bayangkan, smilodon dapat membuka rahangnya lebar-lebar hingga 120o. Singa paling banter cuma mampu sampai 65o. Ditambah dengan otot-ototnya yang kuat, smilodon mampu menghunjamkan taringnya dalam-dalam. Taringnya sendiri bukan kepalang tanggung panjangnya, dapat mencapai 18 cm. Mangsanya dijamin tersiksa lahir batin sebelum menemui ajalnya. Wah!
Megantereon dari Jawa Asal muasal kucing besar bergigi pedang (subfamili Machairodontinae) hingga kini belum diketahui. Mungkin kucing ini berbagi nenek moyang dengan kucing sejati (subfamili Felinae) dan "macan bergigi pedang palsu" (subfamili Nimravinae). Kucing bergigi pedang pertama muncul pada masa Eosen (55 sampai 36 juta tahun lalu). Ada dua kelompok kucing bergigi pedang, yaitu kucing bergigi sabit dan bergigi pisau. Kelompok pertama diwakili oleh homotherium dan machairodus. Meskipun tidak sebanyak smilodon, homotherium tersebar sangat luas. Mereka menghuni Amerika dan Eurasia. Dibandingkan smilodon, taringnya tidak terlalu panjang, hanya sekitar 10 cm. Kaki-kakinya panjang dan ramping. Tapi yang aneh, kaki-kaki depannya lebih panjang daripada kaki-kaki belakangnya, sehingga sekilas penampilannya mirip seekor hyena (sejenis anjing hutan pemakan bangkai). Diduga homoterium lebih jago mengejar mangsa ketimbang smilodon. Ketahanan larinya juga dapat dilihat dari struktur lubang hidungnya yang besar seperti kepunyaan cheetah. Lubang hidung besar memudahkannya menghirup oksigen secara cepat saat berlari, sekaligus mendinginkan otaknya. Smilodon termasuk kelompok bergigi pisau, karena gigi-gigi taringnya lurus seperti pisau dan bukannya melengkung. Yang sekelompok dengannya adalah eusmilus, hoplophoneus, dan megantereon. Gigi-gigi taring kucing-kucing ini memang tidak sebesar smilodon, tapi tidak kalah ampuhnya. Istimewanya, beberapa di antaranya seperti dinictis dan eusmilus, memiliki "sarung pedang" untuk menyimpan gigi-gigi taringnya saat tidak digunakan. Sarung ini merupakan modifikasi dari rahang bawahnya yang memanjang. Dengan sarung pedang alami ini, mereka tidak perlu khawatir jika gigi-giginya akan melukai anak-anaknya yang mendekatinya. Entah bagaimana cara mereka menjaga agar anak-anaknya tidak terluka. Salah satu surga bagi kucing bergigi pedang adalah Amerika Utara. Namun pada masa Miosen (22,5 sampai 5 juta tahun lalu), mereka menjadi begitu langka. Untunglah hal serupa tidak berlangsung di Eropa. Pada masa Pleistosen, Amerika Utara yang mulai kekurangan stok kucing bergigi pedang, mulai disuplai benua lainnya. Kali ini yang masuk adalah megantereon. Kucing-kucing kuno itu masuk ke dunia baru melalui tanah genting Bering yang pernah menghubungkan Asia dan Amerika Utara. Mengapa harus megantereon yang masuk? Alasan yang paling masuk akal, inilah jenis kucing bergigi pedang yang paling umum saat itu di Eurasia. Mereka mula-mula berkembang di sekitar daerah mediterania (sekitar Laut Tengah) sebelum akhirnya menyebar ke Afrika dan Asia. Fosil-fosilnya pun pernah ditemukan di Pulau Jawa. Pada masa Pleistosen akhir, giliran smilodon yang bermigrasi ke Amerika Utara. Ada anggapan bahwa smilodon sebenarnya adalah keturunan megantereon. Megantereon versi baru ini akhirnya mengikuti jejak nenek moyangnya menjadi warga dunia baru.
Kucing aspal Tidak semua binatang pemangsa bergigi taring panjang, dapat disebut kucing bergigi pedang. Suatu kelompok kucing yang diberi nama nimvaridae, ternyata berasal dari kelompok berbeda. Kucing bergigi pedang palsu ini tubuhnya tidak sebesar yang asli. Mereka pelari tangguh dan hidup di kala Eosen. Pada masa Oligosen, kucing aspal (asli tapi palsu) ini sangat lazim dijumpai di Amerika Utara dan Eropa. Sayangnya, pada masa Pleistosen kucing-kucing ini mendadak lenyap seperti ditelan bumi. Mungkin kalah bersaing dengan jenis kucing bergigi pedang tulen, yang sedang jaya-jayanya saat itu. Namanya juga aspal. Pasti tidak sekuat yang asli! Sejenis binatang lain yang persis dengan kucing bergigi pedang ternyata malah tidak dapat digolongkan dalam kelompok kucing mana pun di dunia. Kelompok ini malah lebih aspal daripada nimvaridae. Di Argentina pernah ditemukan fosil-fosil binatang seperti ini. Namanya thylacosmilus. Ia semula disangka kucing bergigi pedang. Ternyata, ia sejenis marsupial (binatang berkantung) yang lebih dekat dengan kanguru dan koala. Terkaan orang wajar saja keliru karena sekilas tampangnya memang mirip kucing bergigi pedang lainnya, lengkap dengan sarung pedangnya.
Dimanfaatkan manusia purba Kucing bergigi pedang mencapai puncak perkembangannya pada masa Pleistosen. Namun pada sekitar 10.000 tahun lalu, tiba-tiba mereka lenyap secara misterius. Teori paling populer menyebutkan, smilodon lenyap bersama-sama mamalia raksasa lainnya melalui suatu proses yang dikenal sebagai "kepunahan massal". Kebetulan masa itu juga ditandai dengan perubahan iklim secara drastis. Zaman es berakhir. Perubahan iklim juga berarti perubahan tumbuhan. Tumbuhan baru bermunculan. Hutan-hutan berubah menjadi padang rumput. Para monster raksasa pemakan tumbuhan ternyata rentan dan tidak cepat beradaptasi. Kepunahan pun tinggal tunggu waktu. Setelah mamalia pemakan tumbuhan bertumbangan, giliran kucing bergigi pedang lenyap. Kelaparan hebat akibat hilangnya binatang mangsa mengakibatkan kucing terbuas yang pernah ada ini, berguguran. Bagaimana dengan peran manusia purba? Manusia mungkin turut andil dalam kepunahan sang kucing besar. Sejak kemunculan manusia, kucing bergigi pedang punya saingan baru. Manusia bukan hanya mengusirnya dari binatang buruan, tetapi juga menghabiskan binatang buruan. Tanpa gigi-gigi pedang, manusia purba mampu menaklukkan mammoth terbesar dengan lembing dan api. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kucing bergigi pedang paling kampiun sekalipun. Kalau mau jujur, kucing raksasa bergigi pedang ini sebenarnya berjasa dalam perkembangan manusia. Binatang-binatang ini memainkan peranan penting dalam penyebaran awal manusia di muka bumi. Ada bukti bahwa di Afrika Selatan, dinofelis, sejenis kucing bergigi pedang, menjadi pemangsa Austrolopithecus (sejenis manusia purba). Bahaya ini memaksa manusia berpindah dari dalam hutan ke savana yang lebih terbuka. Di padang rumput, bahaya yang datang segera terlihat. Di Eropa, lain lagi ceritanya. Pada awal Pleistosen, megantereon membantu penyebaran manusia ke seluruh daratan Eropa. Dengan kekuatannya, meganteron mampu melumpuhkan mangsa besar. Tetapi, seperti kebanyakkan pemangsa, mereka tidak mampu menghabiskan seluruh mangsanya sekaligus. Setelah kenyang, bangkai korbannya ditinggalkan begitu saja untuk disantap hyena atau burung pemakan bangkai. Akan tetapi, bangkai binatang yang masih hangat itu bukan saja menarik perhatian hyena dan burung pemakan bangkai, melainkan juga manusia purba. Tanpa kerja keras, orang-orang purba ini mendapat rezeki nomplok di depan mata. Akhirnya terjadi semacam ketergantungan manusia terhadap megantereon. Orang-orang purba pun membuntuti ke mana pun sang kucing raksasa pergi dengan harapan mendapat sisa-sisa makanannya. Tanpa disadari, mereka telah menyebar ke daerah sangat luas. Ada kalanya kerja sama itu berubah menjadi permusuhan sengit. Ada saatnya manusia purba terpaksa membunuh kucing bergigi dengan alasan membela diri. Toh permusuhan itu tidak mampu menyembunyikan kekaguman nenek moyang kita pada sang kucing garang. Para seniman kuno pun mengungkapkan kekagumannya lewat lukisan-lukisan di dinding-dinding gua. Kucing purba ini pun dibenci sekaligus disayang. (Koen Setyawan, staf paruh waktu pada Yayasan Semesta Biru) |
|||||