globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

Infotekno

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

BAYI TABUNG MAKIN MENJANJIKAN

Hampir seperempat abad sudah usia teknologi kedokteran bayi tabung sehingga banyak perkembangan yang sudah dicapai. Terakhir, dengan cara menanamkan blastosis ke dalam rahim, beberapa kekurangan teknik sebelumnya bisa diatasi.

 

Tommy (35 th) dan Rina (31 th) sudah 3 tahun menikah. Tetapi mereka belum juga dikaruniai seorang anak pun. Sudah lima dokter spesialis kandungan dan kebidanan mereka kunjungi. Sejumlah tes untuk mencari penyebab infertilitas pun dilakukan, baik terhadap Tommy maupun Rina. Hasilnya, keduanya termasuk fertil. Berkat informasi dari dokter mereka, keduanya sepakat mengikuti program bayi tabung. Ternyata, embrio yang dihasilkan dalam proses pembuahan in vitro (di laboratorium) cukup jumlahnya. Atas dasar itu mereka juga menyetujui tawaran transfer blastosis dalam program itu, karena tingkat keberhasilan hamilnya tinggi dan tidak ada peluang kehamilan kembar lebih dari dua.

Anda barangkali bertanya-tanya, apa sih blastosis itu? Sebenarnya, yang dimaksud blastosis ya embrio juga, tapi usianya lebih tua, yakni lima atau enam hari. Pada tahap ini, embrio telah mempunyai dua tipe sel dengan sebuah rongga di tengahnya. Sel terluar disebut trophectoderm yang nantinya berkembang menjadi plasenta. Sedangkan sel bagian dalam disebut inner cell mass, nantinya menjadi janin.

 

Lebih banyak bayi laki-laki

Di negara maju, teknik transfer blastosis sudah bukan barang baru. Sudah dilakukan di George Washington University Medical Center, AS pada 1997 dan menghasilkan seorang bayi laki-laki. Namun di Indonesia baru dicoba akhir 2000 di RSAB Harapan Kita Jakarta. Begitupun, menurut dr. H. Muchsin Jaffar, direktur laboratorium pembuahan in vitro, Unit Infertilitas Melati, RSAB Harapan Kita, sejak akhir 2000 hingga awal Mei 2001 lalu teknik ini telah diterapkan pada 32 pasien. Hasilnya, 40%-nya (12 pasien) berhasil hamil. Meski masih di bawah angka keberhasilan di luar negeri yang bisa mencapai 76%, angka ini lebih baik ketimbang tingkat kehamilan yang dicapai lewat menanamkan embrio usia dua hari, yang di RSAB Harapan Kita cuma sekitar 29%.

Pada program bayi tabung dengan penanaman blastosis, maksimal cuma dua blastosis ditanamkan ke dalam rahim calon ibu. Kalau dua-duanya berkembang menjadi janin, jumlah bayi yang dilahirkan pun cuma dua. Itu pun persentasenya kecil. Hasil penelitian yang dikutip Nukman Moeloek (Majalah Kedokteran Indonesia, Agustus 2000) menunjukkan angka 39%. Meskipun sebuah blastosis dapat saja membelah menjadi kembar identik, tetapi hasil penelitian menunjukkan, tidak pernah ada kehamilan triplet dari transfer dua blastosis. Jadi pasangan yang menjalani program bayi tabung cara ini tak usah khawatir bakal punya anak kembar tiga atau empat seperti yang kemungkinan terjadi pada transfer embrio usia dua hari.

Keuntungan lain transfer blastosis adalah bobot badan bayi yang dilahirkan tidak berbeda dengan anak hasil kehamilan alamiah. Bagi yang menginginkan anak laki-laki, transfer blastosis juga memberikan keuntungan. Moeloek menunjukkan hasil penelitian Menezo dkk., bahwa rasio seks bayi hasil transfer embrio sebesar 1,4. Rinciannya, 58,3% bayi yang dihasilkan berkelamin laki-laki dan cuma 41,7% yang perempuan.

"Masalahnya, tidak semua pasien bisa mendapatkan transfer blastosis. Misalnya karena jumlah embrio yang didapat sedikit. Kalau embrio yang diperoleh 2 – 3 saja, riskan sekali kalau kita harus mengembangkan menjadi blastosis. Karena blastoration rate-nya (tingkat keberhasilan mengembangkan embrio jadi blastosis) tidak 100%. Di sini policy kami, kalau embrionya ada enam atau lebih, kita berikan opsi kepada pasien, mau transfer embrio dua hari atau blastosis. Biasanya pasien mengikuti kami," ungkap pakar bayi tabung ini.

Teknik transfer blastosis sebenarnya lahir untuk meniru proses kehamilan alami. Secara alamiah, pada hari kedua setelah pembuahan, embrio masih dalam perjalanan di tuba Fallopii (saluran antara indung telur dan rahim) menuju rahim. Ia baru sampai di rahim dan menempel di dindingnya setelah menjadi blastosis.

Sekadar tahu saja, sel telur yang sudah matang akan dibuahi sel sperma yang mampu bertahan menempuh perjalanan dari vagina, rahim, hingga tuba Fallopii. Saat bertemu keduanya menyatu jadilah zigot (hari 0). Pada hari pertama zigot membelah menjadi embrio dua sel. Hari berikutnya, jadi embrio empat sel. Begitu seterusnya hingga menjadi embrio delapan, 16, dan 32 sel, yang disebut morula. Selama pembelahan itu, ia masih berada di tuba Fallopii. Setelah itu ia menjadi blastosis pada hari kelima. Blastosis selanjutnya akan keluar dari lapisan pelindung terluarnya yang disebut zona pelusida di akhir hari keenam.

"Pada tahapan blastosis inilah sebenarnya ia menanamkan diri ke dinding rahim. Paling cepat morula baru turun ke rahim. Ini terjadi pada hari kelima atau keenam. Kalau embrio kita transfer pada hari kedua, akan timbul permasalahan. Kenapa? Karena lingkungannya tidak sesuai dengan tahap perkembangannya, sehingga ia akan stres." Di sana medianya tidak cocok, karena suasana rahim terlalu asam dan si embrio tidak tahan. Nutrisinya juga tidak tepat bagi embrio. Inilah salah satu faktor yang diduga menyebabkan belum memuaskannya tingkat kehamilan pada program bayi tabung cara transfer embrio.

Untuk mencapai tahapan blastosis secara in vitro, dulu dikembangkan teknik ko-kultur. Embrio dikembangkan di atas satu lapisan (monolayer) kultur sel-sel saluran reproduksi wanita (tuba Fallopii atau endometrium), untuk meniru kondisi alamiah. Di dunia dilaporkan blastoration rate-nya mencapai 70%.

Bagaimana mekanisme sebenarnya sistem ko-kultur memberikan efek positif dalam program bayi tabung belum diketahui pasti. Diduga melalui mekanisme pengeluaran faktor-faktor penting dalam pengembangan embrio. Di antaranya asam amino (terutama glisin) dan faktor-faktor pertumbuhan spesifik lainnya seperti epidermal growth factor (EGF), transforming growth factor 1) dsb., serta kemampuan detoksifikasi untukb atau TGF-aatau (1 (TGF- menghilangkan faktor-faktor tak menguntungkan embrio dalam medium kultur. Kelemahannya, teknik ko-kultur ini sangat rumit.

Sekarang, berdasarkan pengalaman dan penelitian yang ada, para ahli telah mengembangkan formulasi medium yang tepat yang cell free, namanya, Stage Spesific Sequential Media. Dengan medium ini embrio dikembangkan sesuai dengan medium yang dibutuhkannya dan seperti perkembangan alamiahnya. Pada stadium 2 – 8 sel dikembangkan dalam medium G11. Medium ini terdiri atas larutan garam, sumber energi, dan protein. Setelah 8 sel ke atas, embrio dikembangkan dengan medium lain, G22, yang komposisinya berbeda dengan medium pertama. G22 di antaranya terdiri atas asam amino, vitamin, dan hormon.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada kriteria baku untuk dapat memprediksi embrio yang dapat berkembang menjadi blastosis. Jadi, hanya embrio yang terbaik yang mampu mencapai blastosis.

Namun lepas dari semua itu, menurut dr. Muchsin, embrio yang baik hanya bisa dihasilkan dari telur yang baik. Sedangkan kualitas sel telur sangat dipengaruhi oleh usia. Wanita usia di atas 40 tahun biasanya memiliki sel telur yang sudah menurun kualitasnya. Tentu kualitas embrionya juga kurang baik. Atas dasar itu, bila sudah berusia 35 tahun belum juga memperoleh keturunan, seorang wanita harus segera bersiap-siap.

"Ini juga berlaku bagi kalangan medis sendiri. Mereka harus tahu, kapan mereka merujuk pasien ke tingkat lebih tinggi, yakni sentra yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Sayang sekali kalau pasien macam ini sampai 'terlantar'," jelas Muchsin.

 

Berburu sperma

Kecuali dalam hal "produk" yang ditanamkan ke dalam rahim, program bayi tabung dengan transfer blastosis tidak memiliki perbedaan dengan program bayi tabung dengan transfer embrio usia dua hari. Tahapan-tahapannya untuk mendapatkan embrio, sama persis.

Tahapan pertama sudah tentu screening terhadap pasangan yang hendak mengikuti program bayi tabung. Bila secara medis memungkinkan untuk mengikuti program bayi tabung, mereka bisa menjalani prosedur berikutnya.

Pasien wanita akan menjalani ovarium hyperstimulation untuk mengembangkan sejumlah sel telur di dalam tubuh si wanita. Stimulasi dimulai pada hari ke-21 setelah haid dengan suntikan GnRH analog (GnRHa) selama 14 hari. Selama 14 hari berikutnya suntikan yang sama dikombinasikan dengan suntikan hormon gonadotropin.

"Selama itu kami melakukan pemantauan terus terhadap folikelnya hingga sel telur matang. Setelah empat minggu kita harapkan sel telur sudah matang. Lalu kami lakukan ovum pick up, 'panen' sel telur. Semua sel telur yang tumbuh, kami ambil," jelas dr. Muchsin. Penentuan tingkat kematangan sel telur sangat penting untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pembuahan oleh sel sperma di laboratorium. Untuk itu dilakukan final maturation, kira-kira 4 – 5 jam, lalu dipertemukan dengan sel sperma.

Rata-rata sel telur yang dihasilkan 8 – 10 sel telur, tergantung dari respons si pasien. Bahkan bisa 20 sampai 30 sel telur. Padahal, secara alami cuma ditumbuhkan 1 sel telur.

Sementara itu, spermanya diperoleh dengan cara masturbasi yang dilakukan oleh suami pasien wanita. Namun, bila dalam semen ternyata tidak ditemukan sel sperma (azoospermia), diperlukan tindakan operasi yang dilakukan oleh ahli bedah urologi.

Bila azoospermia terjadi karena adanya penyumbatan pada saluran yang dilalui sel sperma, diterapkan teknik operasi MESA (Microsurgical Sperm Aspiration). Namun bila tidak ada peyumbatan atau adanya gangguan fungsi testis, digunakan teknik operasi TESE (Testical Sperm Extraction). Dengan tindakan tersebut diharapkan bisa diperoleh sel sperma, atau paling sial ya spermatid (sel sperma muda yang sudah dapat membuahi).

Berdasarkan pengalaman, kemampuan sel sperma membuahi sel telur tergantung pada kualitas sel sperma. Untuk mengetahui kualitas sperma, digunakan suatu tes yang dinamai sperm recovery test. Dari uji ini akan diketahui jumlah sel sperma terbaik, yang dapat "dipanen" setelah diolah dengan teknik tertentu, tanpa memandang jumlah sel sperma awal.
Jumlah sel sperma inilah yang menentukan teknik pembuahan in vitro (IVF) yang digunakan. Kalau sel sperma berkualitas baik berjumlah di atas 500 ribu, bisa digunakan teknik IVF konvensional. Sel sperma ditebar begitu saja pada sel telur yang berhasil "dipanen". "Dengan cara ini akan terjadi pembuahan 70 - 85%," jelas dr. Muchsin. "Namun, kalau spermanya kurang dari 500 ribu, kita harus hati-hati menggunakan IVF konvensional," tambahnya.

Dengan ditemukannya teknik terbaru pembuahan, jumlah sel sperma yang diperlukan untuk IVF semakin sedikit. Infertilitas faktor pria (IFP, infertilitas terjadi pada pihak pria) pun bukan lagi kendala. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam IVF untuk mengatasi IFP. Di antaranya, teknik inokulasi dan partial zona pelucida section (sebagian dinding sel telur diiris untuk memudahkan kontak dengan sel sperma), Sayangnya, kedua teknik ini pun kurang memberi hasil baik.

Gebrakan terakhir yang revolusioner dan memberi hasil terbaik adalah teknik intracytoplasmic sperm injection (ICSI, penyuntikan sel sperma ke dalam sel telur). "Dengan teknik ini kita cuma memerlukan 1 sel mani terbaik untuk di injeksikan ke dalam sel telur. Inilah teknik revolusioner dalam teknologi reproduksi manusia dan primadona untuk mengatasi masalah spermatozoa. Teknik ini mulai digunakan di dunia sejak 1993-an dan di sini sejak tahun 1995," ujar dr. Muchsin. Dengan teknik ini pasangan yang prianya cuma menghasilkan sperma minim masih bisa ditolong. Tapi bagi pria yang mengalami azoospermia, teknik ini harus dikombinasikan dengan MESA atau TESE.

Dari proses IVF di laboratorium diharapkan bisa dihasilkan embrio. Calon bayi inilah yang akan ditransfer ke dalam rahim si calon ibu. Atau, kalau memungkinkan, embrio terus dikembangkan hingga hari keenam menjadi blastosis. Maka, tim medis pun bisa melakukan transfer blastosis yang menjanjikan itu. (Gde/Bea)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej