|
|
Bulan Juni 2001 Infotekno |
|
Bekisar, Penangkal Pencuri Pulsa Telepon Ini bukan jenis ayam lo. Tapi merek perangkat
buatan Pattindo yang bisa menangkal para jamper (pencuri pulsa)
telepon kita. Selain itu bisa dipakai pula untuk mendeteksi kerusakan
jaringan telepon di rumah. Juga antipetir. Wah, 3 in 1 dong…!
Tiba-tiba saja telepon rumah Pak Alex mati, tak bisa dipergunakan. Dengan
menggunakan telepon selulernya, Pak Alex menghubungi nomor 117 untuk minta
petugas Telkom memperbaiki kerusakan itu. Sejam dua jam ditunggu kok
petugasnya enggak datang-datang. Setelah sekian lama menunggu, baru pihak
Telkom tiba di depan rumah. Setelah cek sana cek sini, baru ketahuan kalau
kerusakan ada pada instalasi kabel dalam rumah (IKR). Ada bagian kabel yang
digigit tikus. Pak Alex tambah keki ketika petugas tidak mau membetulkan
kerusakan.
"Wah, kalau kerusakan di IKR bukan tanggung jawab kita, Pak," kata
si petugas Telkom.
"Lo, kok begitu," timpal Pak Alex.
"Iya. Apa Bapak tidak tahu, semenjak ada keputusan menteri
(Kepmenparpostel KM.22/Dirjen/1996), Telkom hanya bertanggung jawab terhadap
kerusakan saluran telepon dari sentral ke kotak terminal batas (KTB),"
lanjut si petugas sambil menunjuk kotak kecil di pojok rumah Pak Alex yang
oleh orang Telkom dikenal sebagai roset.
Dipakai secara resmi
Barangkali banyak Pak Alex lainnya yang tidak tahu soal pemisahan tanggung
jawab ini. Akibat ketidaktahuan itu, baik pelanggan maupun Telkom sama-sama
rugi waktu. Bayangkan saja kalau petugas Telkom itu harus mendatangi daerah
pinggiran dari wilayah kerjanya. Bagi pelanggan, aktivitas komunikasinya
terganggu karena telepon tidak bisa digunakan.
Kebingungan seperti itulah yang dimanfaatkan oleh Perhimpunan Ahli Teknik
Terapan Indonesia (PATTINDO) untuk mengeluarkan produk pendeteksi letak
gangguan kerusakan saluran telepon. Namanya cukup unik dan aneh: Bekisar.
Ya, ayam hasil persilangan antarspesies (yaitu antara ayam hutan hijau Gallus
varius sebagai pejantan dan ayam piaraan biasa Gallus domistica
sebagi betinanya) itu dipilih karena alat ini produk lokal. "Kalau
(namanya) dari barat nanti kebaratan-baratan," kata Ir. Bambang P.
Eriyanto dari Pattindo.
Meski lokal, jangan disepelekan. Sama seperti jangan melongo mengetahui
harga bekisar betulan yang bisa sampai puluhan juta rupiah. Selain bisa
mendeteksi letak gangguan kesalahan, Bekisar memiliki fungsi lain: penangkal
pencurian pulsa dan penangkal petir. Bagaimana alat ini bekerja?
Prinsip kerja alat ini sesederhana ide pembuatannya. Seperti kita ketahui
bersama, jaringan telepon memiliki tegangan berkisar antara 48 - 52 V. Nah,
tegangan inilah yang diukur oleh alat buatan Pattindo itu. Alat yang
memiliki tampilan seperti voltmeter ini dipasang sebelum roset. Bahkan bisa
dijadikan pengganti roset tanpa menyalahi aturan dari Telkom. "Ini
sudah dipakai secara resmi oleh Telkom. Khususnya Divre 2 (Jakarta),"
tegas Bambang. Di alat itu memang sudah tercantum logo timbul dari PT
Telkom.
Cara memasangnya juga gampang. Tak perlu memanggil instalatur telepon yang
memasang jaringan di rumah kita. Pasang di tempat yang terjangkau pandangan
dan terlindung. Meski Bambang sudah menguji alatnya dengan disemprot air,
tapi 'kan alat ini sesekali harus dicek. Jadi, kalau dipasang di tempat
terbuka, misalnya, kalau ingin mengecek sementara hari hujan bukankah itu
merepotkan?
Jika alat ini mau dipakai untuk menggantikan roset, maka setelah roset
diangkat, kabel-kabel yang terpotong itu tinggal disambungkan ke Bekisar.
Pada sisi yang menghadap ke kabel Telkom terdapat sambungan untuk pentanahan
(grounding). "Bisa hanya ditaruh ke tanah basah," kata
Bambang. Sementara pada sisi kabel saluran ke rumah tinggal pasang saja.
Memasangnya juga mudah, sebab tidak ada aturan khusus kabel warna ini harus
dengan ini atau sebaliknya. "Bolak-balik sama saja," kata Bambang.
Itulah mengapa Bambang mempromosikannya sebagai "Enak dipandang,
gampang dipasang".
Pelindung dari petir
Bekisar ini mengukur tegangan yang ada di jaringan telepon. Jika tidak ada
kerusakan, baik di saluran Telkom maupun di IKR, maka jarum pada skala meter
yang ada di layar petunjuk Bekisar akan berada di perbatasan warna merah dan
putih. Jika ternyata jarum pada skala meter menunjuk angka nol (sebelah
kiri), berarti ada gangguan pada jaringan Telkom yang berada di luar rumah.
"Itu berarti enggak ada tegangan. Nah, panggil 117 untuk mencari di
mana letak gangguan itu," saran Bambang.
Gangguan pada IKR akan ditunjukkan oleh jarum pada skala meter yang berada
di daerah merah (sebelah kanan). Kemudian jika telepon ditutup tiba-tiba
lampu LED merah yang ada di Bekisar menyala, itu tandanya ada hubungan
singkat di jaringan IKR. "Hubungi instalatur untuk
memperbaikinya," ujar Bambang. Hubungan singkat juga bisa terjadi pada
jalur Telkom yang diindikasikan dengan jarum skala meter mendekati angka 0%.
Selain pendeteksi gangguan tadi yang membantu kita membuat keputusan mana
yang harus dihubungi, alat yang sudah dipatenkan ini berfungsi pula sebagai
antipetir. Seperti kita ketahui, meski listrik mati, telepon masih bisa
digunakan karena tegangan dari Telkom tidak ikut dimatikan. Jadi masih ada
arus, yang membuat rentan disambar geledek.
Ancaman petir tadi sangat ditakuti oleh wartel yang merupakan pangsa
Bekisar. Di sini teleponnya harus "nyala" terus, jadi perlu
perlindungan ekstra. Nah, kalau kabel telepon disambar petir Bekisar-lah
yang menjadi tamengnya. "Pengalaman yang ada, Bekisarnya sampai hangus,
tapi telepon masih bisa dipakai," kata Bambang. Ditambahkannya,
Pattindo sudah menguji coba terhadap gangguan petir ini di Bogor sebagai
kota yang banyak petirnya. Hasilnya, dari 100 yang dipasang, hanya tiga yang
hangus.
Alat yang sedang didaftarkan untuk bisa masuk acara Telkomania ini juga bisa
memberi tahu kalau ada orang yang mencuri pulsa. Kalau kita sedang memakai
telepon, maka jarum pada skala meter akan bergoyang-goyang seirama dengan
goyangan suara yang diubah menjadi sinyal listrik. Logikanya, jika kita
tidak memakai telepon tapi jarum bergoyang-goyang pasti saluran kita dibajak
pancilok pulsa.
Jamper atau pencurian pulsa memang dimungkinkan karena jaringan
Telkom tidaklah 100% aman. Dengan kabel yang menggantung di atas tanah,
orang yang lemah iman gampang tergiur untuk menyantol. Jika pemakaiannya
tidak agresif, mungkin si pemilik nomor yang dicantol tidak sadar. Akan
tetapi kalau kebangeten, ya pasti menimbulkan kecurigaan.
Seperti dikutip Media Indonesia (9-11-2000), di Surabaya ada orang
yang mencuri pulsa tetangganya. Karena bernafsu, pulsa yang dicuri membuat
tetangganya terbelalak melihat tagihan teleponnya. Biasanya hanya membayar
Rp 100.000,-, sekarang tidak tanggung-tanggung: hampir Rp 2.000.000,-.
Setelah mengadu ke Telkom dan dilakukan pengecekan ke lapangan, ketahuan
bahwa teleponnya "dipinjam" tetangga sebelah rumah.
Bisa untuk Ratelindo
Untuk memperoleh manfaat tadi, Anda tak perlu merogoh kantong terlalu dalam.
Cukup siapkan uang Rp 75.000,- saja. Harga bisa menjadi murah kalau mau
menjadi agen dengan minimal order 100 unit. Sebagai agen, Anda memperoleh
harga Rp 50.000,-. Menurut Bambang, pemasarannya sampai saat ini sudah
tersebar di Sumatera, Kalimantan, Makassar, dan NTT.
Meski masih kesulitan dalam hal pemasaran, Bambang menegaskan bahwa Pattindo
bukanlah home industry. Dari pabriknya di Malang, Pattindo sudah
menghasilkan berbagai produk aplikatif. Bekisar hanyalah salah satu produk
di luar sistem perangkat wartel yang sudah mulai dikenal.
Meski alat ini masa pakainya cukup lama, delapan tahun, namun Bambang
melihat bahwa pasar masih terbuka lebar. "Ini lingkupnya 'kan nasional.
Meski tarif naik, masih banyak yang antre pasang telepon. Telkom 'kan masih
monopoli." Apalagi alat ini bisa dipasang pada Ratelindo. Di Ciputat
sudah ada orang yang memasang Bekisar untuk telepon gelombang radio itu.
Ke depan, untuk mengantisipasi kejenuhan pasar, Pattindo mencoba
mengembangkan Bekisar. "Bisa saja nanti menggunakan suara. Jadi, kalau
ada pencurian pulsa akan ada nada peringatan. Entah berdenging atau malahan
tidak bisa dipakai sama sekali," Bambang menjelaskan kiatnya. (Yds.
Agus Surono) |
|||||