globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Bergoyang Demi Timah

Di Pulau Bangka, tempat saya bertugas, krisis moneter justru membawa berkah tersendiri bagi sebagian besar warga masyarakat yang sehari-harinya bekerja sebagai pencari timah. Ini karena meningkatnya nilai dolar sehingga harga timah pun ikut terdongkrak.

Malah sejak era reformasi penambangan timah secara tradisional seolah bebas dilakukan oleh semua orang, termasuk anak didik saya. Peningkatan kesejahteraan memang sangat mereka rasakan. Dalam sehari seorang anak bisa mendapat timah 3 - 4 kg dengan harga Rp 17.000,- per kg, sama dengan Rp 50.000,-.

Sayangnya, karena asyik menggoyang si hitam alias menambang timah secara tradisional, para siswa jadi lupa belajar. Hampir setiap hari selalu ada siswa yang mangkir, dan dapat dipastikan mereka asyik "bergoyang" mendulang timah.

Pihak sekolah telah berulang kali mengingatkan agar mereka jangan lupa belajar, tapi sambutan mereka dingin-dingin saja. Malah ada para orang tua berpandangan, "Buat apa belajar atau sekolah sampai tinggi, toh nanti sulit mencari kerja."

Kondisi demikian makin diperparah dengan ikut sertanya beberapa guru "bergoyang" demi menutup kebutuhan dapur agar tetap ngebul. Sangat ironis, di satu sisi guru wajib meningkatkan mutu pendidikan, di sisi lain mereka meninggalkan tugas demi kebutuhan keluarga.

Sungguh memprihatinkan. Bagaimana bisa mencerdaskan bangsa kalau banyak pihak tidak peduli akan mutu pendidikan. Seyogyanya kita sepakat bahwa keberhasilan pendidikan adalah barometer keberhasilan bangsa. Semoga. (Agnes Yunarti)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej