|
|
Bulan Juni 2001
|
|
MEMBASMI CACING PITA ALA DUKUN Dalam sebuah penelitian penyakit cacing pita di sebuah desa di Bali, ada 60 orang relawan yang akan diberi ceramah. Karena kebanyakan relawan tidak antusias, ceramah pun terpaksa dilakukan dari rumah ke rumah. Itu pun ada relawan yang cuma manggut-manggut, selain ada yang memberi tanggapan bagus dan antusias. Dari seorang relawan yang aktif dalam ceramah itu saya sempat berdiskusi tentang pengobatan penyakit cacing pita ala dukun. Menurut seorang dukun, ceritanya, pengobatan penyakit cacing pita tidak memerlukan obat. Cukup dengan berpuasa, menyediakan makanan enak, dan menyiapkan sebuah gunting. "Bagaimana cara itu bisa mematikan cacing pitanya?" tanya saya. "Menurut pak dukun, puasa dilakukan agar si cacing lapar. Makanan enak bukan untuk dimakan, melainkan cuma diirup melalui mulut supaya aromanya masuk ke dalam usus dan merangsang cacing keluar melalui mulut. Begitu kepala cacing sudah berada di luar mulut, gunting segera beraksi memotong leher cacing. Tamatlah riwayat si cacing," jawabnya. "Benar enggak sih Dok cara itu bisa memberi hasil?" sambungnya bertanya. "Kalau menurut Bapak bagaimana?" sekadar ingin tahu saya mencoba menguji daya nalarnya setelah dia mendapat ceramah dari saya. "Rasanya tidak masuk di akal, Dok! Mana mungkin cacing pita yang berkepala sangat kecil, berbadan gepeng, dan sangat panjang bisa keluar sendiri melalui mulut. Berpuasa mungkin ada gunanya dalam pengobatan, karena dalam keadaan perut kosong obat akan lebih cepat kontak dengan cacing. Cacing pun cepat mati. Jadi berpuasa perlu dilakukan sebelum pemberian obat sepanjang obatnya tidak berefek sampingan berat bagi penderita," jawabnya. Jawaban tersebut sebenarnya telah menjawab pertanyaannya sendiri. (dr. Ketut Ngurah) |
|||||