globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Dikira Jururamal

 

Beberapa waktu silam kami, berdua dengan seorang teman dari Manado, mengikuti kursus di Bandung mewakili peserta dari Popinsi Sulawesi Utara. Saat hari libur, kami berniat bersilaturahmi ke rumah saudara saya yang tinggal di Bandung juga. Kebetulan sedang musim mangga, maka kami membawa buah tangan mangga yang kami masukkan ke dalam tas ransel.

Waktu melewati sekelompok ibu yang duduk-duduk di tepi jalan, dengan spontan teman saya minta izin untuk lewat. "Permisi!" katanya. Serempak ibu-ibu membalas dengan ramah, "Mangga- mangga!"

Setelah agak jauh, teman saya sempat bertanya dalam bahasa Manado, "Kiapa so dorang tahu kali torang ada bawa mangga?" Maksudnya, kenapa ibu-ibu itu bisa tahu kalau kami membawa buah mangga. "Mereka ahli ramal!" jawab saya sekenanya. Herannya, teman saya percaya dengan jawaban asal-asalan saya.

Dua bulan berlalu. Kursus telah selesai, kami pun berniat berpamitan dengan saudara yang kami kunjungi tempo hari itu. Kebetulan kami baru pulang dari kunjungan lapangan di Yogyakarta dan membawa buah salak. Seperti pada acara silahturahmi pertama, kali ini pun salak kami masukkan di tas ransel.

Ketika melewati ibu-ibu yang sedang duduk di tepi jalan, kembali dengan spontan teman saya minta izin lewat, "Permisi!" Seperti biasanya, ibu-ibu itu menjawab dengan ramah dan kompak, "Mangga, mangga!"

Sambil tersenyum sendiri, teman saya berkata, "Ha, salah. Salak koak yang torang bawa!"

Sambil tertawa lepas, saya lalu jelaskan, yang dimaksud mangga bukan buah mangga, tapi artinya silakan. Untunglah, teman saya itu tidak marah sudah saya kibuli. (Andri Zafrullah)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej