globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

 Kelirumologi

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Bahasa Gerak

 

 

Tujuan bahasa sebenarnya cuma satu, yakni mengkomunikasikan pikiran, namun dalam upaya mencapai tujuan-tunggal itu bermunculan aneka ragam cara dan bentuk, termasuk di antaranya adalah bahasa gerak. Lebih problematis lagi, ternyata selaras dengan keanekaragaman latar belakang kebudayaan, maka bahasa gerak itu sendiri juga memiliki aneka ragam bentuk, di mana sang makna ikut menjadi beraneka ragam, hingga rawan menimbulkan dampak miskomunikasi akibat keliru tafsir.

Apabila seorang India menggelengkan kepala, maka jangan ditafsirkan maknanya adalah penolakan atau tidak setuju, sebab bahasa gerak India itu justru bermakna: ya! Jika seorang Cina mengacungkan genggaman kepalan kedua tangannya, jangan Anda marah menangkis, karena dia justru berniat mengungkapkan rasa hormatnya kepada Anda. Mirip halnya, jika seorang Maori menjulur-julurkan lidahnya bukan berarti mengejek!

Semasa kanak-kanak di tanah air sendiri, di saat bermain peran personifikasi para tokoh wayang purwa yang saya kagumi, Bima atau Hanuman, dengan bangga saya mengacung-acungkan genggaman tangan sambil menyelipkan ibu jari di antara telunjuk dan jari tengah sebagai lambang keperkasaan kuku Pancanaka nan sakti mandraguna itu. Namun, setelah saya berada di mancanegara, khususnya di kawasan budaya Barat, ternyata bahasa gerak kebanggaan saya itu lebih baik tidak saya gunakan, karena di sana bermakna sanggama.

Di Jerman, bahasa lewat bentuk lingkaran jari telunjuk dan ibu jari, sementara sisa tiga jari lainnya lepas biasa, merupakan isyarat puas dan pujian atas suatu kinerja bagus. Bentuk bahasa gerak yang sama, sebaiknya jangan digunakan terbuka di kawasan Mediterania, karena di sana di samping bisa bermakna nilai nihil alias tidak berharga, secara simbolis banyak pula yang menafsirkannya sebagai liang vagina.

Makna genggaman tangan dengan acungan ibu jari ke atas nyaris universal bermakna OK atau pujian, maka dari sana muncul istilah positif: jempolan. Namun hati-hati menggunakannya di Pulau Sardinia terutama di bagian Selatan, di sana acungan jempol merupakan penghinaan kasar, karena dianggap lambang penis sedang ereksi.

Berkat ulah PM Inggris, Winston Churchill, mengobarkan semangat juang bangsanya di Perang Dunia II, gesture acungan telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V, termasyhur sebagai pertanda Victory, kemenangan. Namun di beberapa kawasan lain, bahasa gerak yang sama bisa berarti sekadar angka dua, atau bahkan bisa juga ekspresi caci maki akibat mirip tanduk iblis simbol kejahanaman.

Di masyarakat Cina, perilaku bersendawa (glegekan bahasa Jawa) - yang bisa juga dikategorikan sebagai bahasa bunyi - di saat atau setelah makan merupakan ekspresi kepuasan demi menghargai sang pemasak dan penyaji hidangan, namun termasuk kategori tabu di tata krama kesopanan masyarakat Eropa.

Di samping budaya, latar belakang kondisi pribadi juga mempengaruhi makna gesture. Misalnya bahasa gerak penderita penyakit Parkinson tentu sulit ditafsirkan maknanya. Salah satu pendayagunaan bahasa gerak yang keliru namun lazim, adalah sibuk menggerak-gerakkan tangan, kaki, sampai ekspresi wajah, di saat berkomunikasi lewat pesawat telepon, di mana sebenarnya yang bisa berfungsi menangkap informasi hanya indera dengar. Semua sebenarnya sadar atas kemubaziran bahasa gerak pada saat berbicara lewat telepon, namun nyaris semua melakukan perilaku keliru itu.

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej