|
|
Bulan Juni 2001 Langlang |
|
Miyajima Negeri Para Dewa
"Otorii", menyimak bunyinya, bisa diduga pasti kata bahasa Jepang. Sebagaimana Borobudur identik dengan Indonesia, pun Menara Eiffel dengan Prancis, Patung Liberty dengan Amerika Serikat, atau Piramid dan Sphinx dengan Mesir. Otorii memang salah satu identitas Jepang.
Sebentuk gerbang raksasa tegak di tengah lautan. Menantang terpaan angin,
hantaman gelombang, dan hempasan arus, tak kenal masa pasang maupun surut.
Gerbang itu 212,7 m jauhnya dari Kuil Itsukushima.
Gerbang ini memang jenis yang umum dijumpai di depan kuil Shinto.
Istimewanya, gerbang ini adalah yang terbesar, terindah, serta terunik di
Jepang. Bayangkan, pilarnya saja terbuat dari kayu berdiameter 4,16 m dengan
tinggi 16,8 m. Pantaslah bila gerbang itu dinamai Otorii, dalam bahasa
Inggris Grand Gate.
Keunikan lain, tiang gerbang tidak ditanam di dalam pasir, tapi hanya
didirikan di atas pasir dengan mengandalkan bobot tiang yang amat berat.
Otorii dirancang seperti kotak kosong yang diisi batu untuk menambah bobot
agar tahan terjangan gelombang.
Gerbang yang kini berdiri adalah yang ke-12 sejak tahun 1875, menggantikan
gerbang-gerbang yang sebelumnya rusak dilalap api atau diterjang taifun.
Warisan budaya dunia
Gerbang ini terdapat di P. Miyajima yang masuk daerah Prefektur Hiroshima.
Pulau dengan panjang 9 km dan lebar 6 km itu hanya dibatasi selat selebar
500 m dari P. Honsyu. Memang, Miyajima terkenal di seluruh Jepang dengan
keindahan alam dan peninggalan budayanya.
Kuil Itsukushima, salah satu peninggalan budaya di Miyajima, termasuk
warisan dunia yang berharga seperti halnya Candi Borobudur. Kuil itu resmi
terdaftar sebagai warisan budaya dunia pada World Heritage Committee pada
bulan Desember 1996. Dari seluruh P. Miyajima sekitar 431,2 ha atau 14%-nya
terdaftar sebagai warisan budaya dunia.
Sejarah Miyajima dan Kuil Itsukushima dimulai kira-kira tahun 881,
sebagaimana tercatat dalam Nihon Koki atau Catatan Sejarah Jepang.
Disebutkan, Kuil Itsukushima adalah salah satu kuil ternama di seantero
Jepang. Terbukti, selama berabad-abad Kuil Itsukushima dipakai sebagai
tempat sembahyang oleh klan-klan yang berkuasa di Jepang.
Salah satu penguasa yang berpengaruh dalam sejarah Kuil Itsukushima adalah
Mori Motonari. Selain penguasa feodal di daerah Chugoku atau Hiroshima
selama masa perang saudara dalam sejarah Jepang, ia juga disebut-sebut
sebagai pendiri wilayah Hiroshima. Tahun 1551 setelah mengalahkan Sue
Harukata dalam perang Itsukushima yang disebut juga Tiga Perang Besar di
Jepang, Motonari menguasai daerah Chugoku dan pembangunan kembali Kuil
Itsukushima dilaksanakan tahun 1571.
Pembangunan ulang Itsukushima tak hanya terjadi pada tahun itu. Pembangunan
serupa dilakukan tahun 1207 dan 1223 karena kuil terbakar. Lucunya, setiap
pembangunan ulang ukuran kuil berubah. Namun, ukuran dan denahnya yang sama
dengan saat ini dimulai sejak tahun 1325 ketika Itsukushima rusak karena
taifun.
Kuil utama Itsukushima terdiri atas tiga bagian, yaitu tempat tersuci di
mana para dewa dimuliakan, bagian dalam yang hanya dibuka bagi para pendeta,
serta bagian luar untuk pemujaan orang kebanyakan terhadap para dewi.
Di depan Kuil Itsukushima terdapat semacam panggung, yakni hirabutai.
Hirabutai digunakan selama kagensai (festival musik) sebagai tempat
keluar-masuk dewa-dewi. Selain itu, ada takabutai yakni panggung
pertunjukan bugaku (pertunjukan musik Jepang kuno).
Kuil Dewi Laut
Mengapa Kuil Itsukushima terletak di tepi pantai sehingga tergenang saat air
laut pasang? Menurut satu versi, karena yang dimuliakan adalah dewi laut
Shinto: Ichikishima Hime no Mikoto. Versi lain menyebutkan, Itsukushima
perwujudan dari kepercayaan dalam agama Buddha pada zaman Fujiwara. Aliran
ini percaya saat orang meninggal, jiwa-jiwanya naik kapal menyeberangi laut
menuju Gokuraku Jodo atau surga. Apa pun alasannya, Kuil Itsukushima
tetap karya besar perpaduan harmoni dan keindahan dari kebudayaan manusia
dan alam sekitarnya.
Buddha pun terasa pengaruhnya di Miyajima. Ini tampak dari bangunan-bangunan
Buddha yang berupa Senjokaku (aula seribu tikar tatami) dan pagoda berlantai
lima. Pagoda lima lantai merupakan kombinasi keindahan arsitektur Cina -
Jepang dengan cat merah terang. Bangunan Shinto berdampingan dengan bangunan
Buddha yang lazim ditemukan di Jepang, memiliki sejarah yang menarik.
Shintoisme merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang. Kata Shinto yang
muncul sekitar abad ke-6 lebih merupakan usaha masyarakat saat itu untuk
membedakan tradisi asli mereka dengan ajaran dari luar yaitu Buddhisme dan
Konfusianisme. Ajaran Buddha masuk ke Jepang sebagai ajaran yang telah
berkembang sebagai agama dengan sejarah berumur seribu tahun lengkap dengan
literatur religius, doktrin, dan kependetaan yang terorganisasi dengan baik.
Semua itu tidak terdapat dalam ajaran Shinto.
Di awal masuknya, masyarakat Jepang tidak mampu menerima ajaran Buddha.
Namun di abad-abad selanjutnya agama Buddha di Jepang adalah hasil interaksi
terus-menerus antara ajaran Buddha dengan Shinto (Watt, 1982).
Namun dalam perkembangan selanjutnya, sinkretisme ajaran Buddha dan Shinto
dilarang. Akibatnya, Senjokaku dan pagoda di Miyajima diubah menjadi kuil
afiliasi Itsukushima. Lambang-lambang Buddha di dua bangunan Buddha itu
dipindahkan ke Kuil Daiganji.
Tak ada kuburan dan rumah sakit
Sejak Kuil Itsukushima didirikan oleh Taira No Kiyamori, Miyajima tidak
dihuni oleh manusia sampai pertengahan zaman Kamakura di abad XIII. Waktu
itu penghuninya hanya hewan-hewan liar, burung-burung, dan dewa-dewa Shinto.
Bahkan, para pendeta Shinto pun tidak tinggal di sana. Namun akhirnya
Miyajima boleh didiami oleh penduduk, meski dengan pengawasan amat ketat.
Karena Shinto amat mengagungkan kemurnian, segala sesuatu yang tidak bersih
dilarang mengotori pulau suci itu. Penduduk dilarang melahirkan, mati, atau
dikuburkan di Miyajima. Sampai hampir seabad silam para wanitanya harus
pergi ke P. Honsyu untuk melahirkan dan tinggal di sana selama 50 - 100 hari
untuk pemurnian sebelum dibolehkan kembali. Hingga kini sebagian adat itu
masih berlaku. Terbukti, tidak ada rumah sakit atau kuburan di Miyajima.
Miyajima dapat dicapai dengan kereta api dari pusat kota Hiroshima sampai
stasiun dekat pelabuhan Miyajima dengan waktu tempuh 30 menit. Bila ingin
menghemat beberapa ratus Yen, trem atau street car bisa dipilih. Dari
pelabuhan tersedia feri yang akan menyeberangkan kita sampai pelabuhan
Miyajima selama kira-kira 10 - 12 menit.
Di sepanjang jalan dari pelabuhan menuju Otorii, sekelompok sika atau
rusa jinak berkeliaran "menyambut" pengunjung. Pemandangan ini
sama persis dengan objek wisata Todaiji di Kota Nara.
Penduduk Miyajima zaman sekarang biasanya bersekolah dan bekerja di
Hiroshima. Taifun di musim tertentu sering mengganggu penyeberangan feri.
Akibatnya, penduduk Miyajima terisolasi sampai taifun terhenti.
Selain kuil bersejarah, ada beberapa objek wisata menarik lain di Miyajima.
Antara lain, sebuah rumah tua dari zaman Edo (1603 - 1867) sampai zaman
Meiji (1868 - 1912). Dulu rumah itu dibangun dan dihuni oleh keluarga
Egamis, keluarga pengusaha sukses dan terkaya di Miyajima. Oleh keturunan
terakhirnya, rumah itu diserahkan pada pemerintah daerah untuk dijadikan
Museum Sejarah dan Folklore.
Rumah contoh Jepang yang seperti dalam film "Oshin" itu diatur dan
dipelihara seperti aslinya. Sejumlah keramik indah dan alat rumah tangga
tradisional milik keluarga Egamis pun tertata rapi. Di taman dalam rumah ada
kolam penuh ikan koi. Brankas tempat si pengusaha menyimpan uang ditaruh di
sebuah ruangan. Di ruangan lain terdapat telepon kuno yang dipasang di awal
abad XX.
Oleh-oleh, centong dan kue "daun"
Siapa sangka Miyajima pun menyimpan mitos. Konon, sepasang kekasih sebaiknya
tidak pergi bersama ke Miyajima. Kabarnya, itu bisa mebubarkan hubungan
mereka.
Mitos lain, cobalah melemparkan uang logam ke Otorii. Bila koin berhasil
mendarat di salah satu bagian kayu yang melintang di bagian atas Otorii, itu
pertanda keinginan kita akan tercapai.
Namun yang perlu diperhatikan bila akan ke Miyajima, pilihlah saat musim
semi (Maret - Mei, Red.) atau musim gugur (September - November, Red.).
Di musim semi seluruh pelosok Miyajima, kuil dan pagoda, tampak syahdu
bertaburkan bunga sakura. Sedangkan di musim gugur pohon momiji atau
pohon maple menyulap suasana yang amat berbeda, marak dengan merah-jingganya
dedaunan. Keindahan alam itu terutama terpusat di Taman Momijidani.
Tak sebatas dipandang mata, kekhasan daun momiji bisa dibawa pulang
sebagai oleh-oleh khas Hiroshima, namun yang ini berupa kue momiji manju.
Kue jenis sponge cake yang dicetak dalam bentuk daun momiji berasa
manis dengan berbagai pilihan isi mulai coklat, keju, kacang merah, teh
hijau, hingga custard. Umumnya toko yang menjual momiji manju
memasang kaca transparan. Maka, pembeli bisa melihat langsung saat mesin
mengolah adonan menjadi kue momiji yang hangat dan lezat.
Makanan khas lain adalah kerang dari perairan Seto. Perairan di sekitar P.
Seto dan air tanah alami dari G. Misen di Miyajima memang tempat tepat untuk
perkembangbiakan kerang. Tingginya kandungan nilai gizi kerang itu
membuatnya sering disebut susu dari lautan. Sayangnya, kerang ini tidak
dapat dinikmati sepanjang tahun.
Selain Momiji, oleh-oleh dari Miyajima adalah centong nasi. Konon centong
mulai dibuat sejak zaman Edo. Pelopornya seorang pendeta Buddha bernama
Seishin. Kekhasannya, meski dibuat dari kayu yang harum, keharuman itu tidak
bercampur dengan nasi serta tahan panas.
Ukuran centong bervariasi, ada yang 15 - 18 cm, ada pula yang raksasa, 1,8 -
2,1 m! Centong besar yang berhiaskan kaligrafi kanji sering menjadi
"jimat" pembawa keberuntungan bagi toko, rumah tangga, politisi,
dan tim olahraga. Ini karena centong berbentuk seperti biwa (instrumen musik
petik berleher pendek dengan tubuh berbentuk buah pir), yang berhubungan
dengan salah seorang dewa keberuntungan yaitu Benzaiten. Sedangkan centong
kecil, selain menjadi cendera mata, terutama yang dihiasi kaligrafi kanji,
tentu saja bisa untuk penyendok nasi.
Sejuknya embusan angin musim semi atau musim gugur mengantar aroma bakaran
cumi-cumi, jagung, dan kue-kue para pedagang kaki lima menggoda saraf cecap
pengunjung. Saat siang menjelang, kedai-kedai pun siap dengan makan siang
dengan harga yang terjangkau. Rata-rata makanan yang ditawarkan adalah makan
jepang, seperti berbagai jenis soba, bentoo alias kotak makan
siang dengan berbagai pilihan menu dan nasi kari. Nasi kari memang sangat
popular di Jepang, dan harganya sangat murah.
Miyajima, dengan warisan budaya, masyarakat, dan alamnya, menorehkan satu
kenangan, "mengesankan". |
|||||