|
|
Bulan Juni 2001 Perkara Kriminal |
|
DUA PERMADI TEWAS, DI LUAR PENTAS Colomadu, kota kecamatan yang terkenal dengan pabrik gulanya terletak sekitar delapan kilometer barat Kota Solo. Senin subuh, 6 Januari 1977, kota kecil itu gempar. Seorang wanita muda cantik, ditemukan tewas di tempat tidurnya. Kapolsek Colomadu, Iptu Subroto Jono, yang baru dua bulan pindah dari Polsek Palur, cepat bangun mendengar ketukan di pintu kamarnya. Bharutu Darmadi bagian piket, berdiri di depan pintu dengan seorang hansip kelurahan. "Lapor, Pak! Ini Hansip Dahlan dari Kelurahan Paulan. Dia melaporkan, di desanya terjadi pembunuhan." "Baik, saya segera ke sana. Tolong hubungi dokter Simon di rumahnya," perintah Iptu Subroto. Kabut masih menggantung, lampu penerangan jalan pun masih menyala. Rumah korban terletak di timur pabrik gula. Rumah tembok bercat putih itu penuh orang. Korban masih muda, berkulit langsat, hidung mancung, dan dagu berbelah dua. Ia ditemukan di kamar utama, yang menghadap taman samping. Namanya Endang Setyowati, primadona wayang orang "Hesthi Brata" yang tengah manggung di Balai Kesenian "Panti Krido" Colomadu. Ia ditikam pisau beberapa kali di leher, dada, perut, yang semuanya di bagian kanan tubuh korban. Seprai tempat tidurnya acak-acakan, penuh darah sampai tembus ke kasur. Bantal-guling dan selimut bernoda darah terlempar ke lantai, artinya korban sempat melawan, meski akhirnya kalah. Iptu Subroto teliti melihat sayatan kulit ari di balik kuku-kuku panjang jemari korban. Mungkin pelaku sempat dicakar.
Pacarnya berkunjung Iptu Subroto tidak melihat tanda-tanda perampokan atau percobaan perkosaan. Semua benda di rumah itu utuh, di meja samping tempat tidur terdapat piring berisi buah-buahan dan tiga bungkus obat resep dokter dari sebuah apotek di Kartosuro. Dokter Simon yang datang dengan paramedis langsung memeriksa korban. "Sebenarnya semua tusukan itu tidak begitu membahayakan. Korban tewas karena kehabisan darah. Ada dua kemungkinan. Si pembunuh tidak profesional, atau korban pintar menghindar," ujar dokter kepolisian itu. "Melihat posisi dan luka korban, yang semuanya ada di bagian kanan tubuh. Sedangkan pelaku tentunya ada di kanan tempat tidur, karena bagian kiri dan kepala ranjang mepet tembok. Saya duga, si pelaku kidal," ujar dokter berperawakan langsing itu. "Kira-kira kapan peristiwa ini terjadi, dok?" "Melihat darah sudah membeku, kira-kira lewat tengah malam." "Mungkinkah korban mengenali penyerangnya, dok?" "Mungkin saja, tetapi …," katanya sambil mengambil kantung obat, "CTM 4 mg ini membuat korban terlelap. Begitu masuk kamar yang tak terkunci, pelaku leluasa bertindak." Iptu Subroto keluar kamar menghampiri kerumunan orang. "Siapa yang pertama kali menemukan korban?" serunya. "Saya, Pak! Saya Suparmi, pembantu Mbak Endang," sahut seorang seorang wanita muda dengan suara gugup. Di ruang tamu Suparmi bercerita, "Biasanya Mbak Endang minta dibangunkan pukul lima, untuk jalan pagi atau bersepeda. Kamar tidur Mbak Endang memang tidak pernah dikunci. Begitu melihat Mbak Endang berlumuran darah dan tempat tidurnya awut-awutan, saya panik dan langsung berteriak." "Apa tadi malam ada tamu?" tanya Iptu Subroto. "Ada. Pak Edy ... Edy Harsono. Pacar Mbak Endang." "Apa kamu tahu alamatnya?" "Katanya, di daerah Manahan. Pak Edy itu kawan Mas Setyawan, kakak Mbak Endang. Mas Setyawan bekerja di Kartosuro, ia setiap hari pulang kemari. Tapi Jumat sore lalu, dia pulang ke rumah orang tuanya di Boyolali, sebab Sabtu - Minggu libur. Seninnya baru dia kemari." "Apa ada tamu lain lagi?" sela Bharutu Darmadi. "Bu Wagiyah, Pak," jawab Suparmi takut-takut, "tukang pijit tunanetra langganan Mbak Endang." "Apa dia membawa kawan?" "Tidak, dia selalu sendirian. Setelah manggung malam Minggu kemarin Mbak Endang sakit. Minggu pagi minta resep dokter Pandoyo langganannya. Saya yang ambil resep di Apotek Kresna." "Jam berapa Pak Edy datang?" tanya Iptu Subroto kembali. "Sekitar pukul 20.00, baru pulang pukul 22.00. Pas waktu itu lewat Bu Wagiyah yang selalu membawa krencengan kaleng kalau sedang berkeliling." "Apa tiap malam Pak Edy datang kemari?" "Tidak. Cuma tiap Minggu sore, saat itu Mbak Endang libur, enggak menari. Hesthi Bratha tidak main." "Setelah Pak Edy pulang, dan Bu Wagiyah memijat Endang, kamu ke mana?" "Tidur, Pak. Disuruh Mbak Endang. Kamar saya di belakang." "Apa semalam kamu tidak mendengar apa-apa? Misalnya orang berteriak minta tolong, atau suara ribut dari kamar Endang?" "Tidak, Pak. Saya langsung pulas," jawabnya lirih. "Jadi, kamu juga tidak tahu jam berapa Bu Wagiyah pulang? Lalu siapa yang mengunci pintu?" "Biasanya Mbak Endang sudah terlebih dulu membayar Bu wagiyah. Pintu ruang tamu tinggal ditarik dari luar. Pintu akan mengunci asalkan tombol bagian dalam ditekan." Iptu Subroto meminta anak buahnya segera memanggil Setyawan, Edi Harsono, dan Bu Wagiyah. Sementara itu jenazah Endang Setyowati dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.
Petunjuk tukang pijit Bu Wagiyah, wanita separo baya itu tampak gemetar, ketika tahu dipanggil polisi. "Jangan takut, Bu. Jawab saja apa adanya, seperti yang ibu tahu," bujuk Iptu Subroto. "Saya memijat Bu Endang kira-kira sampai pukul 11.00 lebih, soalnya Bu Endang tertidur ketika lonceng di gardu hansip berbunyi sebelas kali. Saya langsung pulang sesudah menutup pintu kamarnya." "Pintu kamar cuma ditutup, tidak dikunci. Bagaimana dengan pintu ruang tamu?" "Saya yang mengunci," Bu Wagiyah menuturkan seperti penjelasan Suparmi. "Ibu
yakin pintunya sudah terkunci?"
Wanita gemuk itu mengangguk. Lalu Iptu Subroto menoleh ke Suparmi.
"Suparmi, siapa lagi yang menyimpan kunci rumah?"
"Satu dipegang Mas Setyawan, Pak!"
Iptu Subroto mengamati slot pintu ruang tamu. "Slot dengan anak kunci
pipih begini biasanya punya tiga anak kunci. Lalu, mana yang satu lagi,
Suparmi?"
"Mungkin disimpan yang punya rumah, Pak. Ini 'kan rumah
kontrakan."
Pertanyaan kembali diajukan ke Bu Wagiyah.
"Sebelum pulang, apa Ibu bertemu seseorang?"
"Iya, sepertinya ada orang datang ketika saya di halaman," jawab
Bu Wagiyah yakin.
"Laki-laki atau perempuan?" lanjut Iptu Subroto.
"Ah, bapak kok bercanda …."
"Oh, maaf, Bu. Saya lupa. Kok Ibu tahu ada orang datang?"
"Dari bunyi langkahnya. Meski sudah dibuat sepelan mungkin, tetapi
suara sepatunya di batu-batu halaman tetap berisik. Bau minyak wanginya pun
amat harum. Menilik baunya, dia bukan orang sembarangan."
"Maksud Ibu?"
"Dia pasti orang kaya. Saya sering memijat orang-orang kaya sekitar
Colomadu, termasuk manajer pabrik gula, tapi saya belum pernah mencium yang
seharum itu. Dari jauh, bau harum dan lembutnya masih tercium. Sampai kapan
pun saya tidak akan lupa.
"Lain kalau minyak wangi murahan. Dipakai sedikit tidak wangi, kalau
banyak malah bikin pusing. Bau rokoknya juga lain, bukan rokok kretek,"
katanya sambil tersenyum.
"Orang tadi tidak bicara apa-apa dengan Ibu?"
"Tidak. Meski saya sapa, dia diam saja. Tetapi saya yakin, di dekat
saya ada orang," jawab Bu wagiyah.
Tidak lama kemudian, datang Setyawan dengan Edy Harsono. Begitu tahu apa
yang terjadi, Setyawan langsung pingsan. Melihat itu, Iptu Subroto meminta
Edy Harsono dan Setyawan melengkapi keterangan di kantor polisi.
Iptu Subroto dengan Bharutu Darmadi langsung ke gedung Panti Krido, aula
pertunjukan yang selama ini disewa Grup Wayang Orang Hesthi Bratha. Di
belakang gedung tua yang menghadap jalan utama itu berderet bangunan petak,
yang dihuni para "anak wayang" yang masih membujang.
Kedatangan mereka disambut oleh Pak Puntodewa. Bujangan berumur 40-an itu
koordinator wayang sekaligus sutradara.
"Apa Pak Puntodewa sudah mendengar kabar tentang Endang?" tanya
Iptu Subroto sambil mengamati pria "nyentrik" itu.
"Sudah. Di kota kecil berita apapun cepat tersebar. Apalagi musibah itu
menimpa 'primadona' kami, yang juga public figure masyarakat pecinta
wayang. Tetapi Ibu Christina sudah saya telepon. Dia meminta saya memberi
bantuan seperlunya, sebab selama ini Endang banyak berjasa pada Hesthi
Bratha," jawabnya pelan sambil menyulut rokok kretek.
"Siapa itu Ibu Christina?" Iptu Subroto ingin tahu.
"Pemilik wayang orang ini. Ia tinggal di Purwosari, Solo," ujar
Puntodewa sambil menyebutkan alamatnya.
"Dia keturunan asing, bapak Eropa, ibu asli Solo. Dari kecil sampai
usia 20-an dia di luar negeri. Waktu ayahnya meninggal, ia kembali ke Solo.
Dengan warisan ayahnya, ia hidup berkecukupan. Selain wayang orang, dia
punya perusahaan batik dan tenun di Kleco."
"Sejak kapan Pak Puntodewa bekerja sama dengan Bu Christina?"
"Dulu saya ikut grup Wayang Orang Sekar Budoyo. Ketika bangkrut, wayang
orang itu dibeli oleh Bu Christina. Namanya diganti menjadi Hesthi
Bratha."
Puntodewa pun bercerita betapa kelompok ini terseok-seok, Bu Christina
sampai nombok-nombok. Namun, sekitar dua tahun lalu, Puntodewa
menemukan Endang Setyowati dan Hardiman, dua penari yang baru lulus dari
akademi tari. Begitu keduanya bergabung, pamor Hesthi Bratha bersinar.
"Banyak penonton pria kesengsem dengan Endang dan ingin kenal dekat
dengan Endang."
"Adakah kawan seprofesinya yang juga naksir?" tanya Iptu Subroto.
"Ada, ya itu kawan di sekolah tarinya, Hardiman. Hardiman sering jadi
cakil, sedangkan Endang sebagai Abimanyu atau Permadi," tutur Puntodewa
sambil tersenyum.
"'Kan Endang sudah punya pacar," ujar Bharutu darmadi.
"Itu sebabnya, Hardiman jadi suka minum, mabok-mabokan. Semalam ia
pulang larut, hampir pukul 02.00."
"Sekarang mana orangnya?"
"Tadi di kamar, mungkin masih tidur."
"Boleh bicara sebentar dengannya?"
Tak berapa lama muncul Hardiman yang tinggi semampai, berkulit bersih, cocok
untuk jadi "cakil". Pagi itu, si cakil tampak lesu darah.
"Masih ngantuk, ya? Semalam dari mana dan pulang pukul
berapa?" Iptu Subroto membuka percakapan.
"Dari tempat karaoke di Kartosuro, lalu minum-minum dengan teman di
warung pojok pabrik," jawabnya.
"Saya ingin sedikit tanya soal tewasnya Endang Setyowati tadi malam.
Anda sudah tahu?" tanya Iptu Subroto sambil mengamati reaksi Hardiman.
Si Cakil yang lincah di panggung itu tersentak, lalu lunglai di kursinya.
"Pipi kanan Anda luka baret, kenapa?" tanya Iptu Subroto.
"Ini … kena cincin Wawan, waktu berlatih Sabtu kemarin,"
jawabnya pelan.
"Benar, di waktu luang dimanfaatkan anak-anak untuk berlatih. Waktu itu
Hardiman salah posisi. Akibatnya, dia benar-benar kena tinju Wawan yang
kebetulan bercincin," tambah Puntodewo.
Enggan menikah
Tengah hari Iptu Subroto dan Bharutu Darmadi kembali ke kantor. Setyawan dan
Edy Harsono sudah di ruang tunggu.
"Oh, ya Setyawan. Apakah kau menyimpan kunci rumah itu?" tanya
Iptu Subroto sambil menyerahkan surat pengantar dari kepolisian untuk
mengambil jenazah Endang dari rumah sakit.
"Betul, Pak. Kunci cuma dua, yang satu dibawa Endang."
"Slot model begitu biasanya punya tiga anak kunci. Di mana lagi yang
satu, ya? Pemilik rumah mengaku, tidak membawa," tutur Iptu Subroto,
lalu mengalihkan perhatian ke Edy Harsono, "Mas Edy Harsono, benarkah
semalam menemui Endang? Sampai pukul berapa?"
"Kira-kira pukul sepuluh."
"Saat Anda pulang, siapa lagi yang datang?"
"Cuma tukang pijit langganan Endang."
"Maaf, ini soal pribadi. Sejak kapan kenal Endang?"
"Sejak lama, sebab Setyawan kawan SMA saya. Tapi hubungan serius kami
baru mulai sekitar setahun lebih, setelah saya bekerja di bank."
"Waktu itu Endang sudah jadi penari wayang orang. Kau tidak cemburu
atau malu mempunyai calon istri 'anak wayang'?" pancing Iptu Subroto.
Dengan mantap Edy menggeleng, "Malah saya sudah mengajak Endang
menikah, tapi ia selalu menolak. Saya tidak tahu apa masalahnya. Kalau saya
desak, Endang malah menangis."
"Kok, aneh. Kalau Setyawan bekerja di mana?"
"Di bengkel agen mobil Jepang di Kartasura," jawab Setyawan pelan.
Selasa, 7 Januari, pukul 10.00, Iptu Subroto dan wakilnya Sertu Waluyo pergi
ke sebuah rumah mewah di daerah Purwosari, Solo. Di pilar gerbang terpasang
plat nama kuningan berhuruf gotik bertuliskan: Christina Muller.
Seorang wanita setengah baya menghampiri gerbang.
"Bapak mencari siapa?" tanyanya sedikit curiga.
"Kami petugas Kepolisian Colomadu, ingin bertemu Ibu Christina
Muller."
"Oh, Bapak yang tadi telepon, ya? Silakan masuk."
Christina Muller, sebagaimana wanita Indo lain, berpostur tinggi dengan
paras cantik dan rambut kemerahan. Wanita berusia 35-an itu terbungkus baju
hangat dengan syal melilit leher.
"Maaf, saya sedang flu. Silakan duduk," sambutnya sambil
terbatuk-batuk kecil.
"Apa Ibu sudah mendengar tentang Endang?"
"Ya. Kemarin pagi saya ditelepon Puntodewa. Saya kaget sekali. Kasihan
Endang. Kok ada orang tega berbuat sekejam itu, padahal Endang sangat baik.
Nanti sore saya akan ke rumahnya, selamatan tiga hari kematiannya."
"Kapan Ibu terakhir bertemu Endang?" tanya Iptu Subroto.
"Malam Minggu kemarin. Saat itu dia menari untuk yang terakhir,"
jawabnya dengan isak tertahan. Minuman disajikan pembantunya. Ketika
Christina mempersilakan tamunya, Iptu Subroto mengamati, wanita Indo itu
tidak kidal.
"Minggu malam saat Endang terbunuh, Ibu di mana?" sela Sertu
Waluyo.
"Di rumah saja. Sorenya saya dari dokter."
"Dua tahun Endang bergabung dengan Hesthi Bratha, tentu Ibu sangat
mengenalnya."
"Ya, Endang anak baik, penurut, dan disiplin. Tapi akhir-akhir ini ia
banyak berubah, sering mangkir. Pasti ia dipengaruhi orang lain."
"Siapa orang itu, Bu?"
"Siapa lagi kalau bukan pacarnya. Dengar-dengar, kalau sudah menikah ia
mau keluar dari Hesthi Bratha," ujarnya geram.
"Ibu dengar dari siapa bahwa Endang mau keluar?"
"Dari koordinatornya, Puntodewa!"
Misteri botol parfum
Dua minggu berlalu, kasus itu belum terpecahkan. Pagi itu, seperti biasa,
Iptu Subroto sarapan di warung Bu Joyo di pojok pasar. Tiba-tiba ia
dikejutkan oleh sapaan seseorang.
"Eh, Hardiman. Bagaimana kabar kawan-kawan? Sini duduk dekat
saya," ujar Iptu Subroto, "kabarnya, kamu naksir berat Endang,
ya?"
"Ah, enggak, Pak! Saya 'kan tahu diri. Diam-diam Endang itu 'kan pacar
'bos', semua anak wayang tahu," tukas Hardiman.
"Maksudmu, Puntodewa?"
"Bukan! Tapi Bu Christina! Puntodewa itu paman Bu Christina. Dia adik
tiri ibu Bu Christina, seayah lain ibu. Waktu datang dari luar negeri, Bu
Christina sudah janda cerai."
Ini informasi baru yang cukup berharga.
"Kalau Pak Puntodewa apa statusnya, duda atau bujangan?" selidik
Iptu Subroto.
"Perjaka tua. Dulu ia punya pacar, janda beranak satu, namanya
Sulastri. Penari utama Hesthi Bratha juga. Orangnya sombong, suka mabuk,
juga sering ribut dengan teman. Saat Endang masuk, dia keluar. Entah di mana
dia sekarang."
Saat Subroto tiba di kantor di ruang tunggu sudah ada Hansip Dahlan bersama
pria remaja gondrong, berkulit hitam. Meski pakaiannya kumal, baunya harum
sekali.
Menurut laporan Hansip Dahlan, anak itu bernama Sutimin, kemenakan Bu
Wagiyah. Sutimin dituduh mencuri. Sebagai barang bukti, ia menyerahkan tas
wanita hitam. Iptu Subroto segera tahu, tas bermerek itu dari luar negeri.
Saat isinya dikeluarkan, berhamburan alat rias, minyak wangi dari Paris,
kartu ATM atas nama Christina Muller, rokok mentol impor, dan sejumlah kartu
nama Christina Muller.
"Bagaimana awal mula cerita semua ini?" tanya Iptu Subroto.
"Tadi pagi Bu Wagiyah menemui saya. Ia curiga karena kemenakannya harum
sekali, seperti bau wangi tamunya Bu Endang, yang berpapasan dengannya di
halaman," papar Dahlan.
"Sutimin, selain semua barang ini, adakah barang lain yang kau
ambil?" tanya Iptu Subroto kebapakan.
"Tidak ada, Pak. Cuma ini," jawabnya takut.
Sutimin pun menceritakan bagaimana ia mencuri tas itu. Di malam kejadian,
pukul 23.30 ia bermaksud menjemput Bu Wagiyah di rumah Bu Endang. Tapi 50 m
sebelum rumah Endang, ia melihat mobil diparkir di tempat gelap. Timbul niat
isengnya, apalagi pintu mobil tidak dikunci. Ketika pintu dibuka, dan lampu
kabin menyala, Sutimin melihat tas wanita tergeletak di jok depan.
Diambilnya barang itu dan buru-buru pulang.
Lama tas itu disembunyikan. Baru kemarin ia membukanya lalu memakai minyak
wanginya. Tapi Bu wagiyah marah besar begitu mencium bau harum di tubuh
Sutimin, yang mirip bau "tamu" Bu Endang.
"Ciri apa yang masih kuingat dari mobil itu? Nomor polisi, merek, atau
yang lainnya?"
"Anu, saya cuma tahu catnya merah. Kalau tidak salah di kaca spion
dalam tergantung hiasan kulit mentah, gambar wayang Permadi. Ditatah warna
emas dalam lingkaran merah dan biru."
Baru saja Dahlan dan Sutimin pergi, anak buahnya Iptu Subroto melapor bahwa
Setyawan hendak bertemu.
"Apa kabar? Silakan duduk?" sambutnya Iptu Subroto.
"Ip, saya akan pindah kos yang lebih dekat dengan tempat pekerjaan.
Saat membereskan lemari Endang, saya menemukan surat-surat ini, mungkin
berguna," katanya.
Semua surat itu dari Christina Muller. Isinya? Ungkapan cintanya pada
Endang.
Jadi, Iptu Subroto mereka-reka, di malam kejadian, Christina ada di TKP.
Apakah ia bertindak sendiri saja? Atau dibantu orang kepercayaannya,
misalnya Puntodewa? Iptu Subroto menduga, Christina Muller yang lesbi takut
kekasihnya direbut orang. Selain itu, bila Endang keluar, Hesthi Bratha
terancam bangkrut. Dua kemalangan bakal beruntun menimpanya.
Saat Iptu Subroto beranjak hendak mendatangi Christina Muller, Sertu Waluyo
masuk sambil membawa buku laporan harian.
"Lapor, Ip. Di buku ini tertulis, tanggal 19 Oktober 1976, Sabtu pukul
22.00 Christina Muller kehilangan sebuah tas wanita warna hitam. Tempat
kehilangan: halaman belakang gedung pertunjukan "Panti Krido".
Ketika pelapor mengontrol anak buahnya, tas hilang dari mobilnya yang
diparkir. Isinya beberapa ratus dolar Amerika, uang rupiah, minyak wangi,
alat kosmetik, kartu ATM, dan seikat kunci termasuk kunci rumah, kunci
lemari, dan lemari besi."
Iptu Subroto curiga, jangan-jangan itu rekayasa Christina Muller. Artinya
pembunuhan itu sudah direncanakan jauh hari, tiga bulan sebelumnya.
"Pak Waluyo, tolong hubungi Hesthi Bratha, saya mau bicara dengan
Puntodewa."
"Hesthi Bratha sudah pindah seminggu yang lalu."
"Celaka, kalau begitu kita ke rumah Christina Muller!"
Sulastri kalah bersaing
Pukul 21.00 mereka berdua bertamu ke rumah Christina Muller.
"Pak Iptu, Oktober lalu saya benar-benar kehilangan. Waktu itu
Kapolseknya masih Pak Siagian. Saya tidak merokok mentol, rokok saya kretek
filter. Tapi setelah kena bronkitis, saya berhenti merokok."
Saat Iptu Subroto meletakkan beberapa lembar surat di meja depannya,
Christina bisa mengenalinya. Ia pun mengaku, "Sejak remaja saya merasa
lebih tertarik pada sesama jenis. Saya mencoba melawan, antara lain dengan
menikah. Tapi, perkawinan itu gagal. Ketika bertemu Endang di sini, saya
jatuh cinta padanya. Saya mulai sadar, kala Endang punya pacar dan
berkali-kali minta diizinkan menikah."
Malah malam minggu sebelum kematian Endang, ia mendorong Endang untuk segera
menikah. "Saya pun siap membantu kalau ia mendapat kesulitan keuangan.
Hesthi Bratha pun terbuka untuknya."
"Di malam kejadian, ada anak mencuri tas Ibu, dari sebuah mobil merah.
Ibu punya mobil merah?" selidik Iptu Subroto.
"Mobil saya cuma satu, itupun abu-abu metalik. Tapi …" Christina
teringat sesuatu, "van merah. Mungkin seperti yang saya curigai.
"Tas saya hilang pas malam Minggu, saat itu penonton wayang berjubel.
Saya begitu saja meninggalkan tas di mobil, yang saya parkir di samping van
merah. Begitu ingat, saya segera kembali ke mobil. Tapi tas saya raib. van
merah itupun sudah pergi. Menurut tukang parkir, itu van
Sulastri."
"Sulastri, pacar Pak Puntodewa?" selidik Iptu Subroto.
"Betul. Dulu dia penari, juga primadona kami. Selalu menjadi ksatria,
misalnya Permadi, Arjuna, atau Irawan. Sayangnya ia sombong, pemabuk, dan
pemarah. Ia menari dan menjadi anak wayang semata-mata untuk mencari nama,
karena ia anak orang kaya.
"Selain itu Sulastri kidal. Kalau ada adegan perang dengan keris, lawan
mainnya sering salah antisipasi. Ketika Endang masuk, dia tersingkir. Sebab
Endang lebih muda, cantik, dan pintar. Sulastri pun mengundurkan diri."
"Permadi" dan "kidal" itu kata kunci yang didapat Iptu
Subroto.
"Apakah Bu Christina juga menyimpan kunci pintu rumah Endang?"
sela Sertu Waluyo.
"Tentu, sebab rumah itu saya yang menyewa. Tapi kunci tersebut hilang
bersama tas itu."
"Di mana alamat Sulastri sekarang?"
"Entahlah, tapi mungkin Puntodewa tahu. Sekarang Hesthi Bratha baru
main di Banyudono. Besok akan saya minta Puntodewa menghadap dan mengantar
Bapak ke rumah Sulastri."
Pengakuan saat mabok
Jumat pagi, 14 Februari, Hardiman datang ke Polsek Colomadu.
"Lho, mana Pak Puntodewa?" tegur Iptu Subroto.
"Pak Punto dapat musibah, tadi malam Bu Sulastri yang mabok, minta
diantar pulang oleh Pak Punto. Di jalanan menurun di Kandang Menjangan,
remnya blong. Mobilnya menghantam pohon mahoni di tepi jalan."
"Pak Puntodewa hanya luka-luka, tetapi kabarnya Bu Sulastri meninggal
di Rumah Sakit Delanggu."
Di rumah sakit yang bersih dan terawat itu Iptu Subroto dan Hardiman, dengan
didampingi seorang dokter, menemui Puntodewa.
"Bagaimana keadaannya, Pak," tanya Iptu Subroto.
"Syukurlah, Pak. Cuma sedikit lecet dan memar. Tapi Sulastri meninggal.
Ada yang ingin saya ceritakan.
"Dalam keadaan mabok itu Sulastri mengaku sebagai pelaku pembunuhan
Endang. Itu karena ia iri, cemburu, dan sakit hati. Popularitasnya sebagai
primadona telah 'terenggut'. Apalagi ketika ia tahu hubungan Endang dengan
Christina. Ia menilai itulah sebab mengorbitnya Endang," ujarnya sambil
meringis menahan nyeri.
Tadi malam, sekitar pukul dua, usai pertunjukan ia kaget melihat Sulastri
ada dalam mobil yang diparkir di pojok pekarangan. Padahal Sulastri sudah
lama meninggalkan panggung.
"Sulastri sedang mabuk, ia meracau tak karu-karuan," ujar
Puntodewa sedih sambil menirukan omelan Sulastri, "katanya, 'Endang,
engkau dulu merebut gelar primadonaku. Itu karena kau anak emas bos, kekasih
bos. Aku benci kamu. Matilah kamu, Endang! Mulai malam ini, gelar itu
kembali ke tanganku. Meski harus kuambil dengan paksa, maaf Endang. Aku
terpaksa menghentikan kariermu!"
Rupanya Lastri tengah merayakan kemenangan.
"Lalu ia minta saya mengantarnya pulang. ia terus meracau, akibatnya
konsentrasi saya buyar. Di jalan menurun tajam di Kandang Menjangan, baru
saya sadari rem blong. Mobil saya banting ke kanan, tapi terlambat. Mobil
menghantam pohon mahoni pembatas jalan …."
"Lalu jenazah Sulastri?" tanya Iptu Subroto.
"Barusan dibawa ke kamar mayat," kata dokter.
"Lalu, di mana mobilnya sekarang?"
"Di Polsek Delanggu, Pak. Bagi kiri rusak parah," ujar Puntodewa.
Di halaman Polsek ada beberapa mobil rusak, salah satunya van merah
cabai, yang hancur sebelah kirinya. Iptu Subroto mengamatinya. Benar di kaca
spion tergantung gambar wayang kulit "Permadi" dari kulit mentah
dipahat rapi dalam lingkaran merah dan biru.
Di laci dashboard berserakan rokok mentol impor. Di tombol pemantik
api tergantung karton putih kartu servis dari bengkel di Kartosuro.
Dari perbincangan lewat telepon, petugas bengkel membenarkan telah
memberikan perawatan berkala terhadap van merah Sulastri. Iptu
Subroto menelepon bengkel itu.
"Di servis siang, malamnya remnya kok blong?" kata Iptu Subroto.
"Benarkah? Teknisi yang menangani itu orang terbaik saya, lho
pak!"
"Siapa namanya?"
"Setyawan. Tapi sekarang ia cuti. Katanya, akan mengadakan selamatan 40
hari meninggalnya adiknya." |
|||||