|
|
Bulan Juni 2001 Terapi |
|
Disiplin Ketat
Tidak
mudah bagi penderita gagal ginjal menjalani diet ketat serta menjalani pola
hidup sehat secara disiplin. Tapi dengan cara itu, sambil tetap menjalani
hemodialisis (HD - cuci darah), penderita gagal ginjal bisa mempertahankan
kualitas hidupnya.
Sungguh sulit bagi seseorang untuk menerima kenyataan harus menjalani cuci
darah (hemodialisis - HD) seumur hidup, karena menderita gagal ginjal.
Selain biayanya mahal, dampak ikutan dari proses cuci darah itu harus
ditanggung. Kalau berhasil mendapatkan transplantasi ginjal yang cocok dan
kembali hidup normal, masih beruntung. Sayangnya, banyak di antara mereka
gagal karena tubuhnya menolak organ baru.
Memang tidak mudah untuk mendapatkan donor ginjal. Seorang donor ginjal
harus memenuhi beberapa syarat agar niat baiknya bisa membuahkan hasil. Di
antaranya, badan harus sehat, terutama kedua ginjalnya, golongan darah,
serta tipe jaringan ginjalnya sama dengan resipien (penerima). Kecuali itu,
pembuluh arteri dan vena cocok satu sama lain agar ginjal donor mudah
"ditempelkan".
Sulitnya memperoleh donor ginjal itu mengharuskan kita yang masih sehat
untuk merawat organ penyaring ini sebaik-baiknya kalau merasakan sesuatu
kurang beres pada ginjal, misalnya terjadi infeksi ginjal atau penurunan
fungsi ginjal karena diabetes. Jangan sampai kondisinya semakin buruk.
Hati-hati terhadap infeksi
Fungsi ginjal memang sangat penting. Yaitu menyaring darah, membuang zat-zat
yang tidak berguna atau berbahaya bagi tubuh, serta menyerap kembali zat-zat
yang berguna.
Bagaikan pabrik pemurnian kotoran dalam tubuh, fungsi ginjal juga menjaga
kandungan garam-garaman agar tetap stabil. Dalam waktu 24 jam tak kurang
dari 180 l cairan urine primer diperas dari darah yang berasal dari jantung,
lalu dimurnikan dalam ginjal. Dalam waktu yang sama, jumlah cairan urine
yang dikeluarkan dari tubuh sekitar 1,5 l. Bayangkan saja kalau sampai
"mesin" ini terganggu!
"Penurunan fungsi ginjal bisa bersifat akut, bisa juga kronis,"
kata dr. Parlindungan, spesialis penyakit ginjal, dalam sebuah seminar di RS
Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang. Gejala keduanya mirip,
misalnya volume urine tiba-tiba berkurang atau urine tidak keluar, pusing,
mual, tidak bernafsu makan, lemas, sesak napas, kadar ureum dan kreatinin
meningkat, dan terjadi gangguan elektrolit. Hanya saja pada gagal ginjal
kronis biasanya badan sampai bengkak. Malah adakalanya mulut dan badan
sampai berbau urine. Karena gejala munculnya secara bertahap, penurunan
fungsi ginjal sering tidak dirasakan, tahu-tahu sudah parah.
Dikatakan akut bila penurunan fungsi ginjal berlangsung tiba-tiba, tapi
kemudian dapat kembali normal bila penyebabnya segera ditanggulangi.
Kekurangan cairan atau darah akibat perdarahan, penurunan tekanan darah yang
tidak dapat segera diatasi, luka bakar atau berkurangnya aliran darah ke
ginjal karena aliran tertutup, obat yang bersifat toksik (racun), penyakit
ginjal primer, trauma pada ginjal, dan tumor prostat merupakan beberapa
penyebabnya.
"Gagal ginjal akut harus segera dicari penyebabnya. Misalnya, kalau
masalahnya karena infeksi, harus secepat mungkin diatasi," pesan dr.
Parlindungan. Bila masalahnya pada kasus kekurangan cairan, tentu saja harus
segera diatasi dengan pemberian infus di rumah sakit. Kecuali itu,
diusahakan mengatur keseimbangan cairan yang masuk dan keluar dengan cermat
serta mengatur keseimbangan elektrolit dan asam basa. Tidak kalah penting,
mengatur asupan makanan baik melalui mulut maupun infus. Terkadang penderita
gagal ginjal akut perlu menjalani cuci darah seperlunya, mungkin 1 - 2 kali
saja.
Pada kasus ginjal akut, ginjal akan berfungsi normal kembali bila
pengeluaran urine sudah normal dan keadaan fisik secara menyeluruh sudah
pulih. Tidak demikian halnya dengan gagal ginjal kronis yang antara lain
disebabkan oleh faktor glomerulonefritis (radang ginjal menahun), batu
ginjal dan batu saluran kemih yang kurang mendapat perhatian, obat-obatan
modern ataupun tradisional yang dimakan dalam jangka waktu lama, hipertensi,
diabetes, narkoba, serta penyakit ginjal genetik.
Pengobatan pada gagal ginjal kronis terutama untuk menghambat laju
kegagalannya agar tidak sampai terjadi gagal ginjal terminal atau ginjal tak
berfungsi lagi. Di sini pengobatan harus dibantu oleh disiplin ketat
penderita.
Bila ingin berolahraga, pencapaian target tidak ditentukan. Jenis olahraga
yang boleh dilakukan hanya yang ringan seperti berjalan kaki dan berenang
secukupnya.
Selain itu tekanan darah harus dinormalkan, gula darah dikendalikan, serta
antibiotika diberikan secara tetap bila terjadi infeksi. Infeksi acap kali
terjadi gara-gara tumbuh batu, khususnya pada saluran kemih. Hati-hati bila
salah satu ginjal mengalami infeksi, harus segera diatasi sebab mudah
menular pada yang masih sehat!
Proses hemodialisis baru dilakukan bila ginjal hampir tidak berfungsi lagi
(kadar kreatinin kurang dari 5 ml/menit, kedua ginjal sudah mengecil, serta
fungsinya di bawah 5%). Ada dua macam cara cuci darah yakni hemodialisis
yang harus dilakukan di rumah sakit secara teratur (2 - 3 kali/minggu) atau
CAPD (dialisis peritoneal kronik) yang dapat dilakukan sendiri di rumah.
Namun, yang kedua ini jarang dilakukan karena sering menimbulkan komplikasi.
Yang utama perlu diupayakan penderita gagal ginjal kronik adalah diet ketat
rendah protein dengan kalori cukup. Pemilihan makanan secara ketat, menurut
ahli gizi dr. Lindarsih Notowidjojo, M.Nutr.Sc. dari rumah sakit yang sama,
untuk mencegah terjadinya atau berlanjutnya komplikasi gagal ginjal. Tapi
cukup energi untuk kegiatan sehari-hari serta bobot badan normal perlu
diperhatikan.
Muncul tumor di ginjal
Contoh penderita gagal ginjal yang berhasil mempertahankan kualitas hidupnya
berkat disiplin berdiet ketat adalah Siti Erna (40). Meski kini setiap 3 - 5
hari sekali harus menjalani cuci darah, sarjana hukum ini tetap berkarya
layaknya orang sehat.
Perjalanan penyakitnya berawal pada usia sangat muda. "Saat berusia 21
tahun, saya mengalami infeksi pada ginjal kanan," tutur Erna. Sepuluh
tahun kemudian (1992) luka pada ginjal kanan kambuh sewaktu ia hamil anak
pertama. "Berkat bantuan dokter spesialis, bayi bisa
diselamatkan."
Saat berusia 34 tahun, Erna mengalami tiga peristiwa yang mengubah hidupnya.
Ketika mengandung anak kedua, terdeteksi timbul kebocoran protein pada
urinenya dan ia mengalami hipertensi. Akibat eklamsia (keracunan kehamilan),
janin 6,5 bulan dalam kandungannya meninggal. "Saya koma selama lima
hari dan sudah pada tahap kritis tapi berhasil survive berkat doa
dari keluarga dan sahabat-sahabat saya," kenangnya.
Penderitaan tidak terhenti di situ. Suatu ketika dia diberi tahu dokter
bahwa pada ginjal kanannya ditemukan tumor sebesar 2 x 3 cm, yang diduga
ganas. Akhirnya, ginjal kanan terpaksa diangkat untuk menyelamatkan jiwanya.
Sekitar tujuh bulan kemudian dia divonis untuk menjalani cuci darah secara
rutin (dua kali seminggu), masing-masing selama lima jam, seumur hidup.
Namun, ia tetap berharap pada suatu saat ia bisa memperoleh donor yang
ikhlas memberikan satu ginjalnya, dan memenuhi syarat medis.
Belum lagi selesai merenungi nasibnya, ia dihadapkan pada masalah lain.
Tiba-tiba terasa, di perutnya ada benjolan. "Saya pikir, jangan-jangan
tumbuh tumor lagi dalam perut saya," katanya. Ternyata Erna hamil lagi
dalam usia 37 tahun. Namun, kehamilan ini pun tidak bisa dipertahankan
karena selewat usia kehamilan 6,5 bulan kadar ureum dan kreatinnya terus
meninggi.
"Mulailah saya tergugah untuk bangkit sambil mencari upaya apa saja
yang dapat saya lakukan agar dapat hidup aktif dan produktif, tidak hanya
terbaring lemas tanpa gairah. Untuk membiayai diri saya yang menghabiskan
sekitar Rp 6 juta sebulan saya harus bisa berupaya sendiri, tidak terlalu
membebani suami." Biaya sekali cuci darah Rp 475.000,- - 675.000,-,
belum termasuk biaya obat saat cuci darah dan obat telan. Beruntung delapan
bulan setelah menjalani cuci darah, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan
yang memberi dia izin menjalankan cuci darah dua kali seminggu.
Berhasil mempertahankan kualitas hidup
Mulailah Erna mengatur pola hidup sehari-hari: hidup teratur dengan makanan
diet yang sesuai untuk penderita gagal ginjal. Yang sangat dibatasi misalnya
konsumsi cairan, garam, kacang-kacangan serta olahannya. Dalam satu hari ke
dalam tubuhnya hanya boleh masuk 800 cc cairan, garam paling banyak satu
sendok teh peres per hari.
Tidak seperti kebanyakan penderita lain yang fungsi ginjalnya sudah mencapai
nol sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan air seni, ginjal Erna yang
fungsinya tinggal 5% masih mampu mengeluarkan sekitar 300 cc air seni per
hari. "Saya harus menjaga semangat dan stamina agar bisa tetap aktif
dan produktif. Sampai saat ini hidup saya 60% tergantung pada perawatan
dengan diet makan ketat dan jadwal kegiatan teratur, 40% pada
hemodialisis."
Makanan yang dia konsumsi sehari-hari tetap berupa nasi dan lauk-pauknya
sesuai selera. "Saya hanya makan saat merasa lapar, rata-rata dua kali
sehari," katanya. Erna hanya mengkonsumsi buah-buahan segar pada jadwal
harus melakukan dialisis. Bila ingin makan sayur atau membuat sop, terlebih
dahulu dilarutkan kaliumnya. Caranya, sayuran dipotong-potong lalu direndam
air dalam jumlah banyak selama sejam, dibilas sampai dua kali, baru dimasak.
Tapi umbi-umbian seperti kentang dan wortel harus direndam air hangat, lalu
dimasak setengah matang, ditiriskan, baru dimasak hingga matang.
Memang ia harus benar-benar mempelajari jumlah kalium, natrium, dan mutu
protein dari setiap makanan yang dia konsumsi. Kaldu sangat dibatasi.
Makanan tinggi zat besi seperti bayam, kangkung, daging merah, jerohan,
sedapat mungkin dibatasi sebab menurunkan kadar zat besi sulit dan lama.
"Makanan saya sehari-hari memang rasanya kurang lezat bagi orang
normal, tapi apa boleh buat!" katanya.
Ia masih merasa beruntung karena tidak mengidap diabetes sehingga tetap
dapat makan makanan kaya karbohidrat, seperti nasi, roti, jagung, kentang,
dalam jumlah cukup. Kue-kue dipilih dengan jumlah telur terbatas. Sebagai
makanan penutup, Erna memilih makanan yang didinginkan, misalnya puding atau
setup(buah dididihkan lalu diberi gula dan sedikit kayu manis) seperti jambu
biji, nanas, apel, dan mangga. Untuk mengatasi rasa haus ia mengulum es batu
yang diberi beberapa tetes air jeruk nipis atau permen manis. Sebagai bumbu
masak ia lebih banyak menggunakan rempah kering seperti daun salam, daun
jeruk, sereh kering, serta bumbu bubuk. Agar selera makan lebih baik,
makanan dicampur cabai (setelah dikurangi kaliumnya). Makanan sedapat
mungkin dia sajikan hangat.
Untuk mempertahankan kadar Hb-nya agar stabil pada angka 9 - 10, ia mendapat
suntikan hormon Epotin.
Kegiatan fisiknya dibatasi: jam-jam bangun, tidur, dan istirahat harus
selalu dijadwalkan. Kegiatan jalan kaki pun dibatasi dan selalu harus
memeriksa denyut nadi, kalau dalam lima menit sudah meninggi, harus
dihentikan. Umumnya setiap hari ia delapan jam bekerja, satu jam istirahat,
dan empat jam rileks, misalnya untuk makan dan tidur. Bila pekerjaan tidak
selesai, ia tidak mau melembur tapi dikerjakan keesokan harinya.
Untuk bisa menjalankan pola hidup dengan ketat, kini Erna bersama
rekan-rekannya membuka sebuah kantor biro konsultasi hukum. "Tapi saya
lebih banyak bekerja di rumah dengan bantuan Internet," katanya.
Kepada sesama penderita, ia berpesan untuk menghadapi realitas dengan
ketakwaan dan menjaga kesehatan diri sebaik-baiknya. Petunjuk dokter harus
selalu diikuti. Juga membuat agenda agar jadwal kegiatan dapat diatur, dan
sedapat mungkin melakukan kegiatan sesuai kondisi kesehatan. Baca juga: Contoh Menu Diet Penderita Gagal Ginjal |
|||||