|
|
Bulan Juni 2001 Terawang |
|
Jejak Singa Podium Yang Terus Mengaum Bak seekor singa jantan, ia terus mengaum,
mengobarkan bara semangat bangsanya untuk lepas dari kerangkeng imperialisme
yang mengungkung. Dalam puncak peringatan 100 tahun Bung Karno (BK) bulan
ini, menelusur perjalanan hidup BK di tengah perjuangan diri dan bangsanya
merebut kemerdekaan dapatlah menyegarkan kembali pemahaman kita akan
nilai-nilai pengorbanan seperti telah ditunjukkan oleh para Bapak Bangsa,
agar tetap menjadi bangsa yang bersatu betapa pun carut-marutnya negeri ini.
Rumah bergaya zaman penjajahan Belanda di Jl. Ibu Inggit Garnasih no. 8
(dulu Jl. Ciateul - Red.), Bandung, kosong. Tanpa penghuni, pun tanpa
perabot. Ruang tidur utamanya berdebu, gelap tanpa lampu. Satu-satunya pohon
jambu tumbuh di halaman depan sisi kanan hamparan rumput hijau. Semua
memberi kesan bersahaja.
Di luar pagar halaman, para pedagang cuek menggelar dagangan barang
loak, seakan tak peduli dengan bangunan itu. Padahal, rumah itu salah satu
dari banyak tempat founding father bangsa kita, Ir. Soekarno, pernah
tinggal. Di sana Soekarno menjalani sebagian masa pendidikannya di Technische
Hogeschool atau Sekolah Teknik Tinggi (sekarang Institut Teknologi
Bandung - Red.). Di sana pula dia hidup berumah tangga dengan Inggit
Garnasih, mantan ibu kosnya yang juga janda Haji Sanusi.
Pahit-manisnya kenangan di rumah itu dipaksa berakhir kala ia mulai
masuk-keluar bui hingga pengasingannya ke Ende dan Bengkulu. Sejak itu ia
tak pernah kembali ke rumah itu.
Banceuy, penjara pertama
Bangunan asli rumah tinggal BK di Bandung sudah tak ada. Sepeninggal Inggit,
13 April 1984, rumah itu rusak berat. Menurut Jarot Haryono, pengurus rumah,
bangunan tua itu dirobohkan oleh Pemda Propinsi Jawa Barat, meski lalu
dibangun kembali persis aslinya. Hanya permukaan lantainya 40 cm lebih
tinggi daripada sebelumnya.
BK menghuninya sejak 1926, tiga tahun setelah menikahi Inggit. Di hadapan
penghulu, pasangan berbeda usia 12 tahun itu dikukuhkan sebagai suami-istri
dengan Soerat Keterangan Kawin no. 1138, tanggal 24 Maret 1923,
bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. BK mengenakan kopiah beludru hitam,
berpakaian serba putih dengan jas tutup. Sedangkan Inggit berkain lereng
putih dengan kebaya bercorak bunga.
Setelah menikah, mereka menyewa rumah di Gang Jaksa. Begitu penuturan Tito
Asmara Hadi, cucu BK - Inggit dari hasil perkawinan Ratna Djuami (anak
angkat mereka) dan Asmara Hadi. Setelah beberapa kali pindah, akhirnya BK
– Inggit menempati rumah di Jl. Ciateul 8. Masa-masa sulit pun dimulai.
Sejak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 bersama
enam temannya, Soekarno disibukkan dengan kegiatan berpidato politik di
berbagai tempat. Karena kepiawaiannya berorasi, ia dijuluki "Singa
Podium".
Tapi, buat pemerintah Belanda, Soekarno dianggap duri dalam daging yang
harus terus diawasi. Maka, bila kedatangan tamu aktivis dari luar daerah, BK
terpaksa mencari tempat rahasia untuk berbicara. Di bagian belakang mobil
sambil menundukkan kepala atau bahkan di rumah bordil pun jadi. Inggit
selalu mengikuti BK setiap kali rapat umum. Celakanya, pertemuan seperti itu
tak pernah lepas dari amatan telik sandi Londo (mata-mata Belanda).
Risiko ditangkap Belanda pun makin sulit dihindari. Saat rapat umum di Solo
dan Yogyakarta, isi pidatonya dinilai menyinggung pemerintah Belanda yang
dia sebut imperialis. Maka, ketika di rumah Sujudi, S.H., pengacara dan
anggota PNI, BK harus berurusan dengan polisi. Di hari naas itu, 29 Desember
1929, ia yang masih berpiyama karena baru terjaga dari lelap tidurnya,
diseret ke penjara bersama Gatot Mangkupradja dan Maskun Soemadiredja.
Sehari semalam ia tak bisa mengontak siapa pun, termasuk Inggit.
Esoknya mereka dipindah ke Penjara Banceuy, Bandung. Dijebloskan ke sel di
Blok F. Bung Karno di sel no. 5, Gatot di no. 7. Paginya, Maksum dan
Supriadinata - dua wakil PNI lainnya - menyusul dimasukkan ke sel no. 9 dan
11. "Kamar baru" BK lebarnya 1,5 m (separuhnya untuk tempat
tidur), panjangnya sama dengan peti mati. Ruang sel tertutup rapat, yang ada
hanya tembok.
Kini, penjara itu tak ada lagi, digantikan bangunan untuk kegiatan ekonomi.
Sel tempat BK mendekam masih ada, namun tenggelam di antara kumuhnya
bangunan sekitar.
Berbekal kertas dan tinta "selundupan" dari rumah, serta kamus
dari perpustakaan penjara, selama 1,5 bulan BK menyusun naskah pembelaan.
Karena tak ada meja, ia memanfaatkan kaleng tempat buang air kecil dan hajat
besar. Malam demi malam BK menaikkan kaleng itu ke tempat tidur, lalu duduk
bersila di depan meja kaleng itu. Maka, tersusunlah pleidoinya yang
terkenal. Indonesia Menggugat (Bandung, 1931), judulnya.
"Pindah" ke Sukamiskin
Di Gedung Landraad yang dibangun 1920-an, Soekarno menghadapi
tuntutan hukum. Ia didampingi Sujudi, S.H. (ketua PNI cabang Jawa Tengah),
Sartono S.H. (rekan BK dari Algemeene Studieclub dan wakil ketua
urusan keuangan partai), serta Sastromuljono, S.H. (kawan di Bandung), yang
sukarela menjadi pembela.
Kini, gedung bersejarah di Jl. Perintis Kemerdekaan, Bandung, menjadi Kantor
Bidang Metrologi, Kanwil Deperindag Jabar. Bangunan utamanya pun tak banyak
berubah. BK dan tiga rekan seperjuangannya diadili di ruang kiri-depan
gedung, berukuran 6 x 8 m dengan dinding berlapis kayu jati setinggi 2 m.
"Sampai sekarang, kapstok tempat menyimpan jubah hakim masih ada,"
ungkap Drs. Harwitoto, Kepala Kantor Bidang Metrologi, Kanwil Deperindag
Jawa Barat.
Usaha keras BK mencari keadilan, sejak 18 Agustus 1930, delapan bulan
setelah ditahan, gagal. Pada 22 Desember 1930, BK dijatuhi hukuman empat
tahun penjara oleh majelis hakim pimpinan Siegenbeek van Heukelom. Gatot
Mangkupradja, Maskun Soemadiredja, dan Supriadinata diganjar hukuman lebih
ringan. Pembelanya naik banding ke Raad van Justitie. Tapi pengadilan
tinggi tetap berpegang kepada keputusan Landraad Bandung. Soekarno
dkk. pun dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Nomor selnya, 233, dekat tangga
besi, di sudut lantai dua.
Kini sel itu tetap menjadi bagian dari 552 sel di LP Sukamiskin. Cuma,
nomornya berubah menjadi TA (Timur Atas) 01. Sel dengan dua pintu dan dua
jendela bercat abu-abu tua berukuran 2,5 x 3 m itu sejak lama sengaja
dikosongkan. Di salah satu pintunya tertulis: "The former room of BK".
Di dinding kuningnya menempel empat foto tua, sulaman tusuk silang gambar
BK, dan Garuda Pancasila. Di atas lantai ubin abu-abu terdapat tempat tidur
yang dapat dilipat ke dinding, dengan kasur dan seprai putih. Ada pula
sebuah kursi, sebuah meja tulis dan kursi bulat, lemari gantung, serta rak
buku dengan sembilan buku tua tentang atau karya Soekarno dalam bahasa
Indonesia dan Belanda. Di bawah tempat tidur, dekat jendela, ada kloset
duduk.
Berbeda dengan penghuni sel lain, BK diawasi lebih ketat. Ia juga
dipekerjakan untuk membuat garis di atas kertas menggunakan mesin penggaris
dan pemotong penuh gemuk (pelumas). Sekarang mesin itu tersimpan di salah
satu sudut percetakan LP Sukamiskin.
Di luar sel, Inggit berjuang menyambung hidup. Ia berjualan bedak buatan
sendiri, menjahit pakaian dan kutang, serta memasarkan kerajinan pandai besi
Ciwidey, dengan sistem bagi hasil. Untuk membiayai perjuangan suaminya,
Inggit menggadaikan perhiasannya. Menurut Tito, tabungan hasil usaha itu
menjadi modal untuk memproduksi "Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu
Inggit".
Dua tahun Kusno, nama kecil Soekarno, hidup dalam bui. Pagi, 31 Desember
1931, BK dibebaskan. Dalam buku Soekarno Penjambung Lidah Rakjat
Indonesia-nya Cindy Adams tertulis, saat itu kepala penjara mengantarnya
hingga pintu keluar, dan bertanya, "Ir. Soekarno, dapatkah Tuan
menerima kebenaran dari kata-kata ini? Apakah Tuan betul-betul akan memulai
kehidupan baru?" Sambil tangan kanannya memegang tiang pintu, ia
menjawab, "Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk
penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara
dengan pikiran yang sama."
Ucapannya terbukti. Perlawanan terhadap Belanda dan upaya merdeka dari
cengkeraman imperialis tetap menggelora. Ia pun menulis selebaran,
"Mencapai Indonesia Merdeka" (Pengalengan, 1933). Karena dinilai
menghasut, Belanda merampas dan melarang selebaran itu. Banyak rumah
digeledah. Bahkan bila lebih dari tiga orang berkumpul, akan berisiko
dikepung.
Hal itu terjadi ketika 1 Agustus 1933 Soekarno dkk. mengadakan pertemuan di
rumah M.H. Thamrin di Jakarta, yang selesai lewat tengah malam. Begitu BK
keluar rumah, seorang komisaris polisi sudah menunggu. Kembali ia ditangkap.
Soekarno kembali menghuni Penjara Sukamiskin. Ia menempati sel khusus, yang
terletak di tengah ruangan besar yang dikosongkan. BK seperti pertapa yang
membisu selama delapan bulan sebelum dibuang ke Ende, Flores.
Malaria yang "menguntungkan"
Inggit, Ibu Amsi (mertua BK), Ratna Djuami, dan dua pembantu setia (Muhasan
dan Karmini), menyertai BK. Setelah menempuh perjalanan dengan kereta api,
rombongan singgah dua hari dua malam di Surabaya. BK berkesempatan menjumpai
orang tuanya, R. Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Cindy Adams
melukiskan, mereka sama-sama takut, kalau-kalau pertemuan itu akan
memisahkan mereka selamanya.
Ramadhan K.H., penulis biografi Inggit Garnasih Kuantar ke Gerbang,
mengutip ucapan ibu BK, "Kusno dewasa bukan lagi kepunyaan orang
tuanya, melainkan milik orang banyak dan tempat ia mengabdi."
Perjalanan diteruskan dengan kapal barang Van Riebeeck. Setelah delapan hari
"ditahan" di kamar kelas dua di sebelah kandang ternak, mereka
tiba di Ende. Tidak ada fasilitas telepon atau telegram. Satu-satunya
penghubung dengan dunia luar adalah dua kapal pos jang datang sekali
sebulan. Tidak ada bioskop, perpustakaan, atau fasilitas hiburan lain.
Keluarga BK tinggal di rumah tua beratap seng, bertiang kayu, dan jendela
kecil, di Ambugaga. Meski tidak terlalu kecil, rumah itu terasa pengap.
Ruang depan terbuka sehingga terasa sejuk. Di halaman yang cukup luas,
keluarga Soekarno bertanam sayur dan bunga. Pekarangan di sekeliling rumah
ditanami pisang, kelapa, dan jagung. Penerangannya cuma lampu minyak tanah.
Sekitar empat tahun (17 Februari 1934 - 14 Februari 1938) di pengasingan
banyak peristiwa terjadi. Pada 12 Oktober 1935 ibu mertua BK meninggal
akibat arteriosklerosis. Ia juga mendengar H.O.S. Tjokroaminoto meninggal.
BK sempat menulis 12 naskah sandiwara dan membuat kelompok pertunjukan
drama. Ia pun mengangkat lagi dua anak, yakni Sukarti (anak pegawai asal
Jawa) dan Jumir (anak keluarga jauh Inggit). Di sini pula ia dan Ratna
Djuami terjangkit malaria.
Penyakit tropis itu justru "menguntungkan". Gara-gara penyakit itu
M.H. Thamrin protes ke Dewan Rakyat (Volksraad). Pemerintah Belanda
lalu memindahkan keluarga Soekarno ke tempat yang lebih
"menyenangkan", Bengkulu.
Di Bengkulu BK menempati rumah di Anggut Atas (kini Jl. Soekarno-Hatta). Di
halaman bangunan bersejarah berusia sekitar 80 tahun itu kini terpampang
papan bertuliskan "Rumah Kediaman BK, Proklamator/Presiden RI Pertama,
Dalam Masa Pengasingan Pemerintah Belanda, di Bengkulu, (1938 –
1942)". Di dalamnya terdapat perabot rumah tangga, perpustakaan, meja
tamu, dan sepeda buatan tahun 1931 yang dipakai BK. Di perpustakaan
pribadinya tersimpan buku-buku BK berbahasa Indonesia, Belanda, dan Jepang.
Di sini BK aktif sebagai pendidik. Salah satu muridnya, Fatmawati. Gadis 17
tahun itu putri Hassan Din, ketua Muhammadiyah setempat yang tinggal di
Kampung Tjurup, beberapa kilometer dari Bengkulu. Karena jauh, selama
menempuh pendidikan Fatmawati tinggal di rumah keluarga Soekarno dan
dianggap sebagai anggota keluarga sendiri.
Rupanya, BK menaruh hati pada gadis cantik itu. Inggit mencium gelagat itu.
Belum lagi selesai masalah rumah tangga BK - Inggit, Jepang keburu menyerbu
Sumatera pada 12 Februari 1942. Dikawal tentara dan polisi Belanda, BK dan
keluarga akan dilarikan ke Australia. Untung, mereka akhirnya terdampar di
Padang, dan ditampung di rumah kawan Soekarno, Woworuntu.
Saat itu Jawa juga ditaklukkan Jepang. Jenderal Imamura, panglima tertinggi
tentara pendudukan bermarkas besar di Jakarta, memerintahkan pemimpin bangsa
Indonesia membentuk badan pemerintahan sipil. Mereka menuntut BK
diikutsertakan. Imamura pun mengirim surat kepada Kol. Fujiyama, komandan
tentara Jepang di Bukit Tinggi. Isinya, supaya memberangkatkan Soekarno ke
Jawa. Pada 9 Juli 1942, BK tiba di Pasar Ikan, Jakarta.
Di Jakarta-lah BK dan Inggit bercerai. BK pun menikahi Fatmawati, yang
memberinya lima anak. Di Jakarta pula BK berhasil membebaskan negeri ini
dari belenggu penjajahan dengan memproklamasikan kemerdekaan RI. Didampingi
Bung Hatta, tepatnya pukul 10.00 WIB, di Jl. Pegangsaan Timur 56 (sekarang
Jl. Proklamasi) ia membacakan Naskah Proklamasi.
Bikin kolam
Belanda tidak begitu saja menerima kemerdekaan Indonesia. Mereka kembali
dengan membonceng Sekutu. BK dan keluarganya makin terancam. Maka, 3 Januari
1946 Soekarno, Hatta, serta para pemimpin dan tokoh lain hijrah ke
Yogyakarta dengan naik kereta api luar biasa (KLB).
BK dan keluarga tinggal di bekas rumah Gubernur Belanda, yang kemudian
dikenal sebagai Gedung Agung atau Istana Yogyakarta. Wakil Presiden Mohammad
Hatta menempati gedung yang sekarang Markas Korem 072/Pamungkas.
Istana Yogyakarta terdiri atas enam bangunan utama, yaitu Gedung Agung,
Wisma Negara, Wisma Indraprasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretewu, dan
Wisma Saptapratala. Ruangan utamanya, Ruang Garuda, untuk menyambut tamu
negara atau tamu agung lain. Di bagian depan sisi kanan gedung utama
terdapat Ruang Soedirman, tempat Panglima Besar Soedirman berangkulan untuk
pamit gerilya kepada Presiden Soekarno. Di depan kiri gedung utama ada Ruang
Diponegoro. "Kini Ruang Soedirman dan Ruang Diponegoro dipakai sebagai
ruang tunggu atau ruang duduk tamu," ujar Suprijanto P., Kepala
Sekretariat Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Dulu, di halaman istana Polisi Pengawal Pribadi Presiden biasa berlatih
baris-berbaris. BK berlari-lari memutari mereka. Sementara Ibu Fatmawati
bermain bola keranjang bersama pengawal. Soekarno juga sempat merancang
kolam di halaman samping ruang tempat BK memberi kursus politik kepada para
wanita, remaja putri, mahasiswi, dan pelajar putri.
"Ruangan itu masih ada. Menjadi ruang pertunjukan kesenian kalau ada
tamu negara. Juga sering untuk pameran kerajinan batik, kulit, keramik,
perak, dll. Kolamnya juga masih ada," tutur Ariono A. Gaffar, Bagian
Peralatan dan Perawatan Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Di awal kepindahan ke Yogyakarta, BK sempat berpidato di RRI Yogyakarta,
mengumumkan ke seluruh dunia, sejak 6 Januari 1946 ibukota RI dipindah ke
Yogyakarta. Sejak itu banyak peristiwa penting terjadi. Salah satunya,
kelahiran Megawati Soekarnoputri (kini Wakil Presiden RI).
Sedangkan peristiwa kebangsaan yang terjadi, antara lain, 3 Juli 1946,
Komandan Divisi Mayjen Soedarsono memaksa BK menandatangani komposium
kabinet. Soedarsono dkk. dapat diamankan. Namun, pada 17 Agustus 1948
Presiden memberi amnesti dan abolisi kepada 145 orang yang terlibat
peristiwa itu.
Selain itu terjadi Agresi Militer I (21 Juli 1947) dan II (19 Desember
1948). Pemerintahan Republik Indonesia Darurat pun dibentuk (21 Desember
1948 - 3 Juli 1949). BK lagi-lagi ditangkap. Juga Bung Hatta dan pembesar
lain. Pada 27 Desember 1948, mereka diasingkan ke Brastagi, lalu ke Prapat
di Sumatera Utara, dan akhirnya ke Bangka. Mereka bebas pada 6 Juli 1949.
Istana Yogyakarta berfungsi kembali sebagai kediaman resmi Presiden. BK
kembali ke Jakarta setelah Ratu Juliana menandatangani piagam penyerahan
kedaulatan RI di hadapan delegasi Indonesia pimpinan Dr. Mohammad Hatta,
pada 27 November 1949, di Istana Den Dam, Amsterdam.
Jadi tahanan di Istana Bogor
Pada 7 Juli 1952, BK menikahi Hartini (23). Fatmawati protes, lalu
meninggalkan Istana Merdeka (1953). Dua tahun setelah menikah, pasangan BK -
Hartini menghuni Paviliun II Istana Bogor. Hanya di akhir pekan BK berkumpul
dengan Hartini. Di sanalah lahir Taufan dan Bayu.
Paviliun yang dihuni hingga 1967 itu kini masih terpelihara dengan baik.
Letaknya di sisi kiri depan Istana, merupakan satu dari lima paviliun. Ada
ruang tamu, ruang makan, dan lima ruang tidur plus kamar mandi dalam. Cuma,
semua perabot lama telah diganti. Sekarang bangunan seluas 467 m2
itu menjadi tempat akomodasi pejabat setingkat menteri.
Paviliun II juga tercatat sebagai tempat bersejarah ketika Surat Perintah
Sebelas Maret (Supersemar) ditandatangani pada 1966. Namun bagaimana
kejadian sebenarnya, hingga kini masih gelap. Naskah aslinya pun entah di
mana. Padahal, berdasarkan naskah itu MPRS menerbitkan sejumlah Tap MPRS dan
mengangkat Soeharto sebagai presiden.
Sejak Supersemar terbit, Soekarno tetap tinggal di Istana Bogor. Panglima
Kodam (Pangdam) VI/Siliwangi H.R. Dharsono melarang BK keluar dari Jawa
Barat dengan mengeluarkan surat keputusan pada 3 Agustus 1967. Pangdam
V/Jayakarta Amir Machmud pun melarang BK menginjakkan kaki di Jakarta. Meski
praktis "tidak berkuasa" lagi, BK diyakini masih berpengaruh untuk
melakukan aksi mengganggu keamanan.
Menyusul Sidang MPRS Maret 1968 yang mencopotnya sebagai presiden, BK
dipindah ke Istana Batutulis (Hing Puri Bhima Sakti), Bogor. Penjagaan
diperketat meski kesehatannya makin memburuk. Permohonan Hartini, agar
Soekarno dapat istirahat di Jakarta sepekan setiap bulan, tak ditanggapi.
Malah, tanpa seizin petugas, anak-anaknya pun tidak bisa menjenguk.
BK sendiri akhirnya mengirim surat ke Soeharto, meminta izin pindah ke
Jakarta. Barulah Soeharto memerintahkan pemindahannya ke Wisma Yaso, setelah
setahun diisolasi di Istana Batutulis. Di sini BK pernah melewati hari-hari
indah bersama Ratna Sari Dewi, istri ketiganya.
Kekangan pemerintah makin dahsyat. Keluarga BK tak bebas lagi menengok. Awal
1969, BK tidak boleh dijenguk siapa pun, termasuk Hartini. BK dilarang ke
halaman. Bacaan disortir. Selain tak boleh baca koran, mendengarkan radio
pun dilarang.
Perlakuan itu makin merapuhkan jiwanya. Fisik "Singa Podium"
melemah. Pada 16 Juni 1970 malam ia dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan
Darat (RSPAD). Empat hari kemudian, 20 Juni malam, keadaan BK benar-benar
memburuk, kesadarannya berangsur menghilang. Esok paginya, Minggu 21 Juni
1970, Sang Proklamator berpulang. Ia meninggalkan tiga istri dan delapan
anak tercinta. Ia juga mendahului Inggit, yang 20 tahun menemaninya
mengarungi masa sulit, serta tiga anak angkatnya.
Dengan upacara kenegaraan, jenazah BK diterbangkan dan Sang Singa yang lahir
di Surabaya (bukan di Blitar - Red.) pada 6 Juni 1901 dimakamkan di
kompleks pemakaman Desa Bendogerit, Kecamatan Kota Blitar, Jawa Timur.
Pusaranya diapit makam sang ibu di sisi kanan dan ayahnya di kiri.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 14 Tahun 1978, makam BK dipugar.
Peresmian setelah pemugaran dilakukan Presiden Soeharto pada 21 Juni 1979.
Sesuai pesan BK semasa hidup, makam tidak dikijing, tapi dibuat hampir rata
dan di atasnya ditaruh nisan batu pualam hitam, konon seberat 8 ton,
bertuliskan: Di sini dimakamkan BK Proklamator Kemerdekaan dan Presiden
Pertama Republik Indonesia, Lahir 6 Juni 1901, Wafat 21 Juni 1970.
Hingga sekarang, makamnya tak pernah sepi dari peziarah. Mustawan (58),
seksi Pengelolaan Pengawasan Makam BK, menyebutkan, pengunjung makam BK pada
Januari 2001 saja mencapai 36.506 orang. "Hari-hari yang ramai, Kamis,
Jumat, Sabtu, dan Minggu. Liburan juga ramai. Tapi bulan Puasa sepi,"
tambahnya.
Ada kalanya peziarah memungut kuntum bunga yang berserakan di tempat tabur
bunga untuk dibawa pulang. Untuk apa? "Ya, tergantung kepercayaan
masing-masing. Sekadar untuk 'oleh-oleh'. Ada yang bilang ngalap barokah.
Malah ada yang membawa pulang kerikil dari areal makam," kata H.
Soeharto Zakaria (58), jurukunci ke-4 makam BK.
Di luar areal makam, puluhan wanita penjaja bunga tabur siap menyambut siapa
pun, entah yang akan berziarah dan nyekar (tabur bunga) atau sekadar
berwisata. Juru potret komersial pun merayu pengunjung untuk membuat potret
kenangan, langsung jadi! Di sepanjang pinggir Jl. Slamet Riyadi, Blitar,
berjajar pedagang beragam barang suvenir.
Rupanya, BK tak cuma membuat negeri ini bebas dari penjajahan. Ia pun
menghidupi (sebagian) rakyat negeri yang dibidaninya, meski ia telah tiada. (I
Gede Agung Yudana/A. Hery Suyono/Mohamad Sulhi/Her Suganda)
Baca juga: BK dan Istana Tampaksiring |
|||||