globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Kontroversi di Balik Film Kartun

Film kartun produksi Jepang, yang biasa disebut anime, gencar meramaikan pertelevisian dan pervideoan kita. Seiring dengan itu, keluhan dan protes pun bermunculan. Kesimpulan yang paling mengkhawatirkan: kartun Jepang tidak ditujukan untuk anak-anak, melainkan orang dewasa. Wah, gawat!

Anime sebenarnya telah berkembang sejak lama. Yang paling mudah diingat barangkali Doraemon yang ditayangkan RCTI.

Anime memang sebuah objek yang perlu mendapat perhatian banyak kalangan. Karena ia sebuah kasus yang cukup unik, tidak seperti kasus komik superhero yang beberapa waktu lalu menjadi trend tersendiri di kalangan anak muda. Anime bisa menimbulkan banyak argumen, karena wujud, dampak, dan segala yang berhubungan dengannya.

Beberapa tahun lalu sebuah film kartun Jepang berjudul Saint Seiya ditayangkan di RCTI. Namun dihentikan di tengah jalan karena berbagai spekulasi. Ada yang mengatakan stasiun TV itu tidak mampu membeli hak siarnya lagi. Tapi ada spekulasi yang cukup mendapat perhatian, yaitu karena adanya surat protes dari para orang tua mengenai penayangan Saint Seiya. Anime yang cukup populer itu dikesankan terlalu sadis, tidak cocok untuk anak-anak, dan berbagai penilaian lain. Kritik itu memang tidak salah. Saint Seiya penuh adegan pertarungan yang sering mengumbar darah. Sang tokoh utama kena pukulan lawannya, ia terpental ke tembok, lalu menyemburkan darah, dan seterusnya.

Kasus lain terjadi di Jepang. Antara tahun 1995 - 1996, ada murid menusuk gurunya. Perbuatan itu diduga sebagai efek dari film kartun Neon Genesis Evangelion yang tengah naik daun saat itu. Di dalamnya memang ada adegan salah satu mesin Eva menusuk lawan dengan senjata serupa pisau cutter. Akibat kasus itu, penayangan anime di Jepang dibatasi.

Sulit dipahami anak-anak

Apa kesimpulan dari kedua kasus di atas? Sederhana saja: anime tidak dibuat untuk anak-anak, tapi untuk orang dewasa. Kenapa? Coba lihat film-film itu, baik yang muncul di TV maupun dalam VCD. Tema-temanya sering sulit atau bahkan tidak bisa ditangkap oleh anak-anak.

Mari dibanding-bandingkan. Ada sebuah tema tentang betapa berbahayanya sifat serakah pada diri manusia. Jika sifat itu dibiarkan, dipelihara, bahkan dipuaskan, maka akan menyusahkan banyak orang dan akhirnya menyusahkan diri sendiri. Tema ini dipaparkan dengan gamblang pada kartun produksi Walt Disney berjudul The Lion King (1994). Di sana tergambar tokoh Scar yang ambisius, sehingga ia membunuh kakaknya sendiri, Mufasa, sang raja. Akhirnya, Scar terbunuh oleh keponakannya sendiri yaitu Simba, sang tokoh utama, yang sebenarnya pewaris tahta.

Semua itu terpapar dalam cerita yang mudah diikuti dan dimengerti, animasi yang penuh warna-warni dan ceria, serta soundtrack lagu-lagu yang indah. Ditambah dengan penokohan yang menggunakan karakter hewan, sehingga anak-anak langsung paham, semua itu hanya simbol. Mereka pun bisa memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Tapi bandingkan dengan anime berjudul Gundam Wing. Dengan tema yang sama, Gundam Wing memiliki tokoh yang berwujud manusia. Belum lagi ceritanya yang kompleks, pesan yang sulit ditangkap karena rumit, masih ditambah perang dan pembunuhan di sana-sini.

Apakah tokoh Heero Yuy yang hendak membunuh Raleena Darlian hanya karena Raleena memergoki Heero melakukan tugasnya untuk berperang adalah tokoh idola yang pantas bagi anak-anak? Apakah tokoh Treize Khushrenada yang licik dan pandai mengadu domba lawan-lawannya demi mencapai tujuan pantas diidolakan anak-anak? Demikian pula dengan tokoh Chang Wu Fei yang mendendam pada Treize, layakkah ia diidamkan anak-anak?

Lebih buruk lagi, semua pilot Gundam itu adalah anak-anak berumur 15 tahun. Tentunya, pemirsa muda akan berpikir: para pilot Gundam adalah anak-anak sebaya mereka. Tentunya apa yang dilakukan para pilot tersebut boleh juga mereka lakukan. Akibatnya, anak-anak penonton Gundam Wing tidak akan segan-segan menghantam teman mainnya dengan tongkat, sehingga terluka, seperti kasus Evangelion di atas.

Contoh nyata lain, anime Weiß Kreuz yang belakangan beredar dalam bentuk VCD Original. Weiß Kreuz bukan tontonan untuk anak-anak. Siapa pun yang menontonnya pasti setuju. Dalam anime itu digambarkan, betapa aksi kelompok yang tidak mengenal ampun tidak bisa dijadikan teladan anak-anak. Orang dewasa bisa paham, hal itu hanyalah hiburan. Tapi bagaimana anak-anak yang cenderung mengikuti apa yang mereka anggap menarik? Apakah adegan berciuman (seperti yang terdapat dalam episode pertama Weiß Kreuz), walaupun belum terjadi, layak untuk anak-anak?

Jangan semua ditonton

Kembali ke film kartun Neon Genesis Evangelion, secara umum anime yang konon menjadi yang terbaik di Jepang tahun 1995 itu memang memiliki kualitas yang perlu diperhatikan. Soundtrack yang menjadi hit (di antaranya lagu Fly Me to the Moon yang dulu dinyanyikan Frank Sinatra), kisah seru, kualitas animasi tingkat tinggi, tingkat kompleksitas cerita yang tinggi, karakter yang secara psikologis beragam, hingga akhir cerita yang tak terduga yang konon sempat diprotes para penonton. Tapi, apa yang bisa dicontohkan kepada anak-anak? Apakah kita hendak mengajarkan pada anak-anak bahwa melarikan diri dari kenyataan seperti dilakukan oleh sang tokoh utama, Shinji Ikari, adalah salah? Apakah tingkat pemikiran anak-anak sudah sampai ke sana?

Sekadar untuk diketahui, di dalam Neon Genesis Evangelion ada banyak adegan yang tidak layak ditonton anak-anak. Misalnya, adegan saat Eva-01 menikam Angel ke-3 dengan robekan taring sang Angel itu sendiri. Juga adegan pilot Eva-02, Asuka, telanjang di kamar mandi saat ia hendak mandi. Belum lagi ending cerita yang membingungkan. Menurut pengamatan, setiap orang yang menonton memiliki pendapat yang berbeda-beda. Itu kalau orang dewasa yang menonton; bagaimana kalau anak-anak? Padahal Neon Genesis Evangelion adalah anime jenis mecha (robot), yang jelas disukai anak-anak, terutama anak laki-laki.

Masih banyak lagi contoh lain. Contoh paling dekat dan baru, Crayon Sinchan. Apakah Sinchan yang sering merepotkan orang tuanya adalah contoh yang baik bagi anak-anak? Kita yang dewasa bisa tertawa terbahak-bahak menyaksikan ulah anak kecil berumur lima tahun itu. Tapi bagaimana dengan penonton yang berumur, sebutlah, di bawah 10 tahun? Tidakkah mereka berpikir bahwa Sinchan yang berumur lima tahun saja seperti itu, lalu mereka akan mengikutinya tanpa disadari oleh siapa pun?

Memang, kita bisa memberitahukan kepada anak-anak bahwa itu semua hanyalah tontonan. Tapi amati dengan baik. Jika dalam setiap anime terdapat adegan yang tidak layak dipertontonkan kepada anak-anak, apakah anime itu sendiri adalah tontonan untuk anak-anak? Lihat melalui segi pembuatannya. Jika dibuat dengan adegan yang tidak layak untuk diperlihatkan kepada anak-anak, apakah anime itu juga tontonan anak-anak?

Anime memiliki beragam jenis. Ada anime drama, berisi cerita mengenai kehidupan sehari-hari, umumnya cerita mengenai masa muda, seperti sekolah, pacaran, dan sebagainya; anime mecha, anime tentang mecha (robot). Anime jenis ini perlu diamati dengan baik dan saksama karena bobot cerita dan karakterisasi yang cenderung berat. Ada lagi anime yang diadaptasi dari game. Biasanya, cerita anime ini tidak jauh dari cerita aslinya. Dan sebagainya.

Bumbu anime sendiri bermacam-macam. Seperti layaknya cerita, bumbu yang tepat adalah percintaan. Inilah yang menjadi masalah. Apakah anak-anak di bawah umur 15 tahun sudah layak melihat pasangan muda-mudi berciuman? Belum lagi bumbu yang aneh-aneh seperti shonen ai, slash, shoujo ai, dan yuri. Shonen ai adalah kisah percintaan antara dua pemuda, atau homo (gay) dalam bahasa kita. Slash adalah kisah shonen ai yang sudah lebih mendalam, menuju pernikahan atau hubungan serius lain. Berlawanan dengan shonen ai, shoujo ai dan yuri terjadi pada wanita, atau lebih dikenal sebagai lesbian. Ini kadang terdapat dalam anime. Apakah hal-hal demikian pantas diajarkan pada anak-anak?

Kesimpulannya, anime adalah sebuah karya seni. Sebuah karya yang indah. Tapi karya indah itu memiliki dua mata pisau yang keduanya bisa melukai kita. Ada anime yang layak diberikan untuk anak-anak, walaupun tidak berarti aman dari pengaruh negatif. Beberapa contoh, cobalah judul-judul seperti Pokemon dan Digimon. Dragon Ball pun (menurut saya) masih bisa diberikan kepada anak-anak, karena tingkat kesadisannya belum bloody (berdarah), tidak seperti Saint Seiya.

Yang lebih penting, dampingi anak-anak saat menonton anime. Saat itu ajarkan kepada mereka hal-hal yang benar, apa saja yang harusnya dihindari, dan apa-apa yang seharusnya dilakukan. Temani mereka saat menonton Pokemon, tapi katakan juga bahwa itu hanya tontonan. Jangan pernah menggunakan Pokemon sebagai dalil untuk mengadu binatang seperti sabung ayam dan sebagainya. Sedangkan Weiß Kreuz dan Evangelion, lebih baik orang dewasa saja yang menonton. Tentunya, kita tak ingin anak-anak rusak hanya karena salah mengartikan hiburan, 'kan? (Andrian W.D.)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej