|
|
Bulan Juni 2001
|
|
Kontroversi di Balik Film Kartun Film kartun produksi Jepang, yang biasa
disebut anime, gencar meramaikan pertelevisian dan pervideoan kita.
Seiring dengan itu, keluhan dan protes pun bermunculan. Kesimpulan yang
paling mengkhawatirkan: kartun Jepang tidak ditujukan untuk anak-anak,
melainkan orang dewasa. Wah, gawat!
Anime sebenarnya telah berkembang sejak lama. Yang paling mudah
diingat barangkali Doraemon yang ditayangkan RCTI.
Anime memang sebuah objek yang perlu mendapat perhatian banyak
kalangan. Karena ia sebuah kasus yang cukup unik, tidak seperti kasus komik superhero
yang beberapa waktu lalu menjadi trend tersendiri di kalangan anak
muda. Anime bisa menimbulkan banyak argumen, karena wujud, dampak,
dan segala yang berhubungan dengannya.
Beberapa tahun lalu sebuah film kartun Jepang berjudul Saint Seiya
ditayangkan di RCTI. Namun dihentikan di tengah jalan karena berbagai
spekulasi. Ada yang mengatakan stasiun TV itu tidak mampu membeli hak
siarnya lagi. Tapi ada spekulasi yang cukup mendapat perhatian, yaitu karena
adanya surat protes dari para orang tua mengenai penayangan Saint Seiya.
Anime yang cukup populer itu dikesankan terlalu sadis, tidak cocok
untuk anak-anak, dan berbagai penilaian lain. Kritik itu memang tidak salah.
Saint Seiya penuh adegan pertarungan yang sering mengumbar darah.
Sang tokoh utama kena pukulan lawannya, ia terpental ke tembok, lalu
menyemburkan darah, dan seterusnya.
Kasus lain terjadi di Jepang. Antara tahun 1995 - 1996, ada murid menusuk
gurunya. Perbuatan itu diduga sebagai efek dari film kartun Neon Genesis
Evangelion yang tengah naik daun saat itu. Di dalamnya memang ada adegan
salah satu mesin Eva menusuk lawan dengan senjata serupa pisau cutter.
Akibat kasus itu, penayangan anime di Jepang dibatasi.
Sulit dipahami anak-anak
Apa kesimpulan dari kedua kasus di atas? Sederhana saja: anime tidak
dibuat untuk anak-anak, tapi untuk orang dewasa. Kenapa? Coba lihat
film-film itu, baik yang muncul di TV maupun dalam VCD. Tema-temanya sering
sulit atau bahkan tidak bisa ditangkap oleh anak-anak.
Mari dibanding-bandingkan. Ada sebuah tema tentang betapa berbahayanya sifat
serakah pada diri manusia. Jika sifat itu dibiarkan, dipelihara, bahkan
dipuaskan, maka akan menyusahkan banyak orang dan akhirnya menyusahkan diri
sendiri. Tema ini dipaparkan dengan gamblang pada kartun produksi Walt
Disney berjudul The Lion King (1994). Di sana tergambar tokoh Scar
yang ambisius, sehingga ia membunuh kakaknya sendiri, Mufasa, sang raja.
Akhirnya, Scar terbunuh oleh keponakannya sendiri yaitu Simba, sang tokoh
utama, yang sebenarnya pewaris tahta.
Semua itu terpapar dalam cerita yang mudah diikuti dan dimengerti, animasi
yang penuh warna-warni dan ceria, serta soundtrack lagu-lagu yang
indah. Ditambah dengan penokohan yang menggunakan karakter hewan, sehingga
anak-anak langsung paham, semua itu hanya simbol. Mereka pun bisa memahami
pesan yang terkandung di dalamnya.
Tapi bandingkan dengan anime berjudul Gundam Wing. Dengan tema
yang sama, Gundam Wing memiliki tokoh yang berwujud manusia. Belum
lagi ceritanya yang kompleks, pesan yang sulit ditangkap karena rumit, masih
ditambah perang dan pembunuhan di sana-sini.
Apakah tokoh Heero Yuy yang hendak membunuh Raleena Darlian hanya karena
Raleena memergoki Heero melakukan tugasnya untuk berperang adalah tokoh
idola yang pantas bagi anak-anak? Apakah tokoh Treize Khushrenada yang licik
dan pandai mengadu domba lawan-lawannya demi mencapai tujuan pantas
diidolakan anak-anak? Demikian pula dengan tokoh Chang Wu Fei yang mendendam
pada Treize, layakkah ia diidamkan anak-anak?
Lebih buruk lagi, semua pilot Gundam itu adalah anak-anak berumur 15 tahun.
Tentunya, pemirsa muda akan berpikir: para pilot Gundam adalah anak-anak
sebaya mereka. Tentunya apa yang dilakukan para pilot tersebut boleh juga
mereka lakukan. Akibatnya, anak-anak penonton Gundam Wing tidak akan
segan-segan menghantam teman mainnya dengan tongkat, sehingga terluka,
seperti kasus Evangelion di atas.
Contoh nyata lain, anime Weiß Kreuz yang belakangan beredar dalam
bentuk VCD Original. Weiß Kreuz bukan tontonan untuk anak-anak.
Siapa pun yang menontonnya pasti setuju. Dalam anime itu digambarkan, betapa
aksi kelompok yang tidak mengenal ampun tidak bisa dijadikan teladan
anak-anak. Orang dewasa bisa paham, hal itu hanyalah hiburan. Tapi bagaimana
anak-anak yang cenderung mengikuti apa yang mereka anggap menarik? Apakah
adegan berciuman (seperti yang terdapat dalam episode pertama Weiß Kreuz),
walaupun belum terjadi, layak untuk anak-anak?
Jangan semua ditonton
Kembali ke film kartun Neon Genesis Evangelion, secara umum anime
yang konon menjadi yang terbaik di Jepang tahun 1995 itu memang memiliki
kualitas yang perlu diperhatikan. Soundtrack yang menjadi hit (di
antaranya lagu Fly Me to the Moon yang dulu dinyanyikan Frank
Sinatra), kisah seru, kualitas animasi tingkat tinggi, tingkat kompleksitas
cerita yang tinggi, karakter yang secara psikologis beragam, hingga akhir
cerita yang tak terduga yang konon sempat diprotes para penonton. Tapi, apa
yang bisa dicontohkan kepada anak-anak? Apakah kita hendak mengajarkan pada
anak-anak bahwa melarikan diri dari kenyataan seperti dilakukan oleh sang
tokoh utama, Shinji Ikari, adalah salah? Apakah tingkat pemikiran anak-anak
sudah sampai ke sana?
Sekadar untuk diketahui, di dalam Neon Genesis Evangelion ada banyak
adegan yang tidak layak ditonton anak-anak. Misalnya, adegan saat Eva-01
menikam Angel ke-3 dengan robekan taring sang Angel itu sendiri. Juga adegan
pilot Eva-02, Asuka, telanjang di kamar mandi saat ia hendak mandi. Belum
lagi ending cerita yang membingungkan. Menurut pengamatan, setiap
orang yang menonton memiliki pendapat yang berbeda-beda. Itu kalau orang
dewasa yang menonton; bagaimana kalau anak-anak? Padahal Neon Genesis
Evangelion adalah anime jenis mecha (robot), yang jelas
disukai anak-anak, terutama anak laki-laki.
Masih banyak lagi contoh lain. Contoh paling dekat dan baru, Crayon
Sinchan. Apakah Sinchan yang sering merepotkan orang tuanya adalah
contoh yang baik bagi anak-anak? Kita yang dewasa bisa tertawa
terbahak-bahak menyaksikan ulah anak kecil berumur lima tahun itu. Tapi
bagaimana dengan penonton yang berumur, sebutlah, di bawah 10 tahun?
Tidakkah mereka berpikir bahwa Sinchan yang berumur lima tahun saja seperti
itu, lalu mereka akan mengikutinya tanpa disadari oleh siapa pun?
Memang, kita bisa memberitahukan kepada anak-anak bahwa itu semua hanyalah
tontonan. Tapi amati dengan baik. Jika dalam setiap anime terdapat
adegan yang tidak layak dipertontonkan kepada anak-anak, apakah anime
itu sendiri adalah tontonan untuk anak-anak? Lihat melalui segi
pembuatannya. Jika dibuat dengan adegan yang tidak layak untuk diperlihatkan
kepada anak-anak, apakah anime itu juga tontonan anak-anak?
Anime memiliki beragam jenis. Ada anime drama, berisi cerita
mengenai kehidupan sehari-hari, umumnya cerita mengenai masa muda, seperti
sekolah, pacaran, dan sebagainya; anime mecha, anime tentang mecha
(robot). Anime jenis ini perlu diamati dengan baik dan saksama karena
bobot cerita dan karakterisasi yang cenderung berat. Ada lagi anime
yang diadaptasi dari game. Biasanya, cerita anime ini tidak
jauh dari cerita aslinya. Dan sebagainya.
Bumbu anime sendiri bermacam-macam. Seperti layaknya cerita, bumbu
yang tepat adalah percintaan. Inilah yang menjadi masalah. Apakah anak-anak
di bawah umur 15 tahun sudah layak melihat pasangan muda-mudi berciuman?
Belum lagi bumbu yang aneh-aneh seperti shonen ai, slash, shoujo
ai, dan yuri. Shonen ai adalah kisah percintaan antara dua
pemuda, atau homo (gay) dalam bahasa kita. Slash adalah kisah shonen
ai yang sudah lebih mendalam, menuju pernikahan atau hubungan serius
lain. Berlawanan dengan shonen ai, shoujo ai dan yuri terjadi
pada wanita, atau lebih dikenal sebagai lesbian. Ini kadang terdapat dalam anime.
Apakah hal-hal demikian pantas diajarkan pada anak-anak?
Kesimpulannya, anime adalah sebuah karya seni. Sebuah karya yang
indah. Tapi karya indah itu memiliki dua mata pisau yang keduanya bisa
melukai kita. Ada anime yang layak diberikan untuk anak-anak,
walaupun tidak berarti aman dari pengaruh negatif. Beberapa contoh, cobalah
judul-judul seperti Pokemon dan Digimon. Dragon Ball
pun (menurut saya) masih bisa diberikan kepada anak-anak, karena tingkat
kesadisannya belum bloody (berdarah), tidak seperti Saint Seiya.
Yang lebih penting, dampingi anak-anak saat menonton anime. Saat itu
ajarkan kepada mereka hal-hal yang benar, apa saja yang harusnya dihindari,
dan apa-apa yang seharusnya dilakukan. Temani mereka saat menonton Pokemon,
tapi katakan juga bahwa itu hanya tontonan. Jangan pernah menggunakan Pokemon
sebagai dalil untuk mengadu binatang seperti sabung ayam dan sebagainya.
Sedangkan Weiß Kreuz dan Evangelion, lebih baik orang dewasa
saja yang menonton. Tentunya, kita tak ingin anak-anak rusak hanya karena
salah mengartikan hiburan, 'kan? (Andrian W.D.) |
|||||