|
|
Bulan Juni 2001
|
|
Rezeki Pasti Kerajinan Kayu Jati
Setelah puluhan tahun kayu jati jawa Tectona grandis Lf diolah secara standar menjadi mebel, bahan bangunan, dan pelbagai perlengkapan rumah tangga, tiba masanya sisa-sisa bahan olahan dibentuk menjadi aneka macam kerajinan. Selain menguntungkan, benda kerajinan ini tidak "rakus" bahan lantaran tidak butuh kayu ukuran besar, bahan bakunya pun resmi keluaran Perhutani alias bukan kayu curian atau hasil jarahan. Makanya, rezeki yang didapat pun lebih pasti.
Di antara industri mebel di seputar Jepara, Kudus, Blora, dan Cepu di Jawa
Tengah, serta Bojonegoro di Jawa Timur, tersembul sektor bawaan yang
belakangan tidak kalah maraknya. Itulah industri barang kerajinan dan
cendera mata bermaterial dasar kayu jati. Mangkuk, asbak, patung, lampu
meja, gantungan baju, vas bunga, patung aneka bentuk, miniatur kendaraan
bermotor, kotak perhiasan, juga berbagai macam lainnya.
Disebut sektor bawaan karena semula hanya berupa potongan kayu sisa setelah
bagian utamanya dibentuk menjadi meja, kursi, lemari, ranjang, pintu dan
jendela, tangga dan railing-nya, atau partisi ruangan. Atas ide
kreatif para pengukir dan tukang bubut, potongan sisa itu dibentuk menjadi
barang kerajinan. Dari semula dipakai sendiri atau diberikan pada orang lain
sebagai cendera mata, lama-kelamaan menemukan pasar menjadi barang dagangan.
Di kawasan yang dikenal sebagai penghasil kayu jati kualitas tinggi itu kini
bertumbuhan industri kerajinan. Dari yang rumahan, yang tergabung dalam
wadah koperasi, sampai sentra-sentra hasil binaan seperti deretan kios baru
yang diprakarsai Pemda Kabupaten Blora di tepi jalan raya Blora - Cepu. Ada
saatnya mereka ramai-ramai menggarap pangkal pohon jati kering menjadi meja
atau patung. Tapi ada pula masanya mereka membuat mobil-mobilan atau
miniatur sepeda motor. Lain kali mengerjakan meja kecil aneka ukuran, pada
saat berbeda membuat guci berukir dan penyimpanan payung. Malah, pernah ada
musimnya mereka membuat sepeda ukuran asli dengan seluruh bagiannya dari
kayu jati.
Memang kreativitas musiman. Atau dalam istilah populer, mereka membuat
sesuatu yang sesuai dengan "selera pasar". Meski yang memiliki
"selera" itu kebanyakan pedagang di tempat lain, pada dasarnya
para perajin mengerjakan apa saja sesuai pesanan. Mereka amat piawai
mencontoh benda yang sudah ada, atau membuat benda pesanan berdasarkan
sketsa belaka.
Kontrol kualitas
Layaknya usaha yang diterjuni ramai-ramai, tak semua pelakunya memperoleh
rezeki yang sama. Ada yang kebanjiran pesanan, namun banyak pula yang sepi
atau sekadar menjadi subordinasi perajin. Hajjah Mimik Ngarmiyati Moch.
Munir, pengusaha kerajinan dan mebel ukir di kawasan Batokan, Kecamatan
Cepu, mengaku berada di tengah kedua kondisi itu.
Disebut sebagai perajin kecil-kecilan jelas bukan, karena ia punya 20 anak
buah dan menghimpun 15 perajin rumahan yang dijadikan anak angkat usahanya.
Tapi disebut besar juga tidak, karena ia hanya mengerjakan pesanan partai
kecil dengan ditunjang dana yang relatif kecil pula. Tapi yang menarik, ia
salah satu dari sangat sedikit perempuan yang terjun di bidang itu,
sekaligus membuktikan diri berkembang.
Ia tidak ikut arus memproduksi barang ukuran besar yang rakus bahan baku -
bahkan acap kali menggunakan kayu "gelap" alias curian atau hasil
jarahan untuk menekan biaya produksi lantaran harganya miring. Ia mengambil
posisi di bawah naungan Perhutani - Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu.
Kelangsungan bahan baku - yang sudah pasti kayu "terang" -
terjamin, bisa menikmati kredit dari Perhutani, pemasarannya pun terbantu.
Bagi Perhutani - KPH Cepu, perusahaan Murni Jati yang dipimpin Mimik
merupakan contoh keberhasilan. Tertib dalam pengembalian kredit, mudah
diajak kerja sama, pun dengan kualitas produk terkontrol. Hasil usaha Mimik
memang dikenal memiliki kualitas tinggi, baik dari segi bahan maupun mutu
pengerjaan.
"Saya memang menomorsatukan kualitas. Sedangkan harga berada di urutan
kesekian. Kalau kualitasnya bagus, harga tinggal mengikuti," kata
Mimik.
"Kami pun bertanggung jawab atas risiko barang. Misalnya ada barang
rusak atau tidak sesuai pesanan, ya kami perbaiki."
Kredit ringan Perhutani
Mimik memulai usahanya sekitar tahun 1989 dengan pembubutan kayu
kecil-kecilan. Tak lama kemudian, pihak Perhutani yang sebelumnya sudah
melakukan pembinaan usaha kecil dan koperasi di sekitar Cepu, menawarinya
pinjaman modal usaha plus kelangsungan bahan baku. Maka uang Rp 1,5 juta pun
dia kelola dalam masa kredit dua tahun, yang pada enam bulan pertama hanya
wajib membayar bunga pinjaman.
Mimik menambah mesin bubut. Ia disertakan dalam banyak pameran dan pemasaran
yang diprakarsai Perhutani. Juga diikutkan dalam beberapa kali pelatihan
manajemen. Secara perlahan, usaha Mimik pun berkembang. Rumah yang semula
ditinggali harus diperluas untuk ruang kerja dan meletakkan barang, sampai
ke rumah di sampingnya, dan sampingnya lagi. Ruang pamer pun makin penuh
oleh barang. Antara etalase, tempat kerja, dan barang dan bahan stok sulit
dibedakan.
Kini ibu lima anak itu masih menjalani kredit Perhutani dengan nilai
pinjaman Rp 10 - 15 juta dalam masa 36 bulan. Masih seperti masa awal dulu,
pada enam bulan pertama ia hanya membayar bunganya. Ia mandiri, sekaligus
menjadi sandaran hidup bagi perajin anak-anak angkatnya yang dari waktu ke
waktu bertambah. Suaminya yang pegawai pemerintahan tak banyak terlibat.
Pesanan selalu ada
Produk usaha Mimik beraneka macam. Dari cendera mata kecil beberapa ribu
rupiah sampai lemari berharga Rp 3 juta. Atau satu set meja-kursi ukir dalam
kisaran harga Rp 5 juta. Dalam sebulan rata-rata 1.500 buah barang keluar
dari tempat usahanya. Tujuannya antara lain toko cendera mata dan mebel di
Jepara, ruang pamer di beberapa kota lain, perseorangan di Jakarta, atau
pengusaha hotel di Bali.
"Saya beruntung karena order datang dari banyak tempat. Kalau dari
Jepara sedang tidak ada order, dari tempat lain ternyata ada," sambung
Mimik.
Menurut Mimik, jenis produksi bersifat musiman. Ada masanya ia kebanjiran
order hiasan gantungan, ada saatnya banyak pesanan lampu meja, bangku
berujud binatang, dan tahun lalu ia mengerjakan seratusan sepeda kayu
berukuran persis aslinya yang harga satuannya mencapai Rp 1,5 juta.
"Belakangan, sejak awal 2001 ini, saya banyak mengerjakan perlengkapan
hotel."
Terhadap order dalam jumlah banyak, Mimik melakukan pola kerja yang sama,
yakni membagikan pekerjaan kepada perajin anak asuhnya. Mereka membuat
sesuatu berdasarkan arahan Mimik, dan ketika selesai mengirimkannya ke
bengkel kerja Murni Jati. "Di sini pekerjaan kami sempurnakan dan finishing-nya
kami seragamkan."
Yang utama: jujur
Adakah sesuatu yang bisa dipelajari dari industrialis kecil semacam Mimik?
Perempuan langsing itu sangat sadar akan posisinya. Bergerak dalam usaha
yang punya ketergantungan tinggi pada kelangsungan bahan baku, ia menempel
pada instansi resmi pemasok bahan baku. Juga, mengingat sangat beragamnya
kualitas produksi yang digeluti, ia mengacu pada tingkatan kualitas
tertinggi.
Persaingan antarperajin yang cukup ketat pun ia pahami sebagai bagian yang
menguntungkan dan bukan malah berupaya menjatuhkan pesaing. Yang dilakukan
Mimik, misalnya, dari waktu ke waktu belajar dari kelemahan orang lain untuk
pembenahan diri sendiri.
"Misalnya, kalau banyak konsumen yang mengeluhkan ketidaktepatan janji
para perajin seperti kami-kami ini, saya sangat menekankan ketepatan
janji," tambah Mimik.
Lebih dari itu, ada hal yang mendasari kerjanya selama ini, yakni kejujuran.
"Bagi saya, kejujuran itu yang utama."
Mimik menjabarkannya dalam seluruh langkah dan kerjanya. Jujur melihat
kekurangan agar selalu ingin menambah wawasan dengan kursus dan pelatihan,
juga jujur menilai potensi diri. Sehingga ia tidak takabur, meski dalam
sepuluh tahun usahanya, perkembangan dan kemandirian Mimik sangat kelihatan.
Maka sudah menjadi pemandangan umum di Cepu, rombongan turis asing yang
berwisata hutan jati sambil menaiki lori berlokomotif kuno, atau tamu
perusahaan perminyakan, menyempatkan diri mampir ke toko yang juga merangkap
bengkel kerja Mimik. Untuk saat sekarang, di kancah kerajinan kayu jati Cepu
dan sekitarnya, ia paling tepat dijadikan model keberhasilan. |
|||||