globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2001

 

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Rezeki Pasti Kerajinan Kayu Jati

 

Setelah puluhan tahun kayu jati jawa Tectona grandis Lf diolah secara standar menjadi mebel, bahan bangunan, dan pelbagai perlengkapan rumah tangga, tiba masanya sisa-sisa bahan olahan dibentuk menjadi aneka macam kerajinan. Selain menguntungkan, benda kerajinan ini tidak "rakus" bahan lantaran tidak butuh kayu ukuran besar, bahan bakunya pun resmi keluaran Perhutani alias bukan kayu curian atau hasil jarahan. Makanya, rezeki yang didapat pun lebih pasti.

 

Di antara industri mebel di seputar Jepara, Kudus, Blora, dan Cepu di Jawa Tengah, serta Bojonegoro di Jawa Timur, tersembul sektor bawaan yang belakangan tidak kalah maraknya. Itulah industri barang kerajinan dan cendera mata bermaterial dasar kayu jati. Mangkuk, asbak, patung, lampu meja, gantungan baju, vas bunga, patung aneka bentuk, miniatur kendaraan bermotor, kotak perhiasan, juga berbagai macam lainnya.

Disebut sektor bawaan karena semula hanya berupa potongan kayu sisa setelah bagian utamanya dibentuk menjadi meja, kursi, lemari, ranjang, pintu dan jendela, tangga dan railing-nya, atau partisi ruangan. Atas ide kreatif para pengukir dan tukang bubut, potongan sisa itu dibentuk menjadi barang kerajinan. Dari semula dipakai sendiri atau diberikan pada orang lain sebagai cendera mata, lama-kelamaan menemukan pasar menjadi barang dagangan.

Di kawasan yang dikenal sebagai penghasil kayu jati kualitas tinggi itu kini bertumbuhan industri kerajinan. Dari yang rumahan, yang tergabung dalam wadah koperasi, sampai sentra-sentra hasil binaan seperti deretan kios baru yang diprakarsai Pemda Kabupaten Blora di tepi jalan raya Blora - Cepu. Ada saatnya mereka ramai-ramai menggarap pangkal pohon jati kering menjadi meja atau patung. Tapi ada pula masanya mereka membuat mobil-mobilan atau miniatur sepeda motor. Lain kali mengerjakan meja kecil aneka ukuran, pada saat berbeda membuat guci berukir dan penyimpanan payung. Malah, pernah ada musimnya mereka membuat sepeda ukuran asli dengan seluruh bagiannya dari kayu jati.

Memang kreativitas musiman. Atau dalam istilah populer, mereka membuat sesuatu yang sesuai dengan "selera pasar". Meski yang memiliki "selera" itu kebanyakan pedagang di tempat lain, pada dasarnya para perajin mengerjakan apa saja sesuai pesanan. Mereka amat piawai mencontoh benda yang sudah ada, atau membuat benda pesanan berdasarkan sketsa belaka.

 

Kontrol kualitas

Layaknya usaha yang diterjuni ramai-ramai, tak semua pelakunya memperoleh rezeki yang sama. Ada yang kebanjiran pesanan, namun banyak pula yang sepi atau sekadar menjadi subordinasi perajin. Hajjah Mimik Ngarmiyati Moch. Munir, pengusaha kerajinan dan mebel ukir di kawasan Batokan, Kecamatan Cepu, mengaku berada di tengah kedua kondisi itu.

Disebut sebagai perajin kecil-kecilan jelas bukan, karena ia punya 20 anak buah dan menghimpun 15 perajin rumahan yang dijadikan anak angkat usahanya. Tapi disebut besar juga tidak, karena ia hanya mengerjakan pesanan partai kecil dengan ditunjang dana yang relatif kecil pula. Tapi yang menarik, ia salah satu dari sangat sedikit perempuan yang terjun di bidang itu, sekaligus membuktikan diri berkembang.

Ia tidak ikut arus memproduksi barang ukuran besar yang rakus bahan baku - bahkan acap kali menggunakan kayu "gelap" alias curian atau hasil jarahan untuk menekan biaya produksi lantaran harganya miring. Ia mengambil posisi di bawah naungan Perhutani - Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu. Kelangsungan bahan baku - yang sudah pasti kayu "terang" - terjamin, bisa menikmati kredit dari Perhutani, pemasarannya pun terbantu.

Bagi Perhutani - KPH Cepu, perusahaan Murni Jati yang dipimpin Mimik merupakan contoh keberhasilan. Tertib dalam pengembalian kredit, mudah diajak kerja sama, pun dengan kualitas produk terkontrol. Hasil usaha Mimik memang dikenal memiliki kualitas tinggi, baik dari segi bahan maupun mutu pengerjaan.

"Saya memang menomorsatukan kualitas. Sedangkan harga berada di urutan kesekian. Kalau kualitasnya bagus, harga tinggal mengikuti," kata Mimik.

"Kami pun bertanggung jawab atas risiko barang. Misalnya ada barang rusak atau tidak sesuai pesanan, ya kami perbaiki."

 

Kredit ringan Perhutani

Mimik memulai usahanya sekitar tahun 1989 dengan pembubutan kayu kecil-kecilan. Tak lama kemudian, pihak Perhutani yang sebelumnya sudah melakukan pembinaan usaha kecil dan koperasi di sekitar Cepu, menawarinya pinjaman modal usaha plus kelangsungan bahan baku. Maka uang Rp 1,5 juta pun dia kelola dalam masa kredit dua tahun, yang pada enam bulan pertama hanya wajib membayar bunga pinjaman.

Mimik menambah mesin bubut. Ia disertakan dalam banyak pameran dan pemasaran yang diprakarsai Perhutani. Juga diikutkan dalam beberapa kali pelatihan manajemen. Secara perlahan, usaha Mimik pun berkembang. Rumah yang semula ditinggali harus diperluas untuk ruang kerja dan meletakkan barang, sampai ke rumah di sampingnya, dan sampingnya lagi. Ruang pamer pun makin penuh oleh barang. Antara etalase, tempat kerja, dan barang dan bahan stok sulit dibedakan.

Kini ibu lima anak itu masih menjalani kredit Perhutani dengan nilai pinjaman Rp 10 - 15 juta dalam masa 36 bulan. Masih seperti masa awal dulu, pada enam bulan pertama ia hanya membayar bunganya. Ia mandiri, sekaligus menjadi sandaran hidup bagi perajin anak-anak angkatnya yang dari waktu ke waktu bertambah. Suaminya yang pegawai pemerintahan tak banyak terlibat.

 

Pesanan selalu ada

Produk usaha Mimik beraneka macam. Dari cendera mata kecil beberapa ribu rupiah sampai lemari berharga Rp 3 juta. Atau satu set meja-kursi ukir dalam kisaran harga Rp 5 juta. Dalam sebulan rata-rata 1.500 buah barang keluar dari tempat usahanya. Tujuannya antara lain toko cendera mata dan mebel di Jepara, ruang pamer di beberapa kota lain, perseorangan di Jakarta, atau pengusaha hotel di Bali.

"Saya beruntung karena order datang dari banyak tempat. Kalau dari Jepara sedang tidak ada order, dari tempat lain ternyata ada," sambung Mimik.

Menurut Mimik, jenis produksi bersifat musiman. Ada masanya ia kebanjiran order hiasan gantungan, ada saatnya banyak pesanan lampu meja, bangku berujud binatang, dan tahun lalu ia mengerjakan seratusan sepeda kayu berukuran persis aslinya yang harga satuannya mencapai Rp 1,5 juta.

"Belakangan, sejak awal 2001 ini, saya banyak mengerjakan perlengkapan hotel."

Terhadap order dalam jumlah banyak, Mimik melakukan pola kerja yang sama, yakni membagikan pekerjaan kepada perajin anak asuhnya. Mereka membuat sesuatu berdasarkan arahan Mimik, dan ketika selesai mengirimkannya ke bengkel kerja Murni Jati. "Di sini pekerjaan kami sempurnakan dan finishing-nya kami seragamkan."

 

Yang utama: jujur

Adakah sesuatu yang bisa dipelajari dari industrialis kecil semacam Mimik?

Perempuan langsing itu sangat sadar akan posisinya. Bergerak dalam usaha yang punya ketergantungan tinggi pada kelangsungan bahan baku, ia menempel pada instansi resmi pemasok bahan baku. Juga, mengingat sangat beragamnya kualitas produksi yang digeluti, ia mengacu pada tingkatan kualitas tertinggi.

Persaingan antarperajin yang cukup ketat pun ia pahami sebagai bagian yang menguntungkan dan bukan malah berupaya menjatuhkan pesaing. Yang dilakukan Mimik, misalnya, dari waktu ke waktu belajar dari kelemahan orang lain untuk pembenahan diri sendiri.

"Misalnya, kalau banyak konsumen yang mengeluhkan ketidaktepatan janji para perajin seperti kami-kami ini, saya sangat menekankan ketepatan janji," tambah Mimik.

Lebih dari itu, ada hal yang mendasari kerjanya selama ini, yakni kejujuran. "Bagi saya, kejujuran itu yang utama."

Mimik menjabarkannya dalam seluruh langkah dan kerjanya. Jujur melihat kekurangan agar selalu ingin menambah wawasan dengan kursus dan pelatihan, juga jujur menilai potensi diri. Sehingga ia tidak takabur, meski dalam sepuluh tahun usahanya, perkembangan dan kemandirian Mimik sangat kelihatan.

Maka sudah menjadi pemandangan umum di Cepu, rombongan turis asing yang berwisata hutan jati sambil menaiki lori berlokomotif kuno, atau tamu perusahaan perminyakan, menyempatkan diri mampir ke toko yang juga merangkap bengkel kerja Mimik. Untuk saat sekarang, di kancah kerajinan kayu jati Cepu dan sekitarnya, ia paling tepat dijadikan model keberhasilan. (Mayong S. Laksono/G.Sujayanto)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej