|
|
Bulan Juni 2001
|
|
BEGITU MENIKAH, JANGAN TUNDA KEHAMILAN Acap kali kita mendengar, pasangan muda sulit memperoleh anak begitu mereka menginginkannya setelah beberapa lama ber-KB. Diduga kuat, penundaan kehamilan dengan kontrasepsi selain kondom setelah menikah menjadi salah satu penyebab. Pasangan
muda Bagus dan Febi, sebutlah begitu, sejak sebelum melangsungkan pernikahan
sudah merencanakan untuk tidak segera mempunyai momongan. Alasannya, mereka
belum mempunyai rumah sendiri dan Bagus baru saja mendapat pekerjaan. Saat
menikah, usia mereka memang masih muda, Febi 22 tahun dan Bagus 25 tahun.
untuk itu, mereka memilih kontrasepsi pil antihamil.
Merasa berpenghasilan cukup dan mampu mengontrak rumah setelah dua tahun
menikah, mulailah mereka berpikir untuk meramaikan rumahnya dengan kehadiran
seorang anak. Pil KB pun segera distop konsumsinya, tapi sampai perkawinan
berusia tiga tahun, yang mereka tunggu-tunggu belum juga hadir. Merasa
cemas, mereka segera memeriksakan diri ke dokter ahli kebidanan dan
kandungan. Setelah menjalani terapi medis selama sekitar dua tahun, akhirnya
Febi berhasil hamil.
Antibodi antisperma
Pada zaman sulit mencari nafkah seperti saat ini, banyak pasangan muda
menunda mempunyai anak, seperti yang dijalani Bagus dan Febi. Alasannya
macam-macam, antara lain pekerjaan belum mapan, belum punya tempat tinggal
tetap, gaji masih kecil, dll. Lalu mereka memutuskan untuk sementara
melakukan KB dengan kontrasepsi pil atau suntik antihamil, IUD, kondom, dsb.
Menurut Prof. dr. H. Aryatmo Tjokronegoro Ph.D., Sp.And. spesialis alat
reproduksi pria (androlog) dari FKUI, setiap pasangan suami-istri memang
berhak menunda kehamilan. Namun, upaya itu dilakukan dengan memilih
kontrasepsi yang tepat berdasarkan anjuran dokter. Ini untuk menghindari
sulitnya menghadirkan si buah hati pada saat diinginkan. Pasalnya, sering
terjadi pasangan muda sulit hamil setelah kontrasepsi dihentikan
penggunaannya. Itu sebuah misteri.
Untuk memecahkan "misteri" macam itu pada tahun 1970-an sejumlah
spesialis infertilitas Barat melakukan penelitian pada kasus unexplained
infertillity (infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya) secara
klinis maupun laboratoris. Pada banyak pasangan ternyata tidak ditemukan
kelainan organis (seperti saluran indung telur buntu) maupun kelainan
fisiologis sebagai penyebabnya.
Kemudian diteliti kemungkinan penyebab lain. Salah satunya adalah
kemungkinan adanya faktor antibodi antisperma pada wanita, sehingga terjadi
kegagalan potensi sperma membuahi ovum (sel telur) dalam tubuh wanita.
Diteliti pula apakah penggunaan alat kontrasepsi seperti pil KB atau suntik
KB (berisi hormon yang menolak pembuahan) serta IUD dalam jangka waktu
tertentu menjadi penyebab meningkatnya antibodi antisperma.
Terapi kondom
Sejak lahir setiap manusia normal dibekali suatu sistem imunologi yang dapat
melindungi diri terhadap serangan berbagai kuman penyakit. Setiap saat
sistem imun ini siap menjaga tubuh dari serangan antigen asing.
Dalam sistem reproduksi pun sistem imun itu ada. Pada setiap wanita sistem
imun berperan penting dalam menjaga keselamatan sang jabang bayi. Dengan
kekebalan, proses perkembangan janin berlangsung baik paling tidak sampai
usia kehamilan sembilan bulan, saat bayi siap dilahirkan. Selain itu, sistem
imun juga menjaga tubuh terhadap serangan berbagai macam infeksi, termasuk
pelbagai penyakit seksual.
Pada diri setiap pria pun bisa timbul antisperma yang merupakan femomena
autoimun atau akibat sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen
tubuhnya sendiri, yakni sperma. Sebaliknya, wanita tidak mempunyai unsur
antigen yang terkandung seperti pada sperma maupun komponen plasma semen.
Namun, begitu si wanita mulai berhubungan seksual dengan pria, di dalam
tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada
tingkat tertentu, antibodi masih bisa ditembus oleh sperma yang bagus
kualitasnya (cepat dan kuat) untuk membuahi sel telur hingga menghasilkan
kehamilan.
Walaupun hanya satu sperma yang bakal membuahi sel telur, menurut teori
kedokteran, dibutuhkan puluhan juta (minimal 20 juta) sperma agar
kemungkinan terjadinya pembuahan lebih besar. Pasalnya, perjuangan untuk
bisa mencapai sel telur luar biasa beratnya bagi kebanyakan sel sperma.
Selama dalam perjalanan panjang dari lubang vagina sampai ke indung telur,
banyak sperma yang berguguran.
Namun, belakangan para androlog tidak lagi berpatokan pada teori ini.
"Yang terpenting bukan jumlahnya tetapi kualitas spermanya," kata
dr. Aryatmo. "Menurut saya, walaupun sperma yang dimiliki sang suami
hanya 5 - 6 juta, tapi kalau gerakannya cukup gesit, bisa saja membuahi sel
telur." Yang menjadi masalah, kalau jumlah sperma sedikit dan
gerakannya lamban. Maka mereka akan gugur sebelum mencapai tujuan!
Pada pasangan yang menggunakan kontrasepsi seperti pil dan suntik KB,
walaupun terjadi kontak antara sperma dan sel telur pada tubuh wanita,
pembuahan tidak bakal terjadi. Sedangkan pada KB IUD (spiral) pembuahan bisa
terjadi, tapi biasanya langsung gugur.
Menurut para pakar dalam penelitian tadi, selama penggunaan alat
kontrasepsi, pembentukan antibodi terhadap sperma akan terus terbentuk.
Bahkan semakin lama kadarnya semakin tinggi dan pertahanannya semakin kuat.
Diduga inilah biang keladi si wanita sulit hamil. Jadi, dengan kata lain
dalam tubuh si wanita telanjur timbul "kontrasepsi alami" atau
tercipta antibodi kuat yang menolak kehadiran sperma yang hendak membuahi
sel telurnya.
Kalau pun sampai terjadi pembuahan, menurut para pakar itu, bisa jadi telah
terbentuk efektor imun lebih dahsyat. Yang dimaksud efektor imun adalah
sistem imun seluler (yang dibawa oleh leukosit, makrofag, dll.) yang mampu
menimbulkan efek peradangan terhadap janin dan plasenta yang telah mulai
berkembang dalam rahim sang ibu. Penolakan imun ini bisa menyebabkan
keguguran.
Dalam kasus di atas, agar istri bisa hamil, suami dianjurkan melaksanakan
terapi kondom. Setelah kontrasepsi dihentikan, selama 6 - 8 bulan berikutnya
pasangan mesti mengenakan kondom ketika melakukan hubungan intim. Diharapkan
selama itu antibodi akan menurun dan tidak ada lagi di daerah organ
reproduksi sang istri. Sehingga ketika sudah tidak lagi memakai kondom,
sperma akan bermigrasi sampai ke saluran indung telur untuk bertemu dengan
ovum tanpa halangan apa pun. Tentu saja, itu akan terjadi saat sang istri
berada pada masa subur.
Kondom kontrasepsi terbaik
Menunda kehamilan, menurut dr. Aryatmo, juga banyak dilakukan pada pasangan
pranikah zaman sekarang yang sudah melakukan hubungan seksual. Kalau memang
teori pada penelitian tadi benar, hubungan semacam itu hanya akan
membangkitkan respons imun dalam tubuh si gadis terhadap komponen antigen
laki-laki. "Akhirnya, yang rugi lagi-lagi pihak wanita karena nantinya
akan sulit hamil," tegasnya. "Sebab itu saya sarankan agar para
gadis menjaga untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum masuk jenjang
perkawinan."
Penelitian juga membuktikan, pada para perempuan tuna susila banyak dijumpai
efektor respons imun, baik imun seluler maupun imun humoral (yang dibawa
oleh antibodi). Apalagi dalam semalam bisa berganti-ganti pasangan. Dalam
hal ini adanya komponen efektor imun justru menguntungkan para wanita
pekerja seks itu karena akan sulit mengalami kehamilan atau, kalaupun
terjadi pembuahan, mudah terjadi keguguran.
Namun sekali lagi, hasil penelitian soal antibodi antisperma sebagai biang
keladi tadi masih diliputi pro dan kontra. Kalaupun karena masalah antibodi
yang meningkat, belum tentu gara-gara kontrasepsi itu saja, tapi mungkin
bisa juga karena dalam tubuh si wanita secara alami terbentuk antibodi
antisperma yang kuat. Dalam hal ini kepada wanita yang bersangkutan biasanya
cukup diberikan obat imunosupresi yang akan menekan pembentukan antibodi
terhadap sperma. Tidak perlu dengan terapi kondom. Tapi penggunaan obat
imunosupresi ini pun banyak pihak yang menentang, sebab efek sampingannya,
tubuh si wanita akan kekurangan antibodi sehingga akan lebih mudah kemasukan
kuman atau virus seperti rubella, campak, dll. yang nantinya akan
membahayakan janin.
Sebab itu, dr. Aryatmo menganjurkan, kalau pun pasangan muda ingin menunda
kehamilan, sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi kondom. "Sarung
pelindung" ini dipandang sebagai kontrasepsi terbaik dan teraman dari
sudut imunologis. Ia akan mencegah terjadinya pembuahan sekaligus mencegah
kontak antara antigen suami dengan sistem imun istri, sehingga antibodi pada
tubuh istri tidak meningkat.
Namun yang paling aman, menurut dr. Aryatmo, pasangan suami istri tidak
menunda masa kehamilan. "Sebaiknya, satu anak dulu, baru KB,"
sarannya.
Dr. Aryatmo juga menyarankan kepada setiap pasangan suami istri tidak subur
untuk memeriksakan diri secara cermat guna mencari penyebab utamanya. Apakah
benar akibat ulah antibodi terhadap antigen komponen suaminya atau ada
masalah lain. Kasus infertilitas atau ketidaksuburan memang melibatkan
banyak faktor. |
|||||