|
|
Bulan Juni 2001 |
|
Lenong, mo dibawa ke mane?
"Mpok, mo kemane? Menor bener dandannye!" "Biase,
ke Taman Mini, Bang. Nonton lenong."
"Lenong preman ape denes?"
"Ape aje, asal lenong. Abis, kalo bukan kite yang ngeramein,
siape lagi?"
Si mpok memang layak miris. Tak seperti demo pro dan antiGus Dur yang selalu
dihadiri ribuan orang. Pertunjukan lenong, salah satu teater rakyat khas
Betawi yang kaya dengan dialog-dialog spontan lagi kocak, belakangan mirip
kuburan, sepi pengunjung. Ibarat lampu colen (obor yang dulu sering
digunakan untuk menerangi panggung lenong), nyalanya mulai redup.
Padahal, lewat kotak ajaib bernama televisi, di tahun 70-an hingga awal
80-an, lenong sempat jadi primadona. Dari mulut para komedian alamnya,
seperti H. Bokir, Nasir T, Anen serta Mpok Siti, dialek Betawi menyebar ke
seantero Nusantara. Posisinya saat itu, barangkali mirip kelompok lawak
Srimulat dan beragam ludruknya kini. Alat pelepas penat yang sangat dinanti
dan tentu saja, digemari.
Direvitalisasi TIM
Lenong sebagai tontonan, sudah dikenal sejak 1920-an. Almarhum Firman
Muntaco, seniman Betawi terkenal, menyebutnya kelanjutan dari proses
teaterisasi dan perkembangan musik Gambang Kromong. Jadi, Lenong adalah
alunan Gambang Kromong yang ditambah unsur bodoran alias lawakan
tanpa plot cerita.
Kemudian berkembang menjadi lakon-lakon berisi banyolan pendek, yang
dirangkai dalam cerita tak berhubungan. Lantas menjadi pertunjukan semalam
suntuk, dengan lakon panjang utuh, yang dipertunjukkan lewat ngamen
keliling kampung. Selepas zaman penjajahan Belanda, lenong naik pangkat,
karena mulai dipertunjukkan di panggung hajatan. Baru di awal kemerdekaan,
teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Saat itu, dekornya masih sangat sederhana, berupa layar sekitar 3x5 meter
bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah
kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan
tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen,
obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum
meningkat jadi petromaks.
Walaupun terus menyesuaikan diri dengan maunya zaman, untuk terus survive,
lenong harus berjuang keras. Dan ini tak mudah. Tahun 60'-an, masih dengan
mengandalkan durasi pertunjukan semalam suntuk dan konsep dramaturgi sangat
sederhana, lenong mulai kedodoran. "Rasanya, kami seperti berada di
pinggir jurang," cetus S.M Ardan, sastrawan dan sineas Betawi yang kini
aktif di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.
Itu sebabnya, tahun 70-an, bersama para dedengkot Taman Ismail Marzuki
(TIM), seperti Sumantri Sostrosuwondo dan Daduk Jayakusumah (keduanya
almarhum), Ardan dan Ali Shahab (beken lewat "Jin Tomang")
bertekad menggaet lenong ke tempat terhormat, lewat revitalisasi lenong.
Intinya, memberi kesempatan manggung sebanyak-banyaknya buat para seniman
kocak itu. "Agar nama mereka ikut terangkat," terang Ardan lagi.
Di TIM, durasi lenong yang semalam suntuk disunat jadi tiga jam saja. Selain
itu, dramaturgi sederhana ikut diperkenalkan kepada pemain. "Kami mulai
mengajarkan dialog, artikulasi, frasa, nuansa dan bloking sebagai bagian
dari dinamika pementasan," cerita Ali Shahab. Sebagai art director,
dia juga memperkenalkan tata panggung yang lebih realistis. Mulai pemakaian make-up
untuk menggantikan cemongan dan bedak, pemasangan hair creppe buat
kumis dan jenggot, hingga special effect untuk darah dan luka.
Selama beberapa tahun, lenong ngetrend di TIM dan tempat-tempat
pertunjukan lainnya. Anak lenong seperti Bokir, Nasir, Anen, Nirin, M.Toha,
Bu Siti, Naserin ikutan beken. Kehidupan mereka pun terangkat lewat tawaran
iklan, penampilan di TVRI, bahkan main film layar lebar.
Dibedakan pakaian
Tapi, jangan salah, lenong sendiri banyak macamnya, Cing. Drama
rakyat yang populer di TIM dan TVRI, dengan lakon bertemakan cerita
sehari-hari seperti rakyat yang tergencet pajak tuan tanah, disebut Lenong
Preman. Alasannya gampang, karena pakaian para pemainnya tidak ditentukan
sang sutradara. Jadi, boleh pakai baju sesuka hati, asal tak melenceng dari
peran.
Di ujung cerita, biasanya muncul jagoan dari kalangan santri (pendekar taat
beribadah) yang bertindak sebagai pembela rakyat. Ali Shahab menyebut para
jawara itu berkarakter Robin Hood, merampok orang kaya guna menolong si
miskin. Nah, karena penonjolan peran jagoan-jagoan itulah, Lenong Preman
dinamai juga Lenong Jago.
Jika ada pemain berpakaian preman, mestinya ada juga yang berbaju resmi.
Orang Betawi menyebutnya pakaian denes (dinas, red). Sayang,
perkembangan Lenong Denes tak seharum rekan-rekannya di kelompok Preman.
Barangkali, karena butuh modal besar untuk tampil di panggung. Maklum,
pemainnya harus pakai seragam sesuai tuntutan cerita, yang sebagian besar
bertutur tentang kisah-kisah 1001 malam.
Pada dasarnya, Lenong Preman dan Denes memang cuma dibedakan dari pakaian
yang dikenakan. Karena pakem-pakem lainnya tetap seragam. Seperti aturan
bahwa pemain harus masuk dari sisi kanan panggung dan keluar dari sisi kiri.
Serta pakem terpenting yang tak bisa ditawar-tawar, musik pengiring gambang
kromong. "Di luar itu, ya bukan lenong," tegas Ardan.
Gambang kromong sendiri mirip perlengkapan band, terdiri atas berbagai
instrumen. Berturut-turut gambang (alat musik dengan banyak sumber
suara, terdiri dari 18 buah bilah terbuat dari kayu. Dikenal juga dalam
tradisi Jawa dan Sunda), teh yan (semacam rebab berukuran kecil,
berasal dari Cina), kong an yan (rebab berukuran sedang, juga berasal
dari Cina), shu kong (rebab berukuran besar dari Cina), ning-nong
(mirip gamelen Jawa dan Sunda, terbuat dari perunggu).
Selain itu, masih ada kemong (sejenis gong kecil, mirip gamelan Jawa
atau Sunda), kromong (gamelan yang dapat menghasilkan 10 sumber
suara), kecrek (bilah perunggu yang diberi landasan kayu untuk
dipukul-pukul, sehingga berbunyi crek,crek), serta kendang
(tambur dengan dua permukaan, berasal dari Jawa, Sunda atau Bali).
Toh, Ardan bisa mentoleransi daerah tertentu, terutama pinggiran Jakarta
(perbatasan dengan Bekasi dan Bogor), yang memang tidak memiliki tradisi
gambang kromong. Melihat sejarahnya, gambang kromong konon berasal dan
berkembang di Betawi Tengah, seperti kawasan Tanah Abang, Senen, Salemba,
Jatinegara dan sekitarnya.
Di pinggir Jakarta, "Mereka tetap mempertahankan pakem asli lenong,
kecuali musik pengiringnya yang diganti tanjidor," jelas Ardan. Kok
tanjidor? "Karena musik jenis itulah yang berkembang pesat dan menjadi
jati diri masyarakat Betawi pinggir," tegas Ardan. Buat gampangnya,
lenong jenis ini kemudian dinamai jinong, kependekan dari tanjidor dan
lenong.
Nebeng, tapi diterima
Gencarnya "kampanye lenong" di TIM dan TVRI, bukan hanya membawa
dampak positif buat mata pencaharian pelakonnya. Tapi juga menyebarkan
pengaruh, orang Betawi menyebutnya sebagai "hikmah budaya", yakni
merasuknya dialek Betawi ke seluruh nusantara. Memang, "hasil
finalnya" tak seperti bahasa Betawi baku yang sering terdengar di
pemukiman.
Tapi berkembang lagi menjadi "bahasa metro", karena sudah
bercampur dengan idiom-idiom bahasa Indonesia dan daerah tertentu. Toh,
Bokir, Nasir, Bu Siti atau Mandra bisa dibilang sukses mensosialisasikan
dialek 'kampung" itu, bahkan "mengangkatnya" menjadi bahasa
pergaulan remaja.
Pengaruh lain, berdirinya teater-teater pop yang ke-Betawi-Betawian. Seperti
Teater Mama (Mat Solar) dan Teater Mira (Nazar Amir) di tahun 80-an, maupun
yang muncul dan ngetop di era 90-an, Lenong Rumpi dan Lenong Bocah.
Produk-produk yang nebeng kepopuleran lenong ini terbukti bisa
diterima masyarakat, meski masa kejayaannya terbatas.
"Kalau sementara pihak menanyakan kenapa Lenong Rumpi tidak seperti
lenong tradisional, ya karena Rumpi adalah lenong modern yang lebih
berorientasi pada produk hiburan, istilah kerennya product show-biz,"
bela Harry De Fretes, juragan Lenong Rumpi, saat grupnya mulai menduduki
rating tinggi di RCTI, sekitar tahun 1991.
Maklum, saat itu ia diserang habis-habisan, karena dianggap
"melecehkan" dunia perlenongan. "Apakah dengan berpikir
bisnis, konvensi lenong kemudian ditinggalkan? Seperti musik pengiringnya
yang harus gambang kromong, serta pemain masuk dari pintu kiri dan keluar
dari pintu kanan. Perubahan boleh-boleh saja, tapi harus tetap berakar pada
nilai-nilai tradisi," kritik Firman Muntaco dalam sebuah seminar di
kampus Universitas Indonesia, 1991.
Sampai kini, kontroversi masih berlanjut. Sayangnya, sang teater rakyat
malah terus tenggelam. Frekwensi pemunculannya di televisi mulai jauh
berkurang, sementara panggung hajatan mulai enggan mengundang, barangkali
karena nama lenong sudah kelewat besar buat menghibur acara kawinan.
"Pamornya memang sedang meredup," terawang S.M Ardan.
Lenong Preman masih mendingan, karena terkadang masih
ada jadwal mentas di Anjungan DKI TMII. Tapi Lenong Denes? Pertunjukannya
makin langka, seiring berkurangnya minat para "penanggap". Tak
heran jika pemain lenong muda merasa asing dengan konsep Denes ini. Di sisi
lain, pemain yang dulu menggerakkan Lenong Denes, satu persatu dimakan usia,
tanpa sempat menyiapkan pengganti.
Ulang Tahun Jakarta, Juni 2001 ini mestinya jadi momen yang pas untuk
kembali memikirkan kelanjutan hidup teater rakyat yang tengah redup.
Mengulang langkah revitalisasi boleh-boleh saja. Tapi sebagai pelakon, M.
Toha, Bokir atau Nasir, ternyata punya pikiran jauh lebih ke depan.
"Dari dulu, katenye DKI (pemda, Red) mo bikin gedong
tempat seniman-seniman Betawi maen. Tapi sampe sekarang, cuma
janji doang," koor mereka senada. Padahal, seperti dibilang
Ridwan Saidi, lenong adalah tontonan sarat muatan moral. Bahwa si jahat,
sampai kapan dan sekuat apapun, harus takluk pada kebenaran. Namun, tetap
disampaikan dengan canda, hingga tak membuat merah telinga.
Sungguh pas jika dipraktikkan para elit politik yang kini sedang
"berperang". (Muhammad Sulhi)
Baca juga: Sejarah Salah Kaprah |
|||||