|
|
Bulan Juni 2001 |
|
Membuat Mobil Kita Ramah Lingkungan Andai saja jagad raya punya dua Bumi, masa depan umat manusia tak akan sekelam ini gara-gara lapisan ozon satu-satunya Bumi yang kita miliki mulai bolong. Udara pun teracuni. Nyaris tak ada tempat bersembunyi dari polusi. Bahkan di dalam kabin kendaraan kadar pencemarannya bisa 27 kali lipat dibanding di luar (Lembaga Environmental Transport Association Trust, Inggris). Masih juga tega menutup mata dan telinga? Bicara
ozon dan emisi gas buang, memang bak meraba nasib buruk kita sendiri. Udara
Jakarta misalnya, versi Ahmad Safrudin, koordinator Komite Penghapusan
Bensin Bertimbal (KPBB), diperkirakan mengandung timbal (Pb) alias timah
hitam hingga 1,8 mikrogram per meter kubik, di atas ambang batas yang
diizinkan WHO.
Pemerintah boleh disalahkan karena kurang peduli. Tapi, cuekin aja, wong
mengurus APBN saja ribetnya minta ampun. Yang penting, keterlibatan pemilik
kendaraan harus terus dipompa untuk menciptakan lingkungan yang ramah. Salah
satunya, dengan menciptakan mobil ramah lingkungan versi sendiri.
Enggak usah berpikir yang susah-susah dan berbau high- tech. Apalagi
menunggu hadirnya mobil listrik atau hidro yang memang sudah 100% bebas
polusi. Selain terlalu lama, kalau pun nanti masuk pasar Indonesia, (seperti
biasa) harganya pasti tak lagi rasional alias kelewat mahal.
Lantas, bagaimana caranya?
Puasa "makan" timbal
Langkah paling konkret, hindari konsumsi bahan bakar bertimbal. Racun yang
didayagunakan sejak 1921 ini awalnya dipakai untuk menghindari mesin ngelitik.
Namun baru tahun 1970-an terbukti, racunnya sangat berbahaya buat manusia.
Tidak musnah saat terjadinya proses pembakaran, sekitar 25% kandungannya
berubah jadi kerak penghuni ruang bakar, sementara sisanya wira-wiri
mencemari udara.
Jika terhirup anak-anak, lantaran ukuran tubuhnya kecil, tingkat penyebaran
timbal bisa sangat tinggi. Paling menakutkan jika sudah merambah sistem
saraf dan otak, berpotensi menurunkan IQ, hilang ingatan jangka pendek,
kesulitan mengeja dan membaca, hingga gangguan fungsi motorik penglihatan
dan refleks.
Sedangkan di tubuh orang dewasa, dampak paling lazim, ya tekanan darah
tinggi (hipertensi). Kalau makin parah, bukan tidak mungkin berlanjut ke
serangan jantung, kanker ginjal, stroke, hingga gangguan sistem reproduksi. Ohsram!
Pemerintah sendiri mencanangkan tahun 2003 sebagai batas akhir pemakaian BBM
bertimbal. Seperti dijelaskan Adiatma Sardjito, press relations
Pertamina, "Kami terus mengurangi kadar timbal Premium. Dari 0,5 cc per
galon Amerika Serikat menjadi hanya 0,2 cc pada Mei 2001. Bahkan kilang
minyak Balongan, penyuplai bensin Jabotabek, akan berhenti menyuntikkan
timbal ke bensin mulai Juni 2001."
Sebagai gantinya, diinjeksi zat penaik oktan ramah lingkungan. Maunya,
Premium non timbal sudah bisa dinikmati warga Jabotabek mulai Juli 2001,
seluruh Jawa tahun 2002, dan seluruh Indonesia tahun 2003. Tapi praktiknya,
jaringan pipa-pipa Pertamina butuh waktu minimal 3 - 4 tahun untuk
membersihkan diri dari sisa-sisa timbal yang tersembunyi.
Selain itu, beda dengan Cina, India atau Filipina yang konsisten menghapus
timbal, pemerintah kita terkenal sebagai pencinta jam karet. Pasalnya, sudah
sejak 1990-an upaya menghapus timah hitam didengungkan, tapi sampai saat
ini, statusnya tetap sebagai janji di awang-awang.
Tak ada salahnya, perbaikan dimulai dari diri sendiri, dengan mengonsumsi
satu-satunya bensin nontimbal, Super TT. Mobil-mobil CBU (completely
built-up) yang diimpor utuh langsung dari mancanegara atau mobil bikinan
1990-an ke atas, biasanya mensyaratkan pemakaian bahan bakar beroktan tinggi
ini. Karena itu, dari pabriknya sudah dilengkapi catalitic converter
(pengubah katalis), yang dipasang di saluran buang (knalpot), untuk
mengurangi kadar CO, HC, dan NOx kendaraan.
"Bensin tanpa timbal dan catalitic converter memang satu
kesatuan yang tak bisa dipisahkan," ujar Agus Budi Hartono, Vice
President PT Elnusa Petrofin. Tanpa pengubah katalis, berarti membiarkan
racun tertentu selain timbal, tak tersaring. Sebaliknya, jika dipertemukan
dengan bensin bertimbal, katalis pun bakal gampang jebol.
"Tapi, kalau mau jujur, racun yang dikeluarkan bensin tanpa timbal
minus katalis (CO, HC, dan NOx) masih lebih baik ketimbang dampak timah
hitam," lanjut Agus Budi. Jadi, penggunaan katalis memang bisa
menyusul. Ini berlaku, baik untuk mobil-mobil keluaran 1990-an ke atas,
maupun mobil lawas yang masih terawat dengan baik.
"Yang penting, ada niat untuk menyelamatkan Bumi. Mau membiasakan diri
pakai bensin tanpa timbal saja sudah bagus. Setelah jalan, dilengkapi dengan
katalis, ya lebih bagus lagi," tutur Agus, yang berkantor di jalan TB
Simatupang, Jakarta Selatan. Untuk mengarah ke sana, memang tak harus
tergantung pada niat pemerintah.
Berpacu menutup lubang
Setelah puasa timbal, jangan lupa ikut andil dalam menutup lubang ozon.
Periksa alat pendingin (AC) kabin kendaraan Anda, apakah masih menggunakan
freon sintetis seperti R-12, R-22, atau R-134a. Soalnya, pendingin dari
keluarga chlorofluoro carbon (CFC) ini dipercaya sebagai salah satu
penyebab pemanasan global, yang bermuara pada pelubangan ozon.
Meski konsumsi zat-zat perusak ozon sudah dikurangi sampai 85%, lubang yang
"diukirnya" di atas benua Antartika tetap saja bikin bulu kuduk
berdiri. Konon, besarnya setara dengan tiga kali luas benua Australia.
Astaga!
Padahal, lapisan ini bertugas menyaring sinar ultraviolet (UV) yang
dipancarkan matahari. Ozon menyesuaikan kadar UV, sehingga bermaslahat buat
manusia. Jika lubang ozon membesar, sinar matahari yang masuk tak lagi
terkendali. Penyakit kulit, kebutaan, katarak sangat mudah menyerang. Bahkan
Radio Inggris, BBC, baru-baru ini melaporkan maraknya kanker kulit di
Australia, diduga berkaitan dengan bolongnya ozon.
Konon, andil CFC dalam proses perusakan lingkungan ini mencapai 15%.
Sebenarnya, sebelum refrigeran (pendingin) CFC ditemukan tahun 1930-an,
refrigeran alam seperti CO2, amonia, dan hidrokarbon sudah banyak
digunakan. Namun kehadiran pendingin sintetis dengan ongkos produksinya yang
irit, akhirnya menggeser pemanfaatan pendingin alam tersebut.
Baru setelah disadari daya rusaknya, mulai 1970-an CFC disunat pemakaiannya.
Tahun 1992, Indonesia meratifikasi Konvensi Wina, Protokol Montreal, dan
Amandemen London, yang dengan tegas mengarah pada penghapusan CFC. Jadi,
meski belum lazim, pemakaian refrigeran non-CFC ini sebetulnya sebuah
keniscayaan.
Pertanyaannya, bagaimana dengan bahan penggantinya? Sejak awal dekade 90-an,
para ilmuwan di Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan penelitian
untuk mencari solusi. Mereka meneliti sifat termodinamika berbagai campuran
hidrokarbon, terutama campuran protana-butana. Mulai 1998, penelitian
terfokus pada bahan pendingin hidrokarbon (HC). Jadi, seperti di banyak
negara, trend bahan pengganti ini mengarah ke bahan alam hidrokarbon. Alias back
to nature.
Bekerjasama dengan Pertamina, ITB bahkan berhasil menelurkan refrigeran
hidrokarbon pertama di Indonesia, berlabel Petrozone Rossi. Setelah itu,
menyusul beberapa merek berbahan sejenis. Seperti Hycool (PT Primakarya
Gandareksa), Sejuk (PT Arion Teknik), serta OZcool (PT Panca Kumala Sakti
Pratama).
Walaupun tergolong barang baru, pendingin ini mengalami perkembangan sangat
pesat. Selain tidak merusak ozon dan ramah lingkungan, dia juga memiliki
berbagai keunggulan. Untuk beralih dari freon ke hidrokarbon misalnya,
pemilik kendaraan tak perlu membeli AC baru. Dari berbagai pengujian,
terbukti pendingin hidrokarbon bersifat drop-in substitute alias bisa
langsung pakai.
Selain itu, pemakaiannya jauh lebih hemat ketimbang freon CFC. Masih dari
hasil penelitian yang dilakukan ITB, untuk sebuah peralatan dengan kondisi
dan waktu pemakaian yang sama, pendingin hidrokarbon yang dibutuhkan hanya
sekitar 33% dari muatan freon keluarga CFC. Kecilnya jumlah pemakaian ini
diharapkan bisa mengimbangi harga jualnya yang sedikit lebih mahal ketimbang
pendingin CFC.
Kerjasama hidrokarbon dengan pelumas juga telah diuji. Hasilnya cukup
mengesankan. Peningkatan asam yang biasanya terjadi dalam penggunaan
keluarga CFC, bisa dihindari setelah memakai hidrokarbon. Penelitian juga
menemukan, kandungan logam yang dihasilkan refrigeran hidrokaron sama dengan
freon CFC. Artinya, pemakaiannya hanya menghasilkan sedikit saja keausan
komponen.
Satu-satunya kendala, barangkali ketakutan pada sifat hidrokarbon yang mudah
terbakar. Sampai saat ini, masih banyak konsumen yang beranggapan,
refrigeran hidrokarbon mempunyai sifat sama seperti LPG, tak tahan godaan
api. Namun sinyalemen ini ditepis Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek, peneliti di
Laboratorium Termodinamika ITB. "Kemungkinannya bisa dibilang hampir
tak ada," ujarnya.
Alasannya, kandungan freon di kendaraan sangat sedikit, antara 1,5 ons
hingga 3 ons. Selain itu, kebakaran baru bisa terjadi jika konsentrasi gas
mencapai 2% hingga 10% dari total udara di ruangan. "Melihat
konsentrasi mobil-mobil dewasa ini yang memiliki banyak ventilasi, rasanya
mencapai konsentrasi 2% saja sulit," tambah Ari Darmawan.
Sekali lagi, niat baik menyelamatkan Bumi dituntut dari pemilik kendaraan.
Sebuah prediksi menyebutkan, jika pengurangan pemanasan global terus
berlangsung (mendekati 100%), sekitar 50 tahun mendatang manusia berpeluang
menebus dosa-dosanya. Lubang ozon di atas benua Antartika akan makin
mengecil dan tertutup rapat pada 2050.
Nah, kalau langkah-langkah tadi diserasikan dengan perawatan mesin yang
memadai (minimal sesuai buku manual kendaraan), tak ragu-ragu lagi, mobil
Anda berhak menyandang gelar ramah lingkungan. Gampang, 'kan? Baca juga: Elpiji yang Layak Dilirik |
|||||