|
|
Bulan Juni 2001 |
|
Olahraga, Penting Sejak Kecil "Ajarlah
anak-anak berolahraga sedini mungkin." Itu nasihat penting dari pakar
kedokteran olahraga dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.
KO. Melatih anak
bukan semata-mata demi mendongkrak kesegaran jasmani, tetapi yang lebih
penting mengembangkan kemampuan koordinasi tubuh anak secara optimal.
Bahwa olahraga atau aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sejak usia muda
banyak orang tua sepakat. Tetapi jika lantas para orang tua harus memilih
jenis olahraga dan mengapa gerakan-gerakan itu perlu dilakukan, pasti banyak
memunculkan silang pendapat.
Yang pasti, setiap anak pada dasarnya suka berolah fisik. Entah itu
berlompat-lompatan atau berlari-larian. Tetapi, bisa terjadi ketika seorang
anak diajak bermain bola di luar oleh temannya, ia menolak dengan alasan
akan mengerjakan sesuatu. Ada dua kemungkinan mengapa anak tersebut menolak.
Mungkin ia memang tidak suka main bola. Atau bisa jadi ia berminat, tetapi
malu lantaran tidak terampil melempar dan menangkap bola.
Contoh lain adalah seorang anak yang mulai berlatih tenis. Mula-mula ia
sangat bersemangat, tetapi entah kenapa ia tiba-tiba mogok tanpa alasan yang
jelas. Persoalannya, barangkali bukan pada kemampuannya dalam memukul bola,
tetapi ketika ia harus berlari mengelilingi lapangan. Ia kehabisan napas
karena memang tidak pernah dilatih lari.
Kejadian-kejadian di atas sering dijumpai. Tak ada yang salah dalam diri
anak-anak itu. Mereka tetap individu normal dan pasti bersemangat untuk
mengikuti latihan-latihan olahraga. Cuma memang ada hambatan dalam
berolahraga lantaran tidak pernah mengenyam latihan.
Namun, jika kita, para orang tua menyerah dengan situasi ini dan baru
mengajak berlatih sesudah anak menginjak remaja, sebetulnya sudah terlambat.
Soalnya, beberapa fungsi fisik perlu dilatih sejak usia muda.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika banyak pemuda, pria maupun
wanita, kurang baik kebugarannya. Ini akibat minimnya pengetahuan tentang
manfaat olahraga bagi kesehatan dan kebugaran.
Misalnya saja soal pandangan bahwa keterampilan fisik akan datang dengan
sendirinya, tidak perlu diajarkan atau dilatih. Ini adalah pernyataan yang
TIDAK BENAR. Memang sudah kodrat, manusia dapat melakukan berbagai gerakan,
tetapi itu tidak cukup. Gerakan ini masih perlu dilatih dan diperbaiki.
Tanpa latihan, gerakan tak akan sempurna.
Orang tua juga sering berpendapat karena anak-anak akan mendapat latihan
olahraga di sekolah, maka tidak perlu dibimbing sebelumnya. Ini juga
pernyataan yang TIDAK BENAR.
Dalam soal bermain bola, sebagian orang tua juga berpendapat, kalau putranya
tidak perlu bermain bola, toh nantinya akan dapat bermain dengan sendirinya.
Pendapat ini juga TIDAK BENAR.
Sejak lahir
Kesimpulannya, anak-anak tidak bisa dibiarkan berlatih atau berolahraga
sendiri. Ia perlu dibimbing sejak dini. Ketika dilahirkan ia mempunyai kaki,
namun untuk dapat berjalan membutuhkan proses belajar. Mulai dari merangkak,
ditatih, sampai dapat berjalan. Demikian pula halnya dengan kemampuan lari,
melompat, melempar dan menangkap, semuanya membutuhkan serangkaian latihan.
Jika kemampuan ini tidak dilatih sejak dini, maka koordinasi tubuh tidak
dapat berkembang dengan baik.
Latihan itu bisa dimulai sejak anak dilahirkan. Pada dua tahun pertama
misalnya, anak mulai membentuk rasa percaya diri dan rasa ingin tahu.
Berilah ia penghargaan dengan memberi semangat pada gerakan-gerakannya.
Perkenalkan dengan lingkungan sekitar yang bervariasi dan jauhkan dari
barang-barang yang membahayakan.
Ketika menginjak usia 2-5 tahun anak sudah bisa berbicara dan relatif banyak
bergerak. Ia pun siap mempelajari berbagai aktivitas fisik. Keterampilan
melempar, menendang, dan melompat mulai bisa diperkenalkan.
Sementara anak-anak yang berumur 5-8 tahun, biasanya melakukan latihan
olahraga atau aktivitas fisik dengan sendirinya. Mereka tidak mempersoalkan
menang atau kalah. Pada umur-umur ini latihan-latihan olahraga lebih
dititikberatkan pada kesenangan, bermain beramai-ramai dengan teman-teman,
dan menghabiskan tenaga. Sasaran utamanya untuk meningkatkan kebugaran. Oleh
karena itu sebaiknya disediakan cukup waktu dan ruangan agar anak bisa
seaktif mungkin bergerak dan mendapatkan peningkatan keterampilan.
Pada tingkat usia yang lebih tinggi, 8-10 tahun, anak-anak sudah siap
bermain dalam sebuah tim olahraga. Mereka sudah dapat diikat dalam
aturan-aturan permainan olahraga. Peran orang tua pada tahap ini adalah
membantu anak agar dia menyenangi berbagai macam aktivitas dengan temannya.
Baik olahraga beregu seperti softball, sepakbola, bola voli, atau
olahraga individu seperti senam aerobik, bela diri, atau berenang.
Memasuki usia remaja, umur 10-14 tahun, ia pantas mendapat bimbingan yang
benar. Umur-umur ini adalah waktunya untuk dapat menjadi pemenang, juara,
bila anak mendapat latihan-latihan yang tepat.
Evaluasi kemampuan
Guna mengetahui kemampuan anak berolahraga, ada banyak cara evaluasi
terhadap kemampuan anak. Di antaranya adalah lari 45,7 m untuk mengetes
kecepatan lari, lari bolak-balik untuk tes kelincahan lari, lompat vertikal
untuk mengetes kekuatan yang eksplosif, dan lari 1,6 km, untuk tes kapasitas
aerobik
1. Tes lari 45,7 m
Sebelum melakukan pengukuran, lintasan lari ditentukan terlebih dulu.
Sebaiknya lintasan dipilih yang datar dan lurus sepanjang 45,7 meter, dan
tandai garis start dan garis finish. Jangan lupa siapkan stopwatch
yang dapat mencatat waktu sampai sepersepuluh detik.
Pelari yang akan dites berdiri di belakang garis start. Sedang pencatat
waktu (guru atau orang tua anak) berdiri pada garis finish dengan membawa stopwatch.
Pencatat waktu mengangkat tangan dan berteriak, "Siaap!" kemudian
berteriak, "Ya!" atau "Go!" sambil menurunkan tangannya,
dan mulai menjalankan stopwatch.
Pada waktu anak melintasi garis finish, hentikan stopwatch. Waktu
yang digunakan oleh anak untuk lari tadi dihitung sampai ketepatan
sepersepuluh detik.
Hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut:
2. Tes lari bolak-balik
Siapkan dua potong kayu, dengan ukuran kurang lebih 5 x 5 x 10 cm dan stopwatch.
Berikan tanda di tanah dua garis sejajar yang berjarak 9,14 meter. Kemudian
tempatkan kedua potong kayu tadi di belakang garis kedua. Anak yang mau
dites mulai start di belakang garis pertama.
Tes dimulai saat pencatat waktu mengangkat lengannya, dan berteriak
"Siap!" Kemudian pencatat berteriak "Ya!" atau
"Go!" sambil menurunkan lengannya dan memencet stopwatch.
Sementara anak yang dites, lari dari belakang garis start menuju ke kayu
yang berada di belakang garis kedua. Ia mengambil salah satu kayu, kemudian
lari kembali ke garis start tadi, dan menempatkan kayu tadi di belakang
garis. Ingat, kayu harus diletakkan, tidak dilemparkan ke tanah.
Kemudian anak lari kembali ke garis kedua, mengambil kayu yang lain, dan
membawanya lagi ke belakang garis start. Pada waktu anak tadi telah
melampaui garis start dengan kayu yang kedua, pencatat waktu menghentikan stopwatch-nya.
Waktu yang digunakan untuk lari tadi dihitung sampai ketepatan sepersepuluh
detik.
Anak kemudian diberi kesempatan lagi untuk melakukan tes tadi. Hasil yang
lebih baik yang digunakan untuk menentukan waktu dalam tes bolak-balik ini.
Diharapkan waktu yang dicapai seperti tesebut di bawah ini:
3. Tes lompat ke atas
Diperlukan dinding agak tinggi, yang permukaannya rata sehingga mudah
digores, sepotong kapur tulis, dan ukuran. Anak yang akan dites berdiri
dengan sisi kanan berdekatan dengan dinding. Kedua tumit saling berdekatan
dan terletak datar di lantai. Tangan kanan memegang kapur tulis.
Dengan kedua tumit bersama-sama berada di lantai, ia diminta meraih ke atas
setinggi mungkin, dan membuat tanda/coretan pada dinding dengan kapur tadi.
Akhirnya, ia harus melompat ke atas setinggi mungkin, dan membuat
tanda/coretan di dinding pada puncak lompatannya yang tertinggi. Kemudian
pencatatnya mengukur jarak antara tanda yang dapat diraih dan tanda dari
coretan lompatannya. Itu adalah nilai dari anak tersebut.
Anak dianjurkan melompat empat atau lima kali agar terbiasa melakukan
lompatan. Hasil yang paling baik dicatat sebagai hasil kemampuan
lompatannya.
Sebagai catatan, anak tidak boleh melompat dobel. Ia juga harus berusaha
agar kedua kakinya tetap di tempat sebelum ia melompat, tetapi tentu saja
boleh membengkokkan kedua lutut sebelum melompat. Harus juga dianjurkan agar
anak memegang kapur tulisnya pada tempat yang sama dengan tangannya pada
waktu dia melompat dan pada waktu dia meraih. Dengan demikian akurasi dari
tes ini lebih baik.
Skor dari lompat vertikal ini, pada anak laki-laki dan perempuan adalah
sebagai berikut (dalam cm):
4. Tes lari 1,6 km
Skor dari tes ini, dalam menit dan detik, adalah sebagai berikut:
Setelah kemampuan berolahraga anak terdeteksi, saatnya Anda sebagai orangtua
mengarahkannya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||