|
|
Bulan Juni 2001 |
|
MENJADI ORANG TUA TUNGGAL Orang tua tunggal (single parent) adalah fenomena yang makin dianggap biasa dalam masyarakat modern. Bagi yang (terpaksa) mengalaminya, entah karena bercerai atau pasangan hidupnya meninggal, tak perlu terpuruk lama-lama karena bisa belajar dari banyak hal. Dari bacaan, media massa, atau dari orang yang mengalaminya. Namun, tidak demikian bagi anak yang tiba-tiba mendapati orang tuanya tidak lengkap lagi.Anak yang belum siap menghadapi rasa kehilangan salah satu orang tuanya akan terpukul, dan kemungkinan besar berubah tingkah lakunya. Ada yang menjadi pemarah, ada yang suka melamun, mudah tersinggung, suka menyendiri, dan sebagainya. Itu semua sebetulnya hal wajar. Menurut teori yang dikemukakan Sigmund Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian: Id (animal), Ego (rasional), dan Superego (moral). Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia - pusat insting (hawa nafsu). Dalam hal ini ada dua insting dominan: thanatos, insting destruktif dan agresif yang merupakan insting kematian, dan libido, insting reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan konstruktif. Dapat disebut juga insting kehidupan (eros), yang menurut Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga menyangkut kasih ibu, kasih ayah, pemujaan kepada Tuhan, dan cinta diri (narcissism). Anak yang berperilaku seperti menyendiri, marah-marah, mudah tersinggung, melamun, disebabkan insting kehidupan (eros)-nya tidak terpenuhi. Kenikmatan kasih sayang yang ia peroleh saat kedua orang tua masih utuh, tidak dapat ia rasakan lagi. Ia sendiri bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Bila kesenangannya tidak terpenuhi, maka ia akan kecewa. Sehingga dengan marah, menyendiri, melamun, ia melepas kekecewaannya. Perilaku demikian memang wajar. Namun, perlu diperhatikan bagi orang tua tunggal, bila perilaku anak sudah di luar batas. Anak bisa kehilangan kontrol diri, tidak lagi mampu berpikir sehat. Yang menyedihkan bila anak selalu menyendiri dan memakai obat-obat berbahaya dan narkotika sebagai pelampiasan rasa kecewanya. Bagaimana mencegahnya? Ubah pola berpikirnya Setiap orang berusaha memahami dan memperoleh arti dari dunianya. Anak memerlukan kerangka rujukan untuk mengevaluasi situasi baru dan mengarahkan tindakan yang sesuai. Anak yang berangkat dari orang tua utuh, kerangka rujukannya dipenuhi oleh informasi tentang kedua orang tuanya. Ketika salah satu orang tuanya tidak ada, maka kerangka rujukannya berubah menjadi informasi dari hanya satu orang tua. Untuk itulah orang tua harus secepatnya memberi arti pada apa yang dia alami. Informasi tentang orang tua tunggal diberikan sebelum si anak menarik kesimpulan tentang orang tua tunggal. Misalnya, mengajak dia menjenguk panti asuhan, memberi bantuan kepada anak-anak terlantar. Saat anak melihat kenyataan bahwa masih banyak anak tidak memiliki orang tua, berikan informasi padanya bahwa dia masih memiliki orang tua. Dia harus merasa bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tua. Bangkitkan rasa percaya dirinya Setiap manusia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menghadapi persoalan kehidupan apa pun. Perasaan mampu amat bergantung pada perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Anak yang kehilangan salah satu orang tuanya merasa tidak nyaman dan tidak aman. Anak ingin memenuhi kebutuhan biologisnya, ingin memperoleh masa depan gemilang bersama orang tuanya. Ketika ia hanya punya satu orang tua, maka ia menghadapi persoalan masa depan dengan satu orang tua. Untuk itulah, yang perlu dilakukan orang tua adalah menganjurkan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya, menganjurkan dia bergaul, masuk ke dalam organisasi atau kelompok yang bertujuan positif, organisasi yang melibatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Dengan bergaul bersama orang lain kecuali orang tuanya, si anak akan merasa nyaman dan aman, juga lebih percaya diri menghadapi persoalan kehidupan. Menjaga komunikasi dengannya Manusia
sanggup mencintai dan dicintai; ini adalah hal esensial bagi pertumbuhan
kepribadian. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih sayang, dan penerimaan
orang lain amat dibutuhkan manusia. Anak sangat membutuhkan kasih sayang
dari kedua orang tuanya. Kasih sayang yang tidak terpenuhi akan menimbulkan
perilaku anak yang kurang baik. Anak akan menjadi agresif, kesepian,
frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Tuntunlah dia dengan agama Anak yang baru mendapatkan orang tua tunggal pasti menghadapi gejolak hidup. Ia membutuhkan nilai-nilai untuk menuntunnya dalam mengambil keputusan atau memberi makna kepada kehidupannya. Jadikan agama sebagai nilai-nilai untuk menuntun hidupnya. Misalnya, mengajak dia berdoa bersama kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan hidup. Melihat orang tuanya pasrah dan berdoa, anak akan meniru apa yang diperbuat orang tuanya bila kehilangan orang yang dicintai. Setelah orang tua mampu memahami keinginan anak, ia harus memberi pengertian bahwa hanya dengan satu orang tua anak tetap dapat memenuhi keinginannya. Kasih sayang orang tua masih dapat dirasakannya. Melalui subsistem yang kedua dalam teori Freud, Ego, terciptalah jembatan yang menghubungkan Id dengan realitas dunia anak. Anak akan menggunakan akal sehatnya. Ego anak menyebabkan dirinya mampu menundukkan hasrat hewaninya (Id) dan hidup dalam wujud yang rasional alias sebagai pribadi normal. Untuk itulah, menjadi orang tua tunggal sangat dituntut kemampuan menyeimbangkan Id (animal), Ego (rasional), dan Superego (moral) yang dimiliki anak. (Diana Istyarini) |
|||||