|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Bung
Karno di Mata Wanita
Bagi pihak yang diperhatikan, apalagi secara saksama, sikap Bung Karno itu
bisa membuahkan seribu penafsiran. Terutama bagi para wanita, seperti acap
terungkap dalam sejarah, proklamator RI itu memiliki pesona amat besar.
Suatu saat di akhir 1950-an, Mien, mewakili Gerakan Wanita Sosialis, hadir
dalam sebuah acara di Istana Merdeka yang mengundang semua organisasi
wanita. Halaman belakang istana penuh, banyak undangan yang berdiri karena
tak kebagian kursi. Bung Karno berteriak, "Hei, hei, wanita-wanita
cantik yang pakai kelom geulis (bakiak cantik Bandung yang waktu itu sedang
jadi mode - Red.), mari ke sini! Duduk dekat saya."
Kontan, para wanita berlarian mendekati Bung Karno. "Yang sudah
bersusah-payah mendapatkan kursi rela kehilangan. Semua berebut untuk
mendekat. Begitu kuatnya daya tarik Bung Karno!" kenang Mien.
Garansi Bung Karno
Presiden pertama RI itu memang ramah. Dan tahu tata krama. Di hadapan wanita
ia sangat mampu menempatkan diri, bahkan di hadapan wanita yang menarik
perhatiannya, ia tahu diri manakala ditolak atau situasi tidak memungkinkan.
Mien yang sudah kenal Bung Karno sejak 1946, karena ayahnya,
Wiranatakusumah, adalah mendagri kabinet pertama dan kemudian menjadi ketua
DPA, suatu ketika diundang Bung Karno dan Ny. Fatmawati (ketika itu sedang
mengandung Megawati) ke Yogyakarta. Dari Yogya mereka ke Magelang karena
Bung Karno ingin dipijat oleh istri Bupati Magelang, Sujudi, yang pintar
memijat.
"Kami dibawa dengan mobil seven seats. Di depan ada sopir dan
ajudan, di tengah dan belakang ada Bung Karno, Bu Fat, ipar saya, keponakan,
dan saya," kenang Mien. Dalam perjalanan itu, Ny. Fatmawati yang sedang
mengidam, setiap saat minta berhenti untuk membeli apa saja yang dia
inginkan. Bung Karno menuruti saja, banyak tertawa menanggapi kemanjaan
istrinya.
Mien ingat, Ny. Fatmawati bilang, "Dulu saya diramal akan kawin dengan
orang kaya." Mendengar itu, Bung Karno menanggapi, "Bukan kaya
materi, tapi kaya pengalaman."
Mien lalu menyimpulkan, Presiden Soekarno memberi perhatian besar pada soal
moralitas dan kepribadian ketimbang materi, dan itu mendasari sikapnya dalam
berhubungan dengan banyak orang.
Soal ini Mien juga pernah merasakan hikmahnya ketika ia dilamar oleh
Soedarpo Sastrosatomo melalui orang tuanya. Ayah Mien yang belum tahu
Soedarpo menanyakannya kepada Bung Karno. Jawabnya, "Oh, saya kenal
Soedarpo. Ia asisten Perdana Menteri Sjahrir. Saya menggaransinya."
Penuh wibawa namun sopan
Penyanyi dan pencipta lagu Titiek Puspa (64) pun melihat betapa Bung Karno
bisa menempatkan diri saat berhadapan dengan orang yang baru dikenal.
Ketika itu tahun 1959, tak lama setelah Titiek hijrah ke Jakarta dari
Semarang. Sebagai peraih gelar Bintang Radio, ia diundang untuk menyanyi di
Istana Merdeka. Bung Karno mengampirinya dan bilang, "Oh, ini to
yang namanya Titiek Puspa," sambil mengulurkan tangan. Penuh wibawa
tapi amat sopan. Titiek merasa tenang, tidak minder, apalagi takut.
Sejak itu Titiek menjadi penyanyi istana bersama penyanyi dan pemusik lain
seperti Nien dan Jack Lesmana, Fetty Fatimah, Mus Mualim, dll. Mereka
dijuluki "Lensoist" karena setiap saat mengiringi para undangan
menari lenso.
Dalam masa Bung Karno membenci musik Barat yang diistilahkannya
"Ngak-ngik-ngok", Titiek menyanyikan lagu ciptaannya, Marilah
Kemari, yang berirama cepat. Bung Karno langsung menghardik, "Eit,
siapa yang meminta lagu itu?! Ayo ganti lagu, kita berlenso saja!"
Titiek yang ketakutan, belakangan lega karena yang dimarahi bukan dirinya,
melainkan orang yang meminta dia melagukannya.
"Tapi marahnya tidak berpanjang-panjang. Malah menurut saya Bung Karno
tidak marah, kok. Cuma gusar," kenang Titiek.
Di situlah Titiek Puspa tahu, Bung Karno orang yang sangat imbang, bijak,
sekaligus penuh penghargaan. Titiek cukup dekat dengan Bung Karno, dan
hubungan keduanya bagaikan bapak dengan anak. Dalam banyak perjamuan Titiek
kebagian "tugas" mengupaskan mangga untuk Bung Karno.
"Beberapa kali saya diberi uang langsung dari kantong celananya, di
depan banyak orang. Katanya buat belanja atau untuk dibagi dengan
teman-teman. Padahal honor dari sekretariat presiden tetap dibayarkan. Bagi
saya, perlakuan itu sungguh mengesankan, tidak soal jumlah uangnya berapa.
Sangat manusiawi. Kita bisa membayangkan, betapa presiden pada masa itu
mengeluarkan sendiri uang dari saku celana, tidak main tunjuk lantas orang
lain yang sibuk mengeluarkan uang," lanjut Titiek.
Sepatu bolong
Bung Karno memang dikenal apa adanya, tidak hipokrit, dan tidak banyak
menyembunyikan kenyataan. Salah satu yang diingat Titiek Puspa adalah
perihal sepatunya yang berlubang di salah satu bagian ujung, katanya agar
tidak mengganggu pangkal jarinya yang bengkak oleh mata ikan.
"Banyak orang tahu, beliau tidak sungkan memperlihatkan jarinya yang bubulen
sehingga perlu sepatu khusus," sambung Titiek.
Rima Melati, aktris-sutradara dan mantan peragawati yang kini 62 tahun, awal
mulanya tidak tahu sepatu berlubang itu membawa alasan medis pemakainya.
"Tadinya saya cuma heran, lo kok sepatu Bapak bagus-bagus tetapi
bolong. Sambil ketawa Bung Karno bilang, jarinya kena mata ikan. Terus tanpa
sungkan memperlihatkannya," kata Rima, yang tahun 1959 sampai awal
1960-an cukup dekat dengan Presiden Soekarno karena sering meramaikan acara
di Istana Merdeka maupun Istana Bogor. Ia salah satu dari empat personel
Baby Dolls yang terdiri atas Rima Melati, Baby Huwae (meninggal tahun 1989),
Gaby Mambo, dan Indriati Ishak.
Bung Karno kebetulan pernah dikenal Rima di masa kecil. Ketika presiden itu
memerintah di Yogyakarta, sekitar Clash II tahun 1949, Rima pernah diajak
orang tuanya berkunjung.
Sepuluh tahun kemudian, Rima yang sudah menjadi bintang film, bertemu lagi
dengan Bung Karno di Jakarta. Sejak itu ia sering terlibat dalam banyak
kegiatan di istana.
Suatu saat ibunya, perancang dan perintis dunia mode Indonesia, Non
Kawilarang, pergi ke Hongkong. Rima yang tomboy sejak remaja, ingin
memakai mobil ibunya. Sayang ia tak punya uang untuk membeli BBM secara
rutin. Maka ia minta kepada Bung Karno agar diizinkan mengisi tangki
mobilnya di pompa bensin istana. Ternyata diizinkan.
"Kalau kebetulan Bung Karno ada, saya mampir dan ngobrol-ngobrol.
Beliau banyak memotivasi saya, memberi saran untuk membaca buku tokoh-tokoh
wanita dunia, dan bercerita tentang banyak hal," kata Rima.
Sisi kemanusiaan Bung Karno banyak terlihat di saat senggang. Pernah suatu
kali Rima menawarkan rokok kepada Bung Karno, dan diterima, tanpa
diembel-embeli nasihat tentang kesehatan atau bahaya rokok.
Ihwal nama Rima Melati, yang banyak diduga orang pemberian Bung Karno, si
pemilik nama punya cerita berbeda. Sekitar awal 1960-an Bung Karno suka
mengganti nama orang yang dikenalnya, yang dirasa kebarat-baratan. Maka nama
Baby Huwae disarankan untuk diganti Lokita Purnamasari - dan sampai akhir
hayatnya Baby Huwae memakai nama itu. Sedangkan Marjolein Tambajong,
panggilannya Leintje, nama asli Rima Melati, memang pernah dikatakan
kebarat-baratan oleh Bung Karno.
Marjolein yang ketika itu sedang mengandung anak kedua, ingin memberi nama
Rima kepada si anak jika perempuan. Ia diilhami tokoh Rima the Bad Girl
dalam film Green Mansions (1959) yang diperani Audrey Hepburn.
Sayang, janin itu meninggal sebelum dilahirkan. Leintje yang terpukul,
menceritakan peristiwa itu kepada Bung Karno, sekaligus mengutarakan
keinginannya untuk mengambil alih nama Rima, dikombinasi dengan
"Melati".
"Bung Karno bilang, 'That's a good name'. Sejak saat itu beliau
selalu memanggil saya Rima Melati. Kepada setiap orang beliau memperkenalkan
saya sebagai Rima Melati."
Bisa mencitrakan diri
Hubungan yang cukup dekat tidak lantas berubah karena Rima merasa, Bung
Karno sangat piawai menempatkan diri. Sekaligus mencitrakan diri.
"Kami bagaikan Bapak dan anak, dan menurut saya karena beliau memang
membuatnya seperti itu. Mungkin dengan wanita lain beliau mencitrakan diri
berbeda sehingga akibatnya berbeda, saya tidak tahu," kata Rima.
Rima tahu, belakangan ada temannya yang menjadi kekasih Bung Karno, namun ia
tidak peduli. "Dan rasa hormat saya kepada Bung Karno tidak
berubah."
Satu hal yang membuat Rima kecewa adalah ketika ia telah capek-capek
berlatih mengibarkan bendera pusaka untuk upacara 17 Agustus di istana, pada
saat-saat terakhir ia tersisihkan, diganti gadis lain yang belakangan santer
dikabarkan sebagai kekasih Bung Karno.
Rima Melati, yang ketika di bangku SD Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi
(KRIS) satu kelas dengan Abdurrahman Wahid, menambahkan kekagumannya pada
Bung Karno karena rasa kemanusiaannya.
Ceritanya, suatu ketika ia diajak sahabatnya, Fifi Maukar, mengunjungi kakak
Fifi di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Si kakak, Letnan Udara II Daniel
Alexander Maukar, dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Angkatan Udara
gara-gara pada 9 Maret 1960, dengan pesawat Mig-17, memberondong Istana
Merdeka, Istana Bogor, serta kompleks kilang minyak Tanjung Priok. Dari
beberapa kali kunjungan, Rima jatuh hati kepada Daniel. Ia tergerak untuk
memohonkan keringanan hukuman kepada Kepala Negara, selagi ia punya
kemudahan untuk bertemu.
Kepada Bung Karno Rima mengutarakan maksudnya, dan dijawab dengan
pertanyaan, "Apakah dia menyesal?"
Karena Rima tidak tahu, keesokan harinya ia kembali ke Cipinang untuk
bertanya. Kemudian Rima menemui Bung Karno lagi dan bilang bahwa Daniel
menyesal. Maka Bung Karno menyarankan agar Daniel membuat surat permohonan.
Maksudnya agar Bung Karno memiliki pegangan tertulis untuk memberi grasi.
"Eh, sialnya, Daniel enggak mau tulis surat. Saya jadi benci dia,"
Rima bicara dalam nada tinggi.
Biarlah menjadi sejarah
Kharisma Bung Karno yang besar acap kali menutupi
kelemahannya. Misalnya soal kaum wanita di sekitarnya, termasuk beberapa
yang diperistri.
Mantan bintang film yang kini bergerak dalam usaha freight forwarding
sekaligus aktivis yayasan sosial, Gabrielle (Gaby) Mambo (60), awalnya
kecewa karena Bung Karno menikah lagi. Namun belakangan ia maklum, karena
itu kenyataan yang acap dialami tokoh-tokoh besar lain.
Menjelang 1960-an Gaby beberapa kali ikut dalam acara di istana. Sebagai
anggota kelompok yang tubuhnya paling kecil, ia selalu berdiri paling
belakang. Rupanya, Bung Karno menangkap ketakutan Gaby.
"Saya malah dipanggil, disuruh mendekat, dan kadang disuruh cium
pipi," cerita Gaby.
Justru karena merasa dipandang agak khusus oleh Bung Karno, lama-kelamaan
Gaby tidak minder lagi. Ia merasa dekat.
"Hebatnya Bung Karno, sekalipun tahu saya takut, beliau tidak lantas
nakal atau kurang ajar. Saya tetap dihormatinya, diperlakukan seperti
anaknya."
Tahun 1961 - 1966 Gaby sekolah desain interior di Jepang. Di masa-masa itu
ia sering bertemu ketika Bung Karno berkunjung ke Jepang.
"Dalam perjamuan dengan Ratna Sari Dewi, saya sering kebagian tugas
membuatkan teh untuk Bung Karno. Saya hapal beliau tidak mau pakai gula,
tetapi sakarin," kenang Gaby.
Namun sekembalinya Gaby ke Indonesia, situasi telah banyak berubah. Ia tak
pernah lagi bertemu dengan Bung Karno. Demikian pula Mien Soedarpo, Rima
Melati, dan Titiek Puspa, tak lagi menyanyi untuk Bung Karno.
"Betapa baiknya Bung Karno, saya tidak percaya beliau dianggap jahat
atau terlibat dalam kejahatan," kata Rima Melati.
Memang banyak faktor politik yang terjadi dan mengubah situasi, namun tak
cukup meyakinkan Rima Melati, Titiek Puspa, Mien Soedarpo, atau Gaby Mambo
bahwa Bung Karno bersalah.
Tapi itulah sejarah. Titiek Puspa mengatakan, "Kalau dihitung
plus-minusnya, perhatian dan jiwa raga yang diberikan kepada negara jauh
lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau kelemahannya."
Sementara Gaby Mambo menanggapi, "Nobody's perfect. Yang penting
dia berbuat sangat banyak untuk negara ini." (Sht/SL)
Baca juga: Aku Dituduh Pemburu Cinta |
|||||