|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Kalau Memang Harus Menelan Antibiotika
Bulan September 2000 lalu telah saya bahas tentang perlu-tidaknya
antibiotika (AB) digunakan bila kita sakit. Kali ini kita akan membahas bila
memang benar AB diperlukan, bagaimana sikap kita terhadap kelas obat yang
begitu penting ini?
AB bekerja dengan membunuh sel kuman melalui berbagai mekanisme; terhadap
tubuh semestinya tidak menimbulkan reaksi apa pun. Efek yang terasa,
misalnya mual, diare, sakit kepala, kadang-kadang bisa juga demam, kulit
berwarna kuning karena efeknya terhadap hati, shock, dsb. hanya
merupakan efek sampingan.
Setiap AB bersifat spesifik, tidak dapat membunuh semua jenis kuman
penyakit. Walaupun terdapat jenis AB yang dapat membunuh banyak jenis kuman,
AB yang akan dipakai untuk suatu infeksi tertentu harus dipilih yang
spesifik dan sesuai untuk jenis penyakit yang diderita. Karena memerlukan
pengetahuan khusus sebaiknya keputusan mengenai hal ini diserahkan kepada
dokter.
Tentu saja untuk dapat membunuh kuman dengan baik dan tepat AB harus
memenuhi beberapa syarat:
* Dapat diserap oleh darah dalam jumlah cukup.
* Dapat mencapai jaringan tempat infeksi.
* Berada dalam konsentrasi cukup untuk membunuh kuman.
* Mampu membunuh kuman (patogen) secara cepat dan tuntas, supaya tidak
meninggalkan sebagian kuman yang hidup menjadi resisten.
* Tidak menimbulkan efek sampingan terlalu banyak sehingga tidak merugikan
penderita.
Untuk itu semua, AB harus dipakai dengan aturan dan cara yang baik. Yang
pasti, bila benar diperlukan, AB harus dimakan sedini mungkin supaya tidak
terlambat. Sebagian orang, karena kehati-hatiannya, takut menelan AB yang
sudah diresepkan dokter. Sikap ini dapat membahayakan karena infeksi akan
menjadi lebih parah. Memang ada saja kemungkinan resep AB itu tidak
diperlukan (secara ilmiah) atau dapat dipertentangkan. Tetapi hal ini tidak
dapat ditentukan oleh awam. Bila terjadi, sebaiknya mintalah opini kepada
dokter lain.
Sebuah contoh lain, kasus bisul. Sebagian masyarakat percaya bahwa bisul
akan sembuh sendiri, karena nenek-moyang kita biasanya cukup merawatnya
dengan "telur kodok" atau "salep hitam", kemudian
memijat nanahnya keluar. Padahal tindakan ini berbahaya karena kuman (Stafilokokus
aureus) dalam bisul sangat ganas dan dapat menimbulkan komplikasi.
Selain itu memijat bisul justru membuat kuman tersebut pindah melalui
pembuluh darah atau limfe ke tempat lain di kulit atau organ penting. Karena
itu sering terlihat bisul "beranak".
Bisul juga tidak cukup diobati secara lokal dengan salep (kecuali bila masih
kecil sekali). Dibutuhkan AB sistemik khusus; namun ampisilin pun tidak
mengobati secara tuntas karena tidak cocok. Bila enggan langsung ke dokter,
kompreslah bisul tersebut selama 10 menit dengan air panas, beberapa kali
sehari. Kalau dalam satu hari tidak juga ada perbaikan, sebaiknya segera ke
dokter.
Sering jumlah AB dikurangi sendiri oleh pemakai karena sudah merasa
"baik". Hal ini menimbulkan bahaya resistensi kuman tersebut. Bila
eradikasi kuman tidak tuntas, mungkin penyakitnya akan kambuh kembali. Hal
ini sering terjadi pada penyakit tuberkulosis, yang hanya dapat disembuhkan
dengan pengobatan secara kontinyu dalam jangka waktu lama, rata-rata enam
bulan atau lebih. Untuk penyembuhan penyakit lain seperti infeksi kulit,
radang paru-paru, tifus, radang kandung kencing, dsb. diperlukan waktu lebih
pendek (5 - 10 hari). Biasanya AB harus diteruskan beberapa hari setelah
gejala menghilang.
AB umumnya harus ditelan setengah jam sebelum makan nasi. Berbagai AB,
seperti ampisilin, dihambat penyerapannya oleh makanan. Grapefruit juice
juga dapat mengurangi penyerapan banyak obat yang dimetabolisme di hati atau
diserap di usus melalui enzim tertentu, yaitu sitokrom P450. Belakangan
diketahui bahwa jus jeruk dan jus apel bersifat sama. Oleh karena itu
menelan obat sebaiknya dengan air saja.
Kadar obat tertentu dapat berkurang hingga 60% dalam darah bila diminum
bersama jus tadi. Bila obat tersebut kebetulan mempunyai therapeutic
window (batas kemanjuran) sempit, maka hal ini sangat merugikan. Di lain
pihak, bila kadar obat dalam tubuh seseorang yang minum jus jeruk setiap
hari sudah stabil, di saat ia tidak minum jus jeruk, kadar obatnya dapat
naik sekali sehingga berlebihan. |
|||||