globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Mei 2001

Advis Medis Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp. FK

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Kalau Memang Harus Menelan Antibiotika 

Bulan September 2000 lalu telah saya bahas tentang perlu-tidaknya antibiotika (AB) digunakan bila kita sakit. Kali ini kita akan membahas bila memang benar AB diperlukan, bagaimana sikap kita terhadap kelas obat yang begitu penting ini?

AB bekerja dengan membunuh sel kuman melalui berbagai mekanisme; terhadap tubuh semestinya tidak menimbulkan reaksi apa pun. Efek yang terasa, misalnya mual, diare, sakit kepala, kadang-kadang bisa juga demam, kulit berwarna kuning karena efeknya terhadap hati, shock, dsb. hanya merupakan efek sampingan.

Setiap AB bersifat spesifik, tidak dapat membunuh semua jenis kuman penyakit. Walaupun terdapat jenis AB yang dapat membunuh banyak jenis kuman, AB yang akan dipakai untuk suatu infeksi tertentu harus dipilih yang spesifik dan sesuai untuk jenis penyakit yang diderita. Karena memerlukan pengetahuan khusus sebaiknya keputusan mengenai hal ini diserahkan kepada dokter.

Tentu saja untuk dapat membunuh kuman dengan baik dan tepat AB harus memenuhi beberapa syarat:

* Dapat diserap oleh darah dalam jumlah cukup.

* Dapat mencapai jaringan tempat infeksi.

* Berada dalam konsentrasi cukup untuk membunuh kuman.

* Mampu membunuh kuman (patogen) secara cepat dan tuntas, supaya tidak meninggalkan sebagian kuman yang hidup menjadi resisten.

* Tidak menimbulkan efek sampingan terlalu banyak sehingga tidak merugikan penderita.

Untuk itu semua, AB harus dipakai dengan aturan dan cara yang baik. Yang pasti, bila benar diperlukan, AB harus dimakan sedini mungkin supaya tidak terlambat. Sebagian orang, karena kehati-hatiannya, takut menelan AB yang sudah diresepkan dokter. Sikap ini dapat membahayakan karena infeksi akan menjadi lebih parah. Memang ada saja kemungkinan resep AB itu tidak diperlukan (secara ilmiah) atau dapat dipertentangkan. Tetapi hal ini tidak dapat ditentukan oleh awam. Bila terjadi, sebaiknya mintalah opini kepada dokter lain.

Sebuah contoh lain, kasus bisul. Sebagian masyarakat percaya bahwa bisul akan sembuh sendiri, karena nenek-moyang kita biasanya cukup merawatnya dengan "telur kodok" atau "salep hitam", kemudian memijat nanahnya keluar. Padahal tindakan ini berbahaya karena kuman (Stafilokokus aureus) dalam bisul sangat ganas dan dapat menimbulkan komplikasi. Selain itu memijat bisul justru membuat kuman tersebut pindah melalui pembuluh darah atau limfe ke tempat lain di kulit atau organ penting. Karena itu sering terlihat bisul "beranak".

Bisul juga tidak cukup diobati secara lokal dengan salep (kecuali bila masih kecil sekali). Dibutuhkan AB sistemik khusus; namun ampisilin pun tidak mengobati secara tuntas karena tidak cocok. Bila enggan langsung ke dokter, kompreslah bisul tersebut selama 10 menit dengan air panas, beberapa kali sehari. Kalau dalam satu hari tidak juga ada perbaikan, sebaiknya segera ke dokter.

Sering jumlah AB dikurangi sendiri oleh pemakai karena sudah merasa "baik". Hal ini menimbulkan bahaya resistensi kuman tersebut. Bila eradikasi kuman tidak tuntas, mungkin penyakitnya akan kambuh kembali. Hal ini sering terjadi pada penyakit tuberkulosis, yang hanya dapat disembuhkan dengan pengobatan secara kontinyu dalam jangka waktu lama, rata-rata enam bulan atau lebih. Untuk penyembuhan penyakit lain seperti infeksi kulit, radang paru-paru, tifus, radang kandung kencing, dsb. diperlukan waktu lebih pendek (5 - 10 hari). Biasanya AB harus diteruskan beberapa hari setelah gejala menghilang.

AB umumnya harus ditelan setengah jam sebelum makan nasi. Berbagai AB, seperti ampisilin, dihambat penyerapannya oleh makanan. Grapefruit juice juga dapat mengurangi penyerapan banyak obat yang dimetabolisme di hati atau diserap di usus melalui enzim tertentu, yaitu sitokrom P450. Belakangan diketahui bahwa jus jeruk dan jus apel bersifat sama. Oleh karena itu menelan obat sebaiknya dengan air saja.

Kadar obat tertentu dapat berkurang hingga 60% dalam darah bila diminum bersama jus tadi. Bila obat tersebut kebetulan mempunyai therapeutic window (batas kemanjuran) sempit, maka hal ini sangat merugikan. Di lain pihak, bila kadar obat dalam tubuh seseorang yang minum jus jeruk setiap hari sudah stabil, di saat ia tidak minum jus jeruk, kadar obatnya dapat naik sekali sehingga berlebihan.

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej