|
|
Bulan Mei 2001
|
|
Kerja
Keras demi Air Bersih
"Akibat terdesak rasa lapar, para pengungsi makan dalam keadaan mentah.
Yang kasihan anak-anak. Karena tak ada air untuk mengencerkannya, susu bubuk
langsung saja disuapkan oleh orang tua mereka. Akibatnya banyak anak yang
menderita, bahkan jatuh sakit karena ususnya lengket," cerita Ny.
Bekker.
Aktivis penyadaran HIV/AIDS Baby Jim Aditya punya pengalaman berbeda namun
berpangkal pada soal yang sama. Suatu ketika ia mengunjungi para pekerja
seks komersial di Merauke, Irian Jaya, dan mendapati betapa mudahnya wabah
penyakit menular seksual, termasuk jenis yang mematikan, karena tiadanya air
bersih. "Setelah berhubungan, mereka hanya mencuci vagina dengan air
rawa atau air laut. Demikian pula kaum pria pemakai jasa. Jangankan pakai
kondom; tanpa pakai apa-apa pun sering tidak dicuci sama sekali," kata
Baby.
Ironi di perkotaan
Di kawasan terpencil nan kering, air bersih menjadi barang yang amat
berharga. Orang bahkan rela mempertaruhkan segalanya demi air. Sering kita
mendengar cerita, seseorang atau beberapa kelompok masyarakat baku bunuh
karena berebut air bersih.
Tapi air sering pula menyajikan ironi. Sebuah survei di Jakarta tahun 1993
menyebutkan, 60% penggunaan air tanah Jakarta adalah untuk mencuci mobil.
Kalau dilihat perilaku masyarakat di kota lain tidak jauh beda dengan
Jakarta, barangkali fenomena yang terjadi juga sama. Ketika musim kemarau di
Bandung, misalnya, di saat air ledeng hanya mengalir perlahan secara
bergiliran, dan ketika sumur-sumur mengering, bengkel cuci mobil tetap
tenang-tenang beroperasi karena menggunakan pompa penyedot air berkekuatan
tinggi.
Di perkotaan pula air bagai tak mendapat perhatian. Kelangsungannya
diabaikan. Umpamanya, kebiasaan membuang sampah di selokan atau sungai.
Selain mengancam kelangsungan bahan baku air PAM, saat hujan turun pun
sampah mengalangi alur air. Akibatnya, air meluap menjadi banjir. Celakanya,
ketika jadi banjir air tak cepat meresap ke dalam tanah karena permukaan
tanah banyak yang ditutup semen. Hanya sedikit yang meresap, pun bercampur
dengan aneka limbah industri dan limbah pribadi.
Mau menggalakkan pembuatan sumur resapan? Rasanya amat sulit karena
permukiman telah sibuk dengan kepadatannya sendiri akibat harga tanah yang
tinggi. Pemilik rumah lebih mementingkan perluasan tempat tinggal daripada
menyisakannya untuk halaman - itu pun kalau masih ada. Makanya batasan
koefisien dasar bangunan (KDB), yang idealnya untuk menyisakan tanah agar
air bisa meresap, lebih banyak dilanggar daripada ditaati.
Ada pula ironi lain. Umpamanya, sudah jamak terjadi camp pekerja
perusahaan HPH atau rig pengeboran minyak di tempat terpencil, setiap
hari membutuhkan bergalon-galon air mineral yang sebagian dipakai untuk
mandi para pekerja. Tak sedikit pula warga di perumahan mewah waterfront
city alias pinggir pantai melanggan air mineral untuk minum atau gosok
gigi. Sebabnya, selain jaringan air PAM belum merata, air tanah tercemari
aneka kotoran. Memang ada air kalengan yang dijajakan pedagang keliling,
namun tak diyakini kebersihannya sehingga paling-paling dipakai untuk mandi
atau cuci pakaian.
Menampung air
Tak terbayangkan betapa kerasnya usaha orang untuk memperoleh air di tempat
terpencil nan tandus. Masih untung negara ini memiliki curah hujan relatif
tinggi. Namun upaya paling sederhana seperti menampung air hujan rupanya
tetap memerlukan semangat dan ketekunan agar membuahkan hasil.
Penerima penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan 1996, Warsono,
misalnya. Ia yang sehari-hari bertugas sebagai penyuluh kehutanan di
Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengajak warga di wilayah kerjanya, Desa
Songbayu dan Semugih, untuk memiliki bak penampung air hujan. Selain itu ia
juga mengajak warga menghijaukan hutan rakyat, pemakaman umum, dan membangun
kandang ternak yang lebih sehat. Kerja keras selama bertahun-tahun terbukti
dengan makin hijaunya hutan, sehingga meningkat pula produktivitas sarang
burung walet yang hasilnya bisa meningkatkan taraf hidup warga. Di musim
kemarau pun mereka tak khawatir lagi kekeringan karena hampir setiap rumah
telah memiliki bak penampungan air.
Kalau Inacio Chaves, warga Dusun Borawei, Desa Vatuvao, Liquica, Timor
Timur, mengalami proses lebih panjang sebelum menerima anugerah Kalpataru
Perintis Lingkungan pada tahun yang sama, ketika propinsi itu masih menjadi
bagian RI. Ia menghijaukan dusunnya yang semula tandus, berada di ketinggian
500 m di atas permukaan laut. Ia juga menanam pohon sengon pelindung tanaman
kopi, juga menanam tanaman produktif seperti vanili, kemiri, pisang, ubi
kayu, jeruk, avokad, mangga, nangka, dan nanas. Ia juga menganjurkan warga
anggota kelompok taninya untuk menanami pekarangan dengan sayur-mayur.
Kerja keras itu membuahkan hasil ketika debit air yang dihasilkan mata air
di pegunungan, makin lama makin besar. Dari tempat itu kemudian air
dialirkan ke dalam bak penampungan untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
"Menciptakan" sumber air
Air tanah bisa "diciptakan". Caranya adalah "menangkap"
air hujan di dalam tanah yang sudah dihijaukan. Ini dibuktikan oleh Kelompok
Tani Sumber Makmur di Desa Pagerukir, Ponorogo, Jawa Timur, yang diketuai
Sunu. Kelompok tani yang didirikan tahun 1970 ini pada 1996 meraih
penghargaan Kalpataru karena kerja keras para anggota. Selama bertahun-tahun
mereka membangun teras-teras di seluruh wilayah desa di ketinggian 500 - 600
m di atas permukaan laut. Teras-teras itu kemudian ditanami dengan pengairan
dari mata air tunggal yang ada di sana, serta mengandalkan hujan.
Lama-kelamaan kawasan tandus pun menghijau. Sumur pun digali dan
mengeluarkan air. Dari semula satu sumber air, tahun itu sudah terdapat 15
sumur air. Maka lahan yang semula kritis pun belakangan menghasilkan padi,
jagung, ketela, kacang tanah, kedelai, pisang, juga tanaman tahunan seperti
kelapa, mangga, jambu mete, dan jati.
Tahun 1987, Pramudi Prawirowijoyo memimpin Kelompok Tani Sri Rejeki di Desa
Sambongrejo, Sambong, Blora, Jawa Tengah. Ia mempelopori pembuatan tanggul
sederhana dari aliran air sungai yang ada di desanya, sebagai ganti
ketiadaan irigasi. Tanggul itu dibuat dari susunan balok kayu yang diurug
tanah. Upaya itu menghasilkan sebuah "bendungan" yang mampu
mengairi 15 ha lahan pertanian.
Rekan-rekan sedesanya rupanya juga bersemangat memperbesar bendungan itu.
Ketika Pramugi memperoleh Kalpataru Perintis Lingkungan tahun 1997, seperti
dilaporkan Kompas 6 Juni 1997, lahan pertanian yang dialiri air
mencapai 40 ha. Dalam setahun pun masa tanam tak lagi hanya sekali seperti
dulu, melainkan dua kali. Seiring dengan itu, kawasan Desa Sambongrejo pun
menghijau, menghasilkan aneka tanaman hingga memakmurkan warga.
Upaya Pramugi rupanya mendatangkan gagasan bagi orang lain. Di Desa
Sukorejo, Kecamatan Mojo Tengah, Wonosobo, Jawa Tengah, H.M. Mashuri, B.A.
berhasil merehabilitasi lahan kritis menjadi hutan rakyat dengan pembuatan terassering.
Di Desa Bontobuddung, Kecamatan Tampobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan,
H. Manning membuat terassering di lahan terjal dan tandus di sisi S.
Kelara, juga membuat dam serta saluran air sederhana. Hasilnya, kawasan itu
berubah menjadi hijau subur.
Di Desa Sungaiupih, Kecamatan Kualakampar, Kabupaten Kampar, Riau, penyuluh
pertanian lapangan Sumarni berhasil mengajak warga desa membangun bendungan
pencegah masuknya air laut sepanjang 2 km dan saluran irigasi sepanjang 20
km. Atas prakarsanya, desa itu berubah menjadi kawasan pertanian produktif.
Jerih payah Mashuri, Manning, dan Sumarni diakui pemerintah dengan
penghargaan Kalpataru tahun 1999.
Memanfaatkan air gua
Dari Gunungkidul muncul lagi cerita sukses seorang tokoh yang menemukan
sumber air, kemudian mengelolanya secara kreatif. Pengabdi lingkungan peraih
Kalpataru 1997 itu bernama Sudijono, karyawan Proyek Pengembangan Air Tanah
Kabupaten Gunungkidul.
Sadar bahwa wilayah kerjanya setiap saat kekurangan air bersih, kendati
proyek pengadaannya telah ada selama bertahun-tahun, Sudijono mulai mencari
cara untuk mengalirkan air dari sumber-sumber air di dalam gua-gua kapur (luweng).
Ia masuk - keluar luweng untuk menengok adakah sumber air di sana.
Menurut catatan Kompas, 5 Juni 1997, Sudijono menghabiskan waktu 14
tahun bekerja sampai bisa menemukan 380 luweng yang 30 di antaranya
memiliki sumber air bawah tanah.
Dari 30 luweng itu yang potensinya dimanfaatkan masyarakat baru lima
buah. Salah satunya luweng Seropan di Kecamatan Ponjong yang debit
airnya 1.500 l air/detik dan baru dimanfaatkan 90 l/detik untuk kebutuhan
empat kecamatan yang berpenduduk 238.316 jiwa. Atas upaya Sudijono mata air
bawah tanah itu belakangan bisa dialirkan untuk mengairi lahan pertanian.
Hasilnya, sebagian besar wilayah Ponjong dikenal sebagai salah satu kawasan
paling subur di Gunungkidul.
Membersihkan limbah rumah tangga
Usaha yang dilakukan Anak Agung Gede Rai, peraih Kalpataru 1999 juga menarik
diperbincangkan. Warga Desa Benoa, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali,
itu mengolah limbah cair dari hotel dan restoran menjadi air irigasi. Selain
itu ia juga giat dalam penanggulangan abrasi pantai, serta mengembangkan
habitat burung di kawasan Nusa Dua (Kompas, 5 Juni 1999).
Beberapa tahun sebelumnya, staf Dinas Kebersihan Kodya Malang, Agus Gunarto
E.P. melakukan kegiatan yang lebih monumental. Ia merintis dan merancang
pembuatan pengolahan limbah rumah tangga sederhana.
Tinja, air bekas cucian, air bekas mandi, dan limbah lain rumah tangga yang
berasal dari rumah penduduk dialirkan ke septic tank melalui pipa
PVC. Dari septic tank, air dialirkan lagi ke kolam penampungan
pertama yang ditanami enceng gondok. Dari situ cairan masih dialirkan lagi,
dengan cara gravitasi, ke kolam penampungan kedua. Setelah melalui satu
kolam penampungan lagi, air menjadi lebih bersih untuk siap dialirkan ke
Kali Brantas, yang sebagian menjadi bahan baku PDAM. Sedangkan lumpur yang
mengendap di kolam itu dikeringkan dan dimanfaatkan untuk pupuk. Akhirnya,
tanaman juga yang diuntungkan. Tanaman menyerap air dan akar-akarnya
menyimpan serta mempertahankan keberadaan air tanah. Begitulah siklus terus
berjalan.
Kreativitas Agus rupanya mendapat pengakuan dari banyak orang, termasuk
pihak yang kemudian memberinya penghargaan. Kini bahkan banyak warga di lain
desa yang mencontoh pekerjaan itu.
Apakah cukup banyak orang yang tergerak untuk meniru? Syukur sekali kalau
ya. Begitu pula jika upaya yang dilakukan para tokoh yang keberhasilannya
sudah terbukti lewat aneka penghargaan di atas, juga mengilhami kita untuk
berbuat lebih baik demi Bumi yang sejak diciptakan pun sudah terbatas,
sementara perkembangan manusia tidak ada batasnya. |
|||||